Mulai nol lagi

Rabu, 30 Juni 2010

Dapet rumah dinas dengan halaman yang cukup luas yang hanya ditanami satu pohon jambu air dan pisang sanggar yang raksasa buahnya artinya makan sebuah aja udah kenyang, beberapa tanaman yang nggak keurus dan rumput gajah. Benar-benar halaman rumah tanpa pepohonan. Sepertinya pohon yang ada sebelumnya digali dan dipindah. Terlihat dari beberapa galian yang menjadikan permukaan tanah jadi berlubang-lubang. Panas dong disiang bolong.

Singkat kata jadilah sekarang punya tugas menghijaukan pekarangan. Siapa yang nggak ngiler liat kebun tetangga dan teman-teman yang hijau penuh koleksi baik pohon besar maupun taman bunganya. Apalagi kalau tamannya tertata rapi, bersih dan indah. Pengen juga punya pekarangan yang asri.

Tetangga dan teman yang baik selalu saja menawarkan bunganya untuk kukoleksi, hehehe.. lumayan. Kalau beli pasti habis banyak karena pekarangan ini memang luas sekali. Dapetlah cangkokan jambu air, mangga dan beberapa tanaman hias. Sekali waktu mampir kerumah teman yang mengoleksi anggrek, rasanya betah sekali main di tamannya yang dikanan-kiri bunga anggreknya bermekaran. Namanya rezeki, aku dikasih anakannya dan dikasih tahu ngerawatnya. Alhamdulillah, mudah-mudahan hidup dan tumbuh subur.

Saat berkesempatan pulang ke Jawa, berburulah ke beberapa tempat penjualan bunga, tujuan utama mencari anggrek. Sedang jatuh cinta sama anggrek nih. Bagaimanapun akan kubela-belain bawa dan menenteng naik pesawat. Padahal saat itu sulungku masih suka minta gendong juga. Repot harus menenteng dan menggendong. Ah, bersusah-susah dahulu senang-senang kemudian.

Akhirnya sampailah ke sebuah rumah kuno, dari luar terlihat bermacam-macam anggrek yang sudah besar dan berbunga. Tambah ijo aja nih mata dan bertekat menemui pemiliknya. Setelah berkeliling dan berhitung pilihan jatuh pada pot-pot kecil berdiameter 5-7 centian dengan tunas-tunas setinggi 3-4 centian. Tidak tahu nanti akan menjadi seperti apa rupa dan bentuk bunganya, yang kuingat waktu itu namanya “dendrobium” dan kata penjualnya lagi

“ini nanti bunganya beda-beda, contoh bunganya seperti disana” sambil penjual menunjuk kesekeliling bunga anggrek yang sedang bermekaran.

Alasan memilih yang masih kecil adalah mau belajar ngerawat dari kecil (sok-sokan), dengan jumlah uang yang sama dapet lebih banyak pohon meski belum tahu bisa tumbuh apa tidak dan jenis bunganya, mudah membawanya karena bisa dikardus dan ditenteng.

Saatnya merawat, menyiram, memberi pupuk daun sampai siap berbunga, membasmi kutu dan jamur. Daun-daun mulai tumbuh dan batang-batang mulai membesar. Semua sama bentuk daunnya, bedanya hanya ada yang agak bulat, ada yang panjang dan warna daun mudanya ada yang dipinggirnya keunguan. Penasaran apa nanti warna bunganya. Melihat daun yang hampir sama, suami berkomentar.

“Beli bunga kok sama semua”
“Kata yang jual bunganya beda-beda”
“Gimana tahu beda wong daunnya sama semua”
“Ya ditunggu aja nanti hasilnya”

Memang tak semua berhasil hidup, namanya juga baru belajar bertanam. Ada yang busuk, ada yang lama-lama kering dan mati. Tapi bisa dikatakan penanaman ini berhasil. Tak berapa lama, beberapa pohon keluar kuncup yang bentuknya sama, dan beberapa kuncup berbeda warna. Semakin yakin pasti bunganya nggak sama. Benar juga, setelah mekar kulihat kuntum warna ungu tua, ungu muda, putih polos, putih ditengahnya ungu, putih dilidahnya ungu, putih kehijauan, kuning, ungu terong dan masih banyak lagi. Tidak hanya anggrekku yang berbunga, aku dan suamipun berbunga-bunga.

Saking tertariknya, diakhir pekan suami mengajak jalan-jalan khusus membeli anggrek. Tak tanggung-tanggung dibelinya 10 pohon yang sudah jadi artinya sudah ada bunganya. Saat itu satu pot masih sepuluh ribu. Dan apa pesan suami ketika sampai dirumah,

“Ma, ini jangan diutak-atik ya, nanti biar aku aja yang ngerawat”

Hohoho, ternyata suamiku takut kalau pohon hasil belanjanya gagal kurawat.

“Tidak apa-apa, aku kan punya banyak, hayo nanti punya siapa yang gemuk dan banyak bunganya” jawabku mencandainya.

Tahun berlalu, penggantian arang, memupuk, membasmi kutu dan jamur, pemecahan anggrek kulakukan sendiri dan cukup berhasil. Sedang tukang kebun hanya melihat saja bagaimana aku mengerjakannya. Sampai akhirnya ada kalau seratus pot dan semuanya subur-subur. Setiap batang bisa berbunga tiga tangkai. Siapa yang tidak naksir anggrekku. Batangnya yang gemuk, daunnya yang besar-besar dan hijau. Setiap yang datang kerumah selalu berkomentar dan jika ada yang berminat dan kuyakin orang ini akan merawat pasti kukasih. Aku bisa memberinya satu pot anggrek sudah jadi karena koleksiku sudah terlalu banyak, tak muat tempatnya.

Sekali waktu, karena sesuatu hal kusuruhlah pak tukang kebun membersihkan anggrek-anggrek di pot. Aku yakin dia bisa karena sering melihatku mengerjakannya.

“Pak, tolong anggrek-agrek yang di pot, akarnya yang rusak dibersihkan ya, Dibongkar dulu nanti dikembalikan ke potnya lagi”

Satu dua jam kemudian aku keluar rumah mau melihat hasil kerjaan pak tukang kebun. Dapet lima pot kan lumayan, minggu depan bisa dilanjutkan.

Betapa kagetnya aku ketika baru membuka pintu depan, pak tukang kebun pas dihalaman depan pintu mengayunkan golok ke pangkal akar dan batang anggrek. Mataku melotot dan spontan aku berteriak,

“Pak ! kok gitu motongnya”
“Terus gimana bu?”
“Kan pak Udin udah sering lihat, kan dibersihin aja akar-akarnya yang mati. Bukan dipangkas habis gini”
“Salah ya bu”
“Haduh pak Udin.. ya salah”
“Tadi yang dibelakang begini juga bu”
“Hah !”
“Iya bu”
“Terus mana aja yang belum dikerjain?”
“Sudah semua bu”

Lemes aku, anggrek seratusan dipotong akarnya semua dalam waktu satu dua jam. Pak Udin ! pak Udin! Matilah anggrekku !

Terpaksa mulai lagi ngerawat seperti bayi, anggrek ini sakit. Pasti ada yang sembuh tapi pasti ada yang tak bisa bertahan. Kurawat lagi sendiri, merangsang akarnya tumbuh lagi, butuh waktu lama. Sebulan? dua bulan? tak cukup, bahkan sekarang sudah lebih dari dua tahun. Menunggu bertunas lagi, gemuk lagi dan berbunga lagi. Bagaimana bisa berbagi lagi dengan teman-teman, menunggu sehatnyapun ketar-ketir. Hidup nggak ya.. hidup nggak ya..

Sekarang sudah ada yang berbunga lagi, tapi kok bunganya itu-itu saja yang nongol. Mana yang lainnya? apa mati ya?

Nenek yang Malang

Senin, 28 Juni 2010

Waduhhh...jangan ngebut-ngebut Nel ! ucapku kala itu pada adikku.
Sementara yang di tegur senyam senyum penuh arti entah apa yang ada dalam pikirannya, kadang akupun kesal memandang ekspresinya seperti itu, tapi..ya...itulah adik bungsuku.

Kita sudah sampai nih kak, sembari dia membelokkan mobil yang kami tumpangi masuk ke dalam garasi sebuah rumah, rumah itu baru saja di beli oleh Nelwan, dulu... dia dan keluarganya ngontrak tak jauh dari rumah yang sekarang.
" Wah....bagus juga rumahmu ya Nel....halamannya bagus, udaranya sejuk.. banyak pepohonan di sekitar sini, beruntung sekali kau membeli rumah ini Nel......" ucapku sewaktu keluar dari mobil.
" Rumahnya kecil kak....tapi alhamdulillah.....hitung2 kami gak ngontrak lagi sekarang ".

Hampir 2 jam perjalanan yang kami tempuh, sekarang baru terasa penatnya, sementara adik iparku sudah menanti kami berdiri di depan pintu.
" Assalammua'laikum".
" Waalaikumsalam ", kakak pasti capek kan....sini biar aku yang angkat tasnya.... dengan cekatan Dinar membawa tasku kedalam rumah, lalu masuk ke satu kamar dan setelah itu dia keluar lagi dari kamar itu.
Nanti kakak tidur disini ya....sambil mengarahkan jari telunjuknya ke kamar yang baru saja dia masuki.....lalu dia mendekati aku ikut duduk disebelahku sambil berkata..." Gimana kak rumah kami...bagus gak...? ".
" Wah Din....ini sih lebih dari bagus...kakak aja naksir....biar kata Nel ( Nelwan ) rumahnya kecil..tapi kakak seneng, daerah sini masih tenang..masih asri...jauh dari polusi...kakak jadi pengen punya rumah disini kalau nanti abangmu pensiun kerja.

Lama kami melepas rindu....ngobrol ngolor ngidul kesana kemari, tanpa terasa.... di kejauhan terdengar azan berkumandang menandakan waktu asharpun tiba.
" Mana kamar mandi kalian Din....kakak mau mandi dulu ach....badan kakak penuh dengan keringat...sekalian mau sholat ashar juga.
" Disana kak..disebelah kanan..kamar mandi disini hanya satu..gabung ya kak...gak apa2kan...?
" Gak apa2...namanya juga keluarga baru..ya memang begini Din...nantikan pelan2 kalau sudah punya duit bisa nambah lagi...kakak juga dulunya begitu kok..!

Menjelang maqrib, Nelwan sudah bersiap-siap menggeser-geser kursi dan meja yang ada di ruangan tempat kami duduk sekarang, lalu dia mengambil beberapa sajadah, kemudian di aturnya sajadah itu dilantai tempat kursi dan meja tadi.
Tak lama maqribpun tiba, kami bertiga melaksanakan sholat maqrib berjama'ah yang di imami oleh Nelwan.

Diam2 aku mengagumi adikku yang satu ini, walau dia anak kemarin sore tapi sifat dan sikapnya menunjukkan kedewasan yang mulai matang, aku bangga padanya..tak sia2 orang tuaku mendidiknya, pikirku.
Sesaat lamunanku tersentak manakala namaku di panggil oleh seseorang.
" Kak Yul.....mas Nelwan....kita makan dulu yuk..ngobrolnya ntar disambung lagi ya..." begitulah adik iparku yang satu ini mempersilahkan kami untuk segera makan malam.
" Heeemmm...ini rupanya kenapa Dinar buru-buru bangun selesai melaksanakan sholat magrib tadi, dan tanpa menunggu waktu lagi kamipun menuju meja makan.

" Waahh....Dinar pinter masak juga ya rupanya....lauknya enak2..."
Mendengar di puji seperti itu Dinar tersipu malu, " Ach..kakak kan lebih jago..ini sih ala kadarnya aja kak..habis mau masak kayak masakan kakak..aku belum bisa...ntar kapan2 aku di ajari ya kak..."
Aku menganggukkan kepala tanda setuju, sementara adikku Melwan dengan lahapnya menikmati hidangan yang ada di meja itu, di atas piringnya sudah penuh dengan setumpuk nasi dan lauk pauk mengelilinginya.
Lama aku mengamatinya, dalam hati aku bertanya, kira2 bisa gak ya dia menghabiskannya.
Sementara yang di amati tak perduli, asyik saja menikmati makanan yang ada dihadapannya.

Wiih...rupanya kebiasaan makan adik bungsuku yang satu ini tidaklah banyak berobah, dulu....sewaktu dia kecil, kalau makan gak pernah mau toleh kiri toleh kanan...pokoknya dia asyik sendiri menikmati nasi dan lauk pauk yang ada di piirng miliknya, kalau dia sudah menghabiskan makanan itu, dengan cepat dia berdiri, lalu dia akan mengangkat kedua tangannya dan berteriak, " Habiisss ", itu menandakan bahwa dia sudah selesai makan.

Mengingat itu semua tanpa ku sadari aku jadi tersipu-sipu sendiri.
" Kak..kakak kok tersipu-sipu aja sih....makanannya gak enak ya...? rupanya diam-diam Dinar memperhatikan sikapku.
" Enak kok Din...masakannya enak, kakak hanya ingat Nelwan aja sewaktu dia masih kecil..."
Nel...lu ingat gak..waktu kecil dulu..kalau lu makan..gak pernah lu liat kiri dan kanan..pokoknya sikat terus sampai habis...ingat gak....?".
" Iya ya kak...kok aku dulu rakus banget ya.... "
" Nah itu dia..kenapa kakak senyum2, kakak ingat kebiasaan lu..eee..rupanya kebiasaan itu belum juga berubah sampai sekarang ".
" Oooo..rupaanya dari tadi kakak mengamati aku ya...hahaha....

Kukemasi piring kotor bekas makanku, sigap aku berdiri maksudku ingin langsung mencucinya tapi dengan cepat pula Dinar meraihnya dari tanganku,
" kakak istirahat aja dech di ruang depan..biar aku yang bereskan ini semua"

Melwanpun beranjak dari kursinya dan menuju beranda depan rumah, akupun mengikutinya dan ikut duduk di beranda itu.
Tak terasa waktu menunjukkan pkl.21.30, menandakan kami harus tidur, besok Nelwan harus kerja dan aku...entahlah..besok saja direncanakan mau kemana.

Alhamdulillah...pagi ini tubuhku segar kembali setelah semalam tidurku cukup.
Setelah mandi, sholat subuh, berdandan ala kadarnya, lalu kukenakan jam tanganku dan kulirik waktunya sudah menunjuk pkl.6.30.
Pelan langkahku menuju jendela kamar, kubuka daun jendela itu, diseberang jalan kira2 100m dari jendela kamarku, aku melihat ada sebuah gubuk tua beratapkan nipah berdindingkan bambu, biasana orang sekitar menyebutnya gedek.

Ya Allah...mataku terpaku menatap ibu tua yang terseok-seok melangkah dan mengapai seikat sapu lidi yang tersandar di diding gedek itu.
Lama aku menatapnya, dari kejauhan aku memperhatikan setiap gerakannya, dia mulai menganyunkan bilah-bilah sapu lidi itu untuk membersihkan halaman rumahnya yang hanya sejengkal dan seadanya itu.

Ya...memang seadanya.....dalam pandangan mataku, tempat itu sangat tidak layak dan tidak pantas di huni oleh manusia, tapi sepertinya lebih cocok ditempati oleh kambing.
Ya..betapa tidak, menurut ukuran orang normal, rumah itu haruslah memenuhi syarat kesehatan.
Sebuah rumah seharusnya ada jendela/ ventilasi untuk udara bertukar, lantai harus di semen, minimal berlantaikan papan ( kayu ), tapi gubuk itu...tidaklah layak untuk memenuhi syarat unsur di atas.

Sewaktu sarapan pagi, aku sempatkan bertanya kepada Nelwan.
" Nel.....gubuk yang diseberang itu punya siapa sih Nel...? "
" Kenapa kak....kakak pasti melihat nenek tuakan..? jawabnya balik bertanya
" Iya tuh....miris kakak melihatnya Nel..., emang dia sendirian ya....? " aku kembali bertanya.
" Menurut cerita nenek itu....dulu...dia berdua dengan cucunya, tapi...belum lama ini cucunya itu meninggal karena sakit..entah sakit apa..kami juga gak tau, dia sudah ada disitu sejak kami pindah kesini ".
" Kasian amat ya.....".

Pkl. 7.30 Nelwan meninggalkan rumah, Nelwan adalah seorang PNS di suatu instansi pemerintah setempat. Pagi itu Dinarpun ikut berangkat bersama-sama Nelwan, sebab katanya dia mau ke pasar...persis seperti ucapannya sewaktu di meja makan tadi.
" Kak Yul...ntar kalau kakak mau jalan-jalan sekitar sini, pintunya di konci aja ya..aku bawa konci cadangan kok ".

Begitu keduanya meninggalkan rumah, tinggal aku sendiri meratap sepi di dalam rumah yang sama sekali masih asing bagiku.
Kupandangi sekeliling rumah, pertama mataku tertuju pada dinding ruang tamu, disana tergantung potho Nelwan & Dinar, lalu mataku melirik ke sudut lain, nampak tertata rapi sebaris guci keramik berukuran kecil yang ada di dalam lemari kaca berukuran kecil.
Sementara di ruangan lain terdapat seperangkat kursi+meja makan, lalu sedikit membelok dari ruangan itu aku melihat ada seperangkat kursi tamu, ada TV kecil lengkap dengan lemarinya.
" eeemmm...pintar juga Dinar menatanya, " , memang Nelwan tak salah memilih Dinar untuk menjadi istrinya pikirku, sebab Dinar adik iparku ini.. selain cantik..dia juga patuh dan mengerti apa tugas dan fungsinya sebagai istri, dia juga pandai mengambil hati seluruh saudara suaminya ( Nelwan ).

Kini aku sudah berada di beranda depan rumah.......lagi-lagi mataku tertuju pada gubuk tua itu.
Dalam pikiranku, kapan-kapan aku ingin mampir ke gubuk itu ach....ingin sekali aku berkenalan dengan nenek tua itu, tak tega aku melihatnya, di sisa hidupnya seperti itu semestinya dia tak lagi mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.

Dua hari sudah aku berada dirumah Nelwan, seperti biasa selepas sarapan pagi, aku berkeliling mengitari halaman rumah, lalu sedikit jalan-jalan tak jauh dari rumah hanya sekedar ingin menghirup udara bersih, sebab di tempatku..udara seperti ini sudah suslit kami dapatkan.
Ketika aku melewati gubuk tua itu, si nenek tua yang kemarin kulihat sedang asyik menyiangi daun kelapa yang telah jatuh di halaman gubuknya, sambil sesekali ia bersenandung yang aku tidak tau apa arti dari senandungnya itu.

Hatiku tergerak untuk mendekat dan menyapanya, tapi..ach..apa kira-kira aku akan mengganggunyakah ? Pikiranku terus berkecamuk, sehingga aku tak tahan lagi dan kuputuskan untuk cepat2 mendekat untuk menyapanya,
" Assallammua'laikum ".
" Wa'alaikumsallam " siapa yaa..jawabnya.
" Saya kakak pak Nelwan, tetangga mbah yang ada diseberang sana..sambil aku menunjukkan jari telunjukku ke rumah Nelwan.
" ooooo...anak dari mana..?
" Dari jalan-jalan aja disekitar sini.."
" Embah mau bikin apa...? begitulah aku mulai membuka pembicaraan.
" Heeee...apa nak..", sambil dia melakukan gerakan menarik daun telinganya pertanda dia kurang mendengar apa yang aku tanyakan.
Kali ini aku menambah volume suaraku, tujuannya agar dia bisa mendengar lebih jelas, maklum ibu tua ini pendengarannya mungkin sudah mulai berkurang, pikirku.
" Embah mau buat apa.....kok daun kelapa disisir-sisir seperti itu ".
" oooohhh...ini ni..lidinya mau di ambil, mau saya kumpulin, nanti kalau sudah banyak akan saya jual.."
" Ya Allah ya Robbi..tersekak tergorokanku mendengarnya, alangkah menderitanya ibu ini, dimana anaknya yang gagah dan cantik2 itu, kenapa mereka membiarkan ibu mereka merana dan sengsara seperti ini..kejam dan durhaka benar kelakuan mereka ".
" Sini mbah aku bantuin...aku juga gak ada kerjaan kok, lalu mulailah tanganku meraih daun kelapa itu, ku ikuti cara si mbah mengeluarkan lidi yang ada di daun kelapa itu,
Satu,dua,tiga,empat, terussss...akhirnya banyak juga hasil yang kudapat.
" Mbah punya anak ndak...? tanyaku kepadanya
" Mendengar pertanyaanku, muka si mbah mendadak muram bercampur sedih, namun nampaknya dia kuat untuk menjawab.
Punya kok nak...tapi jauhhhhh...mereka ndak tinggal disini.
" Ada berapa anak mbah..."
" Ada dua kok nak..., satu laki...satunya lagi perempuan.
" Suami embah kemana...masih hidup atauuu....
" Suami saya sudah lama meninggal nak....anak laki2 saya jauh...dia kerja di luar sana nak...jadi TKW, anak perempuan saya ada di kota...
" Sering pulang ndak mereka mbah...
" Ndak pernah nak....hanya yang perempuan saja pernah pulang sekali, itupun nitipin anaknya disini "
" Nah..terus..mana cucunya embah itu...kok ndak kelihatan...
" Wahhh..si Tole sudah meninggal nak...terserang penyakit..., saya sudah khabari mboknya, tapi ndak dateng juga sampai sekarang...ya...sudahlah...dia juga ndak peduli..jadi mau apalagi...percuma nak... orang2 bilang kalau kita punya anak yang kerja di luar negri atau di kota itu seneng ya...tapi embah kok ndak pernah merasa gitu ya...sambil dia menyekat keringatnya, namun terpancar jelas raut kesedihan pada wajah keriput itu, sesekali dia menghapus air matanya yang mengalir

Begitulah, banyak yang kami perbincangkan pagi ini,
kring kringggg..kring kringgg..kubuka hpku, ternyata telphone itu dari Dinar, dia pasti mencari-cariku,
" Iya Din...kakak ada di rumah si embah yg di seberang..."
" ooooh..aku khawatir kak..aku pikir kakak tersesat untuk pulang...ya gak apa2 kak..nanti kalau sudah selesai kakak cepat pulang ya...
" Iya din...lalu kututup hpku, duhhh..aku merasa bersalah sama Dinar, semestinya tadi aku mengabari dia dulu, tapi ya sudahlah, nanti aku minta maaf saja, pikirku.

Keesokan hari,
" Nel..Din..kakak pulangnya besok ya...tolong nanti Nelwan pesenin kakak travel ya...?
Kemudian aku bangun dan masuk ke kamar, ku raih amplop putih di atas meja riasku, lalu aku keluar lagi menemui mereka berdua, " Din...tolong Dinar sampaikan amplop ini pada mbah Mamat ya...itu lo... nenek yang di seberang kita ini..( sambil aku menunjuk gubuk si nenek ).
" Apa isinya amplop itu kak...? selidik Dinar ingin tau.
" Ach..ini isinya uang yang ala kadarnya aja ", tolong juga sampaikan permohonan maaf dan salam kakak kepadanya ya....".
" Baik kak..nanti aku sampaikan ".

Tiga bulan setelah kepulanganku dari rumah Nelwan,
Kring kringgggg, kring kringggg, hpku berbunyi, ternyata nomor itu dari Nelwan,
" Kak...nenek Mamat meninggal tadi malam...".
" Innalillahi Wainnalillahirojiun, semoga arwahnya diterima dan mendapat tempat yang layak ya Nel....
Nenek Mamat, sebenarnya sudah lama sakit, tapi ya...begitulah dia, bukannya tidak ada orang atau tetangga sekitarnya yang perhatian dengannya termasuk adikku Nelwan...tapi lagi-lagi nenek Mamat selalu saja menolak, sebenarnya alasannya sangat klise yaitu dia tidak mau merepotkan orang lain.
Bagiku, kenal dengan nenek Mamat merupakan pengalaman hidup yang sangat berharga, ini peristiwa yang tak mungkin dan entah kapan lagi aku dapatkan.

Terlambat Aku Mendengar Kabar Kepergianmu

Minggu, 27 Juni 2010

Kebahagiaan saat cuti telah tiba.

Seperti biasa, sejak aku menikah dengan suamiku, kami berkomitmen, untuk selalu pulang ke Jawa saat cuti tiba.Ya bukan karena apa apa, alasan kami yang utama adalah menjaga silaturahim dengan orang tua.
Mengingat kami masih mempunyai 3 orang tua saat itu. Ayahku ,ibuku dan ayah mertuaku.Cuti tahun 1992 kami laksakan pada bulan Maret . Sekitar 3 minngu lamanya. Putri pertamaku masih 3 tahun usianya. Dan pada saat itu aku sedang mengandung anak ke 2, 6 bulan usia kehamilanku . Seperti kebiaasan sebelumnya. Saat cuti selalu kuhabiskan dirumah mertua. Tak tahu apa penyebabnya kami lebih suka tinggal di sana.Padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari sangat sulit menjangkaunya.Suasana desanya mungkin, yang jauh dari kebisingan membuat kami nyaman berlibur disana.

Seperti kutu loncat.

Meskipun waktu banyak kami habiskan dirumah ayah mertuaku, kebiasaan kami mengunjungi sebagian keluarga besar kami, selalu kami lakukan dengan senang hati.
Secara bergilir kami mengunjungi bahkan menginap dirumah beberapa saudara.Banyak teman yang menyangka kami sudah mempunyai tempat tinggal sendiri. Padahal kami selalu berpindah dari satu rumah saudara, perpindah lagi dirumah saudara yang lainnya.Kami selalu menyebutnya sebagai "Kutu loncat."

Kasih sayang ayah mertuaku.

Ya Allah aku sangat bersyukur atas segala nikmat karunia yang telah Engkau karuniakan kepadaku.
Kau karuniakan kepadaku suami yang begitu menyayangiku, Engkaupun anugerahi kami putri mungil yang lincah dan sangat menarik perhatian lebih keluarga besarku.Tak pernah kudengar tangisannya, tak pernah kumerasa jengkel karena rewelnya, bahkan tak pernah kuterjaga malam tuk merasakan sedih dikala sakitnya.
Sungguh luar biasa yang kurasa akan kehadiran putri cantikku, Ayesha.Lucu dan menggemaskan.
Suatu hari, saat kami meninggalkan rumah ayah mertuaku ,untuk pergi ke rumah kakak iparku ,di Mojokerto. Ayah mertuaku sangat sedih, ayah yang biasanya momong cucunya di sekitar halaman rumah, seakan kehilangan kebiasaan itu.Sungguh sedih aku mendengar cerita kakak ipar suamiku .Ayah mertuaku sempat jatuh dari ayunan ,saat menunggu kepulangan kami dari Mojokerto.Ternyata ayah mertuaku, saat menunggu kepulangan kami,beliau duduk di ayunan ,sampai terkantuk kantuk, hingga jatuh tertelungkup di bawah pohon jambu darsono(jambu bol).Mungkin karena kesepian beliau rela menunggu di halaman depan rumahnya.
Lain halnya kasih sayang yang diberikan kepadaku. Ayah selalu menolak bila kuperlakukan lebih disetiap harinya.Beliau berkata," Yul, ndak usah segalanya kamu persiapkan seperti ini, biarlah bapak urus sendiri,nanti bapak terlena dan sedih akhirnya." Seperti biasa, aku paling tidak puas bila tidak mengetahui alasannya.Kupaksakan diri terus menyiapkan " Dahar "( makan) siangnya, sambil bertanya ,"Kenapa to pak, memangnya?" Beliau menjawab dengan melasnya, " Kebiasaan yang kamu lakukan , mengingatkanku pada kebiasaan ibumu.Biarlah bapak ambil sendiri di lemari makan.Bapak nanti kaget bila kalian pulang ke Bontang!" Ooooo ternyata hal itu yang menjadi masalahnya.
Ungkapan kasih sayang kepadaku , begitu membekas di sanubariku. Tatkala beliau menerima hadiah celana kolor hasil jahitanku.Lagi lagi beliau teringat pada mendiang ibu mertuaku.Beliu sangat bersuka cita, sambil berkata," Terima kasih ya NDUk, kamu benar benar perhatian seperti almarhum ibumu." Memang alm ibu mertuaku rajin dibidang ilmu kewanitaan. Beliau pandai menyulam ,menjahit, merenda, bahkan pandai memasak.Yang amat membekas dalam ingatanku kasih sayanmg ibu mertuaku kepada keluarga besarnya.Beliau selalu tersenyum dan ikhlas mengurus suaminya. Betul betul beliau pasangan ideal di pandangan mataku.Ya Allah jadikan kami pasangan yang utuh dan rukun seperti beliau berdua.Amin.

Berbanding terbalik dengan orang tuaku.

Memang sengaja tak banyak yang ingin kuceritakan tentang keaadaan ayah dan ibuku. Sekilas mengulang cerita ,dari Mei 1986 ayahku jatuh sakit, dan sejak saat itu pula sedikit melupakan siapa saja anggota keluarganya.Saat pernikahan kamipun hanya ibu yang merestui dan mendampingi kami berdua. Tapi tak megurangi rasa hormat kami, kami tetap mengagumi keteladan beliau saat saat sehatnya.
Untuk ,menghindari duka ku, biarlah bagian ini hanya menjadi cerita batinku sendiri.
Lain halnya dengan ibunda tercintaku, setiap kami cuti, selalu kami ajak kemana saja kami berada.


Detik detik terakhir cuti.


Kebiaasaan terakhir suamiku selalu mengkoreksi percakapan antara aku dan ayah mertuaku. Suamiku selalu bertanya," Dik Yuli sudah diajak bicara/ cerita bapak, kalau belum tolong cepat dekati bapak ya!"
Suamiku paling hafal kebiaasaan ayahnya. Ayah mertuaku lebih condong berkeluh kesah kepadaku. Segala kepenatan fikiran dan beban batinnya selalu tertumpah kepadaku.
Betapa leganya aku menerima kepercayaan beliau itu.Kesedihan selalu menghampiri hari hari terakhir cuti kami i. Sungguh ku tak tega melihat figur ayah mertuaku saat duduk termenung didepan TV, sambil memegang helai rambutnya yang sudah memutih.Aku selalu merayunya ,agar beliau mau ikut dengan kami ke Bontang. Tapi dengan kesabarannya , beliau selalu menolak. Karena dirumah beliau juga mengurus salah satu cucu kesayangan, putra dari salah satu kakak suamiku.Itu yang memberatkan langkah kaki beliau untuk bersama kami.
Ibundaku kuantarkan pulang sebelum keberangkatan kami.
Hari "H" telah tiba.Seperti biasa ayah mertua selalu mengantar kami sampai Airport Juanda. Kelihatan betul kesedihannya.Putri kecilku Ayesha tak pernah lepas dari dekapannya.
Tgl 22 Maret 1992 tepatnya.

Rutinitas kembali seperti biasa.


Dengan sedikit linangan air mata....kurebahkan badanku di jok mobil yang mengantarkan kami ke Bontang.Kami pulang melalui jalur darat. Rasa capek amat terasa, dengan beban kandungan yang sudah berusia 7 bulan.Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam, sampailah kami dirumah.
Seperti biasa keesokan harinya suamiku langsung beraktivitas seperti biasa, rutinitas kerja. Kesibukankupun berlalu seperti biasanya juga, hanya berdua saja aku dan si kecil Ayesha.


Kabar itu datang dengan tiba tiba.


Pukul 09.00 wita, aku baru selesai memandikan putri kecilku Ayesha.Terdengar riuh lirih suara ribut suami dan adik iparku.Bergegas aku keluar untuk membukakan pintu.Mereka berdua saling berpandangan dan saling berkata," kamu saja yang bilang!" Persis seperti anak kecil yang ketakutan.
Aku mulai menaruh curiga, kenapa mereka aneh ,tidak seperti biasanya.Setelah masuk rumah, suamiku mulai membuka pembicaraan. Dengan hati hati dan sedikit berbelit belit bahkan terpatah patah." Ada apa mas? tanyaku sambil terheran." Dik Yuli , mas Agung minta jangan kaget ya!" rayunya..... Kembali ku bertanya," Memang kenapa?" Suamiku dan adik iparku saling berpandangan terus berkata," Ada kabar tentang bapak." Langsung kusambut dengan pertanyaan,"Kabar apa dan bapak siapa?" Dengan mimik yang mengkhawatirkanku, suamiku menjawab," Bapak Kasijarno, SEDO ( meninggal)." Tanpa kuhiraukan kondisi kehamilanku, aku berlari masuk kedalam kamar, kutelungkup di atas kasur,sembari berteriak, kedua lelaki yang mengasihiku berlalu menghampiriku." Dik yuli, kami belum selesai cerita, tapi adik harus tegar ya!" sapa adik iparku." Dik Yuli mau tahu, bapak meninggal sudah 15 hari yang lalu." kata suamiku." Ya Allah, sekarang sudah tanggal 16 April, jadi ayahku meninggal tanggal 1 April?" pekikku lirih. Ya Allah sebegitu parahkah dosaku Padamu, sehingga Kau karuniakan padaku cobaan bertubi tubi.Sungguh satu penyesalan yang tak bisa kumaafkan pikirku saat itu. Aku sungguh geram kepada keluarga besarku.Bagaimana tidak, saudaraku tergolong orang berpendidikan, tapi kenapa bersikap seperti ini padaku.Masih kurangkah mereka menerima kesabaranku selama ini.Yang kusesali sampai detik ini, kenapa mereka tidak bisa memilah antara masalah biasa atau masalah yang berdampak psykis pada diriku, padahal semua saudaraku tahu kalau ayah paling dekat dengan aku .Fasilitas telepon saat itu masih tergolong langka, kabar berita kadang hanya tersampaikan lewat surat dan telegram saja. Yang sangat mengecewakanku, kabar duka ini kuterima hanya melalui selembar surat, yang ditulis oleh abangku yang seorang POLRI.Suamiku amat mengkhawatirkan kodisiku, dengan sabar,
dia menyemangatiku. Lain halnya dengan tetangga belakang rumahku, dengan tergopoh gopoh pula dia datang ke rumahku, dengan wajah terkejut dan membawa beban perut yang sama usia kandungannya dengan kehamilanku, mengira diriku mengalami keguguran. Dengan derai air mata dia menyadarkan ku. Ya sudah, ini satu cobaan lagi buatmu dik, terima dengan lapang dada, pasti kamu bisa melampoinya.Sekarang persiapkan keperluan yang akan dibawa pulang, biar nggak ketinggalan pesawat yang siang.
Suara bel terdengar, p.Jusil ( alm ) datang, dengan sedikit memberi teguran kepada suamiku.
" Kenapa semua urusan kamu urus sendirii Gung ( Administrasi emergency)?" tegur p. Jusil." Maaf pak,bukan kami melampoi batas kewenangan, kami hanya bertujuan mengulur waktu, supaya kami ( suami & adik iparku) menemukan cara dan kata kata yang tepat untuk menyampaikan kabar ini kepada isttri saya ,pak," jawab suamiku.
Waktu begitu cepat berlalu, pukul 13.30 wita, pesawat Dash 7 mengantar kami ke bandara Sepinggan , Balikpapan. Untuk pesawat yang ke Surabaya " Take off" pukul 15.00 wita. Alhamdulillah , perjalanan kami lancar lancar saja. Kami singgah di Mojokerto, menjemput 2 kakak iparku.
Disetiap perjalanan hanya linangan air mata yang keluar dari pelupuk mataku ,luapan kesedihanku. Ayah sulit kuhilangkan kemanjaanku padamu. Aku masih ingin menggodamu....untuk meminta uang receh yang kau taruh di tempat khusus hanya kau sediakan untukku.
Pukul 24.30 wib kami sampai di rumah orangtuaku, ibu dan kakak kakakku ( kecuali abangku yang Polisi)
menyambut kami dengan penuh haru.Ya, aku yakin....ada tercium sesuatu aroma, yang menandakan arwah ayahku berada disitu, khas betul dan suamiku juga mencium aroma itu. Dalam hati aku berkata, Ya Allah hanya kepadaMU aku berlindung, dan atas kuasaMU semua ini terjadi, terima kasih masih Kau beri kepercayaan untuk merasakan keberadaan ayahku mesti dalam dimensi yang berbeda. Ayah dalam alammu, kaupun juga tahu bagaimana duka yang kurasa saat itu.Hanya belaian lembut tanganmu saat membelai rambutku dan mengusap helai rambut yang terurai dikeningku......takkan lagi kurasa.
Lenggok manjaku ,saat aku ingin duduk dipangkuanmu tak lagi bisa kucipta.Lenguhan nafas lembut,dan derai air mata yng meluncur dengan sendirinya, saat aku terpana pada sebuah kursi yang biasa kau gunakan saat aku bermanja denganmu.

Alur cerita yang bergulir dikeheningan malam itu......


Tak terasa kantuk tak mendera mataku, terkalahkan oleh nafsu ingin tahu detik detik teraklhir ayahku.Tanpa ada pertanyaan, aku ikuti cerita kakakku yang no 7, ( aku no 8) semua tidak menyangka ,ayahku pergi secepat ini. Ibu yang saat itu berada di Surabaya, ayahku tinggal dirumah seorang diri.Kadang hanya ditemani satu keponakanku yang masih SD.
Seperti biasa, ayah membersihkan rumput liar yang tumbuh diantara pasir abu Gunung Kelud ( kota Blitar beberapa waktu sebelumnya tertimpa hujan abu).Ayahku sebelumnya sempat berpesan pada keponakanku," Mbang, eyang kangkung mau pergi ambil pensiun, sambil berlalu membawa pakaian dalam yang ditaruhnya di jemuran depan kamar mandinya." Jam piro kung (jam berapa kung)?" tanya Bambang keponakanku." Jam 9 saja le," jawab ayahku." Kakung mau membersihkan rumput dulu,"imbuh ayahku. Ayahku mulai sibuk ,dan Bambangpun pergi berlalu.
Setelah beberapa waktu berlalu.... Bambang, kembali mencari ayahku untuk mengingatkan ,bahwa saat itu jam 9 sudah berlalu." Lho pakaian eyang kakung kok masih tergantung?"tanyanya dalam hati. Bambang berlari mengelilingi rumah kami, tapi nihil ,ayahku tidak ada dihalaman lagi. Bergegaslah Bambang masuk kedalam rumah, Bambang merasa lega ,melihat eyang kakungnya tertidur di tempat tidur. Tapi betapa kagetnya,"Ya kakung kok tidak seperti biasanya, kenapa tidur dengan kaki penuh pasir seperti itu?"Bambang terus mendekati ayahku dan terus berusaha membangunkan ayahku. "Kung bangun ,mandi, bilangnya mau ambil pensiun! Kung bangun, bangun kung, kung? Baru tersadar olehnya kalau sang kakung susah dibangunkan, larilah dia menemui bapaknya, dan berkata disela tangisnya ," Pak eyang kakung mati." Terhenyaklah adik sepupuku dalam duduknya, berlari memanggil pakdeku, dan memberi tahu kalau ayahku meninggal dunia.Ya Allah.....ampunkan kesalahan dan dosa
kami, terima kasih telah engaku permudahkan kepergian ayah kami tanpa bimbingan kami.....Perlu kami syukuri....ayah beberapa hari sebelumnya, telah mempersiapkan tempat tidur yang beliau keluarkan dari kamar dan ditaruhnya dibalik bufet tempat dimana meja makan biasa ditempatkannya.Tangisku muali mereda tatkala aku sadar,aku tak boleh larut dalam duka yang berkepanjangan, mengingat kondisi kehamilanku.Ya Allah kalau memang ini jalan hidup yang telah Kau gariskan dan Kau takdirkan padaku,akan kuterima dan akan selalu ku syukuri.


Penyesalan yang kurasakan kuungkapkan.

Penyesalan selalu terjadi dibelakang peristiwa, tetapi Allah telah memberikan kelebihan pada kita ma nusia, yaitu akal filiran. Kita bisa meminimalkan penyesalan dengan akal fikiran itu.Ya.....semua bisa terjadi diluar kuasa kita. Tolong jangan kesampingkan masalah yang seperti ini. Ya bagi kalian mungkin hal yang wajar.Tapi bagi kami sudah sangat menyakitkan. Jangan sampai diulangi lagi , apapun yang terjad,i cepat beri kabar kepada kami. Kami ada fasilitas khusus dalam hal ini, kabar itu tidak menyulitkan kami. Kami mohon jangan sampai terulang lagi. Apapaun itu kejadiannya kami akan selalu usahakan.
Semua saudaraku memohon maaf kepadaku dan akhirnya mereka mengutarakan alasannya ,kenapa sampai terlambat memberi kabar padaku.
1. Karena kami baru saja pulang cuti, takut kalau kami kesulitan akomodasi.
2. Takut aku shock mendengar kabar duka itu, karena kondisiku yang sedang mengandung.
Ya ampun, ternyata beda prinsip yang membuat penyesalan ini terjadi . Nasi sudah menjadi bubur, sesuatu yang telah terjadi tidak mungkin diulang kembali. Yachhhh akhirnya kuambil sisi baiknya...... karena keluargaku amat "menyayangi" ku, kubuang jauh jauh segala prasangka burukku terhadap keluargaku
Ya Allah aku selalu berterima kasih kepadaMu,tempatkan ayahku disurgamu , ampunkan dosanya,terima amal ibadahnya, kuatkan selalu iman keluarga yang ditinggalkannya," Rabbiqfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani sagira." Amin.
Ya Allah jangan pernah Kau lepas ikatan batinku dengan ayahku ... aku bersyukur atas karunia kelebihan itu.....Amin.
Selamat jalan ayahku tercinta.....canda tawa...segala cerita manja yang ayah berikan padaku masih hangat dipelukanku, sifat disiplin dan tanggung jawab akan kupegang teguh untuk kebahagiaanmu. Doaku tak pernah putus seperti kasih sayanghku padamu tak pernah padam meski waktu dan demensi yang memisahkan kita. Aku selalu sayang......padamu.


Blitar, 27 Juni 2010.
Yuli Agung.

Siapa menuai pahala ?

Rabu, 23 Juni 2010

Sore itu. Suara televisi yang sedang dinyalakan tak terdengar jelas, sepertinya hanya sebagai teman saja agar suasananya tidak sepi. Ruangan berukuran 6x6 meter adalah ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang keluarga. Rumah ini memang tidak mempunyai ruang tamu khusus, jadilah kegiatannya berbaur dari menerima tamu, menonton televisi, menjawab telepon, membaca koran, majalah, mengaji sampai belajar. Pandai-pandailah berbagi kesempatan. Jika tamu si Tuan datang, maka si Nyonya akan bertahan dikamar sampai tamu pulang. Nyonya hanya keluar sebatas membuatkan minuman untuk tamu dan kembali lagi kekamar. Begitu juga sebaliknya. Anak-anak juga bersikap sama, paling basa-basi sebentar, bersalaman lalu masuk kamar sampai tamu pulang. Seperti keong saja, kamarku adalah rumahku. Sesekali keluar melewati ruangan itu untuk memenuhi keperluannya.

Sore itu Miranda, nyonya rumah itu duduk dilantai sedang membuat bunga dari biji-biji yang beberapa hari ini dikumpulkannya. Ada beberapa tangkai telah selesai dibuat. Sesekali saja pandangannya beralih ke televisi dan sekeliling rumah untuk melemaskan otot lehernya yang sedari tadi menunduk memastikan jari-jarinya tak salah menyusun biji-biji itu menjadi sekuntum bunga. Kemudian menunduk lagi dan asyik lagi dengan kegiatannya. Selain sedang asyik dengan kegiatannya itu Miranda memang tak tertarik dengan acara televisi yang sedang tayang dan Miranda yakin disetiap saluran televisi yang akan digantinyapun akan menyiarkan berita yang sama. “Ah nggak kreatif, bikin berita kok sama!” Begitu kira-kira yang dipikirkannya. Jadi dibiarkannya televise menyala dengan suara yang tak kentara dan tak ada pemirsanya. Apa mereka para pembuat berita tidak tahu kalau jam tayang mereka saat ini banyak anak-anak yang akan menyaksikan? Apa mereka tidak sadar apa yang akan ditanyakan anak-anak pada para orang tua yang tidak semua orang tua bisa menjawab dengan baik. “Ah, anak kecil nggak usah ikut-ikut”, “sudah-sudah, mama juga nggak tahu!”, “Ais, nggak penting itu” dan mungkin masih banyak lagi jawaban-jawaban yang bernada tak mendidik karena memang tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Dalam keterasyikannya memasang kelopak-kelopak bunga, Miranda dikejutkan oleh sosok bayangan diluar jendela. Sosok laki-laki berjalan mengarah ke pintu. Tak jelas siapa orangnya karena jendela tertutup fitrase yang agak tebal. Miranda masih tak beranjak dari duduknya, dia hentikan kegiatannya. Miranda mengamati sambil mengerutkan alisnya, meyakinkan kemana bayangan laki-laki itu berjalan. Dalam hatinya berkata “mungkin hanya orang numpang lewat”. Maklum saja rumah dalam perumahan ini tak berpagar, jadi siapa saja bisa melintas tanpa permisi.

Tak berapa lama dari bayangan yang dia lihat tadi, bel pintu rumahnya berbunyi. Kali ini Miranda harus berdiri mendekati pintu dan mengintip dari jendela siapa yang datang. Alisnya berkerut lagi saat melihat dan mengenal orang yang sedang bertamu kerumahnya. Udin, si tukang kebun yang bekerja dirumahnya setiap hari Minggu pagi sampai sore yang sebulannya dibayar tiga ratus ribu rupiah dengan pakaian hariannya, maksudnya bukan pakaian dinas kerjanya. Berarti dia sudah pulang kerumah tadi. “Ada apa sore-sore datang kerumah? Mau meminjam uangkah dan yang nantinya akan diangsur dengan gaji bulanannya” Pikir Miranda. Miranda memutar anak kunci yang masih menempel di pintu dan membukanya agak lebar.

“Apa pak?” tanyanya

“Mau ngomong sebentar bu”

Dalam hati Miranda berucap “serius amat, butuh uang atau apa ya?”

“Mau minta tolong sama bapak, aku ini bu” jawab Udin dengan logat Sulawesinya. Ow, berarti bukan mau pinjam uang. Kalau hanya mau pinjam uang biasanya juga nggak melibatkan Gilang, suami Miranda. Cukup dengan Miranda saja bisa tertangani.

Miranda dan Udin duduk di kursi diteras rumah. Udin mulai menceritakan keadaannya.

“Aduh bu, pusing aku ini. Mau minta tolong sama bapak supaya saya bisa ikut motong rumput didalam”

“Lho.. bukannya pak Udin sudah kerja, udah habis kontraknya?”

“Itulah bu, sekarang ini hanya lebih satu juta saja gajiku, mau pindah saja aku bu”.

Maksud dari percakapan ini adalah Udin saat ini sudah bekerja sebagai pemotong rumput dengan gaji satu juta lebih, Cuma tidak dijelaskan lebihnya berapa. Yang jelas kurang dari dua juta. Mana cukup menghidupi keluarganya.

“Nggak cukup nah bu dengan empat anak, mana empat-empatnya sekolah semua. Ini juga mau bayar untuk ajaran baru. Istri saya juga.. ah.., gajinya Cuma berapa bu, nggak cukup. Itu saja.. gaji saya habis untuk makan. Ah, pusing saya bu”

“Pak Udin, pak Gilang harus gimana? kan nggak bisa masukin orang semau sendiri. Pasti akan dimarah orang nanti”

Miranda benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

“Orang-orang yang kerja itu semua ada yang bawa bu. Kontraktornya maunya ada jaminan orang dalam”

Udin terlihat pasrah dengan nasibnya, dan sangat berharap akan bantuan Gilang yang apakah nanti bisa mengusahakannya atau tidak. Miranda sendiri tidak yakin karena suaminya bukan tipe orang yang menitipkan orang atau memasukkan orang untuk bisa bekerja. Udin kembali menceritakan saat terjadi pengurangan tenaga kerja. Teman-temannya yang membawa sponsor orang dalam padahal kalau dilihat kerjanya juga tidak lebih baik dari dia tetap dipertahakan sehinga dapat dipekerjakan lagi saat ada kontrak baru. Udin tidak tahu apa kriteria yang dipakai untuk memilih mana yang dipertahankan, mana yang diberhentikan dan orang baru yang akan dipekerjakan. Padahal dari pengalaman dia lebih lama, lebih berpengalaman dan tidak berbuat macam-macam artinya dia orang yang rajin dan sunguh-sungguh dalam bekerja. Yang dia tahu hanya orang-orang ini titipan dari orang dalam.

Beberapa nama yang menjadi sponsor diabsennya. Nama-nama orang yang membawa teman-temannya untuk bisa masuk atau tetap dipertahankan menjadi pemotong rumput diperusahaan ini. Udin termasuk yang tereliminasi karena tak ada sponsor saat itu. Dia harus berjuang sendiri mempertahankan pekerjaan yang sudak dilakoninya puluhan tahun. Sekarang dibuang begitu saja tanpa pesangon.

“Begini saja pak Udin, pak Udin bikin surat lamaran saja. Nanti kasihkan bapak, supaya besok disampaikan ke yang mengurusi karyawan-karyawan ini. Siapa tahu nanti bisa membantu”

“Saya sudah bawa bu, saya tinggal disini ya bu?”

“Iya, nanti aku sampaikan ke bapak. Nanti malam pak Udin sini lagi, ngomong sendiri sama bapak biar jelas maksudnya”

“Jadi nanti malam saya kesini ya bu?”

Miranda mengiyakan diikuti pak Udin yang berpamitan dengan membawa segenggam harapan yaitu mudah-mudahan lamarannya bisa diterima, bisa bekerja lagi sebagai pemotong rumput dengan penghasilah lebih dari dua juta, bisa membiayai sekolah anak-anaknya tahun ajaran baru ini.

Miranda menutup kembali pintu rumah, meletakkan map warna kuning yang berisi surat lamaran pak Udin untuk bisa diperkerjakan lagi sebagai pemotong rumput. Mudah-mudahan nasib baik menyerai pak Udin, harap Miranda dalam hati.

Serasa baru sebentar Miranda duduk bersama Gilang diruang keluarga membicarakan kedatangan pak Udin tadi sore. Kini bel pintu sudah berbunyi lagi. Miranda yakin ini pak Udin. Gilang segera membuka pintu setelah mengintip dari balik jendela dan melihat pak Udin yang datang. Beberapa saat mereka berdua berbincang-bindang, agak lirih suaranya. Miranda yang duduk di kursi tamu sedang merenda tak bisa mendengar jelas. Tapi Miranda tahu maksud kedatangan pak Udin, seperti tadi sore. Membicarakan surat lamaran yang ditipkan ke Miranda.

Tak perlu lama-lama untuk membicarakan. Pak Udin segera undur diri masih dengan harapan yang membulat. Gilang meletakkan map itu diatas meja pojok ruangan.

”Terus gimana Pa?” tanya Miranda penasaran apa yang akan dilakukan suaminya besok.

”Yah.. nanti diserahkan saja sama yang mengurus kerjaan ini. Mudah-mudahan saja bisa dimasukkan kalau memang dibutuhkan”

”Ke siapa Pa?” tanya Miranda lagi.

”Ke pimpinannya, dia kan yang butuh enggaknya karyawan”

Haripun berganti, surat lamaran titipan pak Udin sudah diserahkan ke pimpinan proyek. Sekarang tinggal menunggu hasil apakah akan ada panggilan atau tidak. Gilang sendiri tidak yakin ada tidaknya lowongan. Gilang hanya menyerahkan dan tidak menanyakan lagi, semua akan diproses sesuai aturan perusahaan. Gilang tidak bisa memaksakan kehendaknya. Gilang tidak punya hak. Walau pak Udin adalah tukang kebun yang bekerja dirumahnya, Gilang tak bisa berbuat banyak. Gilang tak bisa bermain belakang, itu dosa, semua sesuai prosedur. Kalau memang rezeki ya pasti dipanggil. Itulah Gilang.

Seminggu berlalu dari penyerahan lamaran kerja titipan pak Udin. Beum ada tanda-tanda atau kabar surat lamaran kerja pak Udin. Diterima apa tidak ya? Pikir Miranda.

Seperti nyambung saja, pak Udin sudah berdiri didepan pintu rumahnya setelah Gilang membukakan pintu mendengar bel pintunya berbunyi. Pak Udin dipersilahkan masuk. Gilang mengambil tempat untuk berbincang didepan pintu masuk. Mereka berdua membicarakan dengan lirih, hampir tak terdengar. Lebih kenceng suara televisi yang sedang dinyalakan. Miranda sendiri sedang asyik didepan koputer mengolah kalimat, sedang membuat cerita dan bungsunya duduk didepannya menikmati acara televisi.

”Ma, coba nomor telepon pak Jupri”

“2596” jawab Miranda singkat setelah melihat di intranet.

Gilang segera menekan angka yang dituju, tak ada yang mengangkat. Dicobanya beberapa kali, tak juga ada yang mengangkat.

“Ma, coba nomor telepon pak Sentot”

“3432” jawab Miranda lagi setelah melihat di intranet

Gilang segera menekan angka yang dituju, tak ada yang mengangkat. Beberapa kali dicobanya menghubungi, tapi tak ada hasil.

“Ma, coba nomor telepon pak Joko”

Sekali lagi jari-jari Miranda menekan intranet mencari nomor telepon pak joko dan menemukannya.

“2667”

Sekali lagi Gilang menekan angka yang dituju, mudah-mudahan kali ini berhasil, harapnya. Tak ada yang mengangkat.

“Pada cuti mungkin Pa” kata Miranda

“Eggak, aku tadi lihat dikantor kok”

Tak putus asa Gilang menekan angka 2667 dan akhirnya tersambung juga.

Pembicaraan berlangsung antara Gilang dan pak Joko beberapa menit. Teleponpun kemudian diakhiri. Gilang kembali berbincang-bincang dengan pak Udin. Entah apa yang dibicarakan sekarang. Dan setelah itu pak Udin mohon diri. Gilang melanjutkan aktifitasnya membaca koran yang tertunda dan Miranda masih asyik dengan komputernya, menekan tuts membuat huruf-huruf menjadi kalimat yang menarik. HP Miranda berbunyi tanda sms masuk. Miranda segera membacanya.

“Pak, saya sudah ke rumahnya pak Sentot. Pintu pagarnya digembok, sepertinya orangnya cuti Pak”

Miranda segera menyampaikan isi sms pak Udin ke Gilang. Pak Udin hanya tahu nomor Miranda makanya untuk menhghubungi Gilang hanya bisa melalui Miranda.

”Emang kenapa pak Udinnya kok kerumah pak Sentot?” tanya Miranda ingin tahu perkembangannya.

”Mau dijawab apa ini?” tanya Miranda lagi.

”Nggak usah dijawab, pak Udin hanya memberitahu saja kok”

”Terus gimana akhirnya?”

”Yah, kata pak Joko tadi, ditempatnya tidak menambah karyawan lagi”

Inilah akhir perjalanan lamaran kerja yang dibuat pak Udin beberapa waktu lalu. Allah memang belum membukakan rezeki yang lebih untuk pak Udin. Mungkin inilah yang terbaik untuk pak Udin dan orang-orang disekeliling pak Udin, seperti Miranda dan Gilang sebagai orang terdekatnya. Karena pak Udin adalah tukang kebunnya. Pak Yanto dan istrinya yang mempekerjakan istri pak Udin sebagai tukang bersih-bersih rumahnya. Bagaimana Miranda, Gilang, pak Yanto dan istrinya menyikapi keadaan seperti ini. Akankah hatinya tergerak sedikit untuk membantu meringankan beban pak Udin yang sekarang kebingungan membiayai keempat anaknya yang bersamaan harus membayar uang sekolahnya?

**Dibalik kesulitan seseorang, pasti Allah memberikan jalan keluarnya.
**Dibalik kesulitan seseorang, ada bergelimang pahala. Siapa yang akan menuainya?

Aku yang nakal atau kudanya yang binal

Senin, 21 Juni 2010

Demam sepatu roda melanda kotaku, saat itu....
Tepatnya th 1983....dan..aku baru duduk di kelas 2 SMP.Setiap sore dan Minggu pagi selalu kuhabiskan waktuku bermain sepatu roda di gang kecil samping rumahku.Ayahku sebetulnya kurang setuju dengan olah raga sepatu roda itu, ya terbukti ayahku tidak mau membelikanya untukku.
Kekhawatiran ayahku....belum ternalar dalam fikiranku saat itu.Yaaaa ayah khawatir celaka akan terjadi padaku.Pernah ada kompetisi sepatu roda dikotaku membawa korban yaitu teman sekolah kakakku.Itulah sebabnya ayah melarangku.
Bukanlah aku kalau aku tak bisa merayu ayahku...."Ya nggak enaklah....teman kesini ngajak main di tolak, aku temani dia main ya,"kataku..."Nggak kemana mana....disamping rumah saja....ya pak ,"rajukku.
Aku tahu betapa ayahku sayang dan selalu memanjakanku, kupegang janjiku,aku hanya main digang samping rumahku.

Sepasang Sepatu Roda

Akhirnya aku punya sepatu roda sendiri...Bukan pemberian ayahku.
Ada kakak kelasku yang saat itu suka padaku.....gemh gemh....Dihadiahkannya sepasang sepatu roda padaku..........
Semakin semangatlah aku.(heeeehe kamu pasti tersenyum membaca ini....makasih ya...)
Ayah akhirnya tak pernah melarangku....hanya beliau memohon...aku harus tidur siang terlebih dahulu.
Hampir setiap sore ,waktuku kuhabiskam bermain bersama temanku....Winarni selalu setia menjemputku.Sungguh polosnya aku saat itu, terasa tidak punya beban akan pemberian sepatu roda itu....Maafkan aku bila saat itu rasa sayangku hanya tertuju pada sepasang sepatu roda itu,tapi dibalik itu kau pun tahu aku menyambut jalinan cinta monyet itu.


Celaka menimpaku

Suatu hari... kala ayahku lebih dulu istirahat siang......aku mulai mencuri kesempatan....kuambil sepatu rodaku.....dan mainlah aku....sendiri...tanpa ditemani teman mainku.
Yaaaah belum lama waktu yang kumanfaatkan bermain ..... tiba tiba.... nenek disebrang gangku berteriak teriak......awas ,Aawas, awas nak Yuli!" Betapa kagetnya aku.....
Seekor kuda delman lepas dan lari mengejarku....... Tak tahu apa yang terlintas dibenakku. Kupercepat laju sepatu rodaku dan melompat dipinggir got kecil samping rumah pamanku. Sambil meringis kesaklitan kutahan sakit di pergelangan tanganku. Tanpa kusadari pula...." yang terhormat tuan kuda" sudah berdiri disampingku...... ya ampun... dia mengendusku........malang tak bisa kutolak mujurpun tak jadi untung.......Bagaimana tidak pergelangan tangan kananku langsung bengkak..... dan aku hanya mujur dapat ciuman kuda......Sial betul atau betul betul sial.
Yang paling beruntung saat itu adalah kusir delman....dengan mudahnya dia mendapatkan kudanya kembali ,tanpa menghiraukan aku sama sekali.Huff dengan wajah yang tak berbeban sikusirpun berlalu......


Tukang pijat segera menolongku.


Nenek sebrang gang rumahku tadi namanya mbah Jitun , beliau tukang pijat handaldikampungku, dengan ramahnya dia menyapaku.... ,"Piiye nak Yuli ndak papa?"(bagaimana nak Yuli, ndak papa) Sambil meringis menahan sakit kulepas sepatu rodaku sambil berkata ," Mboten bah, namung tangan ngriki sing sakit."(ndak papa mbah,cuma bagian tangan sini yang sakit)
Ya Allah langsung bengkak tanganku.
Mbah Jitun langsung menggandengku....didudukkannya aku diteras rumahnya....dipijitnya bagian tanganku yang sakit, mengerang ngeranglah aku menahan sakit.....tangis tak bisa kubendung. Dari balik jendela ayahku melongok melihatku, ya ....ampun... pasti kena marah lah aku....
Tak lama ayahku keluar menjemputku...... dengan nada lirih beliau menegurku....makanya kalau sudah janji tidak boleh diingkari....suruh bobok siang dulu ....malah lari.... Sudah diam jangan diulangi.....
Sambil digendong belakang ayahku aku pulang kerumah dgn terus meringis menahan tanganku yang semakin bengkak itu.Retak ternyata kondisi tanganku. Biasa , bisa kutebak sifat dan sikap ayahku.Dengan ketegasannya selalu membuat takut siapapun yang melihatnya. Tapi lain halnya denganku, sudah hafal sisi kelemahan ayahku.Kuturuti segala kemauannya, tidur siang selalu
kulakukan, sepatu roda sementara kulupakan.

Kelereng permainan baruku.

Halaman rumahku cukup luas. Setiap sore kukumpulkan teman teman sebayaku, laki laki semua. Kuajak bermain kelereng" CIRAK" nama permainannya.Dengan mengandalkan kelincahan sebelahku tanganku ,
sering kumenangkan permainan itu. Ayahku yang selalu asyik menemani permainanku, selalu tertawa geli melihatku. aku yang perempuan sungguh tak mau kalah dengan kelincahan teman teman lelakiku.
ayah selalu percaya kepadaku, tak pernah aku melanggar tanggung jawab yang sudah dibebankan padaku. Hal hal yang membahagiakan aku masih melekat kuat dilubuk hatiku. Saat aku terlena dengan permainanku, ayah selalu menegurku," Hayo , sudah selesai mainnya, sudah sore, mandi!"
Biasa dengan manjanya aku selalu menmggoda," Gedong belakang dulu, aku baru mau!' Dengan sabar dan saking sayangnya ayah kepadaku, ayah selalu menuruti kemauanku.Ya , badanku dulu kecil mungil. Banyak tetangga yang suka mengolokku," Waduh...pakde Saji dikerjain "Anak Mas'e." Ayahku selalu berlalu dengan senyumnya

Suamiku

Minggu, 20 Juni 2010

Oleh Winny W Sutopo

Suamiku adalah seorang laki-laki biasa
Berwajah biasa
Berpenampilan biasa
Berkemampuan biasa
Berasal dari keluarga biasa

Laki-laki biasa yang bisa marah
tetapi juga bisa membuatku marah
Bisa jengkel menghadapi ulahku
seperti aku juga jengkel menghadapi ulahnya
Bisa sebal
dan menyebalkanku

Tetapi

Laki-laki biasa ini telah setia , sabar dan ulet mendampingi ku selama 25 tahun
Memberiku 2 buah hati yang luar biasa
Memberiku kehidupan yang penuh warna
Menempa diriku menjadi lebih dewasa
Berjuang menjalankan amanah tugasnya sebagai pekerja
Meneteskan keringat untuk menafkahi keluarga
dan memberi kami kehidupan yang baik

Laki-laki biasa ini bisa menerima ulahku tanpa mengeluh
Tidak berkeberatan menggosok punggungku yang mulai menua dengan minyak gosok
Tidak mengeluh melihat perubahan bentuk tubuhku seiring dengan bertambahnya usia
Tidak bersungut mencicipi masakanku yang amburadul rasanya
Laki-laki biasa ini tidak menuntutku untuk menjadi sempurna

Karena ke-biasa-annya inilah
Ia menjadi luar biasa bagiku

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah aku tidak bersedia menjadi isterinya
Karena aku hanya
Wanita biasa

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah ia tidak bersedia menerimaku sebagai isterinya
Karena aku hanya
Wanita yang tidak sempurna

Ketika Kita Mengeluh

Winny W Sutopo
Ketika kita mengeluhkan makanan yang tidak enak....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai makanan?

Ketika kita mengeluh tentang berat dan membosankannya pekerjaan .....
Pernahkah terpikir tentang orang yang tidak mempunyai pekerjaan?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya penghasilan....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai penghasilan?

Ketika kita mengeluh tentang bentuk tubuh ......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang cacat tubuhnya?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya rumah kita.......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai rumah?

Ketika kita mengeluh tentang kerepotan mengurus anak.......
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak mempunyai anak?

Ketika kita mengeluh tentang kebosanan mengajari anak.......
Pernahkah terpikir akan anak-anak yang tidak beribu?

Ketika kita mengeluh tentang kecerewetan suami.....
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki suami?

Ketika kita mengeluh tentang kebodohan pembantu?
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki pembantu?

Ketika kita mengeluh tentang.........


Begitu banyaknya keluhan kita, sampai kadang lupa menghitung banyaknya nikmat yang telah Allah limpahkan.


( diilhami oleh renungan dari salah satu stasiun radio)

Pilihan Hidup :Pelajaran Kecil dari Jasiah

Winny W Sutopo

Kadang bahkan dari orang-orang kecil kita mendapat pelajaran hidup yang berharga. Jasiah pembantuku bukanlah orang yang istimewa. Bahkan untuk ukuran pembantu pun ia tergolong pembantu yang agak sedikit di bawah rata-rata kemampuannya. Ia tidak bisa membaca dan menulis, lambat menangkap penjelasan, daya ingatnya juga lemah. Sejak 15 tahun yang lalu ia bekerja padaku, tidak banyak pelajaran yang dapat diserap.

Ia masih gadis ketika mulai bekerja, kendati umurnya ketika itu sudah mendekati angka 40 tahun. Beberapa tahun kemudian ia mengumumkan bahwa ia akan menikah. Pilihannya jatuh kepada seorang laki-laki pengangguran yang dahulu pernah bekerja sebagai tukang kebun di salah satu keluarga expatriate. Dan ia akan berstatus sebagai isteri ke 4. Ketika ditanyakan apakah ia sudah mempertimbangkan masak-masak pilihannya itu, jawabannya adalah :"Saya cinta". Well, apa lagi yang bisa diperbuat kalau sudah begini?

Setelah perkawinan tersebut, Jasiah tetap bekerja pada kami. Suaminya tidak setiap hari menyambangi. Meski demikian setiap suaminya datang Jasiah tetap melayani keperluannya. Saya sendiri tidak pernah melihat wajah suaminya, karena ketika itu saya tidak berdomisili di Bontang.

Sampai pada suatu hari lebaran. Ketika itu kebetulan saya dan anak-anak berlebaran di Bontang. Di tengah kesibukan menyambut tamu yang datang berkunjung, muncullah sepasang suami isteri yang tidak saya kenal. Meski demikian, karena sudah biasa kadang-kadang ada tamu yang tidak saya kenal, maka tamu ini pun saya layani dengan baik. Jasiah membuatkan teh hangat dan kemudian menyajikannya. Tetapi tampaknya, tamu saya ini sudah mengenal Jasiah, karena itu ketika mereka sudah pulang saya bertanya kepada Jasiah siapa tamu tersebut. "Itu suami saya dengan isteri pertamanya bu". Wow. Terbayang, Jasiah tadi dengan santun membawakan teh hangat dan menyajikannya dengan sopan kepada madunya yang datang bersama suaminya.

Keesokan harinya, pasangan ini datang kembali. Tidak bertamu, tetapi langsung ke belakang. Jasiah minta ijin untuk menggunakan dapur karena akan masak-masak bersama madunya. Saya perbolehkan sambil saya perhatikan. Mereka berdua sibuk memasak ikan yang dibawa oleh isteri tua suaminya sambil mengobrol seperti layaknya kawan akrab. Sesudah itu mereka bertiga makan bersama di meja makan mereka sambil mengobrol dengan akrab.

Lain waktu lagi, ketika pulang dari kegiatan PWP, saya melihat sepasang sandal anak-anak di serambi samping rumah. Menilik kondisi sandalnya, saya perkirakan ini adalah sandal keponakan Jasiah yang memang sering datang berkunjung. Di dapur saya lihat Jasiah sedang menggoreng ikan sambil menjawab pertanyaan seorang anak kecil. Saya tanya siapakah anak kecil itu. "Anak suamiku,bu. Dia datang dengan isterinya untuk ambil air." Jadi, suaminya datang dengan isteri ke tiga membawa anaknya untuk diasuh Jasiah, sementara saya tidak melihat dimana mereka berdua. Saya lihat dengan sabar Jasiah mengasuh anak tersebut. Koq, bisa ya? Koq tidak direbus saja anak itu ha ha ha atau dimasukkan ke penggorengan , seperti cerita-cerita tentang ibu tiri lainnya.

Selama hidup perkawinannya, saya belum pernah mendengar Jasiah mengeluh tentang suaminya. Padahal dia tidak pernah diberi nafkah, wong suaminya tidak bekerja.

Saya renungkan episode Jasiah ini dan saya sampai pada kesimpulan bahwa Jasiah memilih dengan bertanggung jawab. Ketika ia memutuskan untuk menikah dengan laki2 pengangguran yang sudah memiliki 3 isteri lainnya, ia sudah mempertimbangkan dengan masak semua resiko yang harus ia tanggung. Yang hebatnya, ia kemudian dengan konsisten menerapkannya. Itu sebabnya ia tidak pernah mengeluh dan bisa melayani isteri-isteri suaminya dengan baik.

Kalau saya menuliskan kisah ini, bukan berarti saya menyuruh ibu-ibu yang membacanya untuk mau menjadi madu atau mau dimadu. Bukan.

Saya hanya ingin berbagi tentang bagaimana kita mengambil keputusan dan bersikap konsisten terhadap keputusan tersebut. Dalam hidup kita kerap dihadapkan pada pilihan yang harus kita putuskan. Setiap keputusan pastilah memiliki resiko. Seringkali ketika mengambil keputusan, kita tahu resikonya tetapi ketika resiko tersebut benar-benar ada di depan kita, kita tidak siap menerimanya. Lalu mulailah kita mengeluh dan menyesali diri. Seperti pilihan kita dalam memilih pekerjaan, memilih jodoh, memilih tempat tinggal , memilih untuk memiliki kartu kredit, memilih untuk berlibur ke suatu tempat dan banyak lagi. Beberapa kali saya menjumpai orang yang mengeluh gajinya kecil sebagai guru atau pegawai negeri. Padahal sudah sangat jelas bahwa guru atau pegawai negeri dari sejak dahulu kala memang tidak pernah bergaji besar. Lalu, ketika memutuskan untuk menjadi guru atau pegawai negeri apakah hal ini sudah dipikirkan? Jadi, apakah fair untuk mengeluh ketika berhadapan dengan fakta bahwa gaji pegawai negeri atau gaji guru tidak besar?


Jasiah yang bodoh dan berpikiran sederhana saja dapat bersikap dewasa ketika menentukan pilihan hidup dan mengambil keputusan. Maka saya yakin, kita , yang meng klaim diri sebagai orang yang berpendidikan, pandai dan berwawasan, pastilah dapat lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu dan menyikapi keputusan tersebut. Wallahu alam.

Memiliki Bukan Berarti Menikmati

Winny W Sutopo
Beberapa tahun yang lalu, ketika mengantar anak saya mengkuti test masuk di salah satu sekolah islam favorit di jakarta, saya tertarik mengamati kejadian ini:

Murid2 datang dengan mobil2 mewah diantar oleh sopir dan seorang pembantu. Setelah mobil berhenti di tempat yang telah disediakan, pembantu turun dengan membawakan tas sekolah dan bekal kemudian membantu anak majikannya turun dari mobil. Mobil pun kemudian menuju tempat parkir. Sopir turun, berkumpul dengan kawan2 sesama sopir dan mereka mengobrol menunggu saatnya anak majikan pulang sekolah. Pembantu yang telah selesai membantu anak majikan, juga berkumpul dengan sesama pembantu, mengobrol dengan kawannya yang ada disitu atau bertelepon menggunakan ha pe sambil menunggui anak majikan bersekolah.

Sekolah ini memang terkenal sebagai sekolah islam yang sebagian besar muridnya ( kalau tidak mau mengatakan seluruhnya) adalah anak2 orang kaya. Kantinnya mewah ,berisi jajanan yang biasa ditemui di mall, uang sekolahnya mahal .Bila liburan tiba murid2 menghabiskan waktu dengan berlibur keluar negeri sambil sebelumnya berurunan mengumpulkan uang untuk membiayai beberapa orang guru pergi umroh.

Kembali ke peristiwa di atas, selama dua hari disana dan melihat pemandangan yang sama , saya jadi merenung dan berpikir. Alangkah Maha AdilNya Allah. Mobil seharga ratusan juta itu, mustahil dimiliki oleh sopir atau pembantu. Tentulah itu milik majikannya. Majikan yang saat itu mungkin sedang bekerut-kerut keningnya memikirkan bisnis atau kesulitan lain agar dapat membiayai gaya hidupnya. Majikan yang bekerja dari pagi sampai malam demi mengumpulkan uang untuk dapat membeli mobil mewah , yang pada akhirnya tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya . Ia yang berupaya membeli mobil bertransmisi otomatis agar nyaman berkendara, pada akhirnya tidak dapat menikmati ringannya transmisi otomatis, karena yang mengendarai mobil itu hanyalah sopirnya. Sementara sopir dan pembantu yang bukan pemilik, saat itu menikmati enaknya menaiki mobil mewah, berjok empuk, berpendingin udara dan transmisi otomatis, tanpa harus repot berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk membeli bensin, biaya service atau membeli spare parts yang bisa mencapai jutaan rupiah. Mereka duduk2 di sekolah sambil mengobrol dan tertawa lepas dan pada akhir bulan menerima gajinya. Menilik mobilnya, pastilah si majikan mempunyai rumah yang juga tidak kalah wah . Tetapi rumah bagus itu pun tidak dapat dinikmati. Rumah mewah dan megah pun hanya berfungsi sebagai tempat tidur malam bagi keluarga majikan, karena pagi-pagi pemiliknya sudah harus pergi bekerja menembus kemacetan dan baru kembali larut malam. Paling hanya pada akhir minggu saja sang pemilik dapat menikmati rumahnya. Itu pun bila pada hari itu tidak ada acara di luar rumah menanti. Akhirnya rumah mewah dan megah itu beserta segala perlengkapan yang modern pun kembali hanya dinikmati oleh pembantu. Kompor listrik, televisi layar datar berukuran besar, lantai marmer, ruangan berpendingin udara, bahkan tidur siang pun, semua itu hanya dinikmati oleh pembantu.

Padahal kalau dipikir, dengan penghasilan sebagai sopir dan pembantu, mustahil mereka dapat membeli rumah megah, mobil mewah dan perlengkapan modern lainnya. Tetapi Allah dengan segala kebesaranNya memberi mereka kesempatan untuk menikmati semua itu tanpa harus memiliki.

Kejadian ini sungguh menggelitik saya untuk merenungkan beberapa hal :

1. Ternyata memiliki tidak selalu berarti mampu menikmati. Sebaliknya untuk dapat menikmati, orang yang tidak perlu harus memiliki.
2. Tidak perlu hidup ngoyo mengumpulkan harta, apalagi sampai mengorbankan kepentingan orang lain, melalaikan kesehatan atau melanggar aturan, karena pada akhirnya kita tidak dapat menikmati semuanya.

Wallahu alam.

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Winny W Sutopo
Isi status kawan-kawanku akhir-akhir ini terasa mellow ( termasuk statusku juga ), karena merasa sedih ditinggalkan oleh anak-anak yang harus berkuliah atau bekerja di tempat lain.

Dua puluh empat tahun yang lalu, menjelang pernikahanku, dengan riang gembira dan bersemangat aku mengepak barang-barang yang akan aku bawa menuju Bontang- tempat tinggalku yang baru - mengikuti suami. Saat itu ibuku masuk kamar dan tiba-tiba beliau berkata : "Mama tidak suka melihat kamu mau pergi. Mama yang merawat, membesarkan dan mendidik kamu, setelah berhasil, eh, malah kamu mau pergi meninggalkan mama." Aku cuma diam saja tidak mengerti harus menjawab bagaimana, karena masih terkesima dengan pernyataan ibuku. Rasanya beberapa waktu yang lalu beliau sangat bersemangat menyuruh aku menikah, menggebu-gebu dengan rencana pernikahan dan kepindahanku ke Bontang. Lho, kenapa sekarang angin berbalik arah ya ?

Sekarang , dua puluh empat tahun kemudian, aku baru dapat memahami dan merasakan perasaan ibuku saat itu. Ada rasa haru, sedih, bangga dan ditinggalkan campur aduk menjadi satu ketika melihat buah hati yang telah dirawat, dibesarkan dan dididik sekian lama "tiba-tiba" menjelma menjadi mahluk dewasa, independen dan merintis jalan hidupnya sendiri.

Rasanya baru kemarin anak-anak itu aku ajari membaca, menggosok gigi, naik sepeda. Baru kemarin, anak-anak itu berceloteh dengan bahasa bayinya yang hanya dimengerti oleh ibunya sendiri, tetapi dengan bangga aku memproklamirkan bahwa "anakku sudah bisa bicara, lho". Baru kemarin aku mengantarkan mereka ke gerbang TK dengan seragam putih hijaunya lengkap dengan botol minum dan tempat roti. Masih kuingat ibu Susi, kepala sekolah TK mengadu bahwa anakku Didit, yang baru kelas TK A mendatangi ruang kepala sekolah dengan berurai air mata sambil berdomonstrasi mengutarakan ketidaksukaannya karena guru kelasnya selalu berganti-ganti. Baru kemarin juga rasanya ibu Anna, guru Shinta melaporkan bahwa ia didoakan masuk neraka oleh Shinta karena sering marah-marah. Ah, anak-anak yang kritis, lucu dan polos...

Sekarang mereka sudah dewasa, Shinta 21 tahun dan Didit 23 tahun, sudah memasuki masa dewasa muda. Tetapi di mataku sebagai ibu, mereka tetaplah anak-anakku yang manis, lucu dan menggemaskan. Karena itu, dua minggu menjelang kedatangannya, aku sudah heboh menyediakan stok makanan yang mereka sukai, seakan-anak mereka akan lama berlibur bersama kami. Kamarnya sudah aku rapikan dan bersihkan. Di pasar, aku juga melihat beberapa ibu yang sama hebohnya denganku, sibuk membeli makanan yang disukai oleh anak-anaknya, yang akan datang berlebaran.

Selama bersama-sama, masih saja aku memperlakukan mereka seperti anak-anak kecil. Mereka aku peluk, aku cium sampai mereka protes " Mama, aku sudah bukan bayi lagi". Dan dengan kepala batunya aku menyahut:"Biar, dimata mama kalian tetap anak bayi". Dan mereka menyahut:"Kalau gitu, mama harus ganti kacamata tuh"..ha ha ha ha. Tetapi di lain pihak, mereka juga tetap bersikap seperti bayi. Dengan badannya yang sudah sebesar gajah, mereka menyesaki tempat tidurku, bercanda, mengobrol, mengomel, berkeluh kesah tentang pekerjaan dan studi mereka dan bercerita tentang kawan-kawan dan pacar-pacar mereka .

Dan setelah lima hari yang membahagiakan, tibalah saatnya kami harus berpisah. Rasanya lima hari itu tidak cukup dan sejujurnya tidak akan pernah cukup berapa hari pun kami bersama. Perasaan sentimentilku menginginkan agar anak-anak tidak usah pulang lagi ke bandung dan jakarta. Tetapi anak bungsuku berkata "Mama, kalau aku disini terus, aku tidak akan lulus-lulus ma. Aku pergi menuntut ilmu dulu, ya". Di lain pihak, rasioku juga membenarkan kata-kata si bungsu. Saat itulah aku terombang-ambing dalam situasi yang menurut Jung-salah seorang pakar psikologi-internal conflict .

Kasih ibu memang tidak akan pudar sepanjang masa. Ia akan terus ada dan menyala dengan hangatnya untuk anak-anak terkasih. Tidak peduli anak itu masih bayi atau sudah dewasa, sampai kapan pun anak-anak membutuhkan, kasih ibu akan terus ada.

Dalam situasi seperti ini, saya jadi tersadar bahwa anak memang bukan milik kita. Kita hanya dititipi sambil diberi amanah untuk merawat, membesarkan, mendidik dan memelihara mereka. Tetapi mereka bukan miliki kita, karena itu kita harus siap kapan pun anak-anak itu meninggalkan kita dan menempuh jalannya sendiri. Tetapi kasih ibu akan selalu menyertai dan menaungi setiap langkah mereka diiingi doa agar Allah senantiasa melindungi dan membimbing mereka di jalanNya.

Happiness Comes from GIVING not GETTING

Winny W Sutopo
Membaca status yang ditulis salah satu kawan saya pagi ini menggelitik saya untuk menuliskan beberapa pengalaman orang-orang yang pernah saya kenal dan berhubungan dengan status di atas.

Saya mengenal Bapak X ( sengaja saya samarkan namanya, karena beliau pasti tidak mau menjadi terkenal gara-gara saya menuliskan ceritanya) beberapa tahun yang lalu. Bapak ini masih muda, kaya dan memiliki beberapa perusahaan yang semuanya maju. Beliau bercerita bahwa perusahaannya dirintis dari kamar belajar sejak beliau masih mahasiswa. Sedikit demi sedikit usaha ini berkembang sampai memiliki banyak karyawan dan omzet besar. Di saat perusahaannya sedang berada pada puncak kebesarannya, badai krisis moneter tahun 1998 melanda. Perusahaan ini pun terkena imbasnya. Beliau bercerita bahwa saat itu banyak tagihan perusahaan yang tidak dapat kembali karena semua perusahaan juga mengalami krisis. Pada saat-saat genting karena keuangan perusahaan mulai kacau balau, beliau menawarkan kepada karyawannya untuk meninggalkan perusahaan agar perusahaan masih dapat memberi pesangon. Tetapi karyawan yang ada sebagian besar memilih untuk tetap bertahan. Melihat kenyataan ini, bapak X lalu mengambil keputusan untuk mendahulukan kepentingan karyawan daripada dirinya. Uang yang ada setiap bulannya, digunakan untuk membayar gaji karyawan, bila masih ada sisa barulah ia mengambil bagiannya. Menurut ceritanya, saat itu tidak jarang ia tidak mendapat gaji bulanan yang seharusnya diterima atau kadang-kadang ia hanya menerima gaji yang sama besar dengan gaji office boy di kantornya. Bukan itu saja, bapak X juga memutuskan untuk membantu karyawannya dengan membelikan sembako. Menurut pendapatnya, gaji yang diterima karyawan sulit untuk mengejar kenaikan harga-harga yang melonjak-lonjak, sehingga dengan membelikan sembako, uang yang ada mungkin masih bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih besar.

Tentu saja keputusan itu menuai protes dari berbagai pihak, karena dinilai kontroversial dan merugikan perusahaan. Bahkan partner bisnisnya kemudian meninggalkan perusahaan karena tidak setuju dengan keputusannya. Tetapi ia tidak bergeming dan dengan kehendak Allah, perusahaan tersebut tetap bertahan bahkan berkembang lebih besar lagi.

Lain lagi pengalamanku dengan dr.Ida. Bu dokter yang satu ini adalah dokter favorit di Bontang. Kemana pun beliau pindah, pasiennya pasti setia mengikuti. Di klinik, dimana kami bekerja sama, bila waktunya dr.Ida praktek, semua karyawan harus siap bekerja keras dan bekerja lembur karena pasiennya mencapai seratus orang. Karyawan klinik menjuluki beliau Menteri Kesehatan Bontang.

Pasien mencintai beliau karena dr.Ida ( saya berani menyebut namanya karena yakin beliau tidak bergabung di ef be ) selalu menyediakan diri untuk mendengarkan semua keluhan pasiennya, baik yang berhubungan dengan penyakit mau pun yang tidak berhubungan. Walau pun pasiennya membludak, ia dengan sabar mendengarkan cerita pasiennya. Bila bertemu di luar ruang praktek, ia akan menanyakan kabar keluarga pasien. Jangan bayangkan bahwa pasiennya orang berada semua. Justeru kebanyakan pasien dr.Ida berasal dari kalangan ekonomi bawah. Karena itu setelah selesai menangani pasien, biasanya dr.Ida akan menanyakan apakah pasien mempunyai uang untuk ongkos pulang. Kalau tidak ada, maka bu Ida tidak segan-segan memberi ongkos pulang sambil menolak uang biaya pemeriksaannya.

Dengan sikap seperti ini tidak heran bahwa ia disayangi oleh pasien-pasiennya. Sehingga ketika ia harus pindah ke jakarta mengikuti suami, banyak pasiennya yang menangis. Saya ingat, ketika mengadakan pesta perpisahan untuk dr.Ida di klinik, saya melihat seorang nenek tua berdiri berpegangan di tiang klinik berdiam diri sambil terus memandangi dr.Ida.

Buah keikhlasan beliau menyantuni pasiennya dengan baik adalah kelima anak beliau semua menjadi sarjana. Dua yang terbesar menjadi dokter dan menikah dengan dokter pula, yang nomor tiga psikolog, yang nomor empat insinyur dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama dan yang bungsu apoteker. Semua saat ini bekerja dan berumah tangga dengan baik. Keluarga beliau selalu aman dari gosip dan anak2nya berakhlak baik.

Allah berjanji bahwa barangsiapa memudahkan hidup orang lain, maka Allah akan memudahkan hidupnya. Dengan berbagi- bukan hanya harta-melainkan ilmu, perhatian, kasih sayang- maka kita telah memudahkan hidup orang yang ada di sekitar kita. Karena itu Allah pasti memenuhi janjinya untuk memudahkan hidup kita dan memberi kebahagiaan-seperti pengalaman dua orang yang saya kagumi- di atas. Sudahkah hari ini saya berbagi?

Dua Bulan dalam Hidupku

Winny W Sutopo

Dua bulan terakhir ini aku keluar dari kehidupan rutinku di bontang. Dan dalam dua bulan ini banyak hal yang kutemui dan ternyata memperkaya kehidupan batinku.

Aku bertemu sekelompok anak muda yang pandai, cerdas, sopan, berdedikasi dan bersemangat kerja tim tinggi. Nasib mempertemukan mereka untuk sama-sama bekerja pada suatu perusahaan besar bergengsi. Nasib pula yang kemudian membawa meraka untuk bersama-sama mengalami kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja ditutup. Ketika pertama kali saya bertemu mereka, tentu mereka seedang tidak dalam kondisi yang positif, rasa cemas, bingung, kecewa, patah hati , marah, semua berbaur menjadi satu. Perasaan yang mudah untuk dipahami, karena tadinya mereka telah menggantungkan nasib dan kehidupan keluarga kepada perusahaan yang amat mereka banggakan, tetapi kemudian secara mendadak mereka harus kehilangan semuanya.

Tetapi yang membanggakan dari mereka adalah, selain sifat-sifat baik yang telah saya tuliskan di atas, mereka adalah sekelompok anak muda yang tegar, penuh keyakinan diri dan berpikiran positif. Di tengah kemelut, mereka tetap menampilkan keceriaannya, kekompakannya sebagai suatu tim juga tetap tergambar dalam aktivitas sehari-hari dan kecintaannya kepada perusahaan tetap terpelihara seperti yang tampak dalam foto-foto perpisahan yang diadakan.Dengan bersemangat , optimis dan tetap ceria mereka juga bergerak untuk mencari pekerjaan baru.

Saya juga bertemu dengan sekelompok pegawai yang menduduki jabatan managerial di kantornya. Kantor tempat mereka bekerja merupakan kantor besar dengan reputasi yang baik. Mereka sendiri juga merupakan karyawan yang pandai, berdedikasi dan berkomitmen tinggi terhadap perusahaan tempat kerjanya. Tetapi yang mengejutkan bagi saya adalah ternyata gaji mereka tidak segemerlap jabatannya. Bahkan di perusahaan tempat suami saya bekerja, level gaji itu hanya diterima oleh karyawan biasa.

Saya sempat pula berinteraksi dengan sekelompok ibu yang harus menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya, karena suami-suami mereka kehilangan pekerjaan. Meski berat beban yang mereka sandang, tetapi mereka tetap gembira, bercanda dan bersemangat. Kesulitan yang dihadapi mereka sikapi dengan positif, bahkan mereka malah bisa membuka lahan kerja baru bagi sekelompok orang.

Dalam kurun dua bulan ini, di lain pihak saya juga bertemu dengan sekelompok orang yang telah mapan dalam kehidupannya, tidak lagi sibuk memikirkan nafkah untuk keluarga. Dan dengan segala kelebihan yang mereka miliki, mereka tidak menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya mereka membagikan kebahagiaannya dengan berkiprah di bidang sosial. Ada ibu yang membuka PAUD di garasi rumahnya untuk anak-anak balita dari kalangan yang termarjinalkan, ada bapak yang ikut menggiatkan kembali gerakan pramuka untuk membangun kembali karakter bangsa ini, ada yang membantu memberdayakan ekonomi dan kehidupan beragama masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya hingga membentuk komunitas yang besar. Mereka membiayai sendiri kegiatannya, tidak menunggu bantuan atau donatur . Mungkin tidak banyak yang melihat kiprah mereka, apalagi yang tergerak untuk memberikan tanda jasa. Tetapi mereka tetap istiqomah dengan kegiatannya.

Semua ini membuka mata saya untuk melihat kenyataan hidup yang jauh berbeda dari apa yang saya rasa dan alami dalam kehidupan keseharian saya yang nyaman. Bertemu mereka yang kehilangan pekerjaan membuat saya jadi berpikir alangkah rapuhnya keamanan bekerja saat ini. Setiap saat perusahaan tempat kita atau suami berpijak bisa ditutup sehingga kenyamanan yang saat ini kita rasakan bisa luluh . Hal ini membuat saya mensyukuri bahwa suami saya masih memiliki pekerjaan yang baik di tempat yang stabil. Berjumpa dengan sekelompok manajer dengan gaji yang tidak setara dengan gemerlap jabatannya, menyebabkan saya bersyukur karena perusahaan tempat suami saya bekerja mampu memberikan kehidupan, penghasilan dan fasilitas yang jauh di atas layak bagi kami warganya. Bergaul dengan ibu-ibu yang harus mencari nafkah bagi keluarganya menyebabkan saya jadi merasa malu karena hanya bisa menghabiskan gaji suami untuk keperluan yang konsumtif sifatnya. Dan bertemu dengan kelompok manusia yang sudah mengawali upaya untuk memperhatikan dan memperbaiki kehidupan sekitar mampu membuat saya jadi berpikir apa yang sudah saya perbuat untuk lingkungan saya. Alangkah malunya saya, karena di tengah kenyamanan yang saya kecap, masih amat sedikit sumbangsih yang saya berikan untuk lingkungan saya.

Dua bulan ini amat inspiratif bagi saya dan memperbaharui semangat hidup saya.
Dua bulan ini telah membuka mata saya untuk berhenti mengeluh dan menganggap bahwa kesulitan saya adalah yang terbesar di dunia ini.
Dua bulan ini telah membuat saya tersadar akan sedikitnya sumbangsih yang telah saya berikan kepada lingkungan.
Dua bulan ini telah membuat saya malu karena kurang mensyukuri apa yang telah saya terima selama ini
Dua bulan ini membuat saya lebih mencintai dan menghargai suami saya dan kerja kerasnya bagi perusahaan dan keluarga

Ya Allah, bantulah saya untuk tetap menyukuri semua nikmat yang Engkau berikan.
Ya Allah, bantulah saya untuk tidak banyak mengeluh atas kesulitan yang saya hadapi, karena semua itu tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi teman-teman baru saya
Ya Allah, bukakanlah mata hati dan pikiran saya agar dapat mencontoh apa yang telah mereka lakukan.
Ya Allah, tegarkan hati saya agar dapat istiqomah dalam menapaki kehidupan ini.

Didalam Kesulitan pasti ada Kemudahan

Winny W Sutopo
Sudah 3 minggu ini aku bolak balik antara rumah ayahku di menteng ke salah satu SMP negeri favorit di bilangan kampung melayu untuk mendaftarkan anakkku. Aku menyadari bahwa tidaklah mudah untuk mendaftarkan murid baru di kelas 2 di sekolah favorit. Apalagi anakku berasal dari SMP swasta di daerah. Meski pun demikian aku masih menyimpan secercah harapan, mengingat anakku adalah siswa berprestasi dan juara matematika se propinsi kalimantan timur.

Kenyataannya, kepala sekolah terlihat tidak tertarik untuk menelaah lebih lanjut tentang anakku ini. Tumpukan dokumen dalam map hanya pernah dilihat sekilas sambil bergumam bahwa anakku memang pandai. Meski demikian, ia tidak dapat menjanjikan bahwa anakku dapat diterima bersekolah disini. Hanya bila ada bangku kosong.

Ayahku mengatakan bahwa itu merupakan tanda bahwa aku harus membayar agar anakku dapat diterima. Aku berkeras menolak gagasan itu. Anakku pun mengatakan bahwa ia tidak berkeberatan untuk bersekolah di tempat lain, bila ia memang tidak dapat diterima di sekolah itu. "Aku tidak mau masuk sekolah dengan "cara yang bengkok", karena kalau begitu bagaimana aku bisa jadi anak yang lurus", demikian katanya.

Hari itu, untuk kesekian kalinya aku menenteng map berisi kumpulan dokumen anakku. Dengan menaiki bajaj aku kembali ke sekolah itu, berharap hari ini kepala sekolah mau memberi lampu hijau bagi anakku. Entah mengapa, selama di bajaj aku terus menerus menggumamkan doa "Allahumma yasiir wa la tu asiir" yang artinya ya Allah mudahkanlah jangan dipersulit. Beberapa kali aku mencoba melantunkan doa yang lain, tetapi tanpa kusadari mulut ini terus saja menggumamkan doa yang sama.

Sesampai di sekolah, setelah menunggu sejenak, kepala sekolah bersedia menerimaku. Ia mulai mengobrol dengan logat sundanya yang kental. Aku juga menjawab dengan bahasa sunda. Tiba-tiba ia bertanya :"Koq ibu tiasa basa sunda?" Aku menjawa "Muhun, da pun biang sunda". "Sundana ti mana?" "Garut". "Atuh ari kitu urang teh wargi, da abdi oge ti garut ( terjemahan bebasnya begini : "koq ibu bisa bahasa sunda?" "Ya, karena ibu saya orang sunda". "Sundanya darimana?" " Dari garut"."Wah, kalau begitu kita saudara, karena saya juga dari garut").

Ajaib, saat itu juga dia meraih map dan membukanya lalu mengatakan bahwa ia akan memberi surat ke Depdiknas agar anakku diperbolehkan mengikuti test masuk sekolah negeri, sebagaimana harusnya. Ya Allah, demikian mudahnya proses yang harus dijalani bila memang ini kehendakMu dan sudah waktunya. Inikah jawaban atas doaku sepanjang jalan tadi? Demikianlah, akhirnya anakku lulus test dan diterima di sekolah tersebut tanpa aku harus membayar sepeser pun, kecuali uang masuk yang memang resmi. Ia juga tetap berprestasi dan sempat menjadi Ketua OSIS disana.

Berjuang dijalan Allah

Winny W Sutopo
Satu bulan terakhir ini, kehidupan kita diramaikan oleh pemberitaan tentang bom. Dan seperti sudah menjadi "suatu keharusan", bom selalu dikaitkan dengan Nurdin M Top dan Jihad. Orang selalu mengatasnamakan jihad untuk melakukan pengrusakan dan pembunuhan,yang akhirnya jadi mengkonotasi kan Islam itu keras dan kejam. Pertanyaannya, apakah islam itu memang kejam dan keras? Apakah jihad selalu berarti pembunuhan dan pengrusakan ?

Secara bebas, jihad bisa diterjemahkan (paling tidak menurut pendapat saya yang pengetahuan islamnya minim - sesungguhnya saya malu mengakui bahwa pada usia sekian pengetahuan islam saya masih saja minim ) sebagai berjuang di jalan Allah. Berjuang di jalan Allah menurut hemat saya berarti berjuang untuk menegakkan dan mensucikan Allah sesuai dengan sifat-sifat Allah dengan menggunakan sifat-sifat Allah. Ada 99 sifat Allah seperti yang tercantum dalam Asmaul Husna. Dan berjuang selalu memerlukan pengorbanan. Jadi jihad menurut pendapat saya adalah semua usaha dan pengorbanan yang diupayakan dengan sifat-sifat Allah agar keberadaan Allah di dunia ini terasa. Dan jihad dalam pengertian ini jadi amat luas aplikasinya.

Seorang wanita yang bangun di pagi hari, memutus tidurnya yang nyenyak demi menyiapkan sarapan untuk keluarga, dapat dikatakan berjihad bila diniatkan bahwa apa yang dilakukannya itu semata karena Allah lilllahitaala. Ia mengorbankan waktu tidurnya demi memenuhi tugas dan kewajibannya sebagai ibu dan isteri. Ibu yang mengurangi waktu menonton infotaintment dan sinetron karena mengajari anaknya, itu berjihad, karena ia mengorbankan kegiatan yang disenanginya demi membuat anaknya pandai. Seorang bapak pergi ke tempat kerjanya, mengerjakan tugas-tugasnya dengan jujur dan sepenuh hati dengan disertai rasa takut kepada Allah swt itu pun dapat dikatakan berjihad, karena ia mengorbankan pikiran, tenaga dan ilmunya demi kepentingan pekerjaan dan mencari nafkah yang halal bagi keluarganya . Pembantu yang bangun pagi-pagi kemudian mengerjakan tugas-tugasnya itu juga jihad, karena ia mengorbankan waktunya untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarganya demi mendapatkan nafkah. Anak -anak pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu dan menjauhi menyontek, itu pun berjihad. Orang berpunya memikirkan cara untuk membantu tetangganya yang tidak berpunya, itu juga jihad, orang berpendidikan berupaya memerangi kebodohan dengan mengajarkan anak-anak kampung di sekitarnya itu juga berjihad. Bidan yang bertugas di pedalaman itu jihad, polisi yang bertugas di jalan raya dan menghirup CO2 setiap hari itu jihad. Wanita yang mau mengurangi sifat-sifat negatifnya dan belajar untuk bisa bersikap lebih positif ( mengurangi bergosip, mengurangi sikap konsumtif dan lain-lain )itu berjihad, laki-laki yang mengurangi sifat mata keranjangnya itu juga berjihad. Singkatnya semua upaya dan pekerjaan yang dikerjakan dengan keikhlasan karena mengharapkan ridho Allah semata untuk melayani kepentingan orang lain demi menegakkan asma Allah itulah jihad. Begitu dalam makna jihad dan begitu luas aplikasinya.

Kalau diperhatikan, maka orang bisa berjihad bila ia memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya dan memiliki keinginan untuk membantu dan menolong orang di sekitarnya, bukan karena mengharapkan pujian atau tanda jasa, melainkan karena ia merasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan rasa syukurnya atas semua karunia dan kelebihan yang telah diberikan Allah kepadanya . Ia mau berkorban demi orang lain atas dasar rasa sayang dan ketaatannya kepada Allah. Orang yang masih bersikap egois, masa bodoh terhadap lingkungan dan tidak mau "susah" ( bangun pagi sebelum orang serumah bangun, padahal mata masih mengantuk , itu kan susah. Anak belajar dengan mengurangi jam main play station itu kan sulit, pekerja bekerja dengan giat sementara sekelilingnya mengobrol pastilah tidak mudah, murid sekolah harus berpikir sendiri dan tidak menyontek teman itu kan tidak mudah , mengurangi jatah membeli barang-barang konsumtif dan memberikan uangnya kepada orang miskin yang belum tentu kita kenal atau mau berterima kasih itu juga bukan bukan perkara mudah , mengurangi bergosip itu juga bukan perkara mudah, mengurangi melirik wanita lain sementara yang disamping sudah tidak enak dipandang itu juga bukan main sulitnya), pasti belum mampu berjihad. Jadi jihad dimulai dengan memerangi hawa nafsu dan ke egoisan diri, demi untuk kepentingan orang lain. Dan itulah seberat-beratnya jihad.

Dengan pemahaman jihad seperti ini, maka jihad tidak selalu harus disertai dengan kekerasan dan pengrusakan. Jihad juga bukan berarti perang fisik, dan jihad tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang militan. Sebaliknya jihad dilaksanakan dengan mengamalkan sifat-sifat Allah yang ada 99. Jihad adalah kewajiban kita sebagai umat muslim. Jihad seharusnya dilakukan sehari-hari dan meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Bila semua umat muslim ( sebagian besar umat muslim, kayaknya lebih realistis deh ) memiliki semangat berjihad dan mau mengamalkannya, maka pastilah dunia ini akan lebih nyaman untuk ditinggali. Tidak ada kesenjangan antara kaya dan miskin, karena yang kaya membantu yang miskin, tidak ada kebodohan karena yang pandai mengajari yang bodoh dan yang bodoh mau belajar, tidak ada anak terlantar dan menjadi anak pembantu, karena ibunya mau meluangkan waktu untuk mengajari, memasakkan, menemani nonton televisi, tidak ada.......... Memerangi kemiskinan, meminimalkan kesenjangan sosial, menanggulangi kebodohan dilakukan dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan karena itulah makna Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin ( = agama yang menyebar kasih sayang di muka bumi ) ini akan terasa dan asma ul husna bisa ditegakkan. Wallahu alam wisawab.

Antara Hidup dan Mati Bedanya Hanya Sekulit Bawang

Winny W Sutopo

Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan tayangan tentang tenggelamnya kapal Kambuna 2 di salah satu stasiun teve. Dalam tayangan itu, beberapa orang korban selamat diminta untuk menceritakan kembali pengalaman mereka pada saat itu. Saya ikut tercekam mendengar penuturan mereka, karena pernah mengalami pengalaman yang sama, meski pun tidak sedramatis itu.

Tahun 2006, kami sekeluarga pergi umroh. Saat itu anak bungsu saya baru lulus sma dan baru saja diterima di itb, perguruan tinggi idamannya di jurusan yang memang diangan-angankan. Suami saya juga baru sembuh dari stroke ringan. Perjalanan ini memang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas semua berkah Allah kepada kami sekeluarga.

Rombongan kami hanya terdiri dari 2 keluarga. Kebetulan pula bahwa anak2 kami seumur, bahkan anak bungsu kami pernah bersekolah di sekolah yang sama. Dengan demikian perjalanan kami penuh keakraban dan keceriaan. Dan jadilah keluarga itu sahabat baru kami. Selama di tanah suci pun ibadah kami dapat berjalan lancar, nyaris tidak ada kendala yang berarti. Sampai tiba saatnya kembali ke tanah air. Segala urusan imigrasi berjalan lancar, pesawat juga berangkat sesuai jadual. Sebagian besar penumpang pesawat adalah mereka yang juga baru kembali menunaikan ibadah umroh. Sisanya TKW yang akan pulang ke tanah air dan beberapa penumpang independen.

Dalam pesawat, kami sekeluarga duduk pada baris yang sama di tengah-tengah. Di depan kami duduk keluarga sahabat baru kami , juga sekeluarga. Entah mengapa, selama perjalanan pulang, saya senang sekali melantunkan doa bepergian, yang kurang lebih artinya demikian : "Ya Allah sertailah perjalanan kami, dampingilah kami, pimpinanlah perjalanan kami dst." Doa itu terus menerus saya lantunkan dalam hati, baik dalam keadaan bangun mau pun setengah terkantuk-kantuk.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam, pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Sukarno Hatta. Kami pun mulai berkemas bersiap untuk mendarat. Sebentar kemudian, pilot mengumumkan bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengeluarkan roda kiri pesawat. Walau pun demikian ia akan berusaha untuk mengeluarkan roda tersebut. Saya mulai merasa deg-degan dan mulai berdoa untuk diberi kemudahan. Tak lama kemudian pilot kembali mengumumkan bahwa ia sudah berupaya mengeluarkan roda pesawat kiri tetapi tidak berhasil, karena itu ia akan bersiap untuk melakukan pendaratan darurat. Segera awak kabin mengajarkan bagaimana cara melakukan pendaratan darurat kepada seluruh penumpang. Semua alas kaki harus dilepas, begitu juga peniti, bros dan yang sejenis. Kami juga diminta untuk duduk dengan menundukkan kepala dan melipat tangan di belakang leher sampai ada instruksi lagi.

Saat itu saya hanya berpikir Ya Allah, inilah saatnya saya untuk kembali. Terpikir oleh saya semua dosa-dosa saya dan sempat terbersit juga apakah ada hutang yang belum terbayar Kalau masih ada hutang, siapa yang mengetahui dan akan membayar mengingat kami sekeluarga ada di dalam pesawat ini. Ahamdulillah, tidak ada hutang yang msih tersisa. Sungguh saat itu tidak terpikir oleh saya segala harta, kekayaan an materi yang kami miliki. Saya hanya berpikir alangkah kasihannya anak bungsu saya, harus meninggalkan dunia ini sebelum ia sempat berkuliah di perguruan yang ia impi2kan. Dan bahwa tidak ada lagi penerus keluarga kami, mengingat kami berempat ada disini. Saya kemudian meminta maaf kepada suami dan kedua anak saya, karena kami tidak lama lagi bisa bersama. Saat itu saya benar-benar menyesali semua perbuatan saya yang mungkin menyakiti hati dan perasaan anak dan suami saya. Setelah itu saya pasrahkan segalanya kepada Allah. Mulut saya tidak henti-hentinya menggumamkan La illaha illahu muhammadar rasullluah dan istighfar sambil bercucuran air mata.

Saya sangat bersyukur bahwa pada saat itu anak dan suami saya pun terlihat tenang. Saya hanya khawatir bahwa kondisi suami saya turun mengingat ia baru saja sembuh stroke. Tetapi kelihatannya di antara kami berempat, sayalah yang paling panik. Hanya saya juga yang menangis.

Seluruh penumpang yang berada di dalam pesawat juga ramai mengagungkan asma Allah. Alhamdulillah tidak ada penumpang yang panik. Semua tertib duduk di tempatnya masing-masing ambil terus menerus berdoa. Sampai akhirnya pilot pesawat mengumumkan dengan suara tersendat bahwa ia sudah beusaha maksimal tetapi roda pesawat tetap tidak dapat keluar. Karena itu ia akan melakukan pendaratan darurat. Pilot masih menimbang-nimbang apakah akan mendarat di da darat atau di air karena keduanya memiliki resiko. Kalau dilakukan pendaratan di darat, besar kemungkinan bahwa pesawat ini akan terbakar, sementara mendarat di air pun berarti bahwa pesawat ini akan masuk ke laut jawa. Naluri keibuan saya membuat saya berpikir alangkah sulitnya bila mendarat di laut. Kami harus berenang, sementara tidak ada petunjuk arah kemana arah jakarta dan tidak ada juga petunjuk kedalaman air. Saya membayangkan seluruh penumpang pesawat akan keluar dari pesawat seperti cendol ditumpahkan dari gelas. Dalam situasi seperti itu, bagaimana saya dapat menolong kedua anak saya? Kalau mendarat di tanah pun saya sudah membayangkan bahwa pesawat ini akan mendarat di tengah sawah atau kebun.

Pesawat pun kemudian mendarat setelah kurang lebih satu jam berputar-putar di atas awan jakarta. Alhamdulillah, akhirnya pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Tetapi kami masih harus tetap duduk di tempat masing-masing dan tidak boleh bergerak, karena posisi pesawat tidak stabil. Tehnisi sedang memeriksa pintu manakah yang paling aman untuk dibuka sebagai tempat keluar penumpang.

Di saat genting seperti itu, masih ada penumpang yang meributkan boneka yang disimpan di bagasi jauh di belakang kursinya. Dan ia meminta bapak yang duduk disana untuk megambilkan bonekanya. Akhirnya dengan geram saya mengatakan : "Ibu, pesawat ini masih tidak stabil dan kita harus duduk diam. Kalau kita bergerak-gerak, pesawat ini bisa terbakar. Dan kalau pesawat ini terbakar, kita semua akan mati dan boneka itu tidak ada artinya lagi". Rupanya suara saya cukup keras, sehingga penumpang yang mendengar (bukan hanya ibu itu) kemudian duduk dengan tertib.

Setelah selesai pemeriksaan, akhirnya pintu boleh dibuka dan diumumkan bahwa hanya penumpang yang duduk di sebelah kiri dulu yang boleh meninggalkan pesawat. Tampaknya "ceramah" saya masih berfungsi, sehingga penumpang mau dengan tenang menunggu di tempatnya masing-masing, sampai gilirannya meninggalkan pesawat.

Begitu menginjakkan kaki di tanah, lutut saya lemas sekali rasanya. Saya lihat bahwa kami mendarat di bandara, subhanallah! Pesawat kami mendarat dengan posisi miring ke kiri. Jarak bdan pesawat dengan tanah amat dekat, padahal alam kondisi normal, tidak mungkinlah kita apat meraih badan pesawat alam posisi berdiri. Di sekeliling pesawat telah bersiap ambulance, pemadam kebakaran dan mobil polisi. Begitu menginjakkan kaki di tanah, saya langsung bersujud syukur dapat tiba dengan selamat. Dalam insiden ini seluruh penumpang selamat, tidak ada yang luka. Seluruh awak pesawat pun bertangisan.

Beberapa waktu kemudian, kejadian ini ditulis di harian Kompas. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa dalam kejadian ini 20% adalah faktor keterampilan pilot dan 80% sisanya adalah keajaiban Allah!!!!

Setelah kejadian ini saya jadi berpikir, sesungguhnya umur saya sudah hampir titik akhir pada saat itu. Kalau saya saat ini masih diberi kehidupan, maka itu adalah umur bonus dari Yang Maha Kuasa. Berapa banyak orang yang diberi umur bonus oleh Allah, karena kita tahu bahwa bila Allah sudah berkehendak, maka kita tidak dapat menawar walau satu detik pun. Karena itu saya tidak mau mengecewakan Allah yang telah bermurah hati memberikan umur bonus. Umur yang ada haruslah saya gunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik, sesuai dengan petunjukNya, agar ketika saatnya tiba nanti, saya tidak malu mempertanggung jawabkan umur bonus yang diberi oleh Allah.

Hikmah lainnya adalah jangan pernah meninggalkan Allah. Berusahalah untuk tetap dekat denganNya, karena kita tidak pernah tahu kapan akhir hidup kita sesungguhnya.

Uang, harta, kekayaan tidak akan terpikir ketika kita suah mendekati maut. Hanya amal baik dan dosa yang kita ingat.

Memang tidak mudah untuk menjalankannya secara konsisten, tetapi bagaimana pun juga saya berusaha memenuhinya.

Agenda Hidup Manusia di Bumi

Winny W Sutopo
Ketika ibuku meninggal dunia 16 tahun yang lalu, ia mewariskan sejumlah uang dalam bentuk dolar bagi kami, anak-anaknya. Waktu itu kurs US dolar masih sekitar Rp. 1500,-an. Karena saat itu aku masih belum membutuhkan uang tersebut, maka kubiarkan saja uang itu berada dalam tabungan. Sekitar tahun 2001 ketika aku dan suami memutuskan untuk membeli rumah di jakarta, ternyata tabungan kami belum mencukupi ,jadi uang warisan itu kami gunakan untuk menambah kekurangannya. Saat itu kurs dolar sudah mencapai sekitar sepuluh ribu rupiah. Dengan pertambahan nilai kurs dolar, maka kami dapat membeli rumah yang kami inginkan.

Saat itu saya merenung dan mengenang ibu saya. Ibu saya seorang wanita luar biasa. Beliau seorang yang ulet, tidak suka mengeluh dan pejuang tangguh. Ketika ayah saya karena keadaan kesehatannya tidak mungkin lagi berperan sebagai pencari nafkah keluarga, ibulah yang kemudian mengambil alih peran itu. Ibu berpraktek sebagai seorang dokter mata, mengajar di beberapa universitas, menulis buku dan membuka florist di rumah. Begitu pun, beliau masih sempat mendidik dan merawat keluarganya dengan sangat baik. Dengan segala jerih payahnya, beliau dapat menyekolahkan kami -ke empat anaknya -di sekolah swasta bermutu dan membiayai kuliah kami berempat hingga menjadi sarjana semua. Banyak hasil jerih payah ibu yang beliau tinggalkan bagi kami anak-anaknya, termasuk uang yang aku pakai melunasi rumah. Tetapi sebelum beliau sempat menikmati hasil jerih payahnya, beliau telah dipaggil oleh Yang Maha Kuasa.

Hal ini membuat saya jadi berpikir bahwa berjuang belum tentu berarti dapat menikmati hasilnya. Mungkin memang itulah agenda yang dititipkan Allah kepadanya. Menjadi pejuang tanpa berharap untuk ikut memetik hasil.

Saya sendiri juga beberapa kali mengalami hal yang sama. Saya pernah bersama-sama dokter Ida Mahfud dan dokter Rahmawati membidani lahirnya sebuah klinik bersalin milik sebuah yayasan islam. Ketika saya baru bergabung, klinik itu baru berupa bangunan separuh jadi yang masih kosong. Saat itu saya diberi tugas untuk merekrut karyawan dan mengurusi semua hal yang berhubungan dengan administrasi, keuangan dan personalia. Dokter Ida menjadi kepala Klinik dan dokter Rahma membawahi semua kegiatan yang berhubungan dengan aspek medis. Bahu membahu kami bertiga berjuang membangun klinik tersebut, sehingga klinik tersebut berjalan lancar. Saya masih ingat, saat itu kami bertiga bekerja tanpa mendapat gaji. Sebagai kompensasinya, kami boleh berpraktek dan dibayar berdasarkan presentase pendapatan. Sisa presentase pendapatan kami digunakan untuk membiayai operasional klinik, termasuk membayar gaji karyawan dan membeli peralatan yang dibutuhkan. Jadi kalau kami tidak mendapat pasien ( untuk kedua dokter tersebut) dan klien ( untukku), maka kami tidak mendapat penghasilan. Meski demikian, rasanya belum pernah dalam satu bulan kami tidak mendapat klien/pasien. Selalu saja ada uang yang dapat kami bawa pulang, meski jumlahnya bervariasi. Begitu klinik berjalan lancar, dengan kehendakNya, kami bertiga satu persatu dicabut dari klinik tersebut. Yang pertama pergi adalah dr.Ida, beliau mengikuti suaminya bertugas di jakarta. Kemudian menyusul saya, menemani anak2 bersekolah di jakarta dan yang terakhir dr. Rahma. Klinik itu sendiri sampai saat ini masih berdiri dan makin berkembang.

Di jakarta, saya pernah bekerja di suatu perusahaan dan ditugaskan untuk membuat peraturan perusahaan yang berhubungan dengan kepersonaliaan . Tanpa disangka, adanya peraturan perusahaan tersebut, menguak beberapa praktek penyelewengan yang selama ini tidak terendus. Dalam beberapa bulan saja, 2 milyar berhasil diselamatkan dari penyelewengan. Tidak lama setelah tugas saya membuat peraturan perusahaan selesai dan penyelewengan tersebut terbongkar, saya diterima di program S2. Karena sulit bagi saya untuk menjalani kuliah sambil bekerja, maka saya kemudian keluar, walau pun pada mulanya pimpinan perusahaan masih berusaha menahan saya. Perusahaan itu sendiri sampai sekarang masih berdiri dan berjalan baik.

Selain pengalaman di atas, ada beberapa pengalaman lain dimana saya datang di tengah kemelut , membereskan segala sesuatunya dan kemudian pergi begitu segalanya beres.

Semua pengalaman itu seakan memberi kesadaran kepada saya, bahwa tugas saya di dunia ini adalah "tukang beres-beres". Tetapi saya bukanlah orang yang diberi kesempatan untuk menikmati hasil jerih payah saya di tempat yang saya bereskan. Allah dengan kekuasaannya akan membawa saya ke tempat yang memang harus dibereskan dan dengan kehendakNya pula akan mencabut saya dari tempat itu bila masanya telah selesai tanpa memberi saya kesempatan untuk menikmati hasil "benah-benah" saya.

Menerapkan kesadaran yang sama dalam menjalani peran saya sebagai isteri dan ibu, saya pun menyadari bahwa tugas saya adalah membimbing, mendukung dan merawat anak dan suami saya agar dapat menjadi muslimin dan muslimah yang sholeh dan sholehah. Apakah nantinya saya akan ikut melihat apalagi menikmati hasil jerih payah saya, bukanlah pertanyaan yang patut saya cari jawabnya. Itu adalah kekuasaan Allah yang berada di luar batas kewenangan saya. Sama seperti ibu saya dahulu berjuang membesarkan, mendidik , merawat, meninggalkan harta warisan bagi kami anak2nya dan membiarkan kami yang menikmati hasil jerih payahnya.

Dengan kesadaran seperti itu, sekarang ini setiap kali memasuki tempat baru, saya hanya bertanya kepada Allah :"Ya Allah, apakah agenda yang harus kuselesaikan sekali ini." Dan saya hanya bermohon agar diberi kesabaran, kekuatan dan petunjuk agar mampu menyelesaikan tugas saya dengan baik. Adanya kesadaran ini membantu saya untuk bisa lebih sabar bila menghadapi kesulitan atau bila menemui situasi yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Mungkin itulah justru situasi yang harus dibereskan. Demikian juga, bila hasil jerih payah saya mulai terlihat dan tiba-tiba saya dipindah ke tempat lain, saya juga tidak berkecil hati karena tidak ikut menikmati hasil kerja. Itu bukan bagian saya. Rupanya seperti ibu saya, agenda saya di bumi ini adalah menjadi pejuang.Wallahu alam.

Rasanya, kita memang harus mencari apa sesungguhnya agenda hidup kita di dunia dan berusaha untuk menjalankannya. Dengan adanya kesadaran tentang agenda hidup, maka kita dapat mengisi hidup ini dengan kegiatan yang bermanfaat sehingga keberadaan kita di dunia ini tidak sia-sia. Keikhlasan yang menyertai langkah untuk mengisi hidup akan menjadi nilai tambah yang meningkatkan kualitas kemanusiaan kita. Itulah mungkin yang dinamakan berjihad di jalan Allah.

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger