Nyanyian Cemara

Sabtu, 17 April 2010

Nyanyian Cemara
Oleh : Sri 'ade' Mulyani



Perempuan itu, apa maunya? Dara menghela nafas. Kalau mengikuti kata hatinya yang paling dalam sebenarnya Dara enggan untuk menemuinya, setelah apa yang pernah terjadi antara mereka bertiga di masa lalu. Tapi pantaskah ia sekasar itu? Untuk sisa-sisa persahabatan yang pernah mereka jalani bersama rasanya tak pantas memperlakukan Adis seperti seorang musuh besar.


~DARA~

Semua berawal 15 tahun yang lalu, ketika persahabatan kami bertiga mulai berjarak. Aku, Adis dan Jaka. Bukan rahasia lagi kalau Jaka menaruh hati padaku. Dan aku pun menyukai Jaka. Aku menemukan gairah hidup yang begitu menyala setiap kali kami membicarakan masa depan. Kami punya komitmen yang sama tentang sebuah pernikahan. Ah, berbunga-bunga rasanya. Apalagi jika Jaka membicarakan tentang keturunan, ia ingin kelak kami mempunyai 3 orang anak saja. Supaya aku tidak terlalu capek katanya, dan kami bisa mempersiapkan masa depan mereka sebaik-baiknya. Semuanya serba sejalan dan begitu mulus, sampai suatu saat… ketika vonis dokter membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Ada sesuatu pada indung telurku yang membuat dokter mengambil keputusan untuk mengangkatnya.

Sebenarnya, rasa sakit yang kualami pasca operasi tak begitu menyakitkan. Dengan obat-obatan, doa seluruh kerabat dan tatapan cinta Jaka aku kuat menjalani hari-hariku. Hari-hari indah bakal menyongsongku walau kini aku hanya mempunyai sebuah indung telur. Aku masih mungkin mempunyai keturunan bukan? Aku yakin. Sangat yakin. Aku pikir dengan kekuatan cinta kami berdua, harapan untuk mewujudkan impian masa depan akan terwujud. Tapi aku sungguh tak percaya kalau Jaka se-egois itu. Hanya karena dokter menerangkan kondisi indung telurku yang tersisa ada kemungkinan kurang baik, ia tega berpaling dariku.
Dengan tegas dan tanpa perasaan, ia minta aku tak bermimpi untuk meneruskan sisa perjalanan yang pernah kami rancang.

“Aku ingin punya keturunan Ra,” ujar Jaka. Dan tentu saja ia pesimis bakal punya anak kalau beristrikan aku. Tatapannya datar sedatar cakrawala saat mengatakan itu padaku, seakan aku tak pernah ada dalam hatinya. Dan yang paling menyakitkan, beberapa bulan setelah Jaka meninggalkanku, ia melamar Adis sahabatku.
Ah, takdirku. Tergugu aku dalam duka. Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi entah kenapa, masih saja ada sejumput rindu pada Jaka, yang makin menyemak bagai perdu di dasar kalbuku sampai detik ini. Kemanapun aku melarikan diri, aku tak mampu melupakan Jaka. Sepertinya aku tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi.


~ADIS~

Sebenarnya aku tak ingin menyakiti Dara sahabatku. Aku bisa merasakan sakitnya akibat kehilangan. Aku tahu dia sangat mencintai Jaka. Tapi hari itu Jaka memintaku. Mengharapkan aku untuk melengkapi separuh perjalanan hidupnya. Memohonku untuk menjadi ibu yang akan melahirkan anak-anaknya. Aku seperti makan buah simalakama.
Sedari awal, aku memang punya hati pada Jaka. Tapi aku tak seberuntung Dara. Pijar-pijar cinta tak pernah kulihat di mata Jaka saat menatapku, tak seperti ketika ia menatap Dara. Aku cukup mengerti, aku bukanlah pilihan Jaka. Tapi jalan hidup manusia tak pernah ada yang tahu, entah rencana apa yang Allah berikan padaku ketika Jaka menceritakan semuanya. Sebagai sahabat yang mencintai dirinya, tak mungkin aku berdiam diri. Aku harus berbuat sesuatu, meskipun akibat yang akan kuterima adalah aku akan dimusuhi Dara seumur hidupku. Tapi kuharap, suatu saat Dara akan mengerti.

“Aku percaya, engkau lebih kuat dari Dara,” bisik Jaka padaku. Mungkin aku bodoh, mungkin juga egois dan tidak punya perasaan terhadap sahabat sendiri, tapi membuat bahagia orang yang kucintai adalah hal yang paling terindah dalam hidupku.

****************************************************************


Sore di Café Cemara, Adis menyapa Dara dengan ramah. Berharap pelukan hangatnya akan mencairkan kekakuan yang melingkupi mereka berdua. Adis harus menceritakan semuanya pada Dara, supaya Dara bisa membuang jauh kebenciannya pada Jaka dan Adis.

“Jadi, sudah berapa anakmu sekarang?” tanya Dara memecah kebisuan sambil melirik gadis belasan tahun di sebelah Adis.

“Ini Nadira, Ra. Ayo Nadira, beri salam pada Mama Dara,” perintah Adis pada Nadira, anaknya. Dara mengernyitkan keningnya.

“Mama Dara?” tanyanya heran. Tapi tak urung wajahnya melunak ketika memandang raut Nadira.

Ia seakan takjub. Tak ada yang berbeda antara Nadira dan Jaka. Hidungnya, matanya, alisnya, pipinya, senyumnya, cara berjalannya… semua mirip Jaka, hanya saja Nadira perempuan. Tak terduga Dara memeluk erat Nadira, seakan melepas kerinduan yang selama ini bersemayam di hatinya. Cemara di luar sana tahu, Dara teramat mencintai Jaka.

“Jadi, bagaimana kabar Jaka?” suara Dara bergetar saat Nadira pamit ke kamar kecil.

Mereka duduk berdua di café itu memandang liukan cemara tertiup angin. Café tempat mereka dulu selalu bercerita berdua atau bahkan bertiga ditemani Jaka. Desauan angin menyentuh cemara masih menimbulkan bunyi yang mereka suka belasan tahun yang lalu. Adis menghela nafas, mencoba menyusun kalimat.

“Jaka meninggalkan kami Ra,” lirih suara Adis.

“Apa?! Kemana? Sejahat itukah Jaka? Setelah meninggalkanku, ia tega meninggalkanmu dan darah dagingnya? Lalu kemana komitmen yang dulu pernah dia agung-agungkan?” tanya Dara kecewa.

“Jaka melamarku dalam keadaan sakit Ra,” Adis berusaha menjelaskan.

“Iya, memang dia sakit. Sakit jiwa! Tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sakit jiwa macam Jaka sampai detik ini! Begitupun engkau bukan?” rutuk Dara.

“Bukan itu Ra. Jaka benar-benar sakit,” Adis berusaha menjelaskan.
“Tak ada seorangpun yang tahu, tidak juga dirimu. Ia tak ingin kamu cemas memikirkannya. Dokter menvonisnya menderita kanker ganas tak lama berselang setelah operasi indung telurmu. Keputusannya untuk meninggalkanmu bukan karena ia egois. Ia menikahiku karena ingin segera punya anak sebelum waktunya habis. Ia ingin ada yang menemani dirimu di saat-saat sunyimu dan juga sunyiku. Tapi kamu keburu marah dan menghilang entah kemana. Hanya setahun Nadira mendapatkan belai ayahnya. Aku membesarkan Nadira seperti permintaan Jaka, dan hari ini… aku menunaikan wasiat Jaka untuk membawa anaknya padamu. Aku dan kamu sama-sama mencintai Jaka. Tapi cinta Jaka hanya untukmu Ra. Maafkanlah Jaka.”

Dara terpana. Dalam diamnya, ada rasa menyesal telah menuduh sahabat dan kekasihnya tak berperasaan. Kalau saja waktu bisa diulang, ingin Dara berada di saat Jaka sakit, sekedar menatapnya untuk memberi semangat, seperti yang Jaka lalukan waktu Dara dioperasi. Semua itu telah lama berlalu. Di luar, angin masih mengusik cemara. Desaunya yang akrab di telinga tak jua berlalu, membawa rindu tiga perempuan pada seorang Jaka yang telah tiada.


Bontang, 17 April 2010.
Terinspirasi dari kisah saudariku, Allah memberimu yg terbaik pada akhirnya.

Maaf Untuk Sahabat

Oleh : Irvina Legowo


Kalau lagi duduk begini, eh tiba-tiba ada telpon berdering berulang-ulang, jadinya penasaran ya? Siapa ya yang telpon, buru-buru deh diangkat.
“Halo… assalamu’alaikum. Jeng, lagi ngapain nih?” siapa yang menelpon.
“Yah iya Ajeng lagi di telponkan? Maaf, ini siapa ya?” kata Ajeng.
“Wah Ajeng, masak sih lupa denganku,” kata yang telpon. “Aku SETRINOLA. Lupa ya?”
“Nah iya, baru aku ingat,” kata Ajeng. “Maafkan aku ya Nola, habis suaramu itu lho, bagus banget gitu lho… aku jadi grogi dengernya.”
“Ih… kamu ada-ada saja,” kata Nola. “Yah…. Maklumlah aku kan artis,” kata Nola bercanda.
“Oh iya,” kata Nola “Besok main ke rumahku ya Jeng. Ada sedikit rejeki nih,” kata Nola. “Yah pokoknya ke rumahku ya… Kira-kira pukul 11 pagi lah… Ditunggu ya?!”
“Insyaallah ya, Ajeng gak janji ya, mudah-mudahan bisa. Trimakasih ya Ajeng diundang. Yok ya… sampai besok.”

Rasanya waktu cepat sekali berjalan, Ajeng rasanya kok malas banget ya mau pergi, lagi gak mood gitu. Tapi kan hari ini ada undangan makan-makan di rumah si SENTRINOLA. Ah… nanti kalau sudah ngumpul-ngumpul pasti rame banget deeh… Pasti kaya pasar malam gitu. Hm.. gimana ya, pengennya siih gak pergi saja. Sudah ada rasa bosan sih. Kalau Cuma ngobrol-ngobrol apa ngerumpi gitu. Ada rasa keinginan mengurangi ngerumpi gitu. Lebih baik waktuku kuhabiskan pergi dengan suami. Malah enak berduaan, kaya dulu lagi waktu masih menjalani persahabatan gitu lah… Ya serasa lebih tenang apabila bisa pergi jalan sama suami.
Tak lama, lagi duduk termenung, eh… ada suara telpon lagi, kuangkat gagang telpon. Suara Nola yang keras mengharapkan kehadiranku.
Kata Nola, “Ajeng, kau dah ditunggu nih sama temen-temen, kami sudah ngumpul.”
Aku dengan santainya menjawab, “Okelah kalau begitu.”


Dengan santai Ajeng melangkahkan kaki, tiba-tiba ada yang memanggil dari kejauhan.
“Ajeng… Ajeng, tunggu sebentar. Ayo kita pergi sama-sama aja.”
Ajeng menoleh, ah… ternyata Frida. “Oh… boleh deh kita bareng ke rumah Nola. Dengan senang hati… yuk sama-sama.”
Ajeng berkata pada Frida, “Mbak Frida, Ajeng gak bisa lama-lama nanti di rumah Nola. Alif anak Ajeng sebentar lagi pulang dari sekolah, lagian sebentar lagi para suami pada pulang kerja tuk istirahat siang kan?”
“Iya Jeng, “ kata mbak Frida. “Saya juga tidak bisa berlama-lama di sana, kebetulan mau ada acara keluarga juga.”

Ceritanya kami (Ajeng dan mbak Frida) sampai di kediaman Setrinola, alhasil di sana (di rumah Setri) dah pada ramai, udah ngumpul semua, ya heboh juga. Kedengarannya seru banget deh, entahlah apa saja yang diobrolin. Ajeng ya ikut gabung sajalah, yang penting kan sudah sampai di rumah Nola.
“Yuk kita santap hidangan yang telah disediakan!!” Alhamdulillah nikmatnya.

Semua cerita kemarin sudah Ajeng lalui, sekarang waktunya pergi ke pengajian rutin Jum’at siang. Alhamdulillah disempatkan saja dulu, kan lanjutan minggu lalu masih dibahas. Wah, panasnya hari ini sangat menyengat sekali, membuat semua orang tidak ingin ke luar rumah. Apalagi siang begini. Mending juga di dalam rumah, tidur siang. Tapi Mas Bowo berkata pada Ajeng, “Lho Jeng, kamu gak pengajian ya?” kata suami Ajeng, “Biasanya Ajeng kan pergi ke pengajian siang. Kok tidak siap-siap?”
“Ah, Ajeng lagi gak semangat nih mau pergi. ‘Ngantuk’ dah gitu panasnya bukan main nih lho, mending santai saja dulu,” kata Ajeng dengan penuh kemalasannya.
Tapi kalau Ajeng malas, wah pasti yang hadir semakin sedikit saja.
Ajeng jadi teringat acara di rumah Nola kemarin ya, wah orangnya yang hadir banyak, kata mbak Frida kemarin. Coba ya kalau pengajian orangnya sebanyak ini, bagus juga. Tapi giliran Cuma ngobrol saja ramainya bukan main. Yah… ibarat kata cuma ngobrol yang gak manfaat juga, ah…. CAPEK DEEH…
Tapi ya sudahlah, semua orang kan beda-beda sih, kalau kefikiran positif seperti mbak Frida, ya semakin baik saja manusianya.
Dengan penuh semangat, bagai semangat juang begitu, kulangkahkan kaki ini menuju masjid. Sampainya di sana (maksudnya masjid) kujumpai beberapa ibu telah hadir, duduk rapih sambil menunggu Pak Ustadz.
“Assalamu’alaikum wr.wb.” sapa Ajeng pada ibu-ibu.
Tiba-tiba ada yang memanggilku (Ajeng), “Hai Jeng, wah tahu gak siih kamu,” kata mbak Eta yang memanggilku.
“Iya?!” kataku, “Memangnya ada apa mbak Eta?”
“Sini dulu, ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu. Kemarin, di acara rumah Nola hampir saja aku (mbak Eta) mau tawuran (alias bertengkar) dengan Nila. Gini ceritanya,” kata mbak Eta.
Setrinola yang empunya acara berkata sambil bercanda, “Hayo… siapa yang mau ikutan gabung dengan grup kita yang hobby jalan alias shopping, dipersilahkan saja daftar pada mbak Eta. Beliau yang jadi ketuanya.”
“Oh… iya… gitu ya?” kata mbak Eta.
“Oke, boleh juga lah, tapi…” kata mbak Eta lagi “Ada syaratnya lho kalau mau gabung bareng kita, syaratnya antara lain : sekali-kali harus mau traktir, lalu tidak suka ngambek, sama-sama jangan pelit-pelit.”
Nah lho?? Rupanya ada yang tersinggung dengan perkataan mbak Eta, yaitu si Nila. Wah terjadilah perdebatan sengit di rumah Nola, yang mengakibatkan hubungan persahabatan jadi permusuhan, gara-gara omongan “celetuk-celetukan” yang kalau difikir tidak bermanfaat, yang ada jadi tidak ingin bertegur sapa lagi.

Dalam hati Ajeng, untung saja Ajeng cepat pulang, sehingga tidak mengerti alur cerita mereka. Namun disayangkan sekali pertemanan mereka jadinya renggang. Ajeng pun tak habis fikir, tak kebayang kalau terjadi pada diri ini, kira-kira mau bersabar gak ya menghadapinya. Sayang sekali ceritanya sangat simpang siur. Ternyata di balik cerita itu semua, memang ada omongan yang membuat Nila tersinggung.

Nila pun ada bercerita pada Ajeng. Kami bertemu secara tidak sengaja di acara perayaan ulang tahun Nanda putranya mbak Yola.
Cerita Nila dengan wajah yang tegang, marah sepertinya, raut wajahnya yang terlihat tidak ceria, dengan penuh api di kepalanya (bagaikan naga yang ada api di kepalanya), dengan logat khasnya, “Jeng,” kata Nila. “Dengar tidak cerita Nila dan Mbak Eta? Hampir saja terjadi pertengkaran sengit,” kata Nila.
“Oh… ya??” kata Ajeng. “Apalah yang terjadi?” Ajeng pura-pura tidak tahu. Padahal sudah tahu dari mbak Eta, tapi Ajeng makin penasaran, apa sama ceritanya dengan yang dikisahkan mbak Eta. Dengan penuh keheranan Ajeng menatap wajah Nila yang masih berekspresi marah dan merah. Wah, Ajeng jadi ngeri juga jadinya.
“Mbak Eta menyinggung perasaan saya, sebenarnya sudah lama saya menahan kesabaran ini, tapi hari itu perasaan saya sudah tidak tahan lagi Jeng, saya sudah panas di dada ini. Emosi saya sudah naik sampai di ubun-ubun,” kata Nila.
“Padahal saya sudah tidak pernah mengganggu ataupun menyindir siapapun,” kata Nila. “Tapi kenapa saya terus yang disinggung, yang katanya saya ini membeli sawah yang dananya dari mana, membelinya secara tunai atau secara bertahap, lalu sampai saya beli sapi pun dananya dari mana. Sebenarnya kan itu urusan saya, bukan urusan siapa-siapa. Yang mau saya, saya beli saya, kok orang lain yang pusing. Yang jelas Nila betul-betul tidak terima diberitakan seperti itu, kesal,” katanya.
Nila pun terdiam sejenak, setelah bercerita. Lalu Ajeng berusaha menenangkan Nila.
“Sabar ya Nila, namanya juga omongan, tapi Nila tahu berita itu darimana?” kata Ajeng pura-pura tidak mengerti.
“Ah, ada yang menyampaikannya ke saya,” kata Nila.
“Oooooh…. rupanya Nila dapat cerita ini ada yang menyampaikan?” kata Ajeng sambil matanya agak setengah melotot dan terkejut. Dalam hati Ajeng, siapalah orang yang senang menyampaikan berita yang tidak penting ini, kalau difikir ini kan hanya berita kurang kerjaan aja. Kok jadi pusing gitu. Alhasil cerita-cerita, ternyata yang suka menyampaikan cerita-cerita itu adalah teman Nila juga, teman mbak Eta juga. Dan Ajeng pun kenal sama orang ini. Judulnya mungkin mau diadu domba gitu.
Ah… ha… sampai hati juga orang ini, sudah lamanya mereka bersahabat, kok jadi merusak, kelihatannya dan kedengarannya memang hobinya seperti itu. Sementara Nila punya watak keras, kalau berbicara keras, itupun kadang kalau sudah dengar dia dibicarakan, semakin emosi saja. Sayangnya Nila ini orangnya terlalu mudah percaya dengan kata-kata orang yang senang menyampaikan. Tanpa fikir panjang lagi, Nila menuduh langsung bahwa mbak Eta yang berkata, padahal siapa tahu mbak Eta tidak berbicara begitu, takutnya orang yang menyampaikan itu yang ngomong. Mbak Eta juga watak keras. Tapi menurut Ajeng, ya setahu Ajeng sih, mbak Eta tidak pernah ikut mau tahu urusan orang. Setahu Ajeng, mbak Eta orangnya cuek.
Dari kesimpulan cerita itu, yang ada Ajeng hanya bisa iut sedih dan prihatin saja sih. Dengan senyum hangat berkata pada Nila, “Ajeng ngerti kok perasaan Nila sedang sedih, sakit hati, tersinggung dengan perkataan yang tidak enak didengar. Mohon maaf ya Nil, Ajeng sih tidak bermaksud ikut menasihati. Namun lebih baik hal-hal yang kira-kira kurang bermutu untuk dibahas, lebih baik dicuekin sajalah, diabaikan saja, didiamkan saja, biarkan saja yang menyampaikan yang membahas. Nila mending cari aja cerita lain, dan katakana saja sama yang menyampaikan, ah… biar sajalah saya mau dibilangin apa ‘masa bodo’ yang penting saya tidak mengganggu orang. Bereskan Nil? Katakan NO COMEN… gitu lho.. Nila…?? Jangan dipikirkan!” kata Ajeng memberi semangat pada Nila.
Tapi dasar Nila yang berwatak keras, tetap ngotot saja. Malah menjawab, “Ah, saya tidak minta makan juga sama mbak Eta.” Makin emosi saja kayaknya.
Tanpa fikir panjang, Ajeng berlalu saja dari Nila, capek ngadapin manusia keras hati, keras kepala pula, susah juga mau ngajak bicara baik-baik.
Yaah…. Mau bagaimana lagi apalah harapan ingin meredam emosi, maunya saling berdamai, tapi di antara kedua sahabat ini hanya mempertahankan kebenaran masing-masing, malah tidak ingin bertegur sapa, kata mereka. Sementara orang yang suka nyampaikan berita, santai tanpa kata dan sepertinya kayak tidak berdosa gitu. Itulah lidah, kalau kata-kata sudah tidak sopan bisa memperburuk keadaan, bisa merugikan diri sendiri. Padahal ada kata-kata tentang persahabatan, begini katanya:


Sahabat adalah, Dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh.
Karena persahabatan itu, seperti tangan dan mata.
Saat tangan terluka, mata menangis.
Saat mata menangis, tangan menghapusnya.

Kalau begitu tolonglah kita sebagai sahabat ‘mungkin’ sama-sama menjaga perasaan, pengertian dalam suka maupun duka. Kalaupun ada kekurangan mohonlah dimaafkan, manusia ada juga punya rasa khilaf. Allah saja memaafkan umatnya apabila ada kesalahan, apalagi kita yang hanya manusia yang banyak kurang kesempurnaannya.

Dan Malaikat Mencatat Niat Baiknya

Jumat, 16 April 2010

Wajah lelaki setengah baya itu terlihat lelah, tapi senyumnya tetap ramah. Hadi Sanjaya nama aslinya, namun kami biasa memanggilnya dengan nama Mang Icong. Seorang lelaki dengan 9 orang anak dan kehidupan yang terlalu sederhana di sebuah desa. Untuk itulah salah satu anaknya ikut denganku ke Bontang, membantu menjaga anak pertamaku yang saat itu baru berumur 3 tahun karena aku dan suamiku pergi bekerja.

Hari itu di bulan Juni 1996 dia datang ke Bontang. Untuk berlibur? Bukan! Anaknya yang ikut denganku mengalami kecelakaan lalu-lintas sehingga masuk ruang ICU dalam keadaan koma. Dokter bedah di rumah sakit PT. Badak saat itu memberikan pandangan bahwa kondisi pasien sangat kritis karena mengalami cedera di bagian dalam kepala. Kemungkinan terburuk adalah kehilangan nyawa, kalau memang itu yang terjadi paling tidak orangtuanya harus ada di sini. Itulah sebabnya Mang Icong segera kami panggil ke Bontang. Sebenarnya kami sempat takut, membayangkan ia akan marah mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. Tapi ternyata tidak. Sore itu, setelah menjenguk anaknya dengan wajah yang kelelahan dan terlihat sedih, ia tetap tegar dan tawakal. Ia bahkan meminta maaf bila anaknya membuat kami menjadi repot seperti ini. Repot untuk urusan rumah sakit dan biayanya tentu saja. Tapi bagi kami, anaknya bisa kembali sehat seperti sedia kala saja merupakan hal yang paling kami impikan saat itu. Uang bisa dicari, tapi bila anaknya menjadi cacat seumur hidup gara-gara kecelakaan ini? Tentu itu akan menjadi tanggung jawabku dan suamiku seterusnya. Seusai shalat Mahgrib kulihat Mang Icong khusuk memanjatkan doa dan dzikir-dzikir kepada Allah tiada hentinya. Gambaran seorang lelaki yang memohon pertolongan hanya kepada Allah disaat musibah datang menimpa. Saat itulah akhirnya aku mengetahui sedikit banyak riwayat kehidupan Mang Icong.

Kehidupannya sebelum ini jauh dari kecukupan. Seringkali ia meninggalkan keluarganya di kampung untuk pergi ke ibukota mengadu nasib, berdagang, mencari peruntungan, berusaha mendapatkan penghasilan yang halal untuk kelangsungan hidup keluarganya. Pernah sekali waktu ia tertipu dan kehabisan modal, sementara keluarga di kampung menunggu tanpa kabar yang pasti selama 6 bulan. Untung saja masih ada kebun kecil yang ditanami sedikit sayuran untuk dipetik hasilnya. Tapi tetap saja harus ada yang menghasilkan uang untuk mengepulkan asap dapur. Akhirnya istri Mang Icong turun tangan membantu mencari tambahan dengan membantu tetangga di sekitar rumahnya.

Suatu hari dalam keadaan termangu tanpa uang Mang Icong berdiri di depan sebuah sekolah terkenal di kota Bogor. Tiba-tiba saja seseorang menyapa dan bertanya padanya, apakah ia bisa menyetir mobil? Tentu saja Mang Icong mengangguk. Tanpa bertanya apakah Mang Icong punya SIM atau tidak, laki-laki itu menawarkannya menjadi sopir pribadi seseorang. Dengan penuh sukacita tentu saja Mang Icong menerima tawarannya. Ternyata kehidupan Mang Icong setelah menjadi sopir keluarga tersebut cukup tertolong karena ternyata majikannya adalah seorang kaya raya, keluarga salah satu Pengusaha Besar Indonesia.

Sebagai seorang sopir di keluarga konglomerat, Mang Icong harus selalu berpenampilan rapih. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam mengkilat dan tak lupa kopiah hitam selalu menemani penampilannya. Begitu juga hari itu, sehabis mengunjungi anaknya yang mulai sadarkan diri di ruang ICU, kami mengajak Mang Icong yang berpenampilan rapih berkeliling kota Bontang. Kami biarkan ia yang menyetir mobil Espass kami. Sesampai di pos Security Kampung Baru seperti biasa Petugas Security membuka pintu mobil dan menyapa. Sebuah prosedur yang rutin dilakukan bila kendaraan memasuki atau meninggalkan komplek perusahaan LNG Badak.

“Assalamu’alaikum Pak Haji!” sapa Petugas Security dengan ramah.
“Wa’alaikum salam,” jawab Mang Icong dengan antusias, tapi kulihat wajahnya tertegun sejenak. Setelah pintu mobil ditutup dan kami pun meneruskan perjalanan, Mang Icong tiba-tiba nyeletuk, “Wah, Mang Icong dipanggil PAK HAJI! Seumur-umur, baru kali ini Mamang dipanggil haji.” Wajahnya sumringah, seakan panggilan tadi berupa kehormatan besar bagi dirinya.
“Habisnya penampilan Mang Icong sudah seperti haji sih, pakai kopiah seperti Pak Ustad. Ciri-ciri orang sholeh sudah kelihatan di wajah Mang Icong,” gurau suamiku. “Lagipula, Securitynya kan tidak tahu kalau Mang Icong belum pergi ke Mekkah. Tapi siapa tahu Mang Icong suatu saat pergi haji… Yang namanya rejeki itu kan hanya Allah saja yang tahu,” lanjut suamiku.
“Amin amin amin,” jawab Mang Icong. “Ingin sekali Mang Icong bisa pergi ke Mekkah, tapi apa mungkin? Menghayal eta mah!”
"Mudah-mudahan ada malaikat yang mencatat niat Mang Icong,” aku menimpali.
“Andai Mang Icong bisa pergi haji… Wah, teu kabayang ah!” jawab Mang Icong sambil tertawa. “Boro-boro pergi ke tanah suci, buat hidup sehari-hari saja pas-pasan,” jelas ada nada sangsi dalam ucapan Mang Icong, tapi tetap saja hatinya merasa senang walau hanya dengan menghayal suatu saat ia akan bisa pergi ke Tanah Suci. Kami tertawa bersama, menganggap keinginan ini muskil, tapi siapa tahu? Tawa hari itu sedikit mengurangi kesedihan kami akan kecelakaan yang menimpa anaknya.

Seminggu setelah Mang Icong berada di Bontang keadaan anaknya Alhamdulillah membaik. Tak ada luka di sekujur tubuh kecuali hasil scanning kepala yang memperlihatkan ada gangguan pada system syaraf penglihatannya akibat benturan yang terjadi. Saat itu, anaknya tak bisa membedakan warna, namun dengan pengobatan yang teratur akhirnya anaknya sembuh seperti sediakala.

Mang Icong kembali ke Jakarta dan menjalankan rutinitasnya mengantar majikan ke mana mereka perlu. Dijalani semua itu dengan sabar dan ikhlas. Ia dibekali majikannya sebuah telpon genggam, sebuah barang yang pada tahun 1997 masih merupakan barang mahal. Tak lupa kami saling bertukar kabar satu sama lain tentang keadaan masing-masing lewat telpon genggamnya, terutama tentang kesehatan anaknya yang masih ikut denganku. Suatu hari Mang Icong menelpon kami mengabarkan sebuah berita gembira, ia mendapat hadiah dari majikannya. Coba tebak hadiah apa? Ongkos pulang pergi ke tanah suci Mekah! Betapa riang nada suaranya di telpon. Menurutnya, masa kerjanya sebagai supir itu baru dua tahun. Tapi sungguh ia tak mengira bakal mendapat hadiah pergi haji ke Tanah Suci. Di sela-sela percakapannya, Mang Icong mengingatkan pada kami tentang percakapan setelah melintasi Pos Security Kampung Baru di bulan Juni 1996 itu. Ternyata Allah mengabulkan perkataan yang ia ucapkan, walaupun saat itu ia hanya berandai-andai. Ah, kami pun ikut senang dan terharu mendengarnya. Bayangkan, di saat krisis ekonomi melanda negri ini di tahun 1997, seorang supir seperti Mang Icong bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Alhamdulillah, yang namanya rejeki tidak akan pernah salah alamat. Entah lewat siapa datangnya, yang jelas Allah SWT Maha Pemurah. Aku dan suamiku semakin percaya, niat baik kita akan selalu dicatat malaikat. Harapan-harapan yang kelihatannya tak mungkin di mata kita seringkali mudah menjadi kenyataan oleh pertolongan Allah. Jadi, janganlah pernah berhenti berharap dan memohon hal-hal kebaikan kepada Nya. Karena tanpa kita sadari pertolongan Nya amatlah dekat.

Jum'at, 16 April

Siang menjelang shalat Jum'at, abimu pergi ke mesjid dengan raut cemas. Bukan apa2, sejak semalam tanda2 itu sudah nampak, tapi kenapa suster di rumah sakit menyuruh umi utk menunggu di rumah saja. Masih lama kata Suster. Umi jadi enggan untuk kembali ke rumah sakit, lebih baik di rumah saja menahan sakit dan mulas. Umi bisa mengerang sepuasnya di depan mbah Uti tanpa dimarahi orang, sampai2 umi lihat mbah Uti menangis. Tapi itulah, akibat mengerang seenaknya, sekujur tubuh umi basah. Keringat campur darah dan ketuban pecah. Aih... mana abi? Untung shalat Jum'at segera berakhir, abimu tergesa-gesa menelpon rumah sakit lewat telpon umum yang terletak di tembok luar kamar mandi masal barrack JC-5. Yups, waktu itu kita masih tinggal di Barrack JC yang sempit, tak ada fasilitas telpon di setiap rumah seperti saat ini, apalagi telpon genggam.

Kelihatannya Abi tidak berhasil untuk meminta ambulans datang, mungkin karena jam istirahat, atau diperkirakan blm tiba saatnya melahirkan, umi tidak tahu. Untunglah Om Puji tetangga kita yang tinggal di JC-10 yg pegawai rumah sakit dan diberi fasilitas telpon segera menghubungi rumahsakit dan menerangkan keadaan umi yang sudah tidak berdaya. Akhirnya datang juga ambulans dan perawat. Mereka tergesa-gesa masuk ke rumah dan segera mengangkat umi ke atas tandu dibantu tetangga-tetangga sebelah rumah.

"Jangan mengejan ya, Bu! Tarik nafas saja dalam-dalam, jangan sampai melahirkan di kendaraan. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" pesan suster Yulita Theodora menenangkan. Sebenarnya jarak rumah sakit dan barak yang terletak dekat Padang Golf itu tidak terlalu jauh, tapi tetap saja terasa lama padahal ambulans sudah berjalan cukup kencang dengan suara sirinenya yg meraung.

Begitu sampai di rumah sakit umi langsung dibawa ke ruang bersalin. Suster Ning, Suster Yulita dan Suster Ana yang membantu. Tepat jam 13.13 WITA, pecahlah tangismu di ruang bersalin RS. PT. Badak Bontang. Tangisan pertamamu Nak, di Jum'at siang 16 April, 17 tahun yang lalu.

Siang ini umi mengingatnya kembali, berharap engkau di sana selalu diberi kesehatan, diberi umur yang barokah, menjadi anak yang sholeh dan dimudahkan rezekimu. Pandai-pandailah memilih teman, dan ingatlah... Allah selalu melihat apa yang kita perbuat.

Jadilah muslim yang shaleh anakku, agar kelak engkau bisa memimpin keluargamu. Jangan sekali-kali engkau mempersekutukan Allah. Tegakkanlah shalat, tunaikanlah dengan rukun2 dan kewajiban2nya, serta lakukanlah dengan khusyu. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang sombong lagi angkuh.

Sungguh tak ada yang lebih membuat kami bahagia, selain meninggalkan dirimu dalam keadaan selalu beriman dan beramal sholeh, bahagia dunia dan akhirat.

Peluk cium buat sulungku : GUSTI PANGESTU

Lelaki Pengangkat Jemuran

Kamis, 01 April 2010

Oleh : Silvany Putri Sinatra



-KINI-

Aku suka saat hujan, suasananya senantiasa membuatku merasa nyaman. Aku merasa seakan waktu berhenti dan aku terpaku dikelilingi lingkaran rintik hujan, suasana ini juga membuatku dapat merenung dengan lebih leluasa. Aku ingin setiap hari hujan, karena suasana yang ditimbulkannya membuat aku tidak harus mendengar kebisingan omelan ibuku. Terkadang hujan juga membuat pikiran ku melayang layang ke masa beberapa tahun silam.
“Bagaimana bisa? “ Begitu kata Fe teman ku satu-satunya, ya satu-satunya karena aku memang nyaris tak punya teman, teman dalam artian yang sering didengung-dengungkan orang yakni “teman tempat kita berkeluh kesah, teman juga tempat kita berbagi kebahagiaan” nah aku menjadikan Fe tempat ku berkeluh kesah, walau jarang sekali aku berbagi kebahagiaan padanya karena memang jarang sekali aku merasakan kebahagian yang dapat ku bagi bersamanya. Tak apalah aku hanya memenuhi satu dari kriteria yang sering didengungkan itu, jadi Fe sudah pantas kan aku sebut sebagai teman ku?. Kembali ke pertanyaan Fe tadi, aku menjawab

“ ya bisa saja Fe, karna saat hujan aku sering menghabiskan waktuku dengan melamun di pinggir jendela sambil memandang hujan jatuh membasahi tanaman sansiviera yang ada dibawah jendela kamarku”.

“ hanya dengan memandangi sansivieramu terkena hujan pikiran mu melayang-layang?”
Aku menarik nafas panjang sebelum menjawabnya

“tidak juga Fe, terkadang aku memandang lurus kedepan berusaha menerobos tirai hujan, melihat ada apa dibaliknya, kurasa pada saat itulah pandanganku lama kelamaan menjadi buram,pikiranku seperti terlempar ke masa silam”.

“Apa yang sedang kau bayangkan Fi?”

”aku sedang membayangkan ibu dan ayahku Fe”

”coba ceritakan,aku ingin mendengarnya”.

Di luar hujan semakin deras, ku lihat tirai hujan dan berusaha mencari tahu ada apa dibaliknya.



- LALU-

Menurut ku Ibuku sosok yang mengerikan, tubuhnya besar tinggi, rambutnya keriting, kalau terkena angin menjadi awut awutan, mungkin kalau ada burung lewat bisa jadi rambut ibuku dikira sangkar. Garis wajahnya kasar dan persegi khas orang batak. Suaranya lantang, kalau berbicara membahana ke seluruh rumah, inotasi bicaranya tak pernah lembut selalu dengan nada membentak. Begitulah gambaran ibuku. Sedangkan Ayahku, ia berbadan kurus tinggi, wajahnya tirus, bola matanya seakan-akan hendak meloncat keluar, hidungnya sangat mancung dan bibirnya begitu tipis, ia selalu terlihat murung terutama semenjak Ayah tak lagi bekerja diluar rumah alias di PHK. Wajahnya semakin murung karena ribuan lamaran pekerjaan yang dikirimnya tak satupun membuahkan hasil. Suara Ayahku sangat rendah dan lembut khas orang Sunda. Jika Ibu dan Ayahku sedang berbicara, hanya suara Ibukulah yang lebih terdengar. Semenjak Ayah tak lagi bekerja, Ibuku lah yang menjadi kepala keluarga, ia menerima cucian kotor para tetangga untuk dicucinya dan disetrikanya. Ibu yang mencuci dan menyetrika pakaian, Ayah membantu menjemur dan mengangkatnya setelah kering. Pekerjaan baru Ibu ini otomatis membuat pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Ayah. Ibu tak segan-segan membentak Ayahku jika ada kesalahan yang dibuatnya, seperti memecahkan piring, memasak keasinan, atau mengepel lantai kurang bersih. Sering ku perhatikan saat dimarahi Ibu, Ayahku tak berekspresi, tatapannya kosong, kurasa Ayahku sedang “tak ditempat”. Lucu juga membayangkan Ibu sedang memarahi raga Ayah, karena jiwa Ayah entah sedang melayang kemana. Aku dilarang membantu pekerjaan Ayah, tugasku hanyalah belajar dan belajar. Pernah suatu kali aku sengaja menggoblokan diriku, soal ujian kujawab asal-asalan, alhasil peringkatku jadi turun drastis, Ibu ku ternganga melihat nilai raportku, kurasa jantungnya pasti hampir jatuh tapi cepat-cepat ditangkapnya dan ia jadi bisa menguasai dirinya. Kejadian itu waktu aku kelas 5 SD. Aku senang sekali melihat ekspresi Ibuku seperti itu. Tapi kesenangan ku tak bertahan lama. Setibanya dirumah pakaian ku dibuka paksa dan aku di cambuk pakai sapu lidi. Sakitnya akan terkenang seumur hidupku.

”kau harusnya mengerti Fiona, aku menyuruhmu belajar giat agar kelak tidak menjadi seperti orangtuamu yang hidup susah”
ibuku mengomel sambil terus menyambuki ku, ia seperti sedang kerasukan setan.

” Kau satu-satunya anakku, aku tak ingin melihatmu gagal, kau sudah melihat bukan contoh orang gagal?, Ayahmu, Kalau kau tidak sukses kelak kau akan bersuamikan seperti ayahmu itu, coba lihat apa yang dikerjakannya sekarang selain mengangkat jemuran setiap hari. Apa kau mau bersuamikan pengangkat jemuran? Makanya kau harus rajin belajar biar hidupmu nantinya senang. Kalau kau sukses pasti kau akan bersuamikan orang sukses. Kau paham tidak Fi?”

”Ratna sudah hentikan” perintah Ayahku sambil berusaha mengambil sapu lidi yang dipegang Ibuku.

” Kau jangan ikut campur, biarkan saja aku menghajarnya kalau tidak dibeginikan dia tak akan mengerti”

“ kau yang harus mengerti dirinya, selama ini kau terlalu memaksanya untuk belajar terus”. Cambukan ibuku berhenti, aku sesungukan menahan rasa sakit di punggungku.

Sekarang giliran ayahku yang diomeli ibu.
”kalau dia kubiarkan seperti ini terus hidupnya akan seperti aku saat ini, kalau saja kau tidak membawaku kabur pasti sekolahku selesai dan aku bisa melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi. Bodohnya aku dulu begitu terbuai bujuk rayumu. Sekarang apa yang kau berikan padaku selain kemiskinan dan anak bodoh ini”.

Ibuku cukup sering menyesali kebodohannya mau diajak kawin lari oleh Ayahku. Kalau Ibu sudah mengucapkan penyesalannya ini Ayahku akan terdiam, mungkin menyesali perbuatannya dulu. Semenjak kejadian itu aku tak berani menjawab soal ujian asal-asalan lagi.


- KINI-

“kurasa Ibumu ada benarnya juga Fi, cuma cara yang digunakannya untuk mendidikmu salah” Fe berkomentar.

“ menurutku ibuku selalu salah Fe”. Fe diam sejenak dan mengangguk-anggukan kepalanya,entah apa maksudnya,mungkin ia setuju dengan pernyataanku. Kualihkan pandanganku keluar jendela, tirai hujan telihat, aku memandanginya kembali.


-LALU-

“Yah besok pengumuman kelulusan ku” kata ku pada Ayah yang sedang mencuci piring.

“hmmmm ? apa kata mu tadi?”
Akh ini penyakit Ayahku, penyakit ini baru saja menggerogoti dirinya semenjak ia tak lagi bekerja di luar rumah. Aku menamai penyakitnya ‘tak di tempat’ ya aku menamainya demikian karena sering aku melihat Ayahku seakan-akan sedang tak ada ditampatnya sekarang, maksudku Ayahku memang sedang beraktifitas tapi fikirannya sedang tak bersamanya, jadi aku harus mengulang pertanyaannku beberapa kali untuk membuat fikirannya kembali padanya.

“ besok pengumuman kelulusan ku Yah” tangan Ayahku berhenti sejenak, aku melihat Ia meremas spons pencuci piring, busa putih keluar dari sela-sela jarinya. Kurasa Ayahku sedang berusaha mengembalikan fikirannya yang sedang mengembara entah kemana.

” Ayah yakin kamu pasti lulus nak” aku mengembuskan nafas panjang, sepertinya tadi saat fikiran Ayahku berusaha kembali ke tempatnya, aku menahan nafasku.

” Ya Yah aku yakin aku bakal lulus”

“ ya bagus “

“ lusa pengambilan ijazah nya Yah, Fi ingin Ayah yang mengambilnya” sekali lagi spons itu diremas dan sekali lagi busa putih keluar dari sela-sela jarinya, kurasa Ayahku sedang mempertimbangkan usulan ku.

“ kenapa tidak Ibumu saja? toh selama ini yang mengambil raport mu juga Ibumu”
Sekali lagi aku menghembuskan nafas panjang.

“ Ayah, aku sudah muak merasakan malu setiap kali Ibu datang ke sekolah” jawabku dengan suara agak meninggi. Ayahku terkejut kurasa sekarang perhatiannya 100 % untuk ku, sekarang sponsnya tak lagi diremasnya ia letakkan begitu saja di atas piring terakhir yang masih kotor, cepat-cepat ia mencuci tangannya dan meletakannya di kedua bahu ku sambil mengguncang guncang kan bahu ku

“ Fi hati-hati kalau berbicara, nanti kalau ibu mu dengar dia bisa marah”

Ku tepis tangan Ayahku dan berbalik sambil berlari masuk ke kamar, kubenamkan kepala ku ke bantal sambil menahan rasa sedih, kesal dan juga marah. Aku sedih Ayahku menolak mengambil ijazahku, aku kesal karena kelemahan Ayahku yang takut pada Ibuku, aku juga merasa sangat marah akan sikap Ibu ku.

“ akh aku bakalan malu setengah mati nanti di sekolah” batinku.

Setiap pengambilan raport, Ibuku selalu berdandan super menor, ia akan memakai baju yang penuh dengan motif bunga besar-besar, dimataku itu sangat norak, wajahnya pun akan di make upnya habis-habisan, sepertinya Ibu ku tak menyadari kalau sudah menjelang siang ia akan kegerahan dan make up murahan di wajahnya akan terlihat mengkilap karna bercampur dengan keringat. Belum lagi perhiasan imitasi yang dipakainya, Ibuku jadi kelihatan seperti toko emas berjalan. Mungkin menurutnya itu penampilan terbaiknya, ia hanya tak ingin kelihatan lusuh dan miskin. Sebenarnya itu belum seberapa, ada hal lain yang membuatku lebih merasa malu lagi. Ibuku selalu begitu membanggakan kepintaran ku di hadapan orangtua teman-temanku, ia tanpa diminta akan menceritakan keberhasilannya dalam mendidiku sehingga aku bisa dapat rangking satu terus.

“saya selalu menyuruh Fiona sepulang sekolah langsung mengerjakan tugas sekolahnya selama 1 jam baru setelah itu ia boleh makan siang. Saya selalu melarang Fiona untuk tidur siang, karna itu membuang-buang waktu saja, jadi lebih baik belajar mengulang materi apa yang sudah diajarkan gurunya tadi di sekolah, sampai sore. Sehabis magrib Fiona juga selalu saya suruh untuk mempelajari materi yang akan diajarkan gurunya esok. Jadi dalam sehari Fiona belajar 3 kali, pantaskan ia berada di posisi teratas terus”

Begitu ucap Ibuku dengan nada bangga. Bayangkan setiap pengambilan raport selalu kalimat itu-itu saja yang diucapkan Ibuku. Aku melihat beberapa orangtua temanku mendengarkan celotehan Ibuku dengan raut muka kesal bahkan aku yakin beberapa diantara mereka sengaja menghindar duduk di dekat Ibuku. Efek dari celotehan Ibuku ini aku jadi sering diolok-olok temanku “ ingat pesan Ibu jangan lupa belajar 3 kali sehari supaya lekas sembuh eit maksudnya lekas pintar”. Olokan ini selalu ditujukan padaku saat sekolah usai dan aku sedang bersiap hendak pulang. Sungguh memalukan, kurasa tak ada yang mau berteman denganku karna takut terkena olokan juga.


-KINI-

“akhirnya Ibumu juga fi yang mengambil ijazah mu?” Tanya Fe.

Bunyi gemuruh mengagetkanku, aku langsung tersentak bangun dari kursi goyang Fe yang sangat nyaman. Fe menghampiriku,

“ tak apa tadi itu cuma gemuruh, berbaring saja lagi Fi”.

“ aku tau itu gemuruh, aku hanya sedang ingin meluruskan badanku saja”. Diluar hujan turun semakin deras, pandangan ku melewati jendela rumah Fe, aku kembali berusaha menembus tirai hujan.




-LALU-

Pada akhirnya memang Ibuku yang mengambil ijazahku. Ayah sudah menawarkan diri untuk mengambil ijazahku pada Ibu.

“ tidak bisa, biar aku saja yang mengambilnya”

Hanya sepenggal kalimat itu yang diucapkan Ibuku tapi mampu membuat ayahku tak lagi berkutik. Aku sering bertanya-tanya apa sih yang membuat Ayahku jatuh cinta pada Ibuku dan mengapa ia masih mempertahankan perkawinannya, kalau aku jadi dirinya aku akan kabur dengan wanita lain.



-KINI-

“Ku rasa Ayahmu tipe family man yang memandang perempuan sebagai pasangan hidup yang harus dimengerti agar bisa hidup berdampingan”. Ucap Fe tiba-tiba. Cukup lama juga aku merenungi ucapan Fe.

“ ya bisa jadi Fe”

Hujan sudah tak deras lagi, hanya rintik-rintik kecil, aku jadi bisa melihat ada apa dibalik tirai hujan.



-LALU-

Aku berhasil mendapatkan nilai kelulusan tertinggi dan meraih predikat siswa teladan untuk yang ke tiga kalinya. Aku melihat senyum ibu begitu lebar saat namaku dibacakan sebagai siswa teladan. Dan untuk yang terakhir kalinya ibu kembali bercerita kepada siapa saja yang duduk di dekatnya tentang keberhasilannya mendidikku. Karena nilaiku tertinggi aku mendapatkan undangan ke universitas negeri terbaik. Sengaja aku memilih universitas diluar kota agar aku bisa jauh dari rumah. Fakultas yang kupilih pun sengaja yang tidak favorit, aku memilih fakultas pertanian. Kontan saja Ibuku marah besar, ia ingin aku memilih kedokteran, hukum atau teknik. Sedangkan ayahku sama sekali tak berkomentar apa-apa mengenai pilihan ku ini.

”kalau untuk jadi petani ngapain kau kuliah, banting tulang aku menyekolahkan kau agar nantinya kau bisa jadi dokter atau pengacara”.

Dari mulai pengumuman aku diterima di fakultas pertanian sampai hari keberangkatanku, Ibuku mengomeliku terus tiada henti-hentinya. Hari kebebasanku pun tiba, hari dimana aku akan meninggalkan rumah. Hari ini hari yang aku impi-impikan semenjak dulu. Masih dengan raut wajah kesal Ibu ku berkata:
”aku tak akan membiayai kuliah kau, cari saja uang sendiri”
Sungguh ucapan yang tak pantas diucapkan saat perpisahan.

”jaga diri baik-baik ya nak, jangan lupa berkirim kabar” ucap Ayahku sambil meremas lembut bahuku. Aku hanya mengangguk. Itulah pertemuan terakhirku dengan mereka, bertahun tahun aku meninggalkan kotaku tanpa pernah mengirimi kabar. Kuliahku berantakan karena memang aku memilih jurusan asal-asalan saja. Akhirnya aku di DO karena IPK ku selalu dibawah rata-rata. Cuma 3 semester aku bertahan di kampus. Wah ibuku pasti terserang stroke mendengar kabar ini. Sebenarnya aku lebih senang bekerja daripada kuliah. Untuk biaya hidup aku bekerja menjaga butik, kadang aku juga ikut menyumbangkan ide mendesain pakaian , pemilik butik suka dengan hasil rancanganku, ia pernah mengatakan sesungguhnya aku berbakat di bidang desainer.

4 bulan setelah aku tak lagi kuliah aku berkenalan dengan seorang pria tampan dan mapan. Re namanya. Usianya 10 tahun diatasku. Ia seorang dokter. Kami berkenalan ditempat prakteknya, saat itu ia mengatakan aku sangat cantik dan ia sudah jatuh cinta padaku sejak pertama kali melihatku. Untuk yang satu ini aku memang sudah lama menyadarinya, dulu waktu kecil aku cukup sering mendengar orang memuji-muji diriku “sudah cantik pintar pula”. Semasa sekolah dulu banyak juga yang berusaha mendekatiku, tapi tentu saja mereka harus berhadapan dengan Ibuku. Baru setelah kuliah para kumbang bebas mendekatiku. Tapi tak ada yang serius, tak ada yang benar-benar membuatku fall in love. Sebenarnya aku tak begitu tertarik pada Re, entahlah sepertinya ada yang salah dengan otakku. Diluar sana aku yakin ada ratusan wanita yang rela antri untuk mendapatkan Re. Pacaran kami tak lama, Cuma 3 bulan, kami langsung menikah. Kurasa aku menikahinya karna ingin menunjukan pada Ibuku kalau aku bisa mendapatkan orang sukses, bukan lelaki pengangkat jemuran yang selama ini dikhawatirkannya. Ibuku cukup terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa menyandang gelar sarjana. Terlebih aku datang bersama seorang pria. Ia lebih terkejut lagi waktu kukatakan hendak menikah dengan Re yang seorang dokter. Ayah ku tentu saja sangat bahagia mendengar kabar ini, akh ia semakin ringkih saja kulihat. Pernikahan berlangsung cepat, agar tak merepotkan orang tuaku aku menikah digedung menggunakan jasa EO. Sayangnya orang tua Re sudah tiada, ia hanya memiliki seorang kakak yang sedang berada diluar negri, yang karena kesibukannya tak bisa hadir. Aku tak banyak bercakap-cakap dengan orangtuaku, melihat raut wajah orang tuaku saat aku pamit aku yakin mereka turut bahagia dengan pernikahan ku, Ibu ku sempat berbisik “ Kau harus menjaga suamimu jangan sampai diambil orang”. Saat itu aku berfikir Ibuku memang aneh.



-KINI-

“kau suka Fe mendengar kisah hidupku?”

“ya menarik juga, akhirnya happy ending kan?”

“itu belum selesai Fe, entahlah, apa akhirnya bisa happy ending”

“ada masalah dengan perkawinan mu?” aku memandang Fe, mempertimbangkan untuk mengatakan masalah rumah tangga ku padanya atau sebaiknya tidak usah saja. Akhirnya mendengar suara hujan, membuat ku menjadi ingin mengatakan masalah perkawinan ku pada Fe.

“Re tidak lagi bersamaku Fe”

“bagaimana bisa?” Fe tampak terkejut

“ Ia berselingkuh dengan pasiennya yang sangat cantik”

Cukup lama Fe terdiam “well itu tidak membuatmu terlalu sedih kan? Kaukan tidak mencintainya?”

“awalnya memang aku tidak begitu mencintainya, tapi setelah cinta itu muncul ia malah pergi meninggalkan aku, sekarang kami sedang memproses perceraian kami di pengadilan”.

“aku turut sedih mendengarnya Fi” Fe memelukku erat.

Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk menyadari bahwa ternyata ibuku tidak selalu salah. Setelah resmi bercerai dari Re, beberapa tahun kemudian aku menikah lagi dengan pria yang tidak tampan dan sedikit mapan. Aku berharap pilihan ku ini tidak berakhir seperti perkawinan ku dengan Re.


20 tahun kemudian

“Flo kenapa membolos? Mama malu setiap kali dipanggil kesekolah karena ulahmu itu.”
Flo anak lelakiku yang sekarang duduk dikelas 2 SMU hanya meringis.

“ aku males belajar ma, aku gak suka sekolah, bosen”
Kontan saja aku meledak mendengar ucapannya.

“Flo kalau kamu gak sekolah kamu mau jadi apa besar nanti? mau seperti Papamu sekarang heh? lihat Papamu apa yang bisa dikerjakannya sekarang selain mengangkat jemuran, apa kamu mau besar nanti menjadi lelaki pengangkat jemuran?”.

Akh, aku tersadar, puluhan tahun lalu ibuku pernah mengucapkan kata-kata ini padaku, kini aku mengulangi ucapannya kepada anakku. Doaku supaya perkawinan keduaku tidak seperti perkawinan pertamaku memang dikabulkan Tuhan, tetapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi padaku, kini nasibku tak jauh berbeda dengan nasib ibuku.


-TAMAT-


Bontang, 28 Maret- 1 April 2010

Suka Duka Datang Bersamaan

Oleh : Yuni Soedibjo

Di tahun 2007 sungguh merupakan tahun yang gak pernah akan aku lupakan. Bagaimana akan lupa karena ujian sungguh berat bagiku yang datang silih berganti. Tahun 2007 adalah tahun kenangan yang amat berharga bagiku. Di awal tahun 2007 adalah permulaan ujian demi ujian datang silih berganti.

Awalnya anakku yang pertama kelas 3 SMP yang tahun 2007 ini akan menghadapi UAN. Waktu itu ada ketentuan dari sekolah bahwa UAN standart nilai kelulusan harus 4,0 dengan 3 mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Sungguh membuat anak-anak sangat prihatin harus memperoleh nilai yang bagus.
Bulan April mulai pada sibuk, walaupun yang ujian anak-anak tapi sebagai orang tua ikut merasa khawatir. Dengan kekhawatiran itu pula kegelisahan orang tua sangat berpengaruh pada anak. Sehingga aku yang merasakan anak I mau menghadapi ujian sangatlah berusaha bagaimana caranya agar anakku tidak gagal. Aku selalu memberi semangat pada anakku, agar sering-sering baca dan berdoa. Hanya dengan berdoa itulah kita pasrah pada Allah SWT dan aku yakin Allahlah yang menentukan segalanya, dan hanya Allah yang bisa membantu hambaNya yang mengalami kesulitan.

Selama aku membimbing anakku, keponakanku yang di Salatiga Jawa Tengah juga mengalami cobaan. Dian (keponakanku) nelpon dan mengatakan bahwa 2 bulan lagi dia akan melahirkan anak pertama. Dia bertanya padaku, “Bulik, bagaimana ya saya mau ujian sarjana tanggal 17 Juni padahal itu pas perkiraan dokter tangal kelahiran anakku?” Ya aku sih Cuma bisa menyarankan, “Ya berdoa saja Yan, mudah-mudahan kamu bisa ikut ujian dulu baru nanti melahirkan, dan mudah-mudahan anakmu nanti lahir tanggal 19 Juni, jadi bulik ada temannya kalau pas Ulang Tahun.” Dian cuma jawab, “Insya Allah, amin terima kasih sarannya.”

Memasuki bulan Mei ujian tambah berat rasanya, ya Allah ada kabar dari Sulawesi bahwa ibu mertua sakit dan sangat merindukan anak kesayangannya. Yah langsung saja suamiku berangkat ke Sulawesi karena Emergency untuk menemui ibu yang sedang sakit.
Suamiku berangkat dengan rasa cemas karena ibu jarang sakit. Sungguh sangat sedih karena anak pas mau ujian, orang tua sakit. Ya Allah berikan aku kekuatan, sering dalam doaku mudah-mudahan kami diberi kekuatan agar semua berjalan lancar, dan akan diberi jalan yang terbaik. Suamiku berangkat ke Sulawesi hanya beberapa hari karena cuma dapat waktu 3 hari, berhubung Sulawesi itu jauh perjalanannya ya jadinya 1 minggu dengan perjalanan. Tanggal 10 Mei suamiku baru pulang dari Sulawesi, ceritalah suamiku tentang penyakit yang diderita ibu. Ibu menderita sakit maag yang parah karena ibu muntah terus, tidak mau makan dan ibu cuma diam saja tidak mau bicara.

Setelah pulang suamiku emang waktunya mengajukan cuti yang jatuh bulan Juni karena mau digunakan untuk berlibur dengan anak. Ujian UAN tuk SMP jatuh pada tanggal 22 Mei waktu itu, ya alhamdulillah waktu ujian suami menemani anak. Cuma pengumuman masih nanti tanggal 10 Juni dan mulai libur sekolah tanggal 12 Juni sampai awal Juli.
Memasuki hari ujian aduh aku yang kepikiran merasa gelisah terus karena nggak tau kenapa bisa menunggu anak ujian tetapi pikiran ke Sulawesi sampai 2 tengah malam aku terbangun memohon Ya Allah Engkau Maha Mengetahui apa yang sedang dan akan terjadi pada kami. Berilah kekuatan dan ketabahan agar kami bisa menghadapi ini semua dengan kesabaran.

Memasuki bulan Juni sungguh sangat membuat hati selalu berdebar. Bagaimana tidak berdebar karena bulan Juni adalah bulan kebahagiaan buat aku.
Suami cuti tanggal 9 Juni yang akhirnya kami putuskan kalau suami berangkat ke Sulawesi untuk menemani ibu yang sedang sakit. Walaupun jauh komunikasi tidak pernah putus. Tanggal 10 ada pengumuman kelulusan SLTP, alhamdulillah anakku lulus. Memasuki hari ke 4 suamiku berada di Sulawesi, ibu dibawa ke sebuah RS di Masamba jauh dari desa kami, maklum keluarga kami hidup di kota kecamatan jadi tidak ada RS yang bisa dituju. Setelah ibu dibawa ke RS Masamba diputuskan untuk dirawat, dan suamiku mendampingi terus. Keadaan ibu semakin menurun hingga tanggal 17 Juni ada kabar dari Sulawesi kalau ibu mengalami pendarahan terus, sehingga suamiku mengambil keputusan untuk memanggilku harus berangkat ke Sulawesi. Dengan rasa cemas aku berangkat ke Sulawesi dengan adik ipar. Tanggal 18 pagi aku berangkat ke Balikpapan dan selanjutnya terbang ke Sulawesi. Sampai di Bandara Hasannuddin sudah menunjukkan pukul 4 sore, kalau aku nunggu bus ke Pallopo terlalu lama dan sambil nunggu keponakan yang dari Jogya aku mencari mobil carteran. Akhirnya kami carter mobil, ongkos dari Makassar ke Masamba Rp. 200.000,- waktu itu. Duh sungguh sangat melelahkan perjalanan darat dengan Panter. Singkat cerita perjalanan sampai di Masamba jam 02.10 dini hari. Bayangkan tidak tahu arah Utara Selatan dan nggak ada saudara yang dituju akhirnya kami langsung ke RS.

Masya Allah sampai RS kami tidak diperkenankan masuk oleh Satpam karena bukan pada waktu jam besuk. Dengan memohon aku jelaskan kalau aku jauh-jauh dari Kalimantan karena ingin menjenguk mertuaku dan aku bilang kalau suamiku ada di dalam. Akhirnya kami diperkenankan masuk. Dengan memasuki lorong RS yang gelap dan sepi membuat bulu kudukku berdiri. Melewati ruang ICU jantungku berdetak makin kencang. Ya Allah mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Dalam hati ini tanggal 19 Juni yang biasanya adalah hari bahagiaku karena ulang tahun, tapi kali ini tidak aku merasa ada sesuatu di hari bahagia ini. Kulihat ibu terbaring dengan infus dan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ya Allah beri aku kekuatan, berilah yang terbaik buat ibu mertuaku.

Jam 7 pagi pada saat visit dokter, dokter mengatakan bahwa ibu harus dirawat di ruang ICU supaya lebih intensif lagi dalam pengawasan dokter. Oke kami sepakat ibu dibawa ke ruang ICU. Masih menunggu segala sesuatunya Hpku berbunyi dan suara dari sebrang sana kakak-kakakku pada ngucapin selamat ulang tahun, aku hanya bisa berucap terima kasih dan menangis terus karena di saat aku bahagia aku juga lagi bersedih karena ibu yang berada di depanku harus masuk ICU. Ada juga keponakanku yang memberi kado istimewa buatku, “Bulik Selamat Ulang Tahun ya, semoga panjang umur dan ini aku kasih hadiah anak laki-lakiku yang barusan lahir sesuai permintaan Bulik karena aku ujian dulu tanggal 17 dan benar tanggal 19 aku melahirkan. Ya Allah alhamdulillah hirobil alamin, aku nggak bisa ngomong apa-apa kecuali menangis. Ya Allah di saat aku bersedih menghadapi ibu yang sedang sakit Engkau memberi hadiah seorang cucu laki-laki dari Dian keponakanku yang tempo hari minta doa restu karena mau ujian sarjana. Belum lagi kuhapus airmataku karena suka duka yang menyatu ada telpon lagi dari teman yang aku titipi sebagai wakil dari orang tua untuk mengambilkan ijasah anakku yang ujian tempo hari. “Halo bu, assalamualaikum, ini saya sudah mengambil hasil UANnya Yudi, selamat Yudi berhasil masuk 10 besar dari seluruh siswa Vidatra, yaitu urutan ke 6.” Aku hanya bisa menjawab, “Waalaikumsalam, terimakasih pak atas segala bantuannya, dan syukur alhamdulillah anakku telah berhasil. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah. Syukur alhamdulillah ya Allah Engkau beri aku rezeki lagi hasil ujian anakku, dan aku menangis haru karena suka dan duka yang aku alami datang bersamaan. Terimakasih Ya Rob, hanya dengan kebesaranMu kami bisa menghadapi semua ini.

Singkat cerita ibu telah dirawat di RS Masamba selama 16 hari, 6 hari rawat biasa dan 10 hari di ICU, karena keterbatasan dana ibu kami bawa pulang ke Maramba. Dan akhirnya ibu meninggal dunia tanggal 23 Juli 2007. Innalillahi wainna ilaihi rojiun, selamat jalan ibu tercinta, mudah-mudahan ibu diampuni dosanya dan diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT.

Hal Kecil Bermakna Besar

Oleh: Silvany Putri Sinatra

Pada bulan Desember tahun lalu seorang teman kuliahku sewaktu di kampus dulu mengirim email kepadaku. Isi emailnya bukan kata-kata say hello yang pada umumnya dikirimkan seorang teman yang telah lama tak berkirim kabar, melainkan ucapan terimakasihnya yang tak terhingga kepadaku atas sebuah game yang kumainkan kepadanya sekitar 4 tahun lalu. Ia juga meminta maaf karena setelah sekian tahun, baru sekarang berterimakasih padaku. “Karena kita sedang memperingati hari Ibu aku jadi teringat ibuku dan kamu Van,” tulisnya. Tentu saja aku bingung, game? Game mana pula yang aku mainkan untuknya dan mengapa untuk sebuah game yang aku sendiri tak ingat begitu berarti baginya yang menurutnya game itu telah menyebabkan runtuhnya tembok tinggi yang selama ini menjulang antara dirinya dan ibunya, yang menyebabkan rasa benci di hati berubah menjadi cinta, hati yang sebeku es menjadi cair. Sedahsyat inikah pengaruh dari game itu? Aku bertanya bingung dalam hati. Langsung saja kureply email itu dengan bertanya lebih detail, apa maksudnya, game apa yang kumainkan untuknya dan mengapa game itu sangat berarti baginya.

Balasan emailku berupa curahan hatinya tentang kehidupan masa kecilnya, lumayan panjang sekitar 10 halaman. Kubaca hingga selesai. Barulah aku mengerti mengapa game itu sangat berarti untuknya. Ceritanya begini, empat tahun lalu di kampus aku berteman akrab dengan beberapa orang, salah satunya temanku yang baru saja mengirim email ini, sebut saja namanya Riri. Sebagai mahasiswi Fakultas MIPA jurusan Kimia, aktifitas kami di kampus fullday, pagi kuliah siang hingga sore pratikum. Sering di antara 2 waktu itu kami tidak pulang ke rumah, melainkan duduk-duduk di taman perpustakaan sambil mengerjakan laporan pratikum atau ngenet gratis di dalam perpustakaan sambil menunggu jam pratikum tiba. Nah suatu hari yang entah mengapa aku tak ingat menurut cerita Riri saat kami duduk-duduk di taman perpustakaan aku memainkan sebuah game kepadanya. Aku menyuruhnya menggambar sebuah rumah di sehelai kertas dalam waktu kurang dari satu menit. Setelah selesai menggambar, aku menganalisa kepribadiannya melalui gambar yang telah dibuatnya. Pada saat itu aku mengatakan bahwa ia tipe orang yang tidak betah di rumah, merasa senang berada di luar rumah dan ia juga tidak terlalu menyayangi ibu dan keluarganya, lebih care terhadap orang lain dibandingkan keluarga sendiri. Hal ini terlihat dari rumah yang digambarnya tidak berpintu, padahal untuk sebuah rumah pintu amatlah penting, jika dianalogikan sebuah rumah dengan sebuah keluarga maka rumah tak berpintu sama dengan keluarga tanpa seorang ibu. Susah payah aku mengingat apa pernah aku mengatakan hal seperti ini. Masih menurut tulisannya, saat itu aku memberikan masukan, aku mengatakan kalau seperti ini terus maka ia tak akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya selama ia masih kurang menyayangi keluarganya terutama ibunya. Ternyata pernyataanku ini membuatnya tersadar.

Ya sesederhana itu saja game yang telah kumainkan kepadanya yang sampai sekarangpun aku tak ingat pernah memainkannya, tapi mampu merubah sudut padangnya terhadap ibunya. Mengapa Riri sampai kurang menyayangi ibunya? Ceritanya lumayan panjang seperti yang kukatakan tadi tulisan yang dikirimkannya kepadaku sekitar 10 halaman, jadi kupersingkat saja ya. Menurut yang diceritakan Riri semasa ia kecil ia merasa kurang dikehendaki oleh ibunya. Terlihat dari kurangnya perhatian ibunya pada dirinya. Ia sering sekali diomeli untuk masalah yang menurutnya kecil. Selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Entah mengapa di mata ibu ia selalu bad looking, berbeda dengan si kakak yang selalu good looking. Ia jarang sekali diajak berpergian oleh ibu, selalu si kakak yang dibawa kemana-mana. Ia bahkan hampir setiap hari dititipkan oleh ibunya ke rumah tantenya seakan-akan ibunya enggan merawatnya. Ada beberapa peristiwa semasa kecilnya yang cukup melekat di benaknya salah satunya ada waktu itu ada karnaval, pagi-pagi sekali ia dan kakaknya sudah didandani secantik mungkin. Hatinya senang sekali ia akan diajak oleh ibunya melihat karnaval. Bergegas mereka ke luar rumah. Tapi mereka menuju rumah tante yang memang bersebelahan dengan rumahnya. Riri tak mendengar apa yang diucapkan ibunya kepada tantenya karena ibunya bicara berbisik, yang pasti setelah itu dirinya diajak masuk ke dalam rumah dan tantenya mencoba mengalihkan perhatiannya. Barulah Riri kecil menyadari kalau ternyata dirinya tak diajak oleh ibunya melihat karnaval, dan si kakak yang diajak ikut.

Beberapa tahun sesudahnya Riri kerap merasakan ketimpangan kasih sayang ibu terhadap dirinya, ia pun bertingkah semakin nakal, berusaha mencari perhatian ibunya, ia merasa senang melihat ibunya jengkel akan ulahnya. Begitulah seterusnya hingga Riri meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ia merasa sangat bebas berada jauh dari rumah, bahkan sengaja untuk tidak pulang di saat liburan. Sampai akhirnya game itu menyadarkannya. Ya hanya dari sebuah game yang kuyakin pasti kumainkan untuknya dengan iseng hanya untuk mengisi waktu luang kami, tapi mampu membuatnya sadar.

Kukirim email kepadanya dengan bertanya bagaimana mungkin game yang kumainkan untuknya bisa membuatnya tersadar. Ia membalasnya dengan mengatakan bahwa kata-kataku “kalau seperti ini terus maka ia tak akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya selama ia masih kurang menyayangi keluarganya terutama ibunya” telah menyadarkannya. Ia memang merasa senang berada jauh dari rumah tetapi ia juga merasa seperti ada bagian dari hatinya yang dilanda kegelisahan dan keresahan. Menurutnya beberapa hari setelah game itu kumainkan ia jadi mulai merenungi kembali masa-masa kecilnya dulu. Setelah perenungan itu ternyata sudut pandangnya pada ibunya jadi berubah. Ia jadi menyadari mengapa seakan-akan ibunya lebih sayang kepada kakaknya, ya tentu saja ibunya tak pernah mengomeli kakak karena memang kakak bersikap baik, tidak nakal dan patuh. Berbeda sekali dengannya yang nakal, tukang bikin onar dan tidak patuh. Ia menyadari ibunya jarang sekali membawanya berpergian karena ia memang bertingkah sangat aktif yang membuat ibunya kewalahan menangani dirinya. “Ah Van ternyata aku baru menyadari sumber masalahnya ada padaku bukan pada ibuku setelah kamu mengucapkan kata-kata itu padaku Van. Coba fikir apa jadinya aku ini andai saja kamu gak pernah memainkan game itu untukku, pasti aku jadi anak durhaka seumur hidupku. Kini aku sangat menyayangi ibuku. Beribu terimakasihku untukmu sobatku Vanie.” Terharu sekali aku membacanya.

Cukup lama juga aku merenungi apa yang terjadi pada kawanku ini. Aku jadi menyadari dua hal, pertama, apa yang kita rasakan mampu mempengaruhi sudut pandang kita, kalau sudah ada rasa benci di hati apapun yang dilihat akan terlihat buruk, tetapi kalau hati dipenuhi rasa cinta segala yang dilihat semuanya akan tampak indah. Kedua, dalam menjalani hidup ini pasti begitu banyak kata-kata yang telah kita ucapkan kepada orang lain dan apakah kita menyadari kata-kata kita yang manakah yang begitu bermakna bagi yang mendengarkannya atau bahkan kata-kata kita yang mana pula yang telah membuat hati yang mendengarnya merana. Semoga kata-kata yang telah kita ucapkan mengandung kebaikan bagi yang mendengarnya, dan hati kita senantiasa dipenuhi rasa cinta dan kasih. Amin ya Rabbal’alamin.

Kisah Anak Manusia

Cerita ini kumulai di pagi hari di daerah pegunungan kapur, sengaja aku melintasi daerah ini dan bertemu ibu tua dengan “tanggok” di punggungnya berjalan menuju tepi sawah. Di belakangnya ada kelompok buruh yang lain. Sambil mendendangkan lagu-lagu Jawa, istirahatlah ia di pondok kecil di dekat pematang sawah. Adalah kebiasaan buruh-buruh tani melipur kemiskinan, kepahitan hidup dengan lagu-lagu Jawa. Biasanya mereka bergerombol, “guyonan” bersama-sama menaiki sepeda menuju sawah, bersahut-sahutan “parikan” sejenis pantun yang berisi lelucon hidup sehari-hari, permasalahan hidup mulai dari pemilu, pilkada, harga sembako yang tinggi, biaya sekolah yang masih mahal, pembagian BLT, siapa punya “affair”, gossip terpanas. Dan aku selalu rindu di dekat orang-orang tidak berpunya ini, ada rasa keikhlasan, persaudaraan, beban hidup yang tidak terlihat. Teman, kamu tahu merekalah sahabat-sahabatku. Kusapa mereka dan mereka sangat senang kalau tahu aku pulang kampung.
“Mas Ninik, kapan konduripun?” tanya mereka.
“Mbah, ampun basa kalih kulo,” jawabku. “Seminggu yang lalu”
Kusalami mereka satu persatu dan kubagikan sedikit rejeki bagi mereka. Teman, kamu pasti senang melihat ekspresi wajah-wajah lugu itu. Wajah yang mungkin tak terbersit ada keinginan aneh-aneh dalam hidup, bangun pagi, cari rejeki, tak ada keluh kesah. Aku tahu mencangkul, mengolah sawah, memupuk, mengairi sawah, memanen, membawa padi adalah berat sekali. Punggungku pernah merasakan kepenatan amat sangat ketika aku iseng-iseng turun ke sawah membantu mereka.
“Matur nuwun, Mas Ninik,” kata mereka. Wajah mereka berseri-seri.
Pandangan mataku menyebar dan kutemukan sosok ibu tua yang lebih senang menyendiri. Embun pagi masih terasa basah. Padi mulai menguning, panen hampir tiba. Waktu yang ditunggu petani. Kuhampiri tubuh renta itu. Kamipun ngobrol ngalor-ngidul. Mulailah ia bercerita tentang bencana. Ya bencana. Bencana dua tahun lalu.
“Nak Mas, apakah sampeyan tinggal di sini sewaktu gempa 2 tahun lalu?” tanyanya.
“Nggih, Mbah!” jawabku. “Tapi cuma sebentar.”
“Kalau ingat kejadian itu, hati saya ini kok seperti kena sembilu,” ceritanya.
“Kenapa, Mbah?” tanyaku.
“Dimana ya nurani manusia di bumi ini? Kok tega-teganya bencana datang tidak tergerak ya, dan lebih parahnya anak saya juga tidak pulang. Lha wong tahu saya ini sudah janda, renta kok ya gak ditengok?” katanya.
“Memang anak Ibu dimana?” tanyaku.
“Jauh, Nak Mas. Ngrantau di sana, dimana itu. Sumantrah,” jawabnya.
“Mungkin anak ibu sibuk, atau tidak ada biaya untuk pulang,” sahutku.
“Nggak mungkin. Lha wong dia itu bisa naik haji dua kali, masa uang 2 juta untuk pulang-pergi tidak mampu?” gugatnya.
“Wah, saya gak tahu Mbah,” sahutku.
“Gini lho, Nak Mas. Orang itu kalau sudah berhaji kan ada tanggung jawab sosialnya, apalagi saya ini kan ibunya. Apa nunggu aku mati dulu, baru peduli?” jawabnya jengkel. “Anak dari kecil dibesarkan, disekolahkan baik-baik, didoakan kok tega ya, apa mungkin saya dulu ngasih dia rejeki yang jelek?” gumannya. Kulihat matanya menerawang jauh, kosong. Ada rasa kecewa yang dalam yang kurasa. Mungkin rasa kesepian ditinggal anak. Masa tua tidak ada anak di sampingnya. Tepat sekali peribahasa yang kudengar sewaktu kecil. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
“Sudahlah, Mbah. Gak usah terlalu dipikir. Nanti Mbah malah sakit,” hiburku.
“Mboten ngoten, Nak Mas. Apa ada yang salah dengan peribadatan saya, kok sampai hati anak saya ini?” air mata mulai mengalir di pipi yang sudah keriput itu. Kuseka airmata ibu tua itu. Kuajak ia naik ke tepi jalan.
“Ayo Mbah, ikut saya! Saya ajak jalan-jalan Mbah. Biar saja Mbah tidak usah bekerja hari ini. Nanti saya bilang sama Mandor Karyo,” kataku.
Kunyalakan mobil dan berkelilinglah kami ke Yogyakarta. Dari kaca spion, masih dengan rasa sedihnya, kulihat ibu tua itu melamun dan mulailah ia bersenandung. Senandung lagu jiwa, jiwa yang sepi, ketidakadilan, kekecewaan yang kudengar.
“Mbah, ini pasar Niten. Sudah selesai dibangun, bagus ya Mbah?” ujarku. Ibu tua itu masih terdiam. Aku berusaha memakluminya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghibur orang tua ini. Aku hanya berpikir masa tuaku akan seperti apa? Bahagiakah atau apa?
“Saya ini orang tua, hidup sendiri, cari makan sendiri, ke sawah jadi buruh. Itupun kalau ada orang yang menyuruh. Selama gempa itu Nak Mas, saya tidur di pengungsian. Rumah hancur, baju pun hanya yang melekat hingga berhari-hari. Mau tidur susah, mau apa-apa juga susah, lha wong ramenya itu lho. Banyak pengangguran karena pabrik-pabrik juga rusak. Walau saya sendiri tidak terlalu beruntung, tapi masih ada yang lebih menderita lagi Nak Mas,” katanya.
“Ya, toh hidup ini hanya tinggal menjalani, Mbah. Masih beruntung kita diberi kesempatan hidup. Jadi ssaya bisa ketemu Mbah dan jalan-jalan. Sebelum Niten tadi, Kasongan Mbah, pusat gerabah yang hancur karena amarah alam pada kita,” kataku.
“Kadang saya kok bingung ya Nak Mas. Menjalani hidup ini. Kenapa kita tidak mempunyai pilihan terhadap satu peristiwa? Kenapa saya tidak memiliki pilihan anak yang saya damba, yang peduli, yang menyempatkan diri ngurusi saya yang renta ini,” celotehnya.
“Mbah, walau Mbah punya anak tidak terlalu peduli, nikmati hidup Mbah saja. Belum tentu lho Mbah, hidup sama anak lebih enak. Orang berumah tangga kan sudah berbeda pandangan hidupnya, apa yang harus diurus duluan, menyiapkan masa depan anak. Toh Mbah waktu melakukan itu semua untuk anak Mbah, Mbah kan tidak berharap apa-apa terhadap anak Mbah?” timpalku.
“Benar, Nak Mas. Hidup ini Cuma Lir Gumanti. Tinggal kita berbuat hari ini, lain waktu anak kita yang mengganti,” jawabnya. Tak terasa perjalanan ini sampai pasar Bringharjo. Pasar yang selalu mengingatkanku pada kemiskinan yang kukecap bertahun-tahun.
Seingatku aku hanya mampu beli kaos Dagadu palsu seharga Rp.11.000,00 sewaktu aku masih SMA. Ya kemiskinan, kemiskinan sungguh kemiskinan. Teman-teman SMA-ku bisa beli ini itu, bawa motor ke sekolah, motor pun keluaran terbaru, mulai dari Suzuki Satria, Crypton Yamaha, Astrea Grand Honda 97, sedangkan aku, aku naik angkot, harus berebut masuk angkot itu dan juga harus berjalan berkilo-kilo untuk pulang. Pernah aku membawa Suzuki RC 100, dan ejekan teman-temanku semakin nyaring untuk didengar. “Wah motor blantik, penjual sapi dan kambing. Gak gaul, motor tua, wuh....” Itulah ocehan mereka di sekolah. Kenapa kemiskinan ada padaku? Kadang otakku berpikir kok bisa ya sekolahan negeri tapi perlakukan anak-anak itu ngeri, sungguh kalau tidak kuat mental, aku sudah pindah. Tapi kuanggap lalu omongan mereka.
Waktu trendnya ulang tahun, mereka saling berlomba mengundang teman-temannya, ya “party” bisalah dikatakan seperti itu. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketika aku naksir anak IPA4, anak Bos Pertamina wilayah Yogya, anaknya cuek, belagu banget. Waktu lomba basket antar sekolahan, ia malah menggandeng anak Kapolres Bantul, bawa mobil lagi. Mobilnya sih waktu itu Kijang 97-an. Ia sendiri membawa Sidekick Suzuki. Wah... ini dia gaya anak “Borju”. Namun kukikis kenangan pahit itu. Pahit....!!! Cintaku kalah karena materi dan jabatan.
Sekarang kondisiku membaik, aku ingin membahagiakan orang yang kurang beruntung seperti ibu tua ini, walau ia hanya buruh di sawah. Ingin kutebus kekalahanku yang dulu dengan memerdulikan orang yang memang butuh bantuan entah itu meluangkan waktu untuk mengobrol ataupun sedikit materi yang ada di kantong.

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger