Prasangka

Selasa, 24 Februari 2009

PRASANGKA
Oleh : Sri ‘ade’ Mulyani

Percayakah kamu akan adanya cinta sejati? Aku menggangguk, pertanyaan berlanjut, yang darinya tumbuh kesetiaan tanpa penghianatan ? Oo, tunggu dulu. Rasanya harus dipikir ulang. Jawabannya mungkin saja ada, tapi sedikit. Di jaman sekarang ini, yang segalanya serba instant dan diukur berdasarkan materi semata, apa masih ada cinta sejati yang penuh kesetiaan dan tanpa penghianatan ? Aku akan menjawab ya kalau aku memang benar-benar melihat sendiri contohnya dari sekelilingku. Teman-temanku, sahabatku, tetanggaku atau siapa sajalah yang padanya kutemukan kisah tersebut, baru aku akan percaya.

Kalau dulu, di usia 30 an mungkin aku masih berani setuju dengan jawaban ada. Tapi di usiaku yang ke 40 ini, setelah begitu banyak kejadian di sekelilingku yang membuka lebar-lebar mataku, belum kudapatkan kesetiaan yang sempurna. Tentulah, manusia kan mahluk yang tidak sempurna, dan seiring masa berlalu, kesetiaan cuma tinggal dongeng yang belum pernah kutemui kisah kongkritnya. Kebanyakan yang kulihat adalah, cinta yang kandas di tengah jalan, baik yang seumur jagung maupun yang puluhan tahun. Selalu saja ada duri penghalang maupun badai menerjang yang memporak-porandakan biduk rumahtangga yang sudah dibangun. Kalau kau lihat sebuah keluarga di usia senja selalu rukun-rukun saja, ternyata ada kisah kelabu juga yang mewarnai keutuhan rumah tangga mereka di masa lalu. Mungkin di akhir mereka terselamatkan, namun justru banyak yang kandas di tengah jalan. Jadi, kemana nih aku harus mencari figur yang bisa kujadikan contoh?

Namanya Asep. Sunda tulen. Logatnya yang khas tetap kentara meski sudah hampir 20 tahun tinggal di Kalimantan. Selagi aku remaja ibuku yang Jawa asli suka menasihati, jangan menikah sama orang Sunda, istrinya di mana-mana. Maklum, rata-rata tetangga ibuku maupun teman ayahku yang Sunda kebetulan punya istri lebih dari satu. Tidak salah juga kan kalau ibuku berpendapat begitu?

Tapi temanku yang satu ini si Asep yang Sunda tulen dan beristrikan orang Jawa, tidak masuk katagori laki-laki Sunda yang ibuku maksudkan. Sepanjang sejarah hidup rumah tangganya, kulihat ia begitu setia dengan istrinya. Di saat susah, di saat senang. Di saat teman-temannya yang mapan mulai melirik wanita di luar istrinya, si Asep ini tetap setia menggandeng lengan Retno istrinya, persis sama ketika dulu masih pacaran.

Masih kulihat mereka berdua melakukan aktifitas seperti 17 tahun yang lalu kala masih pengantin baru. Jalan santai berdua di pagi hari Sabtu ataupun Minggu. Bercanda sambil menikmati indahnya pagi. Bersenda gurau di pekarangan rumahnya sambil berkebun. Ataupun sekedar keliling komplek berdua dengan motor tuanya sambil sang istri mendekap erat si Asep. Bahasa tubuh mereka berdua itu lho yang bikin orang banyak bakal iri. Kayaknya dunia hanya milik mereka berdua.

Tapi, apa iya sih mereka berdua adem-adem saja hubungannya? Jangan-jangan mereka punya juga masalah, atau malah mungkin si Asep sebenarnya sudah mendua, tapi istrinya tidak tahu. Wuah, tak percaya aku. Pasti nih si Asep pintar menyembunyikan sifat buayanya (maaf, sampai detik ini aku masih percaya nasihat ibuku). Alhasil, hari-hari terakhir ini aku jadi suka memperhatikan sikap si Asep, kalau-kalau ada yang mencurigakan gitu, untuk membuktikan bahwa dia itu sama saja dengan lelaki yang lain. Yang tak cukup punya istri satu. Soalnya sudah sering sih aku lihat teman laki-laki yang seperti Asep, kelihatannya baiiikk banget sama keluarga, tahunya meleng dikit, menggandeng cewek abg. Gombal kan ?

”Apa ? Mona ? Putih ya?” Nah..nah.. ada apa nih si Asep nyebut-nyebut nama cewek, putih lagi. Telinga mulai kupasang baik-baik.

“Oh, sudah satu setengah tahun. Bersih? Yang penting cakep kan? Boleh juga tuh! Nanti saya ke sana deh.” Duile si Asep, segitunya. Tanpa basa-basi langsung tancap saja, hatiku membatin. Kasian juga si Retno ya, kalau Asep sampai kecantol si Mona yang putih, yang baru satu setengah tahun tinggal di Kalimantan, anganku melanjutkan. Apa yang bakal terjadi pada biduk rumah tangga mereka kelak ? Ih, Asep. Teganya dikau! Aku jadi sebal padanya. Nilainya jadi jatuh di mataku.Benarkan dugaanku? Tak ada laki-laki setia.

Hari berganti, minggu berlalu. Tingkah si Asep makin menyebalkan. Setiap kali dia bicara di telpon dengan seseorang, yang dibicarakan tak lepas dari si Mona yang aduhai menurutnya. Aku sebenarnya tak ingin nguping. Tapi tetap saja ada beberapa kalimatnya yang agak keras terdengar sampai telingaku. Toh jarak meja kami hanya dilapisi sebuah lemari berderet. Malah pernah kudengar Asep menyebut-nyebut assessories dan perlengkapan si Mona, kalung, shampoo, parfum? Duh, gile juga si Asep. Punya cewek baru segitu detilnya membelikan perlengkapan. Jangan-jangan sebentar lagi dia belikan rumah tuh cewek. Aku geleng-geleng kepala terbawa khayalku.

Tak terbayangkan wajah Retno yang ayu akan terkejut seperti apa jika mengetahui tingkah suaminya. Aku prihatin banget. Ingin aku memberi tahu Retno, tapi aku khawatir prasangkaku ini malah akan membuat rumah tangga mereka hancur. Aku tak mengenal Retno terlalu dekat. Jangan-jangan nanti dikiranya aku hendak mengacaukan keharmonisan rumah tangganya, bisa berabekan? Aku berpikir beribu kali sebelum memutuskan untuk memberitahukan ini pelan-pelan pada Retno. Harus cari timing yang tepat dan harus yakin bahwa penghianatan Asep sudah tiba pada klimaksnya. Aku akan tunggu saat itu tiba, namun aku masih berharap semoga Asep tersadar dari perbuatannya itu sebelum aku benar-benar cerita dengan Retno.

Suatu hari telpon Asep berdering. Tak ada yang mengangkat. Kemana sih Asep ini? Akhirnya kuangkat juga telpon itu. Suara seorang remaja di sebrang menanyakan Asep. Kujawab sedang keluar. Dia meninggalkan pesan, Asep diminta segera pulang sambil carikan dokter, Mona mau melahirkan katanya. Kaget setengah mati aku, sampai telpon terputus tak kuhiraukan. Berapa lama sudah Asep dan Mona berkenalan? Ah, aku menyesal kenapa kupikir Asep bakal berubah. Ternyata tidak. Kini Mona malah sudah hamil bahkan hendak melahirkan. Aku harus menghubungi Retno. Tapi bagaimana memulai untuk menceritakan ini. Aku bingung juga. Kuletakkan gagang telpon. Baru sesaat, telpon berdering kembali. Was-was aku angkat telpon.

“Halo, selamat pagi. Bisa bicara dengan Pak Asep?” suara Retno di sebrang.

“Hm, selamat pagi. Retno ya? Bagaimana kabarnya? Pak Asepnya sedang keluar” aku menjawab hati-hati.

“Baik Sri. Ng.. lama nggak ya keluarnya? HP nya juga tidak bisa dihubungi. Kemana ya perginya?” nada bingungnya itu mengundang tanda tanya di kepalaku, apakah Retno sudah punya firasat sedang terjadi sesuatu? Aku ngeri juga membayangkannya. Pelan-pelan aku bertanya, “Sebenarnya ada apa sih Retno?”

“Ini nih, si Mona mau melahirkan. Mana sudah berdarah-darah lagi. Cari dokter di mana ya?” Tak ada nada cemburu, yang terasa malah nada khawatir. Astagfirullah, Retno…Retno, madunya mau melahirkan dia malah nyariin dokter. Gile! Gini kali ya tipe istri setia calon penghuni surga? Gak ada rasa cemburu. Aku jadi malu hati. Aku yang bukan apa-apanya Asep bahkan sudah menganggap Asep tak berharga, eh sang istri kok malah nggak ya?

“Sekarang Monanya dimana?” tanyaku.

“Ya di rumahku.” Duh Gusti, serumah dengan Retno! Weleh-weleh… Aku kok ketinggalan kereta gini ya informasinya. Kok kayaknya ada yang salah. Sudah edankan Retno? Atau aku yang salah dengar?

“Ya sudah, kalau kamu tidak tahu alamat dokter hewannya, ya gak papa. Biar aku cari di buku telpon saja”

“Retno, masak sih Mona mau melahirkan dipanggilkan dokter hewan?” aku kaget, jangan-jangan ini kesempatan Retno balas dendam pada suaminya.

“Ya iya lah, masak mau dipanggilkan bidan. Ntar bidannya malah gak ngerti!”
Sepertinya ada yang tidak beres nih.

“Retno,” aku mulai bicara hati-hati. “Mona mau melahirkan?”

“Iya”

“Di rumahmu?”

“Iya”

“Kenapa harus panggil dokter hewan? Bukankah…..”

“Iya, dokter hewan. Kamu punya kenalan dokter hewan? Kasihtahu dong!”

“Apa Mona nanti tidak tersinggung?”

“Kamu nih aneh deh Sri. Aku butuh dokter hewan. Si Mona mau melahirkan. Emang kamu pikir Mona siapa?!” Retno mulai tidak sabar.

“Mona itu, madu....”

“Ngaco!! Mona itu kucing Persia kesayangan suamiku tahu!”



Bontang, 24 Februari 2009
"thanks buat ayang & mona yg jd inspirasi"