Dan Senjapun Memerah

Minggu, 27 Desember 2009

Dan Senjapun Memerah
Oleh: Sri 'ade' Mulyani

“Jadi, sebenarnya aku ini anak siapa?” seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulutku. Tapi entah kenapa aku hanya diam mematung dengan perasaan sedih. Hari itu, di usiaku yang ke 10 tahun aku harus meninggalkan rumah yang telah memberikan kenyamanan padaku selama ini. Kulihat wanita yang selama ini kupanggil dengan sebutan ibu berurai airmata. Lelaki yang biasa kupanggil dengan sebutan bapak hanya diam. Sementara seorang lelaki lain seumuran bapak yang sejak tadi duduk di ruang tamu telah siap membawaku pergi.

“Baik-baik di rumah yang baru ya nduk!” pesan bapak padaku sambil mencium dan memelukku. Aku mencium tangannya, berharap ia bisa mengubah keadaan dengan keputusan yang lain. Tapi sia-sia, tak sepatah katapun yang bapak ucapkan untuk merubah ini semua.

“Nurut sama bapak Hadi ya nduk,” bisik ibu padaku. Airmata menganak sungai di sudut mata wanita yang telah membesarkan aku selama ini. “Di rumah baru ada bapak dan ibumu nduk.”

“Mbak Rina mau pergi ke mana sih bu?” tanya Hani adikku yang berusia 7 tahun. Sementara Lani, si kecil yang baru berusia 4 tahun menarik-narik bajuku tanpa mengerti bahwa sebentar lagi kami akan berpisah.
“Mbakmu mau ke Jawa,” jawab ibu singkat.

Dan di sinilah aku akhirnya, di sebuah rumah dengan seorang lelaki yang kupanggil bapak, istrinya dan dua adik laki-laki. Kehidupan yang berbeda dengan kehidupanku selama ini. Biasanya aku bermain dengan 2 adik perempuan, sekarang aku mengasuh 2 adik laki-laki yang tentu saja sangat berbeda karakternya dengan adik perempuan. Di usiaku yang belia, aku harus bisa menyesuaikan diri dengan tempat yang baru, orang-orang yang baru kukenal, yang asing di mataku walau sebenarnya dia adalah ayah kandungku dan keluarga barunya.

Tak pernah terlintas di benakku bahwa wanita yang selama ini kupanggil ibu itu sebenarnya budheku, kakak dari ibu kandungku. Aku baru mengerti mengapa mereka tak berdaya untuk menahanku lebih lama, karena yang memintaku kembali adalah ayah kandungku. Sedangkan ibu kandungku, aku baru tahu kalau ternyata bulek yang selama ini tinggal di Sumatra adalah wanita yang melahirkan aku. Wanita yang seharusnya membesarkan aku itu sudah menikah lagi dan mempunyai 4 orang anak. Tak pernah lagi kudengar kabar beritanya. Mungkin ia tak peduli padaku. Ah, sepotong mozaik hidup yang harus kulalui. Kehidupan toh terus berjalan. Dalam dukaku, surat demi surat kulayangkan pada budhe dan pakdheku yang sudah kuanggap sebagai orang-tua. Aku kangen pada mereka berdua, yang kerap membesarkan hatiku untuk selalu tegar dan bertahan serta menasehatiku untuk selalu berbakti kepada kedua orangtuaku.

Hari itu seharusnya aku bersuka cita, budhe dan pakdhe akan menemuiku di rumah eyang. Pertemuan yang paling kunantikan setelah empat tahun berpisah. Tapi aku tercenung teringat tulisan budhe. Budhe bilang di suratnya, ibu kandungku pun akan datang dari Sumatra dan akan menetap di desa eyang. Seharusnya aku gembira kan? Wanita yang telah melahirkanku akan kujumpai sebentar lagi. Aku akan melihat parasnya, merasakan belainya yang selama ini belum kurasakan. Tapi entah kenapa, tiba-tiba hatiku marah. Masih pantaskah kupanggil dia ibu setelah ia menelantarkan aku?

“Ibu…. bapak…,” aku memeluk budhe dan pakdheku yang tetap kupanggil dengan sebutan ibu dan bapak. Bagiku mereka berdualah ibu bapakku yang sesungguhnya.

“Aih, kamu sudah remaja nduk, tambah ayu,” budhe meluapkan rasa kangennya padaku. Rumah eyang yang besar terasa sesak dengan kegembiraan kami. Hani dan Lani pun sudah besar sekarang. Mereka tertawa-tawa memelukku. Adik-adikku yang manis, lama sekali aku tak memeluk mereka.

“Mbak Rina, aku sekarang sudah bisa membaca,” pamer Lani padaku. Usianya kini sudah 8 tahun. Aku ingat, semasa aku di rumah budhe, Lani paling senang mendengarkan aku membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Walau belum sekolah, dia sudah hafal karangan yang sering kubaca dan melafazhkannya keras-keras. Iiih, aku mencubit gemas pipi Lani yang tembem.

“Rina, ini ibu….” sebuah suara lembut menyadarkanku. Aku memandang wanita cantik di hadapanku. Badanku kaku, hatiku mengeras. Aku diam seribu bahasa.

“Kamu ndak rindu ibu Rin?” tanyanya sambil berusaha memelukku.

“Pernahkah ibu rindu padaku?!” tanyaku ketus. Ah, mana tutur sapa dan sopan santun yang sudah budhe ajarkan padaku selama ini. Kulihat mata ibu kandungku berkaca-kaca. Mungkin ia tak percaya kalau bakal ditolak oleh anak kandungnya sendiri.

“Rin, ibu minta maaf. Bukan maksud ibu menelantarkanmu, ibu….”

“Kalau tidak menelantarkan, apa dong namanya? Bertahun-tahun aku ikut budhe tanpa tahu kalau sebenarnya budhe itu bukan ibuku. Di saat aku bahagia di tengah keluarga budhe, tiba-tiba bapak Hadi mengambilku dan memberiku seorang ibu tiri. Sementara ibu sendiri tak pernah berusaha menghubungi aku walau hanya dengan selembar surat untuk menanyakan keadaanku. Apa itu yang namanya sayang?” sahutku berapi-api.
Budhe ternganga memandangku tak percaya, apalagi ibu kandungku.

“Rina cah ayu, sini ikut bapak,” kata pakdhe menggamit lenganku. Kulihat dari sudut mataku, pakdhe memberi kode pada ibu kandungku untuk diam di tempat.

Kami berdua berjalan ke teras belakang. Sambil memandang kebun jeruk yang luas kepunyaan eyang, pakdhe menyuruhku duduk. Budhe menyusul kami dan duduk di sebelahku. Wajahnya sedih.

“Rina, ibu mengerti kenapa kamu marah. Ibu bisa merasakan kekecewaanmu. Ibu juga sedih sekali waktu harus berpisah denganmu. Tapi pernahkah Rina bayangkan kalau ibu kandungmu jauh lebih sedih lagi ketika harus menyerahkanmu pada ibu di waktu kamu masih bayi?”
Aku diam.

“Ibu kandungmu itu tak punya pilihan nduk. Dia tak mungkin membesarkanmu seorang diri. Kenapa ia memberikan dirimu pada ibu bukan pada yang lain? Karena ibu kandungmu ingin kamu tumbuh dengan wajar dan hidup dengan nyaman, dan ibu kandungmu cuma percaya sama ibu dan bapak untuk membesarkanmu, apalagi saat itu ibu belum punya Hani dan Lani” jelas budhe.

"Ia bisa menghubungi aku bu, tapi tak pernah ia lakukan. Aku merasa terbuang," isakku.

"Ibumu punya alasan tersendiri nduk, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangimu. Ia cuma butuh waktu untuk mengungkapkan semua ini ketika saatnya tiba. Dia tidak membuangmu nduk."

“Tapi kenapa bapak Hadi juga mesti memisahkan aku dari ibu dan bapak?” tanyaku. "Aku sudah cukup bahagia tinggal dengan ibu, bapak, dik Hani dan dik Lani."

“Itu hak bapak kandungmu toh nduk. Ibu yakin, Bapak dan ibu Hadi pun menyayangimu, cuma cara mereka mengungkapkannya padamu tentu berbeda dengan cara ibu menyayangimu. Coba seandainya ibu Hadi mendengar perkataanmu tadi, tentu dia juga sedih karena seolah-olah selama ini Rina sengsara hidup bersamanya, jangan sakiti mereka semua nduk. Kita tak pernah meminta takdir jelek. Tapi garis hidup yang Allah berikan pada kita sebaiknya kita terima dengan sabar,” jawab budhe.
Aku berusaha mencerna ucapan budhe, tapi hatiku masih sakit.

“Seharusnya kamu senang toh nduk. Coba bayangkan, orang lain bahkan tak mengenal ibu bapaknya, sedangkan kamu… kamu sungguh beruntung karena Allah memberikan kamu 3 ibu dan 3 bapak sekaligus. Bukankah itu suatu anugrah yang luar biasa?” tanya pakdhe.

“Kamu belum mencoba untuk mengenal ibu kandungmu dan keluarganya Rin. Cobalah, dulu kamu bisa menerima bapak kandungmu dan keluarganya, masa pada ibu kandungmu kamu ndak bisa? Ibu yakin, jika kamu menerima semua ini dengan lapang hati, hidupmu akan senang,” kata budhe.
Aku menarik nafas, membuang beban pikiran yang seharusnya tak perlu kupersoalkan.

“Baiklah bu, Rina akan mencobanya,” jawabku.

“Betul Rin???” tanya ibu kandungku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Dia memelukku erat-erat. Aku jadi malu. Kupeluk erat kembali tubuhnya, ibu cantik yang telah melahirkanku. Di belakangnya riuh suara adik-adik yang segera mengelilingi. Rupanya mereka dan ayah tiriku baru saja kembali dari rumah kerabatku yang lain. Aku memandang mereka satu persatu, ah… adik-adik yang ganteng dan cantik-cantik seperti paras ibu kandungku dan ayah tiriku. Aku memandang mereka yang tersenyum lebar menyambutku. Kehangatan merambat dalam hati, menggerakkan keinginanku untuk memberikan senyum paling merekah pada mereka. Tak seharusnya aku merusak pertemuan bahagia ini dengan sebuah tuntutan. Aku harus yakin suatu saat ibu pasti akan menjelaskan alasannya kenapa ia tega berpisah denganku darah dagingnya sendiri. Hidup tak selalu menyuguhkan impian indah kita, tapi aku yakin Allah memberikan yang terbaik padaku.

Sementara senja pun mulai turun, langit di ufuk barat mulai memerah. Subhanallah indahnya. Aku tak pernah lagi menyalahkan ibu dan ayah kandungku yang mengambil keputusan untuk berpisah ketika aku telah lahir ke dunia. Masalah hati rahasia mereka berdua, walaupun selalu akhirnya anak-anaklah yang jadi korban akibat sebuah perpisahan. Aku tetap merasakan mereka berdua sesungguhnya menyayangi aku. Sampai saat ini di usia bayaku, aku selalu tersenyum memandang senja yang memerah. Aku selalu bersyukur pada Allah yang telah memberiku anugrah berupa bapak, ibu dan adik-adik yang banyak, yang semuanya menyayangiku.

Bontang, 27 Desember 2009

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger