Tampilkan postingan dengan label Winny'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Winny'. Tampilkan semua postingan

Suamiku

Minggu, 20 Juni 2010

Oleh Winny W Sutopo

Suamiku adalah seorang laki-laki biasa
Berwajah biasa
Berpenampilan biasa
Berkemampuan biasa
Berasal dari keluarga biasa

Laki-laki biasa yang bisa marah
tetapi juga bisa membuatku marah
Bisa jengkel menghadapi ulahku
seperti aku juga jengkel menghadapi ulahnya
Bisa sebal
dan menyebalkanku

Tetapi

Laki-laki biasa ini telah setia , sabar dan ulet mendampingi ku selama 25 tahun
Memberiku 2 buah hati yang luar biasa
Memberiku kehidupan yang penuh warna
Menempa diriku menjadi lebih dewasa
Berjuang menjalankan amanah tugasnya sebagai pekerja
Meneteskan keringat untuk menafkahi keluarga
dan memberi kami kehidupan yang baik

Laki-laki biasa ini bisa menerima ulahku tanpa mengeluh
Tidak berkeberatan menggosok punggungku yang mulai menua dengan minyak gosok
Tidak mengeluh melihat perubahan bentuk tubuhku seiring dengan bertambahnya usia
Tidak bersungut mencicipi masakanku yang amburadul rasanya
Laki-laki biasa ini tidak menuntutku untuk menjadi sempurna

Karena ke-biasa-annya inilah
Ia menjadi luar biasa bagiku

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah aku tidak bersedia menjadi isterinya
Karena aku hanya
Wanita biasa

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah ia tidak bersedia menerimaku sebagai isterinya
Karena aku hanya
Wanita yang tidak sempurna

Ketika Kita Mengeluh

Winny W Sutopo
Ketika kita mengeluhkan makanan yang tidak enak....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai makanan?

Ketika kita mengeluh tentang berat dan membosankannya pekerjaan .....
Pernahkah terpikir tentang orang yang tidak mempunyai pekerjaan?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya penghasilan....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai penghasilan?

Ketika kita mengeluh tentang bentuk tubuh ......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang cacat tubuhnya?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya rumah kita.......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai rumah?

Ketika kita mengeluh tentang kerepotan mengurus anak.......
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak mempunyai anak?

Ketika kita mengeluh tentang kebosanan mengajari anak.......
Pernahkah terpikir akan anak-anak yang tidak beribu?

Ketika kita mengeluh tentang kecerewetan suami.....
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki suami?

Ketika kita mengeluh tentang kebodohan pembantu?
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki pembantu?

Ketika kita mengeluh tentang.........


Begitu banyaknya keluhan kita, sampai kadang lupa menghitung banyaknya nikmat yang telah Allah limpahkan.


( diilhami oleh renungan dari salah satu stasiun radio)

Pilihan Hidup :Pelajaran Kecil dari Jasiah

Winny W Sutopo

Kadang bahkan dari orang-orang kecil kita mendapat pelajaran hidup yang berharga. Jasiah pembantuku bukanlah orang yang istimewa. Bahkan untuk ukuran pembantu pun ia tergolong pembantu yang agak sedikit di bawah rata-rata kemampuannya. Ia tidak bisa membaca dan menulis, lambat menangkap penjelasan, daya ingatnya juga lemah. Sejak 15 tahun yang lalu ia bekerja padaku, tidak banyak pelajaran yang dapat diserap.

Ia masih gadis ketika mulai bekerja, kendati umurnya ketika itu sudah mendekati angka 40 tahun. Beberapa tahun kemudian ia mengumumkan bahwa ia akan menikah. Pilihannya jatuh kepada seorang laki-laki pengangguran yang dahulu pernah bekerja sebagai tukang kebun di salah satu keluarga expatriate. Dan ia akan berstatus sebagai isteri ke 4. Ketika ditanyakan apakah ia sudah mempertimbangkan masak-masak pilihannya itu, jawabannya adalah :"Saya cinta". Well, apa lagi yang bisa diperbuat kalau sudah begini?

Setelah perkawinan tersebut, Jasiah tetap bekerja pada kami. Suaminya tidak setiap hari menyambangi. Meski demikian setiap suaminya datang Jasiah tetap melayani keperluannya. Saya sendiri tidak pernah melihat wajah suaminya, karena ketika itu saya tidak berdomisili di Bontang.

Sampai pada suatu hari lebaran. Ketika itu kebetulan saya dan anak-anak berlebaran di Bontang. Di tengah kesibukan menyambut tamu yang datang berkunjung, muncullah sepasang suami isteri yang tidak saya kenal. Meski demikian, karena sudah biasa kadang-kadang ada tamu yang tidak saya kenal, maka tamu ini pun saya layani dengan baik. Jasiah membuatkan teh hangat dan kemudian menyajikannya. Tetapi tampaknya, tamu saya ini sudah mengenal Jasiah, karena itu ketika mereka sudah pulang saya bertanya kepada Jasiah siapa tamu tersebut. "Itu suami saya dengan isteri pertamanya bu". Wow. Terbayang, Jasiah tadi dengan santun membawakan teh hangat dan menyajikannya dengan sopan kepada madunya yang datang bersama suaminya.

Keesokan harinya, pasangan ini datang kembali. Tidak bertamu, tetapi langsung ke belakang. Jasiah minta ijin untuk menggunakan dapur karena akan masak-masak bersama madunya. Saya perbolehkan sambil saya perhatikan. Mereka berdua sibuk memasak ikan yang dibawa oleh isteri tua suaminya sambil mengobrol seperti layaknya kawan akrab. Sesudah itu mereka bertiga makan bersama di meja makan mereka sambil mengobrol dengan akrab.

Lain waktu lagi, ketika pulang dari kegiatan PWP, saya melihat sepasang sandal anak-anak di serambi samping rumah. Menilik kondisi sandalnya, saya perkirakan ini adalah sandal keponakan Jasiah yang memang sering datang berkunjung. Di dapur saya lihat Jasiah sedang menggoreng ikan sambil menjawab pertanyaan seorang anak kecil. Saya tanya siapakah anak kecil itu. "Anak suamiku,bu. Dia datang dengan isterinya untuk ambil air." Jadi, suaminya datang dengan isteri ke tiga membawa anaknya untuk diasuh Jasiah, sementara saya tidak melihat dimana mereka berdua. Saya lihat dengan sabar Jasiah mengasuh anak tersebut. Koq, bisa ya? Koq tidak direbus saja anak itu ha ha ha atau dimasukkan ke penggorengan , seperti cerita-cerita tentang ibu tiri lainnya.

Selama hidup perkawinannya, saya belum pernah mendengar Jasiah mengeluh tentang suaminya. Padahal dia tidak pernah diberi nafkah, wong suaminya tidak bekerja.

Saya renungkan episode Jasiah ini dan saya sampai pada kesimpulan bahwa Jasiah memilih dengan bertanggung jawab. Ketika ia memutuskan untuk menikah dengan laki2 pengangguran yang sudah memiliki 3 isteri lainnya, ia sudah mempertimbangkan dengan masak semua resiko yang harus ia tanggung. Yang hebatnya, ia kemudian dengan konsisten menerapkannya. Itu sebabnya ia tidak pernah mengeluh dan bisa melayani isteri-isteri suaminya dengan baik.

Kalau saya menuliskan kisah ini, bukan berarti saya menyuruh ibu-ibu yang membacanya untuk mau menjadi madu atau mau dimadu. Bukan.

Saya hanya ingin berbagi tentang bagaimana kita mengambil keputusan dan bersikap konsisten terhadap keputusan tersebut. Dalam hidup kita kerap dihadapkan pada pilihan yang harus kita putuskan. Setiap keputusan pastilah memiliki resiko. Seringkali ketika mengambil keputusan, kita tahu resikonya tetapi ketika resiko tersebut benar-benar ada di depan kita, kita tidak siap menerimanya. Lalu mulailah kita mengeluh dan menyesali diri. Seperti pilihan kita dalam memilih pekerjaan, memilih jodoh, memilih tempat tinggal , memilih untuk memiliki kartu kredit, memilih untuk berlibur ke suatu tempat dan banyak lagi. Beberapa kali saya menjumpai orang yang mengeluh gajinya kecil sebagai guru atau pegawai negeri. Padahal sudah sangat jelas bahwa guru atau pegawai negeri dari sejak dahulu kala memang tidak pernah bergaji besar. Lalu, ketika memutuskan untuk menjadi guru atau pegawai negeri apakah hal ini sudah dipikirkan? Jadi, apakah fair untuk mengeluh ketika berhadapan dengan fakta bahwa gaji pegawai negeri atau gaji guru tidak besar?


Jasiah yang bodoh dan berpikiran sederhana saja dapat bersikap dewasa ketika menentukan pilihan hidup dan mengambil keputusan. Maka saya yakin, kita , yang meng klaim diri sebagai orang yang berpendidikan, pandai dan berwawasan, pastilah dapat lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu dan menyikapi keputusan tersebut. Wallahu alam.

Memiliki Bukan Berarti Menikmati

Winny W Sutopo
Beberapa tahun yang lalu, ketika mengantar anak saya mengkuti test masuk di salah satu sekolah islam favorit di jakarta, saya tertarik mengamati kejadian ini:

Murid2 datang dengan mobil2 mewah diantar oleh sopir dan seorang pembantu. Setelah mobil berhenti di tempat yang telah disediakan, pembantu turun dengan membawakan tas sekolah dan bekal kemudian membantu anak majikannya turun dari mobil. Mobil pun kemudian menuju tempat parkir. Sopir turun, berkumpul dengan kawan2 sesama sopir dan mereka mengobrol menunggu saatnya anak majikan pulang sekolah. Pembantu yang telah selesai membantu anak majikan, juga berkumpul dengan sesama pembantu, mengobrol dengan kawannya yang ada disitu atau bertelepon menggunakan ha pe sambil menunggui anak majikan bersekolah.

Sekolah ini memang terkenal sebagai sekolah islam yang sebagian besar muridnya ( kalau tidak mau mengatakan seluruhnya) adalah anak2 orang kaya. Kantinnya mewah ,berisi jajanan yang biasa ditemui di mall, uang sekolahnya mahal .Bila liburan tiba murid2 menghabiskan waktu dengan berlibur keluar negeri sambil sebelumnya berurunan mengumpulkan uang untuk membiayai beberapa orang guru pergi umroh.

Kembali ke peristiwa di atas, selama dua hari disana dan melihat pemandangan yang sama , saya jadi merenung dan berpikir. Alangkah Maha AdilNya Allah. Mobil seharga ratusan juta itu, mustahil dimiliki oleh sopir atau pembantu. Tentulah itu milik majikannya. Majikan yang saat itu mungkin sedang bekerut-kerut keningnya memikirkan bisnis atau kesulitan lain agar dapat membiayai gaya hidupnya. Majikan yang bekerja dari pagi sampai malam demi mengumpulkan uang untuk dapat membeli mobil mewah , yang pada akhirnya tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya . Ia yang berupaya membeli mobil bertransmisi otomatis agar nyaman berkendara, pada akhirnya tidak dapat menikmati ringannya transmisi otomatis, karena yang mengendarai mobil itu hanyalah sopirnya. Sementara sopir dan pembantu yang bukan pemilik, saat itu menikmati enaknya menaiki mobil mewah, berjok empuk, berpendingin udara dan transmisi otomatis, tanpa harus repot berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk membeli bensin, biaya service atau membeli spare parts yang bisa mencapai jutaan rupiah. Mereka duduk2 di sekolah sambil mengobrol dan tertawa lepas dan pada akhir bulan menerima gajinya. Menilik mobilnya, pastilah si majikan mempunyai rumah yang juga tidak kalah wah . Tetapi rumah bagus itu pun tidak dapat dinikmati. Rumah mewah dan megah pun hanya berfungsi sebagai tempat tidur malam bagi keluarga majikan, karena pagi-pagi pemiliknya sudah harus pergi bekerja menembus kemacetan dan baru kembali larut malam. Paling hanya pada akhir minggu saja sang pemilik dapat menikmati rumahnya. Itu pun bila pada hari itu tidak ada acara di luar rumah menanti. Akhirnya rumah mewah dan megah itu beserta segala perlengkapan yang modern pun kembali hanya dinikmati oleh pembantu. Kompor listrik, televisi layar datar berukuran besar, lantai marmer, ruangan berpendingin udara, bahkan tidur siang pun, semua itu hanya dinikmati oleh pembantu.

Padahal kalau dipikir, dengan penghasilan sebagai sopir dan pembantu, mustahil mereka dapat membeli rumah megah, mobil mewah dan perlengkapan modern lainnya. Tetapi Allah dengan segala kebesaranNya memberi mereka kesempatan untuk menikmati semua itu tanpa harus memiliki.

Kejadian ini sungguh menggelitik saya untuk merenungkan beberapa hal :

1. Ternyata memiliki tidak selalu berarti mampu menikmati. Sebaliknya untuk dapat menikmati, orang yang tidak perlu harus memiliki.
2. Tidak perlu hidup ngoyo mengumpulkan harta, apalagi sampai mengorbankan kepentingan orang lain, melalaikan kesehatan atau melanggar aturan, karena pada akhirnya kita tidak dapat menikmati semuanya.

Wallahu alam.

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Winny W Sutopo
Isi status kawan-kawanku akhir-akhir ini terasa mellow ( termasuk statusku juga ), karena merasa sedih ditinggalkan oleh anak-anak yang harus berkuliah atau bekerja di tempat lain.

Dua puluh empat tahun yang lalu, menjelang pernikahanku, dengan riang gembira dan bersemangat aku mengepak barang-barang yang akan aku bawa menuju Bontang- tempat tinggalku yang baru - mengikuti suami. Saat itu ibuku masuk kamar dan tiba-tiba beliau berkata : "Mama tidak suka melihat kamu mau pergi. Mama yang merawat, membesarkan dan mendidik kamu, setelah berhasil, eh, malah kamu mau pergi meninggalkan mama." Aku cuma diam saja tidak mengerti harus menjawab bagaimana, karena masih terkesima dengan pernyataan ibuku. Rasanya beberapa waktu yang lalu beliau sangat bersemangat menyuruh aku menikah, menggebu-gebu dengan rencana pernikahan dan kepindahanku ke Bontang. Lho, kenapa sekarang angin berbalik arah ya ?

Sekarang , dua puluh empat tahun kemudian, aku baru dapat memahami dan merasakan perasaan ibuku saat itu. Ada rasa haru, sedih, bangga dan ditinggalkan campur aduk menjadi satu ketika melihat buah hati yang telah dirawat, dibesarkan dan dididik sekian lama "tiba-tiba" menjelma menjadi mahluk dewasa, independen dan merintis jalan hidupnya sendiri.

Rasanya baru kemarin anak-anak itu aku ajari membaca, menggosok gigi, naik sepeda. Baru kemarin, anak-anak itu berceloteh dengan bahasa bayinya yang hanya dimengerti oleh ibunya sendiri, tetapi dengan bangga aku memproklamirkan bahwa "anakku sudah bisa bicara, lho". Baru kemarin aku mengantarkan mereka ke gerbang TK dengan seragam putih hijaunya lengkap dengan botol minum dan tempat roti. Masih kuingat ibu Susi, kepala sekolah TK mengadu bahwa anakku Didit, yang baru kelas TK A mendatangi ruang kepala sekolah dengan berurai air mata sambil berdomonstrasi mengutarakan ketidaksukaannya karena guru kelasnya selalu berganti-ganti. Baru kemarin juga rasanya ibu Anna, guru Shinta melaporkan bahwa ia didoakan masuk neraka oleh Shinta karena sering marah-marah. Ah, anak-anak yang kritis, lucu dan polos...

Sekarang mereka sudah dewasa, Shinta 21 tahun dan Didit 23 tahun, sudah memasuki masa dewasa muda. Tetapi di mataku sebagai ibu, mereka tetaplah anak-anakku yang manis, lucu dan menggemaskan. Karena itu, dua minggu menjelang kedatangannya, aku sudah heboh menyediakan stok makanan yang mereka sukai, seakan-anak mereka akan lama berlibur bersama kami. Kamarnya sudah aku rapikan dan bersihkan. Di pasar, aku juga melihat beberapa ibu yang sama hebohnya denganku, sibuk membeli makanan yang disukai oleh anak-anaknya, yang akan datang berlebaran.

Selama bersama-sama, masih saja aku memperlakukan mereka seperti anak-anak kecil. Mereka aku peluk, aku cium sampai mereka protes " Mama, aku sudah bukan bayi lagi". Dan dengan kepala batunya aku menyahut:"Biar, dimata mama kalian tetap anak bayi". Dan mereka menyahut:"Kalau gitu, mama harus ganti kacamata tuh"..ha ha ha ha. Tetapi di lain pihak, mereka juga tetap bersikap seperti bayi. Dengan badannya yang sudah sebesar gajah, mereka menyesaki tempat tidurku, bercanda, mengobrol, mengomel, berkeluh kesah tentang pekerjaan dan studi mereka dan bercerita tentang kawan-kawan dan pacar-pacar mereka .

Dan setelah lima hari yang membahagiakan, tibalah saatnya kami harus berpisah. Rasanya lima hari itu tidak cukup dan sejujurnya tidak akan pernah cukup berapa hari pun kami bersama. Perasaan sentimentilku menginginkan agar anak-anak tidak usah pulang lagi ke bandung dan jakarta. Tetapi anak bungsuku berkata "Mama, kalau aku disini terus, aku tidak akan lulus-lulus ma. Aku pergi menuntut ilmu dulu, ya". Di lain pihak, rasioku juga membenarkan kata-kata si bungsu. Saat itulah aku terombang-ambing dalam situasi yang menurut Jung-salah seorang pakar psikologi-internal conflict .

Kasih ibu memang tidak akan pudar sepanjang masa. Ia akan terus ada dan menyala dengan hangatnya untuk anak-anak terkasih. Tidak peduli anak itu masih bayi atau sudah dewasa, sampai kapan pun anak-anak membutuhkan, kasih ibu akan terus ada.

Dalam situasi seperti ini, saya jadi tersadar bahwa anak memang bukan milik kita. Kita hanya dititipi sambil diberi amanah untuk merawat, membesarkan, mendidik dan memelihara mereka. Tetapi mereka bukan miliki kita, karena itu kita harus siap kapan pun anak-anak itu meninggalkan kita dan menempuh jalannya sendiri. Tetapi kasih ibu akan selalu menyertai dan menaungi setiap langkah mereka diiingi doa agar Allah senantiasa melindungi dan membimbing mereka di jalanNya.

Happiness Comes from GIVING not GETTING

Winny W Sutopo
Membaca status yang ditulis salah satu kawan saya pagi ini menggelitik saya untuk menuliskan beberapa pengalaman orang-orang yang pernah saya kenal dan berhubungan dengan status di atas.

Saya mengenal Bapak X ( sengaja saya samarkan namanya, karena beliau pasti tidak mau menjadi terkenal gara-gara saya menuliskan ceritanya) beberapa tahun yang lalu. Bapak ini masih muda, kaya dan memiliki beberapa perusahaan yang semuanya maju. Beliau bercerita bahwa perusahaannya dirintis dari kamar belajar sejak beliau masih mahasiswa. Sedikit demi sedikit usaha ini berkembang sampai memiliki banyak karyawan dan omzet besar. Di saat perusahaannya sedang berada pada puncak kebesarannya, badai krisis moneter tahun 1998 melanda. Perusahaan ini pun terkena imbasnya. Beliau bercerita bahwa saat itu banyak tagihan perusahaan yang tidak dapat kembali karena semua perusahaan juga mengalami krisis. Pada saat-saat genting karena keuangan perusahaan mulai kacau balau, beliau menawarkan kepada karyawannya untuk meninggalkan perusahaan agar perusahaan masih dapat memberi pesangon. Tetapi karyawan yang ada sebagian besar memilih untuk tetap bertahan. Melihat kenyataan ini, bapak X lalu mengambil keputusan untuk mendahulukan kepentingan karyawan daripada dirinya. Uang yang ada setiap bulannya, digunakan untuk membayar gaji karyawan, bila masih ada sisa barulah ia mengambil bagiannya. Menurut ceritanya, saat itu tidak jarang ia tidak mendapat gaji bulanan yang seharusnya diterima atau kadang-kadang ia hanya menerima gaji yang sama besar dengan gaji office boy di kantornya. Bukan itu saja, bapak X juga memutuskan untuk membantu karyawannya dengan membelikan sembako. Menurut pendapatnya, gaji yang diterima karyawan sulit untuk mengejar kenaikan harga-harga yang melonjak-lonjak, sehingga dengan membelikan sembako, uang yang ada mungkin masih bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih besar.

Tentu saja keputusan itu menuai protes dari berbagai pihak, karena dinilai kontroversial dan merugikan perusahaan. Bahkan partner bisnisnya kemudian meninggalkan perusahaan karena tidak setuju dengan keputusannya. Tetapi ia tidak bergeming dan dengan kehendak Allah, perusahaan tersebut tetap bertahan bahkan berkembang lebih besar lagi.

Lain lagi pengalamanku dengan dr.Ida. Bu dokter yang satu ini adalah dokter favorit di Bontang. Kemana pun beliau pindah, pasiennya pasti setia mengikuti. Di klinik, dimana kami bekerja sama, bila waktunya dr.Ida praktek, semua karyawan harus siap bekerja keras dan bekerja lembur karena pasiennya mencapai seratus orang. Karyawan klinik menjuluki beliau Menteri Kesehatan Bontang.

Pasien mencintai beliau karena dr.Ida ( saya berani menyebut namanya karena yakin beliau tidak bergabung di ef be ) selalu menyediakan diri untuk mendengarkan semua keluhan pasiennya, baik yang berhubungan dengan penyakit mau pun yang tidak berhubungan. Walau pun pasiennya membludak, ia dengan sabar mendengarkan cerita pasiennya. Bila bertemu di luar ruang praktek, ia akan menanyakan kabar keluarga pasien. Jangan bayangkan bahwa pasiennya orang berada semua. Justeru kebanyakan pasien dr.Ida berasal dari kalangan ekonomi bawah. Karena itu setelah selesai menangani pasien, biasanya dr.Ida akan menanyakan apakah pasien mempunyai uang untuk ongkos pulang. Kalau tidak ada, maka bu Ida tidak segan-segan memberi ongkos pulang sambil menolak uang biaya pemeriksaannya.

Dengan sikap seperti ini tidak heran bahwa ia disayangi oleh pasien-pasiennya. Sehingga ketika ia harus pindah ke jakarta mengikuti suami, banyak pasiennya yang menangis. Saya ingat, ketika mengadakan pesta perpisahan untuk dr.Ida di klinik, saya melihat seorang nenek tua berdiri berpegangan di tiang klinik berdiam diri sambil terus memandangi dr.Ida.

Buah keikhlasan beliau menyantuni pasiennya dengan baik adalah kelima anak beliau semua menjadi sarjana. Dua yang terbesar menjadi dokter dan menikah dengan dokter pula, yang nomor tiga psikolog, yang nomor empat insinyur dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama dan yang bungsu apoteker. Semua saat ini bekerja dan berumah tangga dengan baik. Keluarga beliau selalu aman dari gosip dan anak2nya berakhlak baik.

Allah berjanji bahwa barangsiapa memudahkan hidup orang lain, maka Allah akan memudahkan hidupnya. Dengan berbagi- bukan hanya harta-melainkan ilmu, perhatian, kasih sayang- maka kita telah memudahkan hidup orang yang ada di sekitar kita. Karena itu Allah pasti memenuhi janjinya untuk memudahkan hidup kita dan memberi kebahagiaan-seperti pengalaman dua orang yang saya kagumi- di atas. Sudahkah hari ini saya berbagi?

Dua Bulan dalam Hidupku

Winny W Sutopo

Dua bulan terakhir ini aku keluar dari kehidupan rutinku di bontang. Dan dalam dua bulan ini banyak hal yang kutemui dan ternyata memperkaya kehidupan batinku.

Aku bertemu sekelompok anak muda yang pandai, cerdas, sopan, berdedikasi dan bersemangat kerja tim tinggi. Nasib mempertemukan mereka untuk sama-sama bekerja pada suatu perusahaan besar bergengsi. Nasib pula yang kemudian membawa meraka untuk bersama-sama mengalami kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja ditutup. Ketika pertama kali saya bertemu mereka, tentu mereka seedang tidak dalam kondisi yang positif, rasa cemas, bingung, kecewa, patah hati , marah, semua berbaur menjadi satu. Perasaan yang mudah untuk dipahami, karena tadinya mereka telah menggantungkan nasib dan kehidupan keluarga kepada perusahaan yang amat mereka banggakan, tetapi kemudian secara mendadak mereka harus kehilangan semuanya.

Tetapi yang membanggakan dari mereka adalah, selain sifat-sifat baik yang telah saya tuliskan di atas, mereka adalah sekelompok anak muda yang tegar, penuh keyakinan diri dan berpikiran positif. Di tengah kemelut, mereka tetap menampilkan keceriaannya, kekompakannya sebagai suatu tim juga tetap tergambar dalam aktivitas sehari-hari dan kecintaannya kepada perusahaan tetap terpelihara seperti yang tampak dalam foto-foto perpisahan yang diadakan.Dengan bersemangat , optimis dan tetap ceria mereka juga bergerak untuk mencari pekerjaan baru.

Saya juga bertemu dengan sekelompok pegawai yang menduduki jabatan managerial di kantornya. Kantor tempat mereka bekerja merupakan kantor besar dengan reputasi yang baik. Mereka sendiri juga merupakan karyawan yang pandai, berdedikasi dan berkomitmen tinggi terhadap perusahaan tempat kerjanya. Tetapi yang mengejutkan bagi saya adalah ternyata gaji mereka tidak segemerlap jabatannya. Bahkan di perusahaan tempat suami saya bekerja, level gaji itu hanya diterima oleh karyawan biasa.

Saya sempat pula berinteraksi dengan sekelompok ibu yang harus menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya, karena suami-suami mereka kehilangan pekerjaan. Meski berat beban yang mereka sandang, tetapi mereka tetap gembira, bercanda dan bersemangat. Kesulitan yang dihadapi mereka sikapi dengan positif, bahkan mereka malah bisa membuka lahan kerja baru bagi sekelompok orang.

Dalam kurun dua bulan ini, di lain pihak saya juga bertemu dengan sekelompok orang yang telah mapan dalam kehidupannya, tidak lagi sibuk memikirkan nafkah untuk keluarga. Dan dengan segala kelebihan yang mereka miliki, mereka tidak menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya mereka membagikan kebahagiaannya dengan berkiprah di bidang sosial. Ada ibu yang membuka PAUD di garasi rumahnya untuk anak-anak balita dari kalangan yang termarjinalkan, ada bapak yang ikut menggiatkan kembali gerakan pramuka untuk membangun kembali karakter bangsa ini, ada yang membantu memberdayakan ekonomi dan kehidupan beragama masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya hingga membentuk komunitas yang besar. Mereka membiayai sendiri kegiatannya, tidak menunggu bantuan atau donatur . Mungkin tidak banyak yang melihat kiprah mereka, apalagi yang tergerak untuk memberikan tanda jasa. Tetapi mereka tetap istiqomah dengan kegiatannya.

Semua ini membuka mata saya untuk melihat kenyataan hidup yang jauh berbeda dari apa yang saya rasa dan alami dalam kehidupan keseharian saya yang nyaman. Bertemu mereka yang kehilangan pekerjaan membuat saya jadi berpikir alangkah rapuhnya keamanan bekerja saat ini. Setiap saat perusahaan tempat kita atau suami berpijak bisa ditutup sehingga kenyamanan yang saat ini kita rasakan bisa luluh . Hal ini membuat saya mensyukuri bahwa suami saya masih memiliki pekerjaan yang baik di tempat yang stabil. Berjumpa dengan sekelompok manajer dengan gaji yang tidak setara dengan gemerlap jabatannya, menyebabkan saya bersyukur karena perusahaan tempat suami saya bekerja mampu memberikan kehidupan, penghasilan dan fasilitas yang jauh di atas layak bagi kami warganya. Bergaul dengan ibu-ibu yang harus mencari nafkah bagi keluarganya menyebabkan saya jadi merasa malu karena hanya bisa menghabiskan gaji suami untuk keperluan yang konsumtif sifatnya. Dan bertemu dengan kelompok manusia yang sudah mengawali upaya untuk memperhatikan dan memperbaiki kehidupan sekitar mampu membuat saya jadi berpikir apa yang sudah saya perbuat untuk lingkungan saya. Alangkah malunya saya, karena di tengah kenyamanan yang saya kecap, masih amat sedikit sumbangsih yang saya berikan untuk lingkungan saya.

Dua bulan ini amat inspiratif bagi saya dan memperbaharui semangat hidup saya.
Dua bulan ini telah membuka mata saya untuk berhenti mengeluh dan menganggap bahwa kesulitan saya adalah yang terbesar di dunia ini.
Dua bulan ini telah membuat saya tersadar akan sedikitnya sumbangsih yang telah saya berikan kepada lingkungan.
Dua bulan ini telah membuat saya malu karena kurang mensyukuri apa yang telah saya terima selama ini
Dua bulan ini membuat saya lebih mencintai dan menghargai suami saya dan kerja kerasnya bagi perusahaan dan keluarga

Ya Allah, bantulah saya untuk tetap menyukuri semua nikmat yang Engkau berikan.
Ya Allah, bantulah saya untuk tidak banyak mengeluh atas kesulitan yang saya hadapi, karena semua itu tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi teman-teman baru saya
Ya Allah, bukakanlah mata hati dan pikiran saya agar dapat mencontoh apa yang telah mereka lakukan.
Ya Allah, tegarkan hati saya agar dapat istiqomah dalam menapaki kehidupan ini.

Didalam Kesulitan pasti ada Kemudahan

Winny W Sutopo
Sudah 3 minggu ini aku bolak balik antara rumah ayahku di menteng ke salah satu SMP negeri favorit di bilangan kampung melayu untuk mendaftarkan anakkku. Aku menyadari bahwa tidaklah mudah untuk mendaftarkan murid baru di kelas 2 di sekolah favorit. Apalagi anakku berasal dari SMP swasta di daerah. Meski pun demikian aku masih menyimpan secercah harapan, mengingat anakku adalah siswa berprestasi dan juara matematika se propinsi kalimantan timur.

Kenyataannya, kepala sekolah terlihat tidak tertarik untuk menelaah lebih lanjut tentang anakku ini. Tumpukan dokumen dalam map hanya pernah dilihat sekilas sambil bergumam bahwa anakku memang pandai. Meski demikian, ia tidak dapat menjanjikan bahwa anakku dapat diterima bersekolah disini. Hanya bila ada bangku kosong.

Ayahku mengatakan bahwa itu merupakan tanda bahwa aku harus membayar agar anakku dapat diterima. Aku berkeras menolak gagasan itu. Anakku pun mengatakan bahwa ia tidak berkeberatan untuk bersekolah di tempat lain, bila ia memang tidak dapat diterima di sekolah itu. "Aku tidak mau masuk sekolah dengan "cara yang bengkok", karena kalau begitu bagaimana aku bisa jadi anak yang lurus", demikian katanya.

Hari itu, untuk kesekian kalinya aku menenteng map berisi kumpulan dokumen anakku. Dengan menaiki bajaj aku kembali ke sekolah itu, berharap hari ini kepala sekolah mau memberi lampu hijau bagi anakku. Entah mengapa, selama di bajaj aku terus menerus menggumamkan doa "Allahumma yasiir wa la tu asiir" yang artinya ya Allah mudahkanlah jangan dipersulit. Beberapa kali aku mencoba melantunkan doa yang lain, tetapi tanpa kusadari mulut ini terus saja menggumamkan doa yang sama.

Sesampai di sekolah, setelah menunggu sejenak, kepala sekolah bersedia menerimaku. Ia mulai mengobrol dengan logat sundanya yang kental. Aku juga menjawab dengan bahasa sunda. Tiba-tiba ia bertanya :"Koq ibu tiasa basa sunda?" Aku menjawa "Muhun, da pun biang sunda". "Sundana ti mana?" "Garut". "Atuh ari kitu urang teh wargi, da abdi oge ti garut ( terjemahan bebasnya begini : "koq ibu bisa bahasa sunda?" "Ya, karena ibu saya orang sunda". "Sundanya darimana?" " Dari garut"."Wah, kalau begitu kita saudara, karena saya juga dari garut").

Ajaib, saat itu juga dia meraih map dan membukanya lalu mengatakan bahwa ia akan memberi surat ke Depdiknas agar anakku diperbolehkan mengikuti test masuk sekolah negeri, sebagaimana harusnya. Ya Allah, demikian mudahnya proses yang harus dijalani bila memang ini kehendakMu dan sudah waktunya. Inikah jawaban atas doaku sepanjang jalan tadi? Demikianlah, akhirnya anakku lulus test dan diterima di sekolah tersebut tanpa aku harus membayar sepeser pun, kecuali uang masuk yang memang resmi. Ia juga tetap berprestasi dan sempat menjadi Ketua OSIS disana.

Berjuang dijalan Allah

Winny W Sutopo
Satu bulan terakhir ini, kehidupan kita diramaikan oleh pemberitaan tentang bom. Dan seperti sudah menjadi "suatu keharusan", bom selalu dikaitkan dengan Nurdin M Top dan Jihad. Orang selalu mengatasnamakan jihad untuk melakukan pengrusakan dan pembunuhan,yang akhirnya jadi mengkonotasi kan Islam itu keras dan kejam. Pertanyaannya, apakah islam itu memang kejam dan keras? Apakah jihad selalu berarti pembunuhan dan pengrusakan ?

Secara bebas, jihad bisa diterjemahkan (paling tidak menurut pendapat saya yang pengetahuan islamnya minim - sesungguhnya saya malu mengakui bahwa pada usia sekian pengetahuan islam saya masih saja minim ) sebagai berjuang di jalan Allah. Berjuang di jalan Allah menurut hemat saya berarti berjuang untuk menegakkan dan mensucikan Allah sesuai dengan sifat-sifat Allah dengan menggunakan sifat-sifat Allah. Ada 99 sifat Allah seperti yang tercantum dalam Asmaul Husna. Dan berjuang selalu memerlukan pengorbanan. Jadi jihad menurut pendapat saya adalah semua usaha dan pengorbanan yang diupayakan dengan sifat-sifat Allah agar keberadaan Allah di dunia ini terasa. Dan jihad dalam pengertian ini jadi amat luas aplikasinya.

Seorang wanita yang bangun di pagi hari, memutus tidurnya yang nyenyak demi menyiapkan sarapan untuk keluarga, dapat dikatakan berjihad bila diniatkan bahwa apa yang dilakukannya itu semata karena Allah lilllahitaala. Ia mengorbankan waktu tidurnya demi memenuhi tugas dan kewajibannya sebagai ibu dan isteri. Ibu yang mengurangi waktu menonton infotaintment dan sinetron karena mengajari anaknya, itu berjihad, karena ia mengorbankan kegiatan yang disenanginya demi membuat anaknya pandai. Seorang bapak pergi ke tempat kerjanya, mengerjakan tugas-tugasnya dengan jujur dan sepenuh hati dengan disertai rasa takut kepada Allah swt itu pun dapat dikatakan berjihad, karena ia mengorbankan pikiran, tenaga dan ilmunya demi kepentingan pekerjaan dan mencari nafkah yang halal bagi keluarganya . Pembantu yang bangun pagi-pagi kemudian mengerjakan tugas-tugasnya itu juga jihad, karena ia mengorbankan waktunya untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarganya demi mendapatkan nafkah. Anak -anak pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu dan menjauhi menyontek, itu pun berjihad. Orang berpunya memikirkan cara untuk membantu tetangganya yang tidak berpunya, itu juga jihad, orang berpendidikan berupaya memerangi kebodohan dengan mengajarkan anak-anak kampung di sekitarnya itu juga berjihad. Bidan yang bertugas di pedalaman itu jihad, polisi yang bertugas di jalan raya dan menghirup CO2 setiap hari itu jihad. Wanita yang mau mengurangi sifat-sifat negatifnya dan belajar untuk bisa bersikap lebih positif ( mengurangi bergosip, mengurangi sikap konsumtif dan lain-lain )itu berjihad, laki-laki yang mengurangi sifat mata keranjangnya itu juga berjihad. Singkatnya semua upaya dan pekerjaan yang dikerjakan dengan keikhlasan karena mengharapkan ridho Allah semata untuk melayani kepentingan orang lain demi menegakkan asma Allah itulah jihad. Begitu dalam makna jihad dan begitu luas aplikasinya.

Kalau diperhatikan, maka orang bisa berjihad bila ia memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya dan memiliki keinginan untuk membantu dan menolong orang di sekitarnya, bukan karena mengharapkan pujian atau tanda jasa, melainkan karena ia merasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan rasa syukurnya atas semua karunia dan kelebihan yang telah diberikan Allah kepadanya . Ia mau berkorban demi orang lain atas dasar rasa sayang dan ketaatannya kepada Allah. Orang yang masih bersikap egois, masa bodoh terhadap lingkungan dan tidak mau "susah" ( bangun pagi sebelum orang serumah bangun, padahal mata masih mengantuk , itu kan susah. Anak belajar dengan mengurangi jam main play station itu kan sulit, pekerja bekerja dengan giat sementara sekelilingnya mengobrol pastilah tidak mudah, murid sekolah harus berpikir sendiri dan tidak menyontek teman itu kan tidak mudah , mengurangi jatah membeli barang-barang konsumtif dan memberikan uangnya kepada orang miskin yang belum tentu kita kenal atau mau berterima kasih itu juga bukan bukan perkara mudah , mengurangi bergosip itu juga bukan perkara mudah, mengurangi melirik wanita lain sementara yang disamping sudah tidak enak dipandang itu juga bukan main sulitnya), pasti belum mampu berjihad. Jadi jihad dimulai dengan memerangi hawa nafsu dan ke egoisan diri, demi untuk kepentingan orang lain. Dan itulah seberat-beratnya jihad.

Dengan pemahaman jihad seperti ini, maka jihad tidak selalu harus disertai dengan kekerasan dan pengrusakan. Jihad juga bukan berarti perang fisik, dan jihad tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang militan. Sebaliknya jihad dilaksanakan dengan mengamalkan sifat-sifat Allah yang ada 99. Jihad adalah kewajiban kita sebagai umat muslim. Jihad seharusnya dilakukan sehari-hari dan meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Bila semua umat muslim ( sebagian besar umat muslim, kayaknya lebih realistis deh ) memiliki semangat berjihad dan mau mengamalkannya, maka pastilah dunia ini akan lebih nyaman untuk ditinggali. Tidak ada kesenjangan antara kaya dan miskin, karena yang kaya membantu yang miskin, tidak ada kebodohan karena yang pandai mengajari yang bodoh dan yang bodoh mau belajar, tidak ada anak terlantar dan menjadi anak pembantu, karena ibunya mau meluangkan waktu untuk mengajari, memasakkan, menemani nonton televisi, tidak ada.......... Memerangi kemiskinan, meminimalkan kesenjangan sosial, menanggulangi kebodohan dilakukan dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan karena itulah makna Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin ( = agama yang menyebar kasih sayang di muka bumi ) ini akan terasa dan asma ul husna bisa ditegakkan. Wallahu alam wisawab.

Antara Hidup dan Mati Bedanya Hanya Sekulit Bawang

Winny W Sutopo

Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan tayangan tentang tenggelamnya kapal Kambuna 2 di salah satu stasiun teve. Dalam tayangan itu, beberapa orang korban selamat diminta untuk menceritakan kembali pengalaman mereka pada saat itu. Saya ikut tercekam mendengar penuturan mereka, karena pernah mengalami pengalaman yang sama, meski pun tidak sedramatis itu.

Tahun 2006, kami sekeluarga pergi umroh. Saat itu anak bungsu saya baru lulus sma dan baru saja diterima di itb, perguruan tinggi idamannya di jurusan yang memang diangan-angankan. Suami saya juga baru sembuh dari stroke ringan. Perjalanan ini memang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas semua berkah Allah kepada kami sekeluarga.

Rombongan kami hanya terdiri dari 2 keluarga. Kebetulan pula bahwa anak2 kami seumur, bahkan anak bungsu kami pernah bersekolah di sekolah yang sama. Dengan demikian perjalanan kami penuh keakraban dan keceriaan. Dan jadilah keluarga itu sahabat baru kami. Selama di tanah suci pun ibadah kami dapat berjalan lancar, nyaris tidak ada kendala yang berarti. Sampai tiba saatnya kembali ke tanah air. Segala urusan imigrasi berjalan lancar, pesawat juga berangkat sesuai jadual. Sebagian besar penumpang pesawat adalah mereka yang juga baru kembali menunaikan ibadah umroh. Sisanya TKW yang akan pulang ke tanah air dan beberapa penumpang independen.

Dalam pesawat, kami sekeluarga duduk pada baris yang sama di tengah-tengah. Di depan kami duduk keluarga sahabat baru kami , juga sekeluarga. Entah mengapa, selama perjalanan pulang, saya senang sekali melantunkan doa bepergian, yang kurang lebih artinya demikian : "Ya Allah sertailah perjalanan kami, dampingilah kami, pimpinanlah perjalanan kami dst." Doa itu terus menerus saya lantunkan dalam hati, baik dalam keadaan bangun mau pun setengah terkantuk-kantuk.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam, pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Sukarno Hatta. Kami pun mulai berkemas bersiap untuk mendarat. Sebentar kemudian, pilot mengumumkan bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengeluarkan roda kiri pesawat. Walau pun demikian ia akan berusaha untuk mengeluarkan roda tersebut. Saya mulai merasa deg-degan dan mulai berdoa untuk diberi kemudahan. Tak lama kemudian pilot kembali mengumumkan bahwa ia sudah berupaya mengeluarkan roda pesawat kiri tetapi tidak berhasil, karena itu ia akan bersiap untuk melakukan pendaratan darurat. Segera awak kabin mengajarkan bagaimana cara melakukan pendaratan darurat kepada seluruh penumpang. Semua alas kaki harus dilepas, begitu juga peniti, bros dan yang sejenis. Kami juga diminta untuk duduk dengan menundukkan kepala dan melipat tangan di belakang leher sampai ada instruksi lagi.

Saat itu saya hanya berpikir Ya Allah, inilah saatnya saya untuk kembali. Terpikir oleh saya semua dosa-dosa saya dan sempat terbersit juga apakah ada hutang yang belum terbayar Kalau masih ada hutang, siapa yang mengetahui dan akan membayar mengingat kami sekeluarga ada di dalam pesawat ini. Ahamdulillah, tidak ada hutang yang msih tersisa. Sungguh saat itu tidak terpikir oleh saya segala harta, kekayaan an materi yang kami miliki. Saya hanya berpikir alangkah kasihannya anak bungsu saya, harus meninggalkan dunia ini sebelum ia sempat berkuliah di perguruan yang ia impi2kan. Dan bahwa tidak ada lagi penerus keluarga kami, mengingat kami berempat ada disini. Saya kemudian meminta maaf kepada suami dan kedua anak saya, karena kami tidak lama lagi bisa bersama. Saat itu saya benar-benar menyesali semua perbuatan saya yang mungkin menyakiti hati dan perasaan anak dan suami saya. Setelah itu saya pasrahkan segalanya kepada Allah. Mulut saya tidak henti-hentinya menggumamkan La illaha illahu muhammadar rasullluah dan istighfar sambil bercucuran air mata.

Saya sangat bersyukur bahwa pada saat itu anak dan suami saya pun terlihat tenang. Saya hanya khawatir bahwa kondisi suami saya turun mengingat ia baru saja sembuh stroke. Tetapi kelihatannya di antara kami berempat, sayalah yang paling panik. Hanya saya juga yang menangis.

Seluruh penumpang yang berada di dalam pesawat juga ramai mengagungkan asma Allah. Alhamdulillah tidak ada penumpang yang panik. Semua tertib duduk di tempatnya masing-masing ambil terus menerus berdoa. Sampai akhirnya pilot pesawat mengumumkan dengan suara tersendat bahwa ia sudah beusaha maksimal tetapi roda pesawat tetap tidak dapat keluar. Karena itu ia akan melakukan pendaratan darurat. Pilot masih menimbang-nimbang apakah akan mendarat di da darat atau di air karena keduanya memiliki resiko. Kalau dilakukan pendaratan di darat, besar kemungkinan bahwa pesawat ini akan terbakar, sementara mendarat di air pun berarti bahwa pesawat ini akan masuk ke laut jawa. Naluri keibuan saya membuat saya berpikir alangkah sulitnya bila mendarat di laut. Kami harus berenang, sementara tidak ada petunjuk arah kemana arah jakarta dan tidak ada juga petunjuk kedalaman air. Saya membayangkan seluruh penumpang pesawat akan keluar dari pesawat seperti cendol ditumpahkan dari gelas. Dalam situasi seperti itu, bagaimana saya dapat menolong kedua anak saya? Kalau mendarat di tanah pun saya sudah membayangkan bahwa pesawat ini akan mendarat di tengah sawah atau kebun.

Pesawat pun kemudian mendarat setelah kurang lebih satu jam berputar-putar di atas awan jakarta. Alhamdulillah, akhirnya pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Tetapi kami masih harus tetap duduk di tempat masing-masing dan tidak boleh bergerak, karena posisi pesawat tidak stabil. Tehnisi sedang memeriksa pintu manakah yang paling aman untuk dibuka sebagai tempat keluar penumpang.

Di saat genting seperti itu, masih ada penumpang yang meributkan boneka yang disimpan di bagasi jauh di belakang kursinya. Dan ia meminta bapak yang duduk disana untuk megambilkan bonekanya. Akhirnya dengan geram saya mengatakan : "Ibu, pesawat ini masih tidak stabil dan kita harus duduk diam. Kalau kita bergerak-gerak, pesawat ini bisa terbakar. Dan kalau pesawat ini terbakar, kita semua akan mati dan boneka itu tidak ada artinya lagi". Rupanya suara saya cukup keras, sehingga penumpang yang mendengar (bukan hanya ibu itu) kemudian duduk dengan tertib.

Setelah selesai pemeriksaan, akhirnya pintu boleh dibuka dan diumumkan bahwa hanya penumpang yang duduk di sebelah kiri dulu yang boleh meninggalkan pesawat. Tampaknya "ceramah" saya masih berfungsi, sehingga penumpang mau dengan tenang menunggu di tempatnya masing-masing, sampai gilirannya meninggalkan pesawat.

Begitu menginjakkan kaki di tanah, lutut saya lemas sekali rasanya. Saya lihat bahwa kami mendarat di bandara, subhanallah! Pesawat kami mendarat dengan posisi miring ke kiri. Jarak bdan pesawat dengan tanah amat dekat, padahal alam kondisi normal, tidak mungkinlah kita apat meraih badan pesawat alam posisi berdiri. Di sekeliling pesawat telah bersiap ambulance, pemadam kebakaran dan mobil polisi. Begitu menginjakkan kaki di tanah, saya langsung bersujud syukur dapat tiba dengan selamat. Dalam insiden ini seluruh penumpang selamat, tidak ada yang luka. Seluruh awak pesawat pun bertangisan.

Beberapa waktu kemudian, kejadian ini ditulis di harian Kompas. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa dalam kejadian ini 20% adalah faktor keterampilan pilot dan 80% sisanya adalah keajaiban Allah!!!!

Setelah kejadian ini saya jadi berpikir, sesungguhnya umur saya sudah hampir titik akhir pada saat itu. Kalau saya saat ini masih diberi kehidupan, maka itu adalah umur bonus dari Yang Maha Kuasa. Berapa banyak orang yang diberi umur bonus oleh Allah, karena kita tahu bahwa bila Allah sudah berkehendak, maka kita tidak dapat menawar walau satu detik pun. Karena itu saya tidak mau mengecewakan Allah yang telah bermurah hati memberikan umur bonus. Umur yang ada haruslah saya gunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik, sesuai dengan petunjukNya, agar ketika saatnya tiba nanti, saya tidak malu mempertanggung jawabkan umur bonus yang diberi oleh Allah.

Hikmah lainnya adalah jangan pernah meninggalkan Allah. Berusahalah untuk tetap dekat denganNya, karena kita tidak pernah tahu kapan akhir hidup kita sesungguhnya.

Uang, harta, kekayaan tidak akan terpikir ketika kita suah mendekati maut. Hanya amal baik dan dosa yang kita ingat.

Memang tidak mudah untuk menjalankannya secara konsisten, tetapi bagaimana pun juga saya berusaha memenuhinya.

Agenda Hidup Manusia di Bumi

Winny W Sutopo
Ketika ibuku meninggal dunia 16 tahun yang lalu, ia mewariskan sejumlah uang dalam bentuk dolar bagi kami, anak-anaknya. Waktu itu kurs US dolar masih sekitar Rp. 1500,-an. Karena saat itu aku masih belum membutuhkan uang tersebut, maka kubiarkan saja uang itu berada dalam tabungan. Sekitar tahun 2001 ketika aku dan suami memutuskan untuk membeli rumah di jakarta, ternyata tabungan kami belum mencukupi ,jadi uang warisan itu kami gunakan untuk menambah kekurangannya. Saat itu kurs dolar sudah mencapai sekitar sepuluh ribu rupiah. Dengan pertambahan nilai kurs dolar, maka kami dapat membeli rumah yang kami inginkan.

Saat itu saya merenung dan mengenang ibu saya. Ibu saya seorang wanita luar biasa. Beliau seorang yang ulet, tidak suka mengeluh dan pejuang tangguh. Ketika ayah saya karena keadaan kesehatannya tidak mungkin lagi berperan sebagai pencari nafkah keluarga, ibulah yang kemudian mengambil alih peran itu. Ibu berpraktek sebagai seorang dokter mata, mengajar di beberapa universitas, menulis buku dan membuka florist di rumah. Begitu pun, beliau masih sempat mendidik dan merawat keluarganya dengan sangat baik. Dengan segala jerih payahnya, beliau dapat menyekolahkan kami -ke empat anaknya -di sekolah swasta bermutu dan membiayai kuliah kami berempat hingga menjadi sarjana semua. Banyak hasil jerih payah ibu yang beliau tinggalkan bagi kami anak-anaknya, termasuk uang yang aku pakai melunasi rumah. Tetapi sebelum beliau sempat menikmati hasil jerih payahnya, beliau telah dipaggil oleh Yang Maha Kuasa.

Hal ini membuat saya jadi berpikir bahwa berjuang belum tentu berarti dapat menikmati hasilnya. Mungkin memang itulah agenda yang dititipkan Allah kepadanya. Menjadi pejuang tanpa berharap untuk ikut memetik hasil.

Saya sendiri juga beberapa kali mengalami hal yang sama. Saya pernah bersama-sama dokter Ida Mahfud dan dokter Rahmawati membidani lahirnya sebuah klinik bersalin milik sebuah yayasan islam. Ketika saya baru bergabung, klinik itu baru berupa bangunan separuh jadi yang masih kosong. Saat itu saya diberi tugas untuk merekrut karyawan dan mengurusi semua hal yang berhubungan dengan administrasi, keuangan dan personalia. Dokter Ida menjadi kepala Klinik dan dokter Rahma membawahi semua kegiatan yang berhubungan dengan aspek medis. Bahu membahu kami bertiga berjuang membangun klinik tersebut, sehingga klinik tersebut berjalan lancar. Saya masih ingat, saat itu kami bertiga bekerja tanpa mendapat gaji. Sebagai kompensasinya, kami boleh berpraktek dan dibayar berdasarkan presentase pendapatan. Sisa presentase pendapatan kami digunakan untuk membiayai operasional klinik, termasuk membayar gaji karyawan dan membeli peralatan yang dibutuhkan. Jadi kalau kami tidak mendapat pasien ( untuk kedua dokter tersebut) dan klien ( untukku), maka kami tidak mendapat penghasilan. Meski demikian, rasanya belum pernah dalam satu bulan kami tidak mendapat klien/pasien. Selalu saja ada uang yang dapat kami bawa pulang, meski jumlahnya bervariasi. Begitu klinik berjalan lancar, dengan kehendakNya, kami bertiga satu persatu dicabut dari klinik tersebut. Yang pertama pergi adalah dr.Ida, beliau mengikuti suaminya bertugas di jakarta. Kemudian menyusul saya, menemani anak2 bersekolah di jakarta dan yang terakhir dr. Rahma. Klinik itu sendiri sampai saat ini masih berdiri dan makin berkembang.

Di jakarta, saya pernah bekerja di suatu perusahaan dan ditugaskan untuk membuat peraturan perusahaan yang berhubungan dengan kepersonaliaan . Tanpa disangka, adanya peraturan perusahaan tersebut, menguak beberapa praktek penyelewengan yang selama ini tidak terendus. Dalam beberapa bulan saja, 2 milyar berhasil diselamatkan dari penyelewengan. Tidak lama setelah tugas saya membuat peraturan perusahaan selesai dan penyelewengan tersebut terbongkar, saya diterima di program S2. Karena sulit bagi saya untuk menjalani kuliah sambil bekerja, maka saya kemudian keluar, walau pun pada mulanya pimpinan perusahaan masih berusaha menahan saya. Perusahaan itu sendiri sampai sekarang masih berdiri dan berjalan baik.

Selain pengalaman di atas, ada beberapa pengalaman lain dimana saya datang di tengah kemelut , membereskan segala sesuatunya dan kemudian pergi begitu segalanya beres.

Semua pengalaman itu seakan memberi kesadaran kepada saya, bahwa tugas saya di dunia ini adalah "tukang beres-beres". Tetapi saya bukanlah orang yang diberi kesempatan untuk menikmati hasil jerih payah saya di tempat yang saya bereskan. Allah dengan kekuasaannya akan membawa saya ke tempat yang memang harus dibereskan dan dengan kehendakNya pula akan mencabut saya dari tempat itu bila masanya telah selesai tanpa memberi saya kesempatan untuk menikmati hasil "benah-benah" saya.

Menerapkan kesadaran yang sama dalam menjalani peran saya sebagai isteri dan ibu, saya pun menyadari bahwa tugas saya adalah membimbing, mendukung dan merawat anak dan suami saya agar dapat menjadi muslimin dan muslimah yang sholeh dan sholehah. Apakah nantinya saya akan ikut melihat apalagi menikmati hasil jerih payah saya, bukanlah pertanyaan yang patut saya cari jawabnya. Itu adalah kekuasaan Allah yang berada di luar batas kewenangan saya. Sama seperti ibu saya dahulu berjuang membesarkan, mendidik , merawat, meninggalkan harta warisan bagi kami anak2nya dan membiarkan kami yang menikmati hasil jerih payahnya.

Dengan kesadaran seperti itu, sekarang ini setiap kali memasuki tempat baru, saya hanya bertanya kepada Allah :"Ya Allah, apakah agenda yang harus kuselesaikan sekali ini." Dan saya hanya bermohon agar diberi kesabaran, kekuatan dan petunjuk agar mampu menyelesaikan tugas saya dengan baik. Adanya kesadaran ini membantu saya untuk bisa lebih sabar bila menghadapi kesulitan atau bila menemui situasi yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Mungkin itulah justru situasi yang harus dibereskan. Demikian juga, bila hasil jerih payah saya mulai terlihat dan tiba-tiba saya dipindah ke tempat lain, saya juga tidak berkecil hati karena tidak ikut menikmati hasil kerja. Itu bukan bagian saya. Rupanya seperti ibu saya, agenda saya di bumi ini adalah menjadi pejuang.Wallahu alam.

Rasanya, kita memang harus mencari apa sesungguhnya agenda hidup kita di dunia dan berusaha untuk menjalankannya. Dengan adanya kesadaran tentang agenda hidup, maka kita dapat mengisi hidup ini dengan kegiatan yang bermanfaat sehingga keberadaan kita di dunia ini tidak sia-sia. Keikhlasan yang menyertai langkah untuk mengisi hidup akan menjadi nilai tambah yang meningkatkan kualitas kemanusiaan kita. Itulah mungkin yang dinamakan berjihad di jalan Allah.

Hidup adalah Rangkaian Puzzle

Sabtu, 19 Juni 2010

HIDUP ADALAH RANGKAIAN PUZZLE
oleh : Winny W.Sutopo

Pernahkah melihat anak kecil bermain puzzle? Potongan-potongan karton tak beraturan bila ditempatkan pada tempatnya yang tepat akan membawa kepada suatu bentuk yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Dan untuk memasangkan satu potongan, kadang kita harus mendapatkan dulu potongan yang lain sebelumnya.

Pengalaman hidup saya juga membawa saya pada kesimpulan bahwa hidup ini seperti potongan-poongan puzzle. Tidak ada satu fragmen kehidupan yang berdiri sendiri. Filosofis ya?

Ketika mahasiswa dulu, saya rajin mengikuti kak Seto mengajar di Istana Kanak-Kanak, cikal bakal playgroupnya sekarang. Disana saya belajar mengaplikasikan ilmu psikologi saya yang waktu itu baru semester 2. Saya belajar tahap2 perkembangan anak, bagaimana mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak, bagaimana berinteraksi dengan anak dan lain-lain. Sekian belas tahun kemudian, ketika saya telah menikah dan tinggal di Bontang, saya diminta untuk menjadi konsultan Play Group Al Kautsar yang ketika itu baru berdiri. Saat itulah saya mengaplikasikan ilmu yang saya dapat ketika di Istana Kanak-Kanak dulu, karena ternyata tidak semua ilmu yang saya dapat di bangku kuliah dapat dan sesuai untuk diterapkan disini. Justeru pngetahuan yang saya dapat ketika bekerja dengan kak Seto itulah yang banyak membantu.

Seperti suami-suami pada umumnya, suami saya juga tergolong workaholic. Karena itu saya terbiasa menyelesaikan segala masalah sendiri. Mulai dari menyelesaikan masalah anak2, rumah tangga, berhubungan dengan bengkel, tukang dan lain2. Tentu saja saat itu saya juga banyak mengeluh dan mengomel karena harus menyelesaikan semua sendiri, sementara saya juga bekerja. Tetapi ketika saya harus tinggal sendiri di jakarta selama 7 tahun, barulah saya memahami maksud Allah memberi saya pengalaman serupa itu. Di jakarta, saya harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua anak saya yang sedang berangkat remaja. Terbiasa menghabiskan waktu dengan anak dan membantu mereka menyelesaikan masalahnya, membuat saya amat mengenal anak2 saya dan kami mempunyai hubungan yang sangat erat. Itulah bekal saya untuk menghadapi tingkah polah mereka sebagai remaja. Pengalaman berhubungan dengan bengkel dan tukang serta mengambil keputusan sendiri pun baru terasa manfaatnya ketika itu, karena tidak mungkin saya setiap kali harus bertanya kepada suami yang berada jauh di Bontang.

Di jakarta pun saya tidak selamanya senang. Ada kalanya saya juga merindukan semua kemudahan hidup di Bontang. Tetapi ternyata selama di jakarta saya jadi dapat ikut merawat ayah saya yang terkena stroke sampai kemudian beliau meninggal dunia. Itulah rupanya potongan puzzle yang menghubungkan kpergian saya dari Bontang ke Jakarta.

Di jakarta juga saya mendapat kesempatan untuk bekerja pada beberapa perusahaan yang membuat saya makin memahami cara berorganisasi yang benar, bagaimana menghadapi macam-macam karakter orang dan bagaimana menyikapi hidup secara lebih bijaksana. Pengetahuan dan pegalaman ini ternyata baru bermanfaat ketika saya harus kembali lagi ke bontang dan harus ikut dalam organisasi ibu-ibu disini. Pengalaman dan pengetahuan itulah yang saya coba terapkan demi kemajuan PWP.

Bukan cuma pengalaman yang langsung terjadi pada saya, saya pun dapat menarik pelajaran dari pengalaman suami saya. Saya teringat ketika pada suatu hari suami saya pulang kantor dengan wajah diwiron karena kesal dipindahkan ke bagian yang tidak disukainya. Ternyata di bagian itu, ia jadi sering pergi keluar negeri. Dan dari uang saku sisa kepergiannya keluar negeri itu, kami dapat mengumpulkan uang untuk pergi haji dengan fasilitas yang cukup enak.

Sesungguhnya ada banyak lagi pengalaman hidup yang membuktikan bahwa hidup itu adalah poongan puzzle. Kesimpulan yang dapat saya tarik adalah:

1. terimalah semua pengalaman hidup, baik enak mau pun tidak enak, yang diberikan Tuhan dengan ikhlas karena semua itu pasti ada gunanya.
2. Hiduplah dengan penuh penghayatan, jangan biarkan kita hanya sekadar "bangun" tetapi "tidak sadar" karena dengan adanya pengahayatan pada hidup maka kita dapat menarik pelajaran berharga.
3. Bersyukurlah karena kita disayang Allah. Karena sesungguhnya pengalaman yang kita lalui merupakan bekal untuk menghadapi hidup di masa yang akan datang .

8 Sampai 17

Jumat, 28 Mei 2010

Oleh : Winny W. Sutopo


08.00
“Good morning everyone,” sapaku sambil memasuki ruangan.
“Good morning, mbak,” teman2 yang sudah berada di ruangan menyahuti.
“Wah, cerah hari ini,” kata bu Ratna.
“Iya, nih kayaknya hari ini mbak Ratih lagi happy,” celetuk Dina.
“Bagus ya, aku pakai warna ini? Ok, besok aku bikin selusin deh baju warna ini biar kelihatan cerah terus,” sahutku sambil menyalakan komputer.
Selembar post-it tampak tertempel di layar monitor. Dari Devi, bosku, menanyakan posisi rekrutmen posisi Sekretaris Bos Besar. Begitu komputer siap untuk bekerja, langsung tanganku membuka lembaran website kantor kami untuk mencari jawaban atas pertanyaan Devi. Ah, penutupan lamaran masih 3 hari lagi dan sampai saat ini sudah 300 orang melamar. Selalu saja, bila ada lowongan untuk jabatan Sekretaris dan Administration Assistant, pelamarnya pasti membludak. Haiya,… alamat kerja keras nih. Aku menuliskan jawaban untuk Devi dan mengirimkannya lewat email.

Sempat juga kulihat bahwa hari ini ada 3 pos jabatan yang tutup, artinya hari ini aku harus mencetak seluruh lamaran yang masuk dan membawa ke rumah untuk membaca satu persatu sambil menyeleksinya. Syukurlah, sudah ada program yang melakukan penyeleksian awal, sehingga lamaran yang harus kubaca hanya yang sudah memenuhi prasyarat awal saja. Seringkali ada saja pelamar yang nekad mengirimkan lamaran padahal jelas-jelas tidak memenuhi prasyarat awal. Yah, namanya juga usaha.

Ha,…..ini ada jawaban dari pak Edwin di emailku. Dia bersedia membantu dalam proses wawancara lusa. Asyik, berarti ketiga panelis sudah bersedia semua. Siiip….lah, tinggal memfotokopi berkas-berkas lamaran, membuat filenya dan membagikannaa kepada anggota panel.

Kriiiiing….telepon di mejaku berbunyi.
“HR Unit good morning.”
“Mbak, ini Verena dari Environment Unit. Mau tanya dong, kalau mau bikin Term of Reference untuk Finance Assistant GS-6, requirementnya apa?”
“Ok, nanti aku emailnya isi Term of Reference dan requirementnya.” Term of Reference adalah jabaran tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang menduduki posisi jabatan tertentu. Biasanya dibuat bersamaan dengan pengiklanan lowongan jabatan.

“Mbak Ratih yang baik,” sapa Anna dari CPRU yang tiba-tiba saja sudah muncul di ruang kerjaku.
“Ya, Anna yang juga baik hati, peramah dan tidak sombong, apa yang bisa aku bantu?”
“Mbak, aku sudah bikin Term of Reference untuk Project Officer, minta tolong diklasifikasi ya mbak.”
“Ok deh, tinggal dulu disini ya, nanti kalau sudah diklasifikasi aku kabar-kabari deh.”
“Thanks ya mbak. Bisa minta cepat nggak mbak? Si Alesandra sudah bolak balik nanya nih.”
“Oce, oce, aku kerjakan secepat kilat deh.”
CPRU merupakan unit yang berhubungan dengan penanggulangan krisis dan bencana alam. Dengan banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia saat ini, tidak heran bila unit ini jadi kewalahan dan semua posisi yang menyangkut unit ini harus diprioritas utamakan.

Bekerja di salah satu badan PBB yang berhubungan dengan pembangunan, bahasa resmi yang dipakai di kantor ini memang bahasa Inggris, karena stafnya memang sangat beragam kebangsaannya. Seperti Devi, bosku, dia berkebangsaan India atau Mark yang Operation Manager, bosnya Devi, orang Amerika. Tetapi di antara sesama staf lokal, kami masih bisa leluasa berbahasa Indonesia.


08.50
Weits, sudah hampir jam 9 nih. Aku harus bersiap-siap menangani wawancara. Cepat kuambil pulpen, kacamata, notes dan file. Hmm, wawancaranya di ruang meeting lantai 10, berarti harus naik tangga 2 lantai nih. Ok, deh, siapa takut.
“Friends, aku ke lantai 10 dulu, ada wawancara.”
“Sampai jam berapa, mbak?” tanya bu Sonya.
“Kayaknya sih sampai jam 12, bu”.
“Makan siang dimana?”
“Di ruangan saja, deh. Din, titip ya, kalau Rahma muncul, aku dibelikan gado-gado dan jus tomat.”
“Ok, bu.”
“Devi, if you need me, I’ll be at the 10th floor, interviewing,” pamitku kepada Devi sambil menjulurkan kepala ke dalam ruangannya.
“Ok, Ratih, good luck.”

Sambil berjalan ke lantai 10, aku mampir ke ruang operator untuk mengingatkan pak Tono, operator telepon andalanku, bahwa aku ada wawancara lewat lewat telepon. Jadi, minta tolong, nomorku dipindah ke telepon di ruang meeting dan minta tolong disambungkan ke nomor-nomor yang akan dihubungi sesuai jadual. Aku juga menyerahkan jadual wawancaranya.

Posisi yang akan diwawancara hari ini adalah lowongan yang terbuka bagi pelamar internasional. Ada 3 pelamar, masing-masing bertempat tinggal di Australia, Afganishtan dan Thailand. Menangani rekrutment seperti ini, pelamar tidak perlu datang ke Indonesia. Cukup melalui sambungan telepon saja. Mengingat adanya perbedaan waktu antara ketiga tempat tersebut, maka ketika menyusun jadual, aku harus berhati-hati mempertimbangkan adanya perbedaan waktu ini. Panel interview juga terdiri dari staf internasional yang jabatannya setara dan lebih tinggi dari jabatan yang akan diwawancara. Pada wawancara kali ini, tugasku hanya ikut menyimak jalannya wawancara, mencatat dan nanti membuatkan laporannya.

Setelah anggota panel berkumpul semua, wawancara pun dimulai. Diawali dengan pelamar yang bertempat tinggal di Australia. Aku menekan beberapa nomor untuk menghubunginya dan… ”Hello, may I speak to Mr. Alain please?”
“Mr. Alain, this is Ratih from UNDP Indonesia…..” aku memperkenalkan diri sambil menjelaskan proses interview dan memperkenalkan panelis yang ada. Masuk ke pelamar kedua. Agak lama, baru aku mendapatkan sambungan. Itu pun tidak langsung diangkat. Kucoba lagi nomor lain yang telah diberikan oleh pelamar. Memang sebelumnya, dalam email, ia telah menjelaskan bahwa berhubung situasi keamanan di negerinya sedang tidak menentu, maka bila situasi aman, ia akan berada di kantor pada hari wawancara. Tetapi, bila situasinya mendadak tidak aman, maka ia akan tinggal di rumah, sesuai instruksi pemerintahnya.
“Mr. Amir Khan?”
“Yes, is this Ratih?”, kudengar suara yang tidak jelas dan samar-samar di ujung sana. Memang paling sulit kalau berhubungan dengan pelamar yang berada di negara-negara yang rawan konflik atau belum baik sambungan teleponnya. Wawancara dengan Mr. Amir Khan pun akhirnya selesai, walau pun diselingi dengan beberapa sambungan terputus. Disinilah aku membutuhkan bantuan pak Tono, untuk kembali menghubungi pelamar. Terakhir, dengan Mr Jason yang berdomisili di Thailand. Berhubung wawancara kedua tadi putus sambung beberapa kali, maka jadual wawancara dengan Mr. Jason jadi mundur 1 jam. Jadilah aku harus meminta maaf dahulu untuk keterlambatan ini. Untung dia masih sabar menunggu dan tidak berkeberatan dngan jadual yang mundur itu.

12.05
Akhirnya, selesai juga wawancara hari ini. Panel tampaknya bersenang hati karena telah menemukan calon yang cocok. Setelah diskusi sejenak, mereka menyerahkan catatan wawancara masing-masing kepadaku untuk nantinya kubuatkan laporan wawancaranya.
“I will contact you soon after I finish with this write-up to have your review,” begitu janjiku pada mereka. Memang, mereka masih harus melihat kembali hasil laporanku sebelum membubuhkan tandatangan nantinya.

Di mejaku, sudah tersedia sebungkus gado-gado dan segelas jus tomat. Biasanya, kami ramai-ramai makan siang di luar. Tetapi hari ini, aku memilih untuk makan di dalam kantor saja.


13.05
Aku berharap siang ini bisa berjalan tenang. Sambil mencetak lamaran-lamaran yang masuk untuk ke 3 posisi yang tutup hari ini, aku membuat klasifikasi jabatan, sesuai janjiku pada Anna tadi pagi.
“Ratih, can you tell me the recruitment position for post Program Manager Padang?” suara Mark menanyakan posisi rekrutmen untuk Program Manager Padang mengagetkanku.
“We have done with the short-listing and will do the interview the day after tomorrow, pak” jelasku. Untung sudah dibuat jadual wawancaranya lusa.
“Please, treat the recruitment as your baby,” tuntut Mark. Itu artinya, aku harus menomorsatukan posisi itu dibandingkan dengan posisi-posisi lainnya dan harus mengerjakannya secara ekstra hati-hati. Rasanya, tiap posisi harus dikerjakan secara hati-hati dan segera. Kemana ya Mark ini waktu pelajaran kata “nanti” atau “secepatnya”. Dia kayaknya cuma tahu “sekarang” aja deh.


15.10
Tanda adanya email masuk dilayar komputerku membuat mataku hampir meloncat keluar. Pak Kumar mengabarkan bahwa dengan sangat menyesal dia tidak dapat ikut dalam wawancara besok pagi, karena mendadak ada meeting di BAPPENAS. What?!?! O, tidak!!!! Jam segini, harus mencari orang buat besok pagi????? Mendadak perutku mulas luar biasa. Dengan menenangkan diri, aku mengambil daftar staf UNDP yang ada. Ibu Nia, biasanya bisa. Hmmm, tapi dia orang Indonesia. Ini international post. David. Kuputar nomor teleponnya. Yaaah….., ternyata dia sedang keluar kota. Shigeru, Jepang yang ganteng dan pandai. Keberatan, karena baru kemarin dia wawancara. Memang sih, tidak dapat disalahkan, karena wawancara bukan tugas pokok mereka, walau pun peraturan menuntut mereka harus ikut menjadi anggota panel wawancara bila diperlukan. Harapan terakhirku tinggal pak Karl, si botak yang biasanya suka menolong kalau aku sedang kepepet. Lama teleponku tidak ada yang mengangkat. Kutekan nomor telepon sekretarisnya.
“Nana, ini Ratih. Ayahandamu kemana say?”
“Lagi ke proyek bu.”
”Tolong dong intip, besok dia ada acara ngga? Kalau ngga ada yang penting aku mau minta tolong wawancara nih.”
“Kayaknya, sih, besok Babe di kantor aja, bu. Tapi mending ibu telepon sendiri dulu ya.”
“Siip, makasih ya Nan.” Cepat kuhubungi pak Karl di hapenya.
“Hi Spiderwoman, how are you?” Pak Karl selalu memanggilku Spiderwoman, karena aku akan selalu mengejar siapa pun yang aku perlukan untuk wawancara sampai dapat, tidak peduli dia bersembunyi dimana. Cepat kujelaskan masalahku.
“Well, what can I say? Ok, I will do the interview.” Bodo ah, berkeberatan atau nggak, yang penting besok aku sudah dapat pengganti pak Kumar.

Cepat kusiapkan filenya dan mengirimkannya ke meja pak Pak Karl untuk dipelajari nanti sepulang dari proyek.

16.30
Tidak terasa sudah hampir jam 17.00. Aku ingat sore ini berjanji pada suamiku untuk menemaninya ke dokter gigi. Cepat kubereskan mejaku dan bergegas sholat ashar. File lamaran yang akan kubawa pulang sudah kusiapkan juga dibawah tas tanganku. Begitu juga berkas laporan yang harus kuselesaikan. Ini akan menjadi pe-erku nanti malam, kalau tidak terlalu lelah.

17.07
“Devi, I’m going home,” aku pamit pada atasanku.
“Why are you going home so early?” Yaealah……, paling nggak enak kalau pulang jam 5 sore, pasti ditanya kenapa pulang cepat. Padahal sebenarnya, jam kerja kami cuma sampai jam 16 lho.
“I have an appointment with my husband,” terpaksa deh, aku jelaskan.
“Ok, see you tomorrow.”
“See you tomorrow, Devi!” Dina ikut-ikutan pamit.
“Ok girls, bye…” sahut Devi.

Selesai sudah aku menjalani hidupku satu hari ini. Dengan bergegas, aku melangkah ke tempat parkir mencari dimana suamiku menjemput.

Roda Kehidupan

Oleh : Winny W. Sutopo

“Eh, file siapa tuh yang masih belum diambil?” tanya Tiara sambil mengambil file klien miliknya.
“Punya Dinar,” sahut Linda yang sudah duduk di kursi pilihannya, sambil membuka-buka filenya.
“Lho, Dinarnya belum datang?” kembali Tiara bertanya sambil mempelajari file klien yang akan diwawancara.
“Belum,” jawab Linda. “Mungkin travelnya terlambat.”

Hmmm…. tiap hari Senin, Dinar pasti datang terlambat untuk wawancara. Memang sih, bisa dimaklumi, dia datang dari Bandung. Dinar bisa dikatakan tergolong anggota PJKA (Pergi Jum’at Ahad kembali), karena tinggal di Bandung, sementara pekerjaannya di Jakarta.

Sambil terus membuka-buka file klien yang akan diwawancara, Tiara terus asyik memikirkan Dinar. Tidak masuk di akalnya, untuk pekerjaan mengasong, sebutan bagi psikolog lepasan yang bekerja di beberapa biro konsultasi dan hanya muncul saat diperlukan untuk memeriksa klien saja, Dinar koq mau sih wara-wiri Bandung-Jakarta tiap minggu. Pekerjaan ini kan tidak terlalu menghasilkan banyak uang. Paling tidak, bila dibandingkan dengan rasa capek dan kerepotan Dinar harus meninggalkan keluarga di Bandung.

Buat Tiara sendiri, bekerja sebagai pengasong hanya dilakukan sebagai pengisi waktu luang. Ada kalanya ia menolak panggilan untuk wawancara, bila merasa laporannya masih banyak atau ia sedang tidak “mood” bekerja. Sejak anak-anaknya menginjak remaja, tidak banyak yang harus ia lakukan di rumah. Apalagi pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman lama, sesama psikolog. Uang bukan faktor utama, penghasilan suaminya sebagai manager salah satu perusahaan terkemuka lebih dari cukup. Selama ini, ia lebih banyak menghabiskan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri (terbayang, iklan di surat kabar tadi pagi tentang sale di Metro. Patut dilihat tuh, siapa tahu tas yang diinginkan ikut juga dalam program sale kali ini). Atau membelikan sesuatu bagi anak-anaknya (o, iya, tadi si bungsu Shinta minta dibelikan tiramisu kesukaannya).
“Ibu-ibu, hari ini bu Dinar tidak datang, anaknya masih sakit. Jadi ada 4 file nih, yang harus ditambahkan ke bagiannya ibu-ibu. Bu Tiara tambah satu ya,” suara pak Eko, petugas administrasi membuyarkan lamunannya. “Bu Linda tambah satu lagi ya.” “Bu Ines tambah dua ya.”
“Eh, Eko, jangan….aku. Laporan yang kemarin masih belum selesai lho, jangan dua,” Ines buru-buru mengajukan keberatannya. “Bu Tiara saja tuh tambah dua, laporannya sudah selesai . Ya, Tiara, please…”
”Okey, deh… untuk Ines apa sih yang nggak kulakukan”, sahut Tiara rada-rada menggombal. “Halah, sinetron banget deh,” sahut Ines. “Tapi, makasih ya, Tiara”.

Berkumpul dengan psikolog yang sebagian besar wanita, memang selalu riuh dan menyenangkan. Banyak hal yang bisa dibicarakan bersama, mulai dari urusan anak, masakan, tempat mana yang menjual barang keperluan wanita yang murah meriah sampai urusan yang lebih serius, seperti membahas klien atau kadang-kadang issue-issue penting yang menyangkut negara.

Tiara kemudian tenggelam dengan tugasnya mewawancara klien yang mengikuti seleksi penerimaan karyawan. Adanya tambahan 2 file dari Pak Eko, menjadikan klien yang harus ditangani hari ini menjadi 6 orang. Lumayan juga, harus konsentrasi untuk 6 jam ke depan, mengamati perilaku klien sambil mewawancaranya dan mencatat. Untunglah, hari ini tidak ada klien yang perilakunya luar biasa. Mereka cukup kooperatif dan komunikatif.

Selesai dengan klien ke 4, Tiara memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kepalanya mulai jenuh dan lelah. Perutnya juga mulai lapar. Dia memutuskan untuk berdiri sejenak, mengambil teh dan kue, jatah snack pengasong. Di meja snack, Tiara berpapasan dengan Linda yang juga sedang beristirahat.

“Linda, sakit apa anaknya Dinar? “ Tiara membuka pembicaraan.
“Nggak tahu, minggu lalu sih, anaknya yang bungsu gejala tipus”.
“Terus, anaknya diopname?”
“Kayaknya sih, nggak, berobat jalan saja.”
“Lho, kenapa nggak diopname? Kan bahaya tuh.”
“Tiara, opname itu kan butuh uang. Dan Dinar nggak punya uang untuk membayar biaya opname anaknya.”

Tanpa diminta, Linda lalu bercerita bahwa Dinar menikah dengan duda yang membawa 4 anak. Dari perkawinan ini, Dinar memiliki 2 anak. Suaminya dulu bekerja sebagai General Manager sebuah hotel bintang 5 di Batam. Tetapi karena krisis moneter, maka dia kehilangan pekerjaannya dan sampai sekarang menganggur. Keluarga ini lalu pindah ke Bandung, menempati rumah eyang Dinar, yang kebetulan kosong. Sebetulnya pernah ada beberapa kali tawaran pekerjaan untuk suami Dinar di hotel bintang 3 atau 4, tetapi dia selalu menolak, karena tidak sesuai untuk levelnya. Jadilah, Dinar yang lintang pukang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Bisa dikatakan, Dinar hanya menjadi “week-end mother”, di hari kerja dia berada di Jakarta untuk mengasong.

Terperangah Tiara mendengar cerita Linda. Memang, sudah lama dia tidak berhubungan dengan Dinar. Sejak menikah dan mengikuti suaminya bekerja di pulau seberang, nyaris tidak pernah dia menjalin kontak dengannya. Baru sejak kepindahannya kembali ke Jakarta, beberapa bulan yang lalu, dia bertemu kembali dengan Dinar.

Dinar. Tidak disangka perjalanan hidupnya begitu berat. Ingatannya melayang ke masa-masa mahasiswa. Saat itu, Dinar termasuk salah satu mahasiswa yang tergolong berduit. Betapa tidak, ayahnya salah satu Direktur BUMN yang terkenal gudang uang. Ibunya profesor pendidikan terkenal. Ke kampus, Dinar selalu diantar jemput oleh mobil bersopir. “Geng”nya Dinar adalah kelompok mahasiswa berduit yang hidupnya kelihatan “wah”. Saat itu, Tiara hanya mahasiswa biasa yang naik-turun bis sebagai kendaraan ke kampus. Memang, Tiara tidak terlalu dekat dengan kelompok Dinar, tetapi karena kampus mereka kecil, maka mereka saling kenal.

Hidup manusia memang tidak ada yang dapat menduga, persis seperti roda. Kadang ada di atas, setelah itu bisa berputar ke bawah. Tiara, yang dulu, mahasiswa biasa sekarang hidup berkecukupan, sedang Dinar yang dahulu serba ada, sekarang bahkan untuk biaya opname anak pun tidak ada. Pekerjaan mengasong, yang bagi Tiara hanya pengisi waktu dan penambah uang jajan, bagi Dinar ternyata merupakan sumber nafkah utama. Tidak terbayangkan, bagaimana menghidupi keluarga dengan anak 6 hanya mengandalkan penghasilan mengasong. Tidak heran, bila apa pun yang terjadi, Dinar rela pontang-panting dari satu biro konsultasi ke biro konsultasi lainnya untuk mengejar panggilan wawancara sepanjang minggu. Sudah terbayang, bahwa malam harinya, dengan badan penat setelah seharian menembus kemacetan Jakarta, Dinar masih harus berkutat dengan laporan. Bagi Dinar, tidak ada kata “tidak mood” atau “masih banyak laporan” untuk menolak wawancara. Menolak wawancara, berarti berkurangnya penghasilan.


Sambil kembali ke tempat duduknya, Tiara tidak henti-hentinya mengucapkan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya. Ia bersyukur atas “kemewahan” hidup yang dimiliki. Atas suami baik hati yang bisa memberinya kehidupan yang jauh di atas layak, anak2 yang sehat dan pandai. Tiba-tiba ia merasa sangat kangen kepada suaminya yang sedang berdinas keluar kota. Dirogohnya tas tangannya mengambil telepon genggam, lalu ditekan beberapa nomor. ”Assalamulaikum. Papa? Papa, aku cuma mau bilang, aku sayang sekali sama papa dan bersyukur papa menjadi suamiku”.

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger