Tampilkan postingan dengan label Vini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vini. Tampilkan semua postingan

Prestasi

Senin, 05 Juli 2010

Beberapa detik terpana lihat layar computer, terus mulai mengernyitkan kening sambil berfikir : “apa ya prestasiku saat ini”

Perlu beberapa menit sampai akhirnya aku tulis ‘Juara 1 lomba menggambar tingkat TK se DKI Jakarta’ trus aku kirim ke panitia.

Setelah terkirim aku jadi berfikir, kenapa untuk menulis prestasi terasa sulit ya? Kenapa yang di tulis malah prestasi waktu masih TK? Apa aku sama sekali tidak berprestasi selama ini?

Akhirnya, sambil mendekor kue pesanan orang jam 11 malam, fikiranku melayang-layang. Kenapa sekarang ini sulit membanggakan prestasi yang pernah di raih, apa mungkin karena standar prestasi sudah bergeser, atau mungkin karena Aku sekarang terkena penyakit minder?

Pagi ini aku baca statusnya Lian di FB yang ternyata juga bingung untuk menulis prestasi. Lian ini teman ku di PTB yang sama-sama harus menulis tentang prestasi untuk kepentingan publisitas. Teman-teman yang lain dengan lancar menulis semua prestasinya. Ada yang berprestasi ikut lomba-lomba, ada yang berprestasi di bidang sosial, ada yang berprestasi di karirnya.. loh, aku kok gak berani menulis prestasi yang sudah Aku dapat selama ini.

Jadi sebetulnya, apa sih prestasi itu? Apakah pencapaian yang luar biasa yang sudah dicapai selama ini. Apa betul begitu?

Dan yang segera terbersit dalam fikiran ku adalah “Prestasi, hmm.. kapan ya aku pernah dapat piala atau piagam dalam lomba-lomba?” duh, kok ya kayaknya gak pernah. Apa kerja di perusahaan Jepang selama 5 thn lebih bisa di bilang prestasi? Ah, kayaknya nggak juga, banyak yang sampai belasan atau puluhan tahun malah. Apa menyusui sampai 2 thn bisa di bilang prestasi.. kayaknya juga nggak, karena ada yang bisa memberi ASI anak kembar sampai lebih 2 thn, dan ada juga yang member ASI diumur lebih dari 40thn.

Hadooh, jadi bingung. Apa membuat cake dan memberanikan diri jualan itu bisa di sebut prestasi? Kayaknya banyak yang lebih bagus, malah sampai buka bakery, lah… Akukan hanya bakul kue rumahan saja yang sesekali dapet order.

Semakin lama berfikir semakin aku merasa seperti katak dalam tempurung, sepertinya aku tidak terlalu 'berprestasi'. Padahal selama ini aku sudah sangat berpuas diri, nyaman, bahagia dengan semua pencapaian. Melahirkan anak, berhenti bekerja, mengurus suami, mengurus anak, mengurus rumah dan sekarang mulai mencoba-coba berbisnis kecil-kecilan. Sangat puas.

Tapi, apa itu semua prestasi? Mana pialanya? Mana sertifikatnya? Kata siapa itu prestasi?

Sampai akhirnya, setelah puas bermain-main dengan fikiran didapat kesimpulan bahwa Aku sedang minder secara psikologis.. hah? Minder? Aku? Iya, bener minder.
Sebabnya mungkin sepele, karena fikiran tentang prestasi itu masih seperti waktu muda dulu. Waktu prestasi itu diukur dengan jabatan, dengan piala, dengan nilai akademik. Sekarang, sebagai ibu rumah tangga, ukuran prestasi tentu saja tidak bisa seperti itu. Iya kalau aku rajin ikut lomba-lomba dan menang, kenyataannya aku sudah jarang ikut lomba-lomba. Tidak pernah malah. Aku terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Eh, pernah deh ikut lomba tangkep belut dan menjadi juara ke 3 waktu 17-an di Taman Kota ha..ha..ha..
Eniwey, sepertinya aku juga terjangkit ‘Penyakit ibu rumah tangga pada umumnya’ yaitu - mengutip kata Bu Winny – profesi sebagai ibu rumah tangga dirasa gak keren, gak membanggakan dan biasa-biasa saja. Dan keberhasilan membuat anak-anak sehat, terawat, lincah, pinter atau membuat rumah terlihat nyaman dan enak ditinggali itu semua dianggap sepele dan bukan prestasi. Di KTP saja ditulis Pekerjaan : Nurut Suami.. laahh.. pelecehan, emang kita gak ada kerjaan apa ikut-ikut suami?
Dan penyakit ini bisa semakin parah bila ibu rumah tangga seperti ku mulai melirik-lirik prestasinya teman yang mulai naik jabatan ini dan itu .. hadooohhh.. semakin terpuruk saja. La wong profesi ibu rumah tangga itu gak bakalan naik jabatan, sudah mentok tok di level itu saja.

Tapi, syukur alhamdulillah penyakit kronis itu segera pergi dari fikiran ku bersamaan dengan selesainya menghias cake pesanan orang.
Kesimpulannya prestasi seseorang itu gak bisa lagi dilihat dari banyaknya piala yang didapat, banyaknya sertifikat yang dihasilkan atau tingginya jabatan dikantor karena prestasi itu bisa juga berarti keberhasilan untuk bisa berbagi dengan sesama, bisa berguna untuk lingkungan atau bisa membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Akhir kata, sekarang dengan berbangga hati aku bisa menulis prestasi untuk diserahkan kepanitia sebagai berikut :

1. Menjadi pemilik Rumah Teladan Se-Komplek taman Kota Bekasi, tahun 2008
2. Memutuskan untuk berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya
3. Membuat cerpen dan membacakannya di acara HUT PWP tahun 2010
4. Menjadi pemilik, pengelola, pemegang saham, karyawan dan kurir Vini’s Cakery & Chocolate

Cukup berprestasi bukan? ^^v

Sebuah Cerita Cinta

Jumat, 28 Mei 2010

Sebuah Cerita Cinta
Oleh : Hasviniyanti

Putri Duyung Cottage, Ancol 23.55 WIB
Acara makan malam family gathering dari beberapa orang sahabat karib.

“Uggh, Aku bosen. Kalau saja aku punya pacar, aku tidak akan merasa kesepian seperti sekarang” desah Riana sambil melirik Rizky yang duduk di seberangnya.

“Tinggal kita berdua ya?” jawab Rizky sambil tersenyum.

Riana menyambutnya dengan senyum pahit, dia mengerti betul maksud Rizky. Hanya mereka berdua dari geng ‘Sendal Jepit’, geng masa mereka kuliah dulu, yang masih single. Mereka terdiam sesaat memperhatikan teman-teman yang lain bersuka cita dan bercengkrama dengan pasangan dan anak-anak mereka.

“Gimana kalau kita coba berpacaran?” celetuk Riana tiba-tiba.

“Pacaran gimana sih?” tanya Rizky

“Yaa.. pacaran-pacaran.. kita berdua.. Cuma hmmm 1 bulan saja lah, 30 hari.. aku hanya ingin ngerasain punya pacar..males jomblo melulu” lanjut Riana santai

“Hhmm..” Rizky tampak mengernyitkan kening.

”Ayolaahh.. rese lo… gak seburuk itu kok pacaran sama aku..” desak Riana

“Iya, sih iyaa… tapiiiiiiii…”

“Hanya 30 hari Ky, setelah itu kamu bebas tebar pesona lagi deh, gimana?” potong Riana cepat

“Hhmm boleh juga” jawab Rizky beberapa saat kemudian.

“Ugh, kok kedengarannya gak semangat banget sih? Semangat dong… semangat … mauuu gaakk?” desak Riana lagi, Rizky akhirnya mengangguk setengah hati. “ Siippp..” Riana melonjak senang, “Hari ini resmi jadi hari jadian kita ha..ha..ha.. “ Riana tertawa gembira “hayo kita salaman..” lanjut Riana riang sambil mengulurkan tangannya

“Sinting kamu…” seru Rizky akhirnya ikutan geli sambil menyambut uluran tangan Riana, mereka lalu berjabat tangan sambil tertawa

“30 hari” kata Riana dengan senyum lebar

“30 hari” jawab Rizky.

Hari kedua
Hari ini pertamakali Rizky menjemput Riana dikantornya di bilangan Rasuna Said, mereka makan malam bersama di Soto Gubrak Casablanca, Riana memilih tempat ini karena dia suka dengan sensasi tergaget-kaget tiap mendengar gubrakan keras dari pelayan ditempat itu. Setelah kenyang mereka lalu sepakat pergi nonton di TIM.

Hari ketiga
Mereka datang keacara ulang tahun teman kantor Riana, seisi kantor heboh, termasuk boss Jepangnya Riana, karena Riana datang bersama Rizky, maklum Riana termasuk dari Senior Marketing yang masih betah menjadi single di kantornya. Sang boss berkali-kali menggoda Riana dan Rizky

Hari ketujuh
Rizky mengajak Riana menjenguk temannya yang baru melahirkan, bersama-sama mereka memilih kado perlengkapan bayi, sambil mereka berjalan-jalan cuci mata di sebuah mall. Hari ini pertama kali mereka bergandengan tangan, dan pada saat pulang Rizky membelikan bross cantik warna ungu untuk Riana.

Hari kesepuluh
Mereka menghabiskan waktu di Dufan, 2x naik Halilintar, 2x naik niagara sampai basah kuyup, 3x naik kora-kora sampai Rizky hampir muntah, kemudian mereka masuk ke Istana Boneka dan membeli kapas permen yang berwarna pink. Mereka tertawa-tawa bersama dan berbagi botol minuman. Sore hari waktu mereka naik diatas bianglala mereka berciuman, ciuman pertama mereka.

Hari ke duapuluh sembilan
Riana menyarankan agar mereka kembali menghabiskan waktu dengan pergi ke pantai. Dan mereka kembali kepantai favorit mereka, Ancol. Duduk di tepinya menatap matahari yang mulai tenggelam sambil berpelukan dan berpegangan tangan.

18:23
Riana: “Aku haus Ky”
Rizky:” Tunggu sebentar ya, aku beli minum, mau minum apa?”
Riana: “Air mineral aja deh..”

18:43
Riana menunggu sekitar 20 menit, Rizky belum juga datang. Lalu seorang pemuda, salah satu penjaja tiker dipantai itu mendekatinya dengan tergesa-gesa.
Pemuda: “Apakah kamu menunggu seseorang?”
Riana: “Ya, kenapa?”
Pemuda: “Baru saja ada orang tertabrak mobil di jalan sana, aku kira dia teman kamu”
Riana segera berlari dan melihat Rizky terbaring di jalan dengan bersimbah darah di wajahnya, sebotol air mineral masih berada dalam genggamannya. Ambulans segera datang dan membawa mereka berdua kerumah sakit terdekat. Riana duduk di luar ruang gawat darurat selama lima setengah jam.

23:51
Seorang dokter akhirnya keluar dari ruang gawat darurat, dokter itu menyerahkan sepucuk surat kepada Riana
Dokter : ”Kami menemukan ini di kantong bajunya”
Riana : “Bagaimana keadaannya dok?”
Dokter : “Saya minta maaf, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa. Temanmu masih bernafas sekarang, tapi tidak akan bertahan lebih lama”
Riana segera berlari masuk ke ruangan untuk melihat Rizky. Dia tampak lemah dan masih belum sadar, darah diwajahnya sudah dibersihkan. Riana membuka surat itu, membacanya dan kemudian ia menangis tersedu-sedu.
Ini adalah isi suratnya :

Yang tersayang Rianaku,
30 hari kita hampir berakhir, aku ingin kamu tahu bahawa aku sangat menikmati setiap saat bersama kamu. Aku terlambat menyadari bahwa kamu selain cantik ternyata juga sangat menyenangkan, walaupun ya, kadang-kadang kamu sangat keras kepala, manja, kekanak-kanakan, punya selera aneh dan sinting, tapi semua itu memberi warna dalam hidupku yang monoton. Dan aku sangat ingin 30 hari ini bisa di perpanjang. Aku cinta kamu Riana, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu selamanya.

23:58
Riana: ”Rizky, aku juga cinta kamu.. tahu kah kamu, aku membuat permainan ini hanya agar aku bisa selalu dekat denganmu” Riana kembali tersedu-sedu “Aku cinta kamu Rizky.. aku CINTA KAMU ayoo bangun Rizky.. BANGUN…. lihat aku Rizky.. LIHAT AKU.. LIHAT AKU…!!”

Ketika jam berdentang 12 kali, jantung Rizky berhenti berdetak.
Itu adalah hari ke 30 mereka.

“Katakan cinta pada orang yang kamu cintai, karena kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari”

------ TAMAT ---------

Di Jahit?

Selasa, 04 Mei 2010

Pagi ini rencananya Aku dan suami mau anter Akas (kakek dalam bahasa Palembang) untuk periksa darah rutin di dokter klinik kecil dekat rumah. Siangnya mau juga mau ambil paspor-ku di Jatinegara. Karena besok kita sekeluarga mau ke Bandung, biar suster Siti (pengasuhnya Arka & Argi) dan anak-anak dirumah Akas saja sambil mempersiapkan baju-baju dan perbekalan untuk ke Bandung.

Di klinik ternyata sudah ada beberapa pasien, jadi kita duduk-duduk untuk antri dulu. Begitu dipanggil, karena penglihatan Akas sudah mulai berkurang kita semua ikutan masuk ke dalam ruang praktek untuk bantu Akas. Didalam Akas mulai bertanya ini dan itu sambil dicek oleh dokter. Lagi asik-asik konsultasi tiba-tiba ada suara rebut-ribut diluar ruangan dan tiba-tiba braakkk..! Pintu ruangan terbuka, masuk suster Siti sambil gendong dede Argi, aku terlonjak, kaget banget.

Ada apa?!

Lebih kaget lagi waktu aku lihat dari lutut dede Argi menetes-netes darah merah segar kelantai.

Dede Argi terlihat pucat, suster terlihat ketakutan

"Ibuu.. dede Arginya jatuh..!" itu saja yang berhasil aku dengar dari saura suster Siti. Selebihnya aku konsentrasi dengan luka yang menganga di lutut dede Argi.

Dede Argi langsung aku peluk, dan aku baringkan di tempat tidur praktek dokter. Ruangan dokter ini langsung terasa sesak dan penuh aroma panik. Aku yang panik maksudnya.

Karena ini klinik kecil, dokternyapun dokter muda, yang baru lulus, adoooh, begitu lihat luka dede yang menganga lebar aku lihat tangan dokternya gemeteran dan beliau bilang "ini lukanya harus dijahit bu" dengan nada tidak meyakinkan.

Huuu..huuu..hu... dede Argi mulai nangis

Aku mulai panik, cemas, cemas karena luka di lututu dede Argi yang mengeluarkan darah dan cemas karena gak terlalu yakin dengan dokter muda ini. Aku lirik suamiku, ia juga terlihat cemas. Akas juga terlihat gelisah, mungkin akan ikutan panik bila melihat luka dilutut dede Argi yang menganga lebar dan mengucurkan darah segar. Ya sudah, apapun yang terbaik.. bismillah.. la haula walakuata illabila.

Dokter muda itu mulai membersihkan luka dede Argi "aduuhhhh... ADDDUUUUHHH... SAKIIITTT DOKTERRR" begitu teriak dede Argi setiap dokter mengoleskan cairan berwarna kuning kelukanya.

Kaki dede Argi yang meronta-ronta ditahan oleh suamiku dan satu orang suster laki-laki. Selesai dibersihkan, dokter muda itu mulai menjahit lukanya. Aku lihat jarum yang dipakai adalah jarum panjang dengan ujung seperti kail di pancing ikan.

"HOOOOOOOOOOO.. SUUUUDAAAAAAHHHHHHHHHHHHH...!!!!!!!" teriak dede histeris, satu jarum jahitnya menembus kulit. Aku peluk dede Argi sambil ajak ngobrol

“Dede tadi makan apa?” tanyaku lembut dengan suara ditenang-tenangkan.

“Makan mie Bunda” jawab dede Argi dengan suara lemah, wajah penuh keringat dan air mata, aku lap keringatnya dengan tissue

Tiba-tiba..

"SUUUUUUUUUUUUUDAAAAAAAAAAHHHHHHHHH JANJIII YAA DOKTER, SUDAAAAAHHHH... SAKIIITTTT" teriak dede Argi keras, satu jarum menembus kulitnya lagi, baru berhasil satu jahitan dan dede Argi kembali meronta-ronta.

Aku lemes, ingin nangis juga.. luka di lutut dede Argi masih mengeluarkan darah. Dokter lalu menyiram luka itu dengan cairan kuning lagi, mungkin betadine.. dede Argi langsung menjerit "AAAAAAAAAAWWWWWWWWWWWWW.. SUUUUUUUUDAAAAAAAAHHHHHH!!!!!! DOKTEERRRRRR!!!" tapi belum selesai, masih lebar luka di lututnya.

"SUUUUUUDAAAAHHH...HUUUU...HUUUUU...HUUUU... AAAAHHHHH...SUUUDAAHHH!!" masih teriak histeris dede Arginya tiap kali jarum ditangan dokter itu menembus kulitnya.

Aku langsung tanya kedokternya dengan nada tinggi satu oktaf "dibius gak sih dok? kok anak saya masih kesakitan?!"

Entah dokternya jawab apa, karena tertutup dengan teriakan dede Argi lagi.

Tapi iya sih.. mungkin sudah dibius karena aku lihat dokternya tadi sudah suntik dede Argi. Bismillah, aku percaya saja.

Dede Argi kembali menjerit-jerit kesakitan "SUUUUUDAAHHH... SAKIITTTT... SAKKKIIIITTTT..." dan selalu aku hanya bisa elus-elus rambut dede Argi, peluk dede Argi, hapus air matanya, hapus keringetnya... dan berjanji setelah semua selesai akan membelikan dede Argi es krim strawberry kesukaannya.

"OOOOWWW OOOWWW SAKIIITT DOKTERRRRR... SUUUDAAAAHHHHHHH!!"

Setelah beberapa saat yang penuh emosi, akhirnya selesai juga sang dokter menjahit lutut dede. Dede Argipun tertidur kecapek-an. Tidak kurang dari 8 jahitan menghiasi lututnya, berarti 16 tusukan jarum dan 16 kali lebih dede Argi menjerit kesakitan :”(

Aku sedih sekali.

Sampai dirumah Akas, mas Arka menyambut kami dengan cemas.

“Bunda, dede Argi jatoh, tadi darahnya banyak, disini.. disini dan disini.. semua ada darahnya dede Argi” begitu lapornya sambil menunjukkan tempat-tempat tetesan darahnya dede Argi. Wah, ternyata banyak juga tempat tetesan darahnya.

“Sekarang dede Arginya tidur ya Bunda?” tanyanya lagi sambil melihat dede Argi yang masih tertidur dipelukan Ayahnya.

“Iya” jawabku pelan, takut dede Arginya terbangun.

“Tadi mas Arka takut Bunda, takut dede Arginya mati, mas Arka tadi berdoa ke Allah, semoga darah dede Argi gak keluar banyak, semoga dede Argi ketemu Bunda” hiks, aku jadi terharu mendengarnya, langsung aku peluk mas Arka.

“Terima kasih ya mas, karena doa mas Arka jadinya Bunda bisa ketemu dede Argi, jadi dede Argi gak ketakutan” aku tersenyum dan bersyukur dalam hati mempunyai mas Arka yang sayang adiknya.

“Tadi dede diobatin apa Bunda?” tanyanya lagi sambil melihat lutut dede Arginya yang di perban.

“Oo.. dede Argi dijahit lukanya oleh dokter, supaya lukanya rapet dan darahnya gak keluar lagi” jelasku sambil mengelus-elus rambut mas Arka

“Dijahit gimana Bunda?”

“Dijahit seperti jahit baju, pakai jarum dan benang” jawabku lagi

“Sakit gak? Dede Argi nangis gak Bunda?” mas Arkanya meringis ngeri mendengar
penjelasanku.

Tiba-tiba dede Arginya terbangun “Bunda..” panggilnya, matanya sembab bekas menangis tapi bibirnya tersenyum gembira melihat mas Arka.

“Iya dek” jawabku. Mas Arka langsung loncat ketempat tidur dan cium pipi adeknya. Adek Argi-pun tersenyum senang.

“Tadi dijahit ya dek lututnya?” tanya mas Arka dengan mimik khawatir sambil memperhatikan lutut dede Argi. Dede Arginya mengangguk sambil menunjuk lututnya.

"delapan jahitan mas" begitu jawabnya

“Sakit gak dek?”

“Gak sakit, enaaakkk, cuman sakit sedikit…” jawab dede Argi dengan mimik lucu dan
tersenyum lebar, lalu dede Argi melanjutkan ucapannya sambil menoleh kearahku "mana es klim stobely-nya Bunda?"

oalaaa dede Argiii………

Menyambut tamu agung

Senin, 22 Maret 2010

Oleh : Hasviniyanti

Brak-bruk.. gedebak gedebuk.. sreng-sreng..

Begitu kesibukan didapur Riana pagi ini, hari ini hari yang istimewa, mertuanya akan datang berkunjung. Wah, dari kemarin Riana juga sudah sibuk membersihkan rumah. Kamar tamu yang biasanya jadi gudang tempat barang-barang juga sudah disulap menjadi kamar yang nyaman. Bahkan Riana sengaja membeli seprei baru, warna hijau toska kesukaan sang ibu mertua.

Pokoknya Riana sudah heboh sendiri, maklum, sebagai menantu, Riana ingin menunjukkan yang terbaik dihadapan mertuanya. Saking ingin di bilang menantu yang baik dalam seminggu ini Riana sudah 3x inspeksi keliling rumah, menyikat semua yang perlu disikat, lantai kamar mandi, lantai dapur, lantai serambi, lantai dapur, pot-pot bunga, bahkan jendela-jendela juga ikut disikat sampai bersih. Kalau si sikat bisa bicara mungkin dia akan ngadu ke komnas HAM karena dalam seminggu ini sudah di perbudak oleh Riana diluar batas.

Didapur, Rianapun sudah mulai sibuk.

Rencana awal dia ingin membuat Cake Special Cokelat Keju nan lembut membelai lidah dan Pudding busa dua warna untuk cemilannya. Sebagai main course rencananya akan membuat Udang saos padang, Sop Kimlo, sambel kentang, krupuk udang dan sebagai penutup sudah disiapkan dari kemarin rujak serut andalannya. Lengkap dan mantap.

Tapi itu rencana awal, karena ternyata hasil cakenya tidak seperti yang diharapkan. Cake yang pertama mempis dan bantat dengan sukses. Entah kenapa, padahal resep sudah dibaca dengan teliti, bahan-bahan sudah di timbang dengan akurat dan step by step membuat cake serta tips anti gagal yang dia dapat dari majalah pun sudah hatam dipelototin dan dibacanya. Tidak putus asa, Rianapun mencoba bikin kembali cake cokelat keju impiannya itu. Olalaalla… ternyata hasilnya masih tidak memuaskan, cake ini tidak bantat, tapi tengahnya masih lembek. Aduh…

Akhirnya terburu-buru Riana & suaminya naik motor berangkat kepasar untuk membeli susu kaleng, misis, dan cup kertas kecil. Sampai dirumah dengan perasaan gemas Riana dibantu oleh suaminya tercinta mengaduk-ngaduk dua cake gagal tadi. Diberi susu kental manis cokelat lalu di bentuk bulat-bulat sebesar kelereng, diguling-gulingkan diatas misis warna-warni , diletakkan diatas cup kertas warna merah dan voila… jadilah cake keju bola-bola misis.. ^^

Selesai dengan urusan cake, sekarang Riana beralih ke maincoursenya.
Udang sudah dibersihkan, bahan-bahan lain sudah disiapkan. Sekarang tinggal cemplung dan aduk-aduk saja tiba-tiba.. kriiiingggg…………… wah, ternyata bossnya Riana telpon dari kantor bertanya tentang laporan keuangan yang dibuat oleh Riana.

45 menit habis dipakai Riana untuk menjelaskan laporan keuangan kepada bossnya.

Tapi syukur alhamdulillah Udang saos padang, sambel kentang dan sop Kimlo akhirnya jadi juga.
Sementara itu waktu menunjukkan pukul 11 siang, sebentar lagi mertua tersayang akan datang.
Riana segera berganti pakaian dan berdandan secantik mungkin, ia ingin terlihat segar dihadapan mertuanya nanti.

Tiiinn.. tiinn.. begitu bunyi klakson mobil didepan rumah, ternyata tamu agung yang di tunggu-tunggu sudah datang. Dengan suka cita Riana dan suami menyambutnya. Ternyata pak de dan bude juga ikut datang berkunjung. Waahh.. rumah Riana langsung ramai. Ibu mertua dan bude memuji Riana yang terlihat cantik dan bude juga mengagumi bunga anggrek di taman Riana. Bapak mertua memuji cake bola-bola misisnya Riana dan pudingnya yang lembut. Wah, Riana senang sekali. Mereka berbincang-bincang dengan riang gembira.

Jam menunjukkan pukul 12 siang. Riana segera mempersilahkan tamu agungnya untuk makan siang. Maka mereka langsung pindah lokasi menuju ruang makan dan duduk mengelilingi meja.
Diatas meja sudah tersedia lauk-pauk buatan Riana yang terlihat sangat menggiurkan.

“Ayo pak dimulai” begitu kata Riana kepada bapak mertuanya.
Bapak mertua membuka ricecooker untuk mengambil nasi dan tiba-tiba beliau berdehem

”eheehmm..” sambil menutup kembali ricecookernya.

“lho, pak, tidak jadi makan?” tanya Riana heran.

“eennggg…. nduk, nasine belum ada…” ujarnya kalem.

Gubraakkkk… olaaa..laaa….. ternyata Riana lupa masak nasi!!

---- TAMAT ---

29 Bulan Menyusui Argi

Kamis, 05 Juni 2008

Sudah 3 Minggu Argi berhenti menyusui. Iya, 3 Minggu!!

Hebatkan? Tanpa jamu-jamu, tanpa lipstick, tanpa obat-obatan pahit, alhamdulillah semua berjalan dengan indah dan manis.

Masih teringat 29 bulan yang lalu, waktu Argi baru lahir dan aku bersusah payah mencoba memberikan ASI. Saat itu aku bertekad akan memberikan ASI karena aku tidak ingin kesalahanku waktu Arka lahir terulang kembali, waktu itu aku hanya memberikan ASI ke Arka sekitar 2 bln saja karena maaf ’puting-ku’ datar dan kesibukan kerja, hiks, alasan klise yang sungguh-sungguh sangat amat aku sesali sampai detik ini.

Masalah ’puting datar’ternyata bisa diatasi, hanya perlu kesabaran, ketelatenan dan sekali lagi kesabaran.

Dulu aku ingat, waktu anak pertamaku, Arka, lahir, susah sekali memberikan ASI secara langsung, iya laahh, dengan ’puting datar’ proses menyusui sama sekali tidak berjalan lancar. Arka menangis terus kelaparan dan aku, sebagai ibu baru sangat panik melihatnya. Alhasil aku ambil jalan pintas dengan memberinya susu formula, jadi ASI perah plus sufor, haduuhhh.. kesalahan fatal yang tidak mau aku ulangi lagi. Akibat kesalahan itu Arka jadi gampang sakit hiks hiks.. gampaaang banget tertular penyakit-penyakit temannya dan parahnya lagi diusia 6 bln arka di opname karena pencernaannya terganggu (mungkin botol susu dan perlengkapan menyusu lainnya kurang hiegenis, padahal aku wanti-wanti banget lho masalah kebersihan, teuteup aja kecolongan) aduuhh.. sedih banget deh kalo inget ini, aku merasa penyesalanku ini bakalan aku bawa seumur hidup nih.. :'(

Belajar dari pengalaman itu, begitu Argi lahir, aku bertekad bulat, sesusah apapun proses menyusui yang harus aku hadapi, Argi HARUS aku berikan ASI tok minimal 6 bln! Mulai deh dari waktu hamil aku rajin membaca-baca artikel-artikel tentang cara-cara menyusui, tentang proses menyusui, tentang kendala-kendala selama menyusui, tanya sana-sini dan aku rajin pijat payudara.

Ternyata tetap saja, proses menyusui yang bagi ibu-ibu lain mudah dan alamiah, bagiku sulit luar biasa. Di bulan-bulan pertama setiap mau mulai menyusui aku harus menarik-narik putingku dengan alat darurat berupa alat suntik yang jarumnya sudah dibuang, aduuhhh... sakitnya sangat luar biasa. Setelah sekian jam menahan sakit, alhamdulillah akhirnya berhasil, horrreee!!!

Putingku bisa keluar dan Argi bisa menyusui langsung walaupun tetap dengan susah payah karena sering terlepas. Baru beberapa tegukan lepas, beberapa tegukan lepas sedih banget, sampai keringet dingin aku menyusuinya. Argipun beberapa kali menangis menjerit-jerit karena terlepas terus. Tapi aku tidak putus asa, aku coba terus dan terus dan terus sampai akhirnya kami berdua merasa nyaman dan proses menyusui berjalan dengan lancar. Fiuuhh...

Satu masalah teratasi timbul masalah lain, saat usia Argi 8 bln payudaraku bengkak, bernanah dan berdarah! (Mungkin karena Argi mulai tumbuh gigi jadi suka digigit-gigit). Aku jadi ngeri setiap melihat Argi membuka mulut mulai menangis mau menyusu. Kata beberapa teman ”sudah deh, disapih aja, toh udah lewat 6 bulan” Tapi aku tidak tega mendengar tangisannya, jadi walaupun terasa sangat perih dan sakit aku tetap menyusuinya. Alhamdulillah hanya 2 hari rasa sakit itu, iya, hanya 2 hari kok, setelah itu baik sendiri. Aku baca di sebuah artikel, ternyata keputusanku untuk tetap memberinya ASI sangat tepat karena obat untuk iritasi atau luka yaa ASI itu sendiri dan air liurnya Argi.

Dan datanglah saat usia Argi 2 tahun, banyak kerabat, teman dan sahabat yang mempertanyakan keputusanku belum menyapih Argi. Katanya nanti jadi manja lah, jadi gak mandiri, jadi cengeng aku sempet khawatir juga di sugesti banyak orang tapi aku keukeuh ingin seperti mbak Luluk yang bisa menyapih dengan penuh cinta. No way deh obat-obatan pahit atau lipstik dipayudara. Biar saja nanti Argi yang memutuskan sendiri kapan dia mau berhenti menyusu.

Tetapi mulai aku juga mulai mengurangi frekuensi pemberian ASI ke Argi, aku tidak lagi menawarkan ASI ke Argi tapi kalau Argi mau ASI aku kasih, itu saja yang aku terapkan. Perlahan-lahan frekuensi menyusu Argi semakin berkurang kok, dari 4x sehari, 3x, 2x pagi dan sore, 1x dan akhirnya tidak sama sekali. triknya begini, kalau mendekati jadwalnya Argi menyusu aku buru-buru cari kesibukan, baca bukulah, bernyanyi, main game, mewarnai atau makan makanan kesukaannya pokoknya sampai Argi lupa dengan ritual menyusunya. Akhirnya pada suatu saat, tepatnya dimulai 3 minggu yang lalu, Argi malam-malam bangun karena haus, bangunnya setengah sadar lalu ngomong " Bunda Bunda dede mau nenen, eh, dede salah, dede mau minum aja..” He..he..he... aku kaget dan takjub waahhh... hebat, lalu aku segera ambil segelas air untuk minum dan plek Argi tidur lagi dengan nyenyaknya.

Dan akhirnya, sudah 3 Minggu ini Argi no ASI lho, katanya tadi siang, ”Dede gak nenen Bunda lagi, dede seperti mas” maksudnya Dede Argi mau seperti mas Arka, tidak nenen lagi. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, senangnya aku mendengar kata-kata itu. Sekarang aku bisa tersenyum bahagia, lihatkan, proses menyapih bisa berlangsung dengan sangat sangat indah...

Mmuahh, sun sayang buat Argi.

Dengan penuh cinta,
Vini
Bundanya Arka dan Argi
(terimakasih buat mbak Luluk karena artikelnya yang berjudul ‘Menyapih dengan cinta’ memberikan aku inspirasi untuk ikutan menyapih Argi dengan cinta)

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger