Tampilkan postingan dengan label Amilia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amilia. Tampilkan semua postingan

CERITA BUAT TEMAN (kisah perjalanan dari desa kelahiran)

Kamis, 13 Januari 2011

seorang laki2tua berniat mengantar istrinya yg juga sdh tua pergi ke pasar.Dengan motornya dia yakin akan bisa menemani sang istri tercinta. Diperjalanan menuju pasar yg jauhnya sekitar 8 km ada seorang polisi mengayun ayunkan tangannya,lalu pengendara motor yg sedang lewat akan berhenti termasuk laki2 tua tadi. Sejenak pak polisi pun mengamati lalu mempersilahkan laki2tua itu utk melanjutkan perjalanannya,saat itulah dia langsung memacu gas motornya tanpa sadar bhw istrinya blm siap di boncengan itu,meski jalan motornya tdk cepat tapi tentu saja si istri tdk bisa dgn cekatan utk naik di boncengan motornya,&si istri makin jauh ditinggalkannya. Setelah bbrp waktu laki2tua itupun smp dipasar,&dia masih blm sadar bhw istrinya sdh dia tinggal. Setelah bbrp jam menunggu laki2 tua itu merasa kepanasan di atas motornya,lalu diapun mulai merasa aneh&bertanya2,kenapa istrinya belanja koq lama sekali ? Kegelisahannya itu tidak luput dari perhatian tukang parkir ,lalu si tukang parkir itupun berkata ''pak,motornya ditinggal aja,biar jadi tangggung jawab saya'' tukang parkir ini berpikir bpk tua itu gelisah krn kepanasan diatas motornya,&yg jadi pertanyaan si tukang parkir pula ,knp bpk tua itu tdk juga meninggalkan motornya setelah hampir berjam2datang kepasar ini? , belum selesai rasa penasarannya si bpk tua itupun menjawab ''aku ini nunggu istriku dari tadi belanja koq ga selesai2,apa yg dia beli ya?mau satu pasar mungkin dia beli?'' laki2tua itu pun berkata dengan agak kesal,&situkang parkir jadi makin kebingungan sambil berkata ''pak,tadi bpk ga bonceng siapa2,bpk datang ke pasar sendiri,istri bpk yg mana?'',lalu si bpk tua itupun kaget,bingung,panik,&dia balik bertanya lagi ''apa benar sy sendirian? Ga ada istri saya di boncengan ini?'' tukang parkir pun menjawab kembali ''ya pak,bpk sendirian ke sini'' lalu bpk tua itu makin bingung,sambil berpikir dimana istriku? Dan dengan tenaga tuanya diapun bergegas naik ke motornya utk kembali ke rumahnya... Teman,dari setiap kalimat yang akan aku ceritakan ini kuharap bisa menjadikan pelajaran hidup yg berarti buatmu, Meski tulisan ini tak seindah tulisan pujangga namun ini merupakan tulisan yg aku harap bisa menjadi pelajaran buatmu,ku rangkai kalimat ini sbg oleh2untukmu dari perjalanan ku menuju desa tempat kelahiranku. Desaku ada di ujung timur pulau Jawa,desa yg dulu penuh dengan tanaman,desa yg bersih,yg sejuk..namun ternyata sekarang tidak lagi bisa kutemukan itu,krn sawah yg hijau telah berganti dengan gedung2,pantai yg bersih dgn pasirnya yg alami,sekarang telah kehitaman. Tujuanku datang ke tanah kelahiranku adalah untuk ikut berduka cita atas meninggalnya pakde ku. Sedih memang,krn sebelumnya akupun telah kehilangan mbahputriku. Sekarang dihadapanku yang ada hanyalah 2 nisan, yang tentu tak kan lagi dapat ku lihat raganya. Pakdeku entah berapa lama pastinya aku tdk pernah bertemu beliau,mungkin sudah belasan atau bahkan puluhan tahun,sedangkan mbahputriku aku terakhir bertemu sekitar th 2000an..,&laki2 tua yang aku ceritakan tadi adalah pakde ku,sampai akhir menjelang ajalnya diapun masih mengantar budeku ke pasar,usianya sdh 83 th. Saat aku di depan nisannya keharuan memenuhi seluruh rongga dadaku,cerita2 lucu yg aku dengar dari budeku seperti kejadian diawal tulisan ini makin membuat ku terharu..,didepan nisannya aku hanya bisa berdoa,semoga Allah mengampuni semua dosa2nya,melapangkan kuburnya,&menempatkan orang yang aku cintai ini ditempat yang mulia disisiNya..,di depan pusara mbahputri&pakde ku aku sangat merasa kehilangan,masa kecil ku memang tidak lama di desaku,krn orangtuaku pindah tugas di kota,tapi dulu tiap lebaran kami selalu berkunjung ke desa ini,namun setelah aku menikah tdk lagi aku jalani''ritual''pulang ke desa..,&akhirnya saat ini aku datang kembali. Ketika semuanya sudah berubah,ketika alam desaku tak secantik dulu lagi,ketika orang2yang aku cintai satu persatu telah dipanggilNya..Ya Allah aku mohon Engkau mengampuni ku..&semoga Engkau jadikan semua ini adalah kebaikan bagiku,juga bagi orang2yang aku cintai..pada akhirnya semua akan menjadi sebuah cerita untuk bisa dikenang...

sewu siji..

Kamis, 04 November 2010

aku ga mau kamu marah..
aku ga mau kamu sedih ...
aku ga mau kamu benci..
aku ga mau kamu keqi..

seliran mu selalu ada di hatiku..
senyumanmu selalu ada di benak ku..
sekelibat bayangmu ada di hari hari ku..
setiap menit aku makin butuh dirimu..

karena aku yakin tak ada yang bisa menyamaimu..
sewu ..cuma siji ya dirimu..

sentuhan mu

ketika pagi..
kau sentuh aku..
ketika siang...
kau sentuh aku..
ketika malam...
aku pun berharap kau sentuh aku...

Tuhan...
sentuhaMu membuat aku tersadar..
akan rapuh dan kecilnya diriku..
Tuhan...
sentuhanMu membuat aku miris...
akan apa yg telah terjadi,
di sekelilingku..
di tanah airku..
di pelosok negeriku..

Tuhan....
tetap beri kami kekuatan..
karena tak layak bagi kami untuk terus hidup..
bila tanpa kasih sayang yang telah KAU ajarkan..

Tuhan...
maka sentuhlah kami dengan kelembutan MU
di tiap nafas ragaku...
sampai ajal menutup semua keinginanku..

Persinggahan Terakhir

Jumat, 08 Oktober 2010

Oleh : Amilia Ila

Braaakkkk...! pintu ruang tamu berbunyi keras. "Assalamualaikum...!" terdengar suara berat tapi nyaring dari arah ruang tamu kami yang tidak terlalu besar tapi cukup indah bagi kami. "Waalaikumsalam....'' aku menjawab dengan semangat sambil berjalan ke arah pintu.Pintu ruang tamu rumah kami ini memang sudah seharusnya diperbaiki, dan aku sudah beberapa kali meminta Pak Lan untuk memperbaikinya, tapi karena dia sedang sakit jadi aku harus sabar menunggu Pak Lan datang. Pak Lan memang kepercayaan keluargaku sejak aku masih remaja.
''Jaman sekarang susah cari orang yang bisa dipercaya, Pak Lan bisa diandalkan Rury" ibuku selalu berpesan itu padaku, dan pikirku ga ada salahnya untuk sabar menunggu sampai Pak Lan sembuh dari fluenya .

Aku adalah seorang ibu yang bekerja di dinas pemerintah kota, suamiku bekerja membuka wirausaha advertising sebagai bisnis keluarganya yang sudah berjalan beberapa tahun, dan anak semata wayang kami sungguh luar biasa, kegiatannya sangat menyita waktunya untuk bisa bertemu dengan kami berdua. Ada rasa bangga padanya, karena laki laki kecilku, begitu kami menyebutnya sudah mulai tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Dewasa? Ah.. sepertinya tidak begitu adanya, usianya baru menginjak angka 13 th bulan ini.

''Capek nak? Buka kaos kakimu lalu ganti bajumu dan jangan lupa cuci tangan ya..," kalimat itu selalu saja terucap saat menyambut kedatangannya.Dan dia sama sekali tidak protes bila aku menyuruhnya begitu. Bila kuperhatikan anak semata wayangku itu sekarang sudah mulai berubah, baik penampilannya, & fisiknya yang terus tumbuh, serta wajah tampannya mulai terlihat makin memancar, mungkin karena sekarang dia benar benar memperhatikan penampilannya. Sebentar lagi dia pasti jadi incaran gadis-gadis belia seusianya, saat ini saja dia banyak bercerita soal teman ceweknya yang berusaha mencari perhatiannya. Mengingat itu aku senyum-senyum sendiri. Hari-harinya selalu diisi dengan kesibukannya menjadi seorang siswa di salah satu SMP favorit di kota kami, belum lagi kegilaannya pada olah raga sepak bola benar-benar menyita waktunya.

"Ibu masak apa nih?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku tentang dia. Sambil berjalan mengganti bajunya dia menuju meja makan kami yang juga tak terlalu besar.
"Ayam goreng dan sambal terasi!" teriaknya kegirangan. Itulah laki laki kecilku, makanan kesukaannya tetap ayam goreng.
"Hey jangan lupa makan sayurnya ya, biar tubuhmu itu sehat nanti main bolanya jadi makin kuat!" dan selalu saja aku mengingatkannya untuk makan sayur.
"Iya...ibu...," jawabnya menggodaku dan aku temani dia menyantap makanan kesukaannya dengan lahap.
"Ayah ga pulang bu?'' tanyanya dengan penuh perhatian.
"Engga nak, ayahmu makan siang bersama teman kantornya karena ada undangan syukuran dari pak Anas yang istrinya baru saja melahirkan," jawabku.
“Terus kapan dong ibu syukuran melahirkan?"tanyanya. Aku kaget dia bertanya seperti itu.
"Wisnu pengen punya adik ya?'' aku balik bertanya padanya.
"Ya bu," jawabnya pendek. Aku pun menghela nafas dengan berat, dalam hati aku berharap semoga keinginannya yang juga menjadi keinginanku dan ayahnya segera di kabulkan Allah.

Ups...! Hari ini aku bangun kesiangan dan untungnya hari ini adalah hari Minggu. Bergegas aku keluar dari kamar tidur menuju kamar kecil. Mual-mual yang kurasakan semalaman sungguh membuat lemas badanku. Bukan itu saja, hampir 1 bulan ini aku tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa, sejak aku dinyatakan hamil sebulan yang lalu praktis kegiatanku selain bekerja hanya bisa duduk di rumah, untuk memasak saja rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Dan kali ini aku hanya bisa mengandalkan mba Tik yang sudah hampir 5 tahun ikut kami. Kehamilanku kali ke 2 ini membuat aku harus ekstra hati hati, karena seringnya mual membuat kandunganku sering sekali kontraksi, padahal kehamilanku baru menginjak bulan ke 3, dan dokter menyarankan agar aku bisa mengurangi aktifitasku selama ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Selamat pagi ibu...," laki laki kecilku menyambutku dengan senyuman.
Ada apa nih, pikirku dalam hati. Kenapa tiba tiba Wisnu sangat ramah kepadaku, karena biasanya bila dia berbuat itu pasti ada maunya. Akupun menatapnya dengan curiga, dan sepertinya dia tahu arti tatapanku.
"Bu aku pergi jam 11 ya? Nanda ulang tahun hari ini bu, dan kami mau pergi ke panti asuhan, kami mau merayakan bersama mereka." diapun berkata padaku dengan wajah penuh harap. Akupun mengamati wajah laki-laki kecilku dengan lembut, sambil mencari kalimat yang tepat.
"Wisnu tiap hari kamu jarang ada di rumah. Ibu berharap hari ini istirahatlah dulu. Nanti sore kamu latihan sepak bola kan? Ibu ga mau mau kamu terlalu capek, kasian badanmu, kemarin sudah pergi dan sekarang kamu mau pergi lagi, sepertinya rumah ini cuma untuk persinggahan sementara deh.., Ibu kan pengen ngobrol juga sama Wisnu, ini kan hari Minggu," pintaku sambil menahan mual karena kehamilanku ini.
"Bu..please, Wisnu sudah janji sama teman teman, sebentar aja koq bu," pintanya menghiba.
"Rumah ini benar benar cuma buat persinggahan sementaramu Wisnu," akupun menimpalinya dengan nada kecewa, lalu aku berjalan ke arah suamiku yang sedang memperhatikan kami dari ruang keluarga.
"Sudahlah bu, dia kan mulai dewasa, dia butuh bersosialisasi dengan temannya, apalagi ke panti asuhan, siapa tahu dari panti asuhan itu dia bisa belajar sesuatu. Menurut ayah itu tidak ada salahnya koq..," suamiku menghiburku sambil memelukku.

Entahlah, saat ini aku begitu merasa selalu ingin ada Wisnu, selalu ingin mendapat perhatian, tapi bukan cuma sama Wisnu, akupun sangat senang bila suamiku di rumah. Tentu ini sesuatu hal yang wajar bukan? Apa ini karena kehamilanku? Aku memang berharap hari Minggu adalah hari ''KELUARGA", hari dimana kami semua bisa berkumpul, duduk santai bersama sambil ngobrol apa saja. Hal itu sekarang sangat sulit kami lakukan bersama, tiap hari Wisnu pulang sekolah pkl 15.30, seminggu tiga kali latihan bola, belum lagi seminggu dua kali harus les, ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain sebagai siswa SMP, sungguh membuat waktunya banyak tersita, sehingga untuk berbincang-bincang dengan kami pun adalah hal yang sangat sulit kami lakukan.

"Wisnu, ibu ijinkan kamu pergi, tapi pulangnya jangan terlalu sore karena nanti kamu latihan bola kan?'' akhirnya akupun mengalah.
"Yeaaahhh,terima kasih bu.." jawabnya girang. "Kalau latihan bola Wisnu ingat dong, nanti ada seleksi pemain bu!'' tambahnya lagi sambil mencium tanganku lalu tangan ayahnya, kemudian dia berlari kecil meninggalkan kami berdua.

Adzan ashar sudah berkumandang, namun Wisnu belum juga datang, aku mulai berharap sebentar lagi dia datang karena biasanya saat ashar dia sudah ada di rumah, untuk shalat dan bersiap siap latihan bola. Akupun mulai bertanya-tanya kemana dia? Pukul 16.00 dia harus berlatih sepak bola dan aku tahu benar hobynya itu tidak pernah bisa dia tinggalkan.

"Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara......" nada dering telepon genggamku berbunyi, aku suka lagu religi ini, karena sanggup membuat aku tersadar bahwa yang aku miliki bukanlah sesuatu yang abadi. Kulihat di layar telepon genggamku no hp Wisnu anakku, saat aku terima dan di seberang sana ada suara berat seorang lelaki namun aku yakin itu bukan suara laki laki keciku, dengan pelan dan sopan dia memperkenalkan dirinya sejenak kemudian dia terdiam seperti mengatur nafasnya, lalu dia mengabarkan sesuatu yang tidak lagi bisa kudengar dengan jelas, aku hanya bisa berucap "ALLAHU AKBAR....! Innalillahi wa innalillahi rojiun," lalu aku pun lemas hampir tak sadarkan diri. Suamiku berlari ke arahku, dia menuntunku untuk duduk di sofa tamu kami, sambil terlihat wajah cemasnya dia memberi isyarat padaku untuk memberikan hp yang masih ku genggam. Kuberikan hpku padanya, kemudian suamiku meneruskan perbincangan yang sempat terputus tadi.

Persinggahan Sementara! Akupun benar-benar tak tahu kalimat itu muncul begitu saja di otakku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kalimat itu, entah kenapa. Apakah itu sebuah pertanda? Entahlah..hari ini 100 hari aku tanpa kehadiran laki laki kecilku. Wisnu sepatu bolamu masih tersimpan di kamarmu nak, keceriaanmu masih menorehkan memory di hati ibu, ketampanan wajahmu masih terekam di benak ibu. Wisnu laki-laki kecilku ibu rindu padamu, Ibu hanya bisa memeluk pusaramu, tanpa bisa memeluk ragamu, ibu hanya bisa merindukanmu tanpa bisa menciummu...
Wisnu kepergianmu indah di mata ibu, kepergian mu indah dimata mereka yang hendak bentrok saat itu, dan ibu harap kematianmu tidak sia-sia, karena mereka telah damai nak, kematianmu telah membuka hati mereka saat dengan lantang kau berteriak "Jangan berperang melawan bangsamu sendiri!"

Oh..anakku, kenapa kau begitu berani berdiri di antara kelompok yang sedang bersitegang itu? Betapa mahalnya harga sebuah kedamaian, karena harus di bayar dengan nyawa laki laki kecilku..
"Mereka telah damai nak, semoga kaupun disana dalam kedamaian bersama bidadar- bidadari surga..." lirih kuucapkan kalimat itu, seperti takut mengusik tidur abadinya.

Ya Allah..rumah ini, dunia ini memang hanya persinggahan sementara buat kami, tak cuma Wisnu laki-laki kecilku. Hanya saja kami mengira kami dululah yang akan kau ambil dari tempat perisinggahan sementara ini, bukan laki laki kecilku, karena baru 13 th dia bersama kami, tapi ENGKAU pemilik semuanya, ENGKAU yang Maha Menentukan. Astagfirulloh.., ya Allah aku ihklas, takdirMu telah berbicara, telah kau ambil yang Kau titipkan padaku, ampuni kami, ampuni Wisnuku. Aku selalu tak sanggup menahan airmataku, menahan kerinduanku pada laki laki Kecilku, Wisnu sebentar lagi kau punya adik, selamat jalan laki laki kecilku, terima kasih telah menjadi anak yang membuat hari-hari ibu dan ayahmu penuh warna, kami belajar akan semangatmu yang tak pernah surut. Maafkan ayah ibumu bila dulu sempat membuatmu kecewa. Ibu yakin malaikat2Nya menyambutmu dengan senyuman. Selamat jalan anakku, dan rumah ini memang Persinggahan Sementara mu, 100 hari tanpamu ibu sangat rindu nak....
Dalam kepasrahan jiwaku kudengar sebait lagu .."...bila waktu kan memanggil, teman sejati hanyalah amal.. bila waktu tlah terhenti,teman sejati hanyalah sepi...''

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger