Tampilkan postingan dengan label Irvin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Irvin. Tampilkan semua postingan

4 Maret 2003

Jumat, 04 Juni 2010

Oleh : Irvina Legowo


Hari semakin mendung saja, tak lama lagi pasti hujan segera datang. Aku jadi tertegun sejenak untuk menghilangkan rasa lelahku setelah aktivitas yang kukerjakan. Masih terasa lekat di dalam ingatan ini, semua peristiwa. Kejadian yang dialami semua orang pasti akan jadi kenangan, tak mungkin bisa dilupakan, entah sedih, gembira, apalagi yang lucu. Kadang ada juga yang bisa buat kita jadi malu… itulah kejadian. Tapi aku senang kok dengan variasi kejadian, tidak monoton. Ah… ini kan waktunya aku santai, aku tidak ingin terbawa angin kesedihan. Aku bisa merugikan diri sendiri, lebih baik aku lebih banyak berfikir positive aja.
“Bunda… Bunda….” Akmal memanggilku.
“Oh... iya, ada apa Nak?” jawabku.
“Tadi Akmal bisa kerjakan juga menjawab pertanyaan soal matematika lho dan mendapat nilai 100 (seratus),” kata Akmal.
“Wah, syukurlah Nak. Alhamdulillah ternyata dirimu HEBAT!” aku pun berkata begitu.
“Tapi Akmal gak bisa jawab yang Bahasa Indonesia dan nilainya hanya 65 (enampuluh lima). Maafkan Akmal ya Bunda, Bunda jangan marah,” kata Akmal.
“Ya sudah, tidak apa-apa Nak. Bunda tidak marah, tapi nanti kita perbaiki jawaban yang salah dan kita belajar bersama lagi ya.”
“Baiklah Bunda.”

Ah… Akmal, Bunda jadi teringat pada dirimu Nak, bunda jadi terkenang lagi hingga saat ini, tidak disangka Bunda ini masih bisa bersamamu, karena… Allah masih memberikan kesempatan pada bunda untuk merawatmu, membesarkanmu. Alhamdulillah bunda ini sekarang bersyukur sekali kepada Allah yang senantiasa memberikan keselamatan, kesehatan dan yang terbaik pada bunda.

Tiba-tiba hujan turun begitu derasnya, beserta petir dan tiupan angin yang begitu kencangnya, bikin aku jadi terperanjat ketakutan. Tapi ah biarlah, memang sudah begini adanya. Segalanya kan hanya Allah saja yang menghendakinya. Selama perjalanan waktu terus berjalan, aku tak akan pernah tahu, sampai di mana waktu itu akan berhenti, entahlah!! Rasanya sekarang aku ingin istirahat, santai sejenak, sambil menemani suami juga anak lagi belajar.

Asyik-asyik santai sambil mendengarkan music yang kita suka, apalagi kalau kita dengar dari awal, menyimak bait demi bait, ada bait kata yang terdengar sepertinya pernah juga terjadi pada diri kita, ada syair begini misalnya :
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh… bunda… dst.

Itu adalah lagu yang juga jadi favoritku “BUNDA”. Aku termenung jadi ingat pada bunda tercinta. Kemarin rasanya aku memanggil ibuku “BUNDA” sekarang tak nyangka “AKU” yang dipanggil “BUNDA”.
Bunda tercinta, yang penuh perhatian tanpa batasnya, kasih sayang penuh belaian untukku, untuk kita. Aku ini jadi anak kebanggaannya, ibarat kata nyamuk saja tak berani mendekat.
Tapi sayang, kadang aku ini tidak mengerti perasaan bunda, kalau bunda pernah marah, aku malah kesal pada ibundaku ini, padahal memang aku yang salah. Sayang ya, waktu tidak bisa diulang, coba boleh diulang, aku akan meminta maaf, mengakui kesalahanku yang lalu. Aku ingin bahagiakan bunda. Tapi ya… sudahlah yang berlalu biarlah, sekarang aku hanya bisa mendoakannya dari kejauhan saja. Karena bundaku telah lama tiada, bunda telah dipanggil Sang Khalik, tenang di sisi Allah.

Saat ini aku disibukkan dengan beberapa kegiatan, tapi itu semua karena keinginan aku sendiri. Alhamdulillah suami tidak keberatan. Kegiatan ini memang yang diinginkan aku. Aku sudah mengerti bagaimana cara membagi waktu, di saat anak-anak sekolah, pekerjaan di rumah juga selesai. Aku pergi ikut kursus menjahit, juga kegiatan pengajian ikut memberikan semangat dalam kehidupan ini, alhasil aku tidak berdiam diri saja di rumah. Dari aku belajar mengaji Al-Quran, ibaratnya dari kurang bisa menjadi biasa dan bisa. Jadi dalam keseharianku, banyak juga aku belajar di luar rumah. Yang pasti, aku mencari ilmu yang manfaat untuk diriku sendiri. Menurutku, sayangkan waktu terbuang percuma, hanya untuk jalan-jalan tanpa arah yang pasti.

Aku ini jadi teringat pada saat bulan Maret tepatnya tahun 2003, di saat detik-detik aku akan melahirkan anak kedua (sekarang Akmal umurnya 7 tahun). Aku jadi ada rasa trauma berat.
Pagi tanggal 3 Maret 2003, perut ini rasanya semakin mengencang saja. Ada rasa takut, cemas, rasa sakit, nyeri nyampur jadi satu. Aku dan suami masih nyempatkan jalan pagi, naik turun tangga, maksudnya supaya aku tidak konsentrasi sama mulesnya. Rasanya berat sekali membawa diri, kadang-kadang di perut panas, gatal, panas, yang jelas rasanya sudah tidak tertahankan. Buang air besarpun sepertinya agak sembelit, kontraksi terasa sering sekali.

Aku di antar suami pagi-pagi sekitar pukul 08.00 pagilah, kebetulan tanggal 3 Maret itu rumah sakit lagi libur, karena tanggal merah seingatku. Jadi aku langsung diantar ke EMERGENCY. Kebetulan dokter jaga ada kalau tidak salah, aku langsung rebahan dulu sementara nunggu dokter datang. Tidak lama kemudian dokter kandungan datang, menanyakan keluhanku, sambil memeriksa kehamilanku ini. Menurut dr kandungan ini (sebut saja namanya Sutrisno). Kata dokter Sutrisno, aku perkiraan melahirkan tanggal 7 Maret 2003. Namun perasaanku, kok sudah waktunya ini aku pengen melahirkan hari ini saja. Tapi dokter Sutrisno hanya memberiku obat supaya aku ini bisa buang air besar. Kata beliau masih beberapa hari lagi bayinya baru dilahirkan.
Yah… sudahlah, aku tidak ingin ngotot juga waktu itu, pulanglah aku ke rumah. Sampai di rumah, aku minum obat itu, obatnya yang satu lagi dimasukkan lewat dubur. Namun apalah setelah itu, bukan mau buang air, aku tambah sakit, malah seperti demam gitu, seperti keringat dingin, entahlah. Aku hanya banyak berdoa, berdzikir, tarik nafas kalau lagi sakit. Aku hanya diam saja, sambil banyak-banyak berdzikir, rasanya sedikit tenang kalau caranya seperti itu.

Siang telah datang, sore juga datang, akhirnya malampun kujumpai. Alhamdulillah aku masih diberi kekuatan oleh Allah. “Ya Allah aku memohon padaMu berilah keselamatan, kekuatan, keyakinan, kesehatan, aku mohon ampun padamu, jika aku ini banyak berbuat salah, maafkanlah aku.” Itu hanya perkataan dalam hati kecilku saja. Aku lebih banyak berkata-kata dalam hati, jangan sampai membuat suami dan orang di sekitarku panik.

Waktu tepat menunjukkan pukul 22.00 (sepuluh malam hari). Aku ingat tanggal 3 Maret 2003 itu malam Satu Muharam. Kata orang-orang sih tanggal yang seram, tapi aku tidak percaya hal-hal demikian. Aku melahirkan anakku (Akmal) malam Satu Muharam alias Satu Suro tadi. Yah… aku sudah tidak tahan menahan rasa sakit, nyeri di bawah perut. Rasanya jam 22.00 malam aku diantar suami ke rumah sakit, Alhamdulillah suami kebetulah sedang libur kerja. Menuju rumah sakit, untung saja rumah sakit jaraknya tidak jauh sekali dari rumah, yah kalau dari rumah ke rumah sakit kurang lebih 10 menitlah sampai. Di kendaraan saya sudah tidak konsentrasi lagi apa yang diomongkan suami. Saya lebih banyak berdzikir dan tarik nafas saja.

Tiba di rumah sakit aku sudah tidak sanggup jalan lagi, di depan pintu Emergency aku duduk di kursi roda, langsung menuju ruang bersalin saja. Tiba di ruang bersalin, ceritanya sudah ganti baju, tiba-tiba langsung pecah ketuban. Warna air ketuban itu warnanya kuning kunyit, aku pun mendadak jadi berwarna kuning gitu, sakit tak tertahankan, aku tidak memikirkan warna apa pun. Yang ada di pikiran hanyalah segera mengeluarkan bayi yang ada di perut.

Dibantu seorang suster, aku berusaha mengejan mengeluarkan si bayi di perut. Satu kali gagal, kedua kali mengejan Alhamdulillah keluar juga Akmal dari perutku ini. Rasanya lega sekali. Tak disangka juga bayiku ini laki-laki. Menurut hasil USG, katanya bayiku perempuan. Ah… USG kan cuma sebuah alat untuk melihat kondisi bayi saja, bukan untuk melihat jenis kelamin. Semua itu hanya Allah saja yang menentukan. Manusia hanya merencanakan saja.

Setelah kutahu bayiku ini seorang lelaki, pas sudah kebahagiaan ini untuk aku dan suami. Alhamdulillah lengkap menurutku, anak pertamaku “Virly” seorang perempuan, waktu itu usianya sudah 5 tahun, TK Besar. Senang ya sudah terasa pasti. Tapi apalah daya aku setelah melahirkan, seperti kebanyakan ibu yang yang lain rasa lelahpun kuhadapi, aku mulai capek, ngantuk. Oh… ya, aku melahirkan pukul 12.30 (setengah satu malam). Yah… tengah malam persis, tgl 4 Maret 2003. Benar-benar malam satu Muharram. Detik-detik aku pun mulai merasakan mengantuk dan letih sekali malam itu. Setelah aku dibersihkan oleh suster, aku langsung dibawa ke ruang perawatan. Di kamar perawatan, aku sempat pamit pada suami. Kukatakan ucapan, “Ayah, aku mohon maaf apabila aku ada kesalahan”. Suami menjawab, “Iya, sama-sama Bunda. Ayah pun demikian.”
Lalu, aku pun tanpa berkata lagi, terus tertidur saja. Selanjutnya aku pun tak tahu lagi ceritanya tentang aku. Ternyata aku dinyatakan koma, jadi selama aku tidur, ya rasanya tidak ada rasa beban di diri ini, rasanya badan capek pun tidak ada. Nyeri sudah hilang, cemas pun tak kurasakan. Betapa nyamannya aku tertidur, aju jadi tidak ngerti apa-apa.

Baru aku sadari, kata suami, waktu saya sudah mulai sembuh suami cerita, bahwa aku dinyatakan tidak sadarkan diri kurang lebih 4 hari apa 5 hari begitu. Yah… koma… menurut dokter tipis harapan hidup, sisa 25%. Aku selama tidur itu, perasaanku seperti berjalan menuju jalanan yang aku sendiri belum pernah menuju ke tempat itu. Tempatnya teduh, bertemu pula dengan bundaku yang telah lama tiada. Jadi seakan-akan beliau datang menjemputku, tapi aku tidak dapat berkomunikasi pada beliau, aku tidak dapat berbicara. Mulut ini seperti kaku, tertutup tak berkata apapun, sepertinya antara sadar dan tidak. Airmata tak terasa menetes membasahi pipi, apakah Allah telah memberi cobaan padaku? Mungkin aku kurang baik di mata Engkau ya Allah.
“Allahu Akbar,” itu yang kudengar dari kejauhan, sepertinya ada yang memanggil kata-kata itu. Aku pun ikut mengucapkannya, namun aku sendiri tidak mengerti ada apa sesungguhnya yang terjadi pada diriku. Aku yang katanya dalam keadaan masih koma, sebentar-sebentar mataku terbuka, tiba-tiba tertutup. Kalau seingat aku sih, rasanya seperti tidur yang tidak ingin diganggu siapa-siapa, rasanya baru saja aku mau istirahat, kok sudah dibangunkan.

Dari singkat cerita, aku dikirim ke Rumah Sakit Internasional Surabaya. Dirujuk ke sana, kurang lebih tiga minggu aku dirawat di sana. Alhamdulillah sembuhlah aku, berkat usaha berobat sambil banyak berdoa, juga doa dari keluarga, sahabat, handai taulan, juga diri sendiri “yakin sembuh”. Syukur Alhamdulillah aku panjatkan kepada Allah SWT, kini aku sehat lagi. Mudah-mudahan menjadi lebih baik lagi. Amin.

Maaf Untuk Sahabat

Sabtu, 17 April 2010

Oleh : Irvina Legowo


Kalau lagi duduk begini, eh tiba-tiba ada telpon berdering berulang-ulang, jadinya penasaran ya? Siapa ya yang telpon, buru-buru deh diangkat.
“Halo… assalamu’alaikum. Jeng, lagi ngapain nih?” siapa yang menelpon.
“Yah iya Ajeng lagi di telponkan? Maaf, ini siapa ya?” kata Ajeng.
“Wah Ajeng, masak sih lupa denganku,” kata yang telpon. “Aku SETRINOLA. Lupa ya?”
“Nah iya, baru aku ingat,” kata Ajeng. “Maafkan aku ya Nola, habis suaramu itu lho, bagus banget gitu lho… aku jadi grogi dengernya.”
“Ih… kamu ada-ada saja,” kata Nola. “Yah…. Maklumlah aku kan artis,” kata Nola bercanda.
“Oh iya,” kata Nola “Besok main ke rumahku ya Jeng. Ada sedikit rejeki nih,” kata Nola. “Yah pokoknya ke rumahku ya… Kira-kira pukul 11 pagi lah… Ditunggu ya?!”
“Insyaallah ya, Ajeng gak janji ya, mudah-mudahan bisa. Trimakasih ya Ajeng diundang. Yok ya… sampai besok.”

Rasanya waktu cepat sekali berjalan, Ajeng rasanya kok malas banget ya mau pergi, lagi gak mood gitu. Tapi kan hari ini ada undangan makan-makan di rumah si SENTRINOLA. Ah… nanti kalau sudah ngumpul-ngumpul pasti rame banget deeh… Pasti kaya pasar malam gitu. Hm.. gimana ya, pengennya siih gak pergi saja. Sudah ada rasa bosan sih. Kalau Cuma ngobrol-ngobrol apa ngerumpi gitu. Ada rasa keinginan mengurangi ngerumpi gitu. Lebih baik waktuku kuhabiskan pergi dengan suami. Malah enak berduaan, kaya dulu lagi waktu masih menjalani persahabatan gitu lah… Ya serasa lebih tenang apabila bisa pergi jalan sama suami.
Tak lama, lagi duduk termenung, eh… ada suara telpon lagi, kuangkat gagang telpon. Suara Nola yang keras mengharapkan kehadiranku.
Kata Nola, “Ajeng, kau dah ditunggu nih sama temen-temen, kami sudah ngumpul.”
Aku dengan santainya menjawab, “Okelah kalau begitu.”


Dengan santai Ajeng melangkahkan kaki, tiba-tiba ada yang memanggil dari kejauhan.
“Ajeng… Ajeng, tunggu sebentar. Ayo kita pergi sama-sama aja.”
Ajeng menoleh, ah… ternyata Frida. “Oh… boleh deh kita bareng ke rumah Nola. Dengan senang hati… yuk sama-sama.”
Ajeng berkata pada Frida, “Mbak Frida, Ajeng gak bisa lama-lama nanti di rumah Nola. Alif anak Ajeng sebentar lagi pulang dari sekolah, lagian sebentar lagi para suami pada pulang kerja tuk istirahat siang kan?”
“Iya Jeng, “ kata mbak Frida. “Saya juga tidak bisa berlama-lama di sana, kebetulan mau ada acara keluarga juga.”

Ceritanya kami (Ajeng dan mbak Frida) sampai di kediaman Setrinola, alhasil di sana (di rumah Setri) dah pada ramai, udah ngumpul semua, ya heboh juga. Kedengarannya seru banget deh, entahlah apa saja yang diobrolin. Ajeng ya ikut gabung sajalah, yang penting kan sudah sampai di rumah Nola.
“Yuk kita santap hidangan yang telah disediakan!!” Alhamdulillah nikmatnya.

Semua cerita kemarin sudah Ajeng lalui, sekarang waktunya pergi ke pengajian rutin Jum’at siang. Alhamdulillah disempatkan saja dulu, kan lanjutan minggu lalu masih dibahas. Wah, panasnya hari ini sangat menyengat sekali, membuat semua orang tidak ingin ke luar rumah. Apalagi siang begini. Mending juga di dalam rumah, tidur siang. Tapi Mas Bowo berkata pada Ajeng, “Lho Jeng, kamu gak pengajian ya?” kata suami Ajeng, “Biasanya Ajeng kan pergi ke pengajian siang. Kok tidak siap-siap?”
“Ah, Ajeng lagi gak semangat nih mau pergi. ‘Ngantuk’ dah gitu panasnya bukan main nih lho, mending santai saja dulu,” kata Ajeng dengan penuh kemalasannya.
Tapi kalau Ajeng malas, wah pasti yang hadir semakin sedikit saja.
Ajeng jadi teringat acara di rumah Nola kemarin ya, wah orangnya yang hadir banyak, kata mbak Frida kemarin. Coba ya kalau pengajian orangnya sebanyak ini, bagus juga. Tapi giliran Cuma ngobrol saja ramainya bukan main. Yah… ibarat kata cuma ngobrol yang gak manfaat juga, ah…. CAPEK DEEH…
Tapi ya sudahlah, semua orang kan beda-beda sih, kalau kefikiran positif seperti mbak Frida, ya semakin baik saja manusianya.
Dengan penuh semangat, bagai semangat juang begitu, kulangkahkan kaki ini menuju masjid. Sampainya di sana (maksudnya masjid) kujumpai beberapa ibu telah hadir, duduk rapih sambil menunggu Pak Ustadz.
“Assalamu’alaikum wr.wb.” sapa Ajeng pada ibu-ibu.
Tiba-tiba ada yang memanggilku (Ajeng), “Hai Jeng, wah tahu gak siih kamu,” kata mbak Eta yang memanggilku.
“Iya?!” kataku, “Memangnya ada apa mbak Eta?”
“Sini dulu, ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu. Kemarin, di acara rumah Nola hampir saja aku (mbak Eta) mau tawuran (alias bertengkar) dengan Nila. Gini ceritanya,” kata mbak Eta.
Setrinola yang empunya acara berkata sambil bercanda, “Hayo… siapa yang mau ikutan gabung dengan grup kita yang hobby jalan alias shopping, dipersilahkan saja daftar pada mbak Eta. Beliau yang jadi ketuanya.”
“Oh… iya… gitu ya?” kata mbak Eta.
“Oke, boleh juga lah, tapi…” kata mbak Eta lagi “Ada syaratnya lho kalau mau gabung bareng kita, syaratnya antara lain : sekali-kali harus mau traktir, lalu tidak suka ngambek, sama-sama jangan pelit-pelit.”
Nah lho?? Rupanya ada yang tersinggung dengan perkataan mbak Eta, yaitu si Nila. Wah terjadilah perdebatan sengit di rumah Nola, yang mengakibatkan hubungan persahabatan jadi permusuhan, gara-gara omongan “celetuk-celetukan” yang kalau difikir tidak bermanfaat, yang ada jadi tidak ingin bertegur sapa lagi.

Dalam hati Ajeng, untung saja Ajeng cepat pulang, sehingga tidak mengerti alur cerita mereka. Namun disayangkan sekali pertemanan mereka jadinya renggang. Ajeng pun tak habis fikir, tak kebayang kalau terjadi pada diri ini, kira-kira mau bersabar gak ya menghadapinya. Sayang sekali ceritanya sangat simpang siur. Ternyata di balik cerita itu semua, memang ada omongan yang membuat Nila tersinggung.

Nila pun ada bercerita pada Ajeng. Kami bertemu secara tidak sengaja di acara perayaan ulang tahun Nanda putranya mbak Yola.
Cerita Nila dengan wajah yang tegang, marah sepertinya, raut wajahnya yang terlihat tidak ceria, dengan penuh api di kepalanya (bagaikan naga yang ada api di kepalanya), dengan logat khasnya, “Jeng,” kata Nila. “Dengar tidak cerita Nila dan Mbak Eta? Hampir saja terjadi pertengkaran sengit,” kata Nila.
“Oh… ya??” kata Ajeng. “Apalah yang terjadi?” Ajeng pura-pura tidak tahu. Padahal sudah tahu dari mbak Eta, tapi Ajeng makin penasaran, apa sama ceritanya dengan yang dikisahkan mbak Eta. Dengan penuh keheranan Ajeng menatap wajah Nila yang masih berekspresi marah dan merah. Wah, Ajeng jadi ngeri juga jadinya.
“Mbak Eta menyinggung perasaan saya, sebenarnya sudah lama saya menahan kesabaran ini, tapi hari itu perasaan saya sudah tidak tahan lagi Jeng, saya sudah panas di dada ini. Emosi saya sudah naik sampai di ubun-ubun,” kata Nila.
“Padahal saya sudah tidak pernah mengganggu ataupun menyindir siapapun,” kata Nila. “Tapi kenapa saya terus yang disinggung, yang katanya saya ini membeli sawah yang dananya dari mana, membelinya secara tunai atau secara bertahap, lalu sampai saya beli sapi pun dananya dari mana. Sebenarnya kan itu urusan saya, bukan urusan siapa-siapa. Yang mau saya, saya beli saya, kok orang lain yang pusing. Yang jelas Nila betul-betul tidak terima diberitakan seperti itu, kesal,” katanya.
Nila pun terdiam sejenak, setelah bercerita. Lalu Ajeng berusaha menenangkan Nila.
“Sabar ya Nila, namanya juga omongan, tapi Nila tahu berita itu darimana?” kata Ajeng pura-pura tidak mengerti.
“Ah, ada yang menyampaikannya ke saya,” kata Nila.
“Oooooh…. rupanya Nila dapat cerita ini ada yang menyampaikan?” kata Ajeng sambil matanya agak setengah melotot dan terkejut. Dalam hati Ajeng, siapalah orang yang senang menyampaikan berita yang tidak penting ini, kalau difikir ini kan hanya berita kurang kerjaan aja. Kok jadi pusing gitu. Alhasil cerita-cerita, ternyata yang suka menyampaikan cerita-cerita itu adalah teman Nila juga, teman mbak Eta juga. Dan Ajeng pun kenal sama orang ini. Judulnya mungkin mau diadu domba gitu.
Ah… ha… sampai hati juga orang ini, sudah lamanya mereka bersahabat, kok jadi merusak, kelihatannya dan kedengarannya memang hobinya seperti itu. Sementara Nila punya watak keras, kalau berbicara keras, itupun kadang kalau sudah dengar dia dibicarakan, semakin emosi saja. Sayangnya Nila ini orangnya terlalu mudah percaya dengan kata-kata orang yang senang menyampaikan. Tanpa fikir panjang lagi, Nila menuduh langsung bahwa mbak Eta yang berkata, padahal siapa tahu mbak Eta tidak berbicara begitu, takutnya orang yang menyampaikan itu yang ngomong. Mbak Eta juga watak keras. Tapi menurut Ajeng, ya setahu Ajeng sih, mbak Eta tidak pernah ikut mau tahu urusan orang. Setahu Ajeng, mbak Eta orangnya cuek.
Dari kesimpulan cerita itu, yang ada Ajeng hanya bisa iut sedih dan prihatin saja sih. Dengan senyum hangat berkata pada Nila, “Ajeng ngerti kok perasaan Nila sedang sedih, sakit hati, tersinggung dengan perkataan yang tidak enak didengar. Mohon maaf ya Nil, Ajeng sih tidak bermaksud ikut menasihati. Namun lebih baik hal-hal yang kira-kira kurang bermutu untuk dibahas, lebih baik dicuekin sajalah, diabaikan saja, didiamkan saja, biarkan saja yang menyampaikan yang membahas. Nila mending cari aja cerita lain, dan katakana saja sama yang menyampaikan, ah… biar sajalah saya mau dibilangin apa ‘masa bodo’ yang penting saya tidak mengganggu orang. Bereskan Nil? Katakan NO COMEN… gitu lho.. Nila…?? Jangan dipikirkan!” kata Ajeng memberi semangat pada Nila.
Tapi dasar Nila yang berwatak keras, tetap ngotot saja. Malah menjawab, “Ah, saya tidak minta makan juga sama mbak Eta.” Makin emosi saja kayaknya.
Tanpa fikir panjang, Ajeng berlalu saja dari Nila, capek ngadapin manusia keras hati, keras kepala pula, susah juga mau ngajak bicara baik-baik.
Yaah…. Mau bagaimana lagi apalah harapan ingin meredam emosi, maunya saling berdamai, tapi di antara kedua sahabat ini hanya mempertahankan kebenaran masing-masing, malah tidak ingin bertegur sapa, kata mereka. Sementara orang yang suka nyampaikan berita, santai tanpa kata dan sepertinya kayak tidak berdosa gitu. Itulah lidah, kalau kata-kata sudah tidak sopan bisa memperburuk keadaan, bisa merugikan diri sendiri. Padahal ada kata-kata tentang persahabatan, begini katanya:


Sahabat adalah, Dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh.
Karena persahabatan itu, seperti tangan dan mata.
Saat tangan terluka, mata menangis.
Saat mata menangis, tangan menghapusnya.

Kalau begitu tolonglah kita sebagai sahabat ‘mungkin’ sama-sama menjaga perasaan, pengertian dalam suka maupun duka. Kalaupun ada kekurangan mohonlah dimaafkan, manusia ada juga punya rasa khilaf. Allah saja memaafkan umatnya apabila ada kesalahan, apalagi kita yang hanya manusia yang banyak kurang kesempurnaannya.

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger