Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Persinggahan Terakhir

Jumat, 08 Oktober 2010

Oleh : Amilia Ila

Braaakkkk...! pintu ruang tamu berbunyi keras. "Assalamualaikum...!" terdengar suara berat tapi nyaring dari arah ruang tamu kami yang tidak terlalu besar tapi cukup indah bagi kami. "Waalaikumsalam....'' aku menjawab dengan semangat sambil berjalan ke arah pintu.Pintu ruang tamu rumah kami ini memang sudah seharusnya diperbaiki, dan aku sudah beberapa kali meminta Pak Lan untuk memperbaikinya, tapi karena dia sedang sakit jadi aku harus sabar menunggu Pak Lan datang. Pak Lan memang kepercayaan keluargaku sejak aku masih remaja.
''Jaman sekarang susah cari orang yang bisa dipercaya, Pak Lan bisa diandalkan Rury" ibuku selalu berpesan itu padaku, dan pikirku ga ada salahnya untuk sabar menunggu sampai Pak Lan sembuh dari fluenya .

Aku adalah seorang ibu yang bekerja di dinas pemerintah kota, suamiku bekerja membuka wirausaha advertising sebagai bisnis keluarganya yang sudah berjalan beberapa tahun, dan anak semata wayang kami sungguh luar biasa, kegiatannya sangat menyita waktunya untuk bisa bertemu dengan kami berdua. Ada rasa bangga padanya, karena laki laki kecilku, begitu kami menyebutnya sudah mulai tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Dewasa? Ah.. sepertinya tidak begitu adanya, usianya baru menginjak angka 13 th bulan ini.

''Capek nak? Buka kaos kakimu lalu ganti bajumu dan jangan lupa cuci tangan ya..," kalimat itu selalu saja terucap saat menyambut kedatangannya.Dan dia sama sekali tidak protes bila aku menyuruhnya begitu. Bila kuperhatikan anak semata wayangku itu sekarang sudah mulai berubah, baik penampilannya, & fisiknya yang terus tumbuh, serta wajah tampannya mulai terlihat makin memancar, mungkin karena sekarang dia benar benar memperhatikan penampilannya. Sebentar lagi dia pasti jadi incaran gadis-gadis belia seusianya, saat ini saja dia banyak bercerita soal teman ceweknya yang berusaha mencari perhatiannya. Mengingat itu aku senyum-senyum sendiri. Hari-harinya selalu diisi dengan kesibukannya menjadi seorang siswa di salah satu SMP favorit di kota kami, belum lagi kegilaannya pada olah raga sepak bola benar-benar menyita waktunya.

"Ibu masak apa nih?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku tentang dia. Sambil berjalan mengganti bajunya dia menuju meja makan kami yang juga tak terlalu besar.
"Ayam goreng dan sambal terasi!" teriaknya kegirangan. Itulah laki laki kecilku, makanan kesukaannya tetap ayam goreng.
"Hey jangan lupa makan sayurnya ya, biar tubuhmu itu sehat nanti main bolanya jadi makin kuat!" dan selalu saja aku mengingatkannya untuk makan sayur.
"Iya...ibu...," jawabnya menggodaku dan aku temani dia menyantap makanan kesukaannya dengan lahap.
"Ayah ga pulang bu?'' tanyanya dengan penuh perhatian.
"Engga nak, ayahmu makan siang bersama teman kantornya karena ada undangan syukuran dari pak Anas yang istrinya baru saja melahirkan," jawabku.
“Terus kapan dong ibu syukuran melahirkan?"tanyanya. Aku kaget dia bertanya seperti itu.
"Wisnu pengen punya adik ya?'' aku balik bertanya padanya.
"Ya bu," jawabnya pendek. Aku pun menghela nafas dengan berat, dalam hati aku berharap semoga keinginannya yang juga menjadi keinginanku dan ayahnya segera di kabulkan Allah.

Ups...! Hari ini aku bangun kesiangan dan untungnya hari ini adalah hari Minggu. Bergegas aku keluar dari kamar tidur menuju kamar kecil. Mual-mual yang kurasakan semalaman sungguh membuat lemas badanku. Bukan itu saja, hampir 1 bulan ini aku tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa, sejak aku dinyatakan hamil sebulan yang lalu praktis kegiatanku selain bekerja hanya bisa duduk di rumah, untuk memasak saja rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Dan kali ini aku hanya bisa mengandalkan mba Tik yang sudah hampir 5 tahun ikut kami. Kehamilanku kali ke 2 ini membuat aku harus ekstra hati hati, karena seringnya mual membuat kandunganku sering sekali kontraksi, padahal kehamilanku baru menginjak bulan ke 3, dan dokter menyarankan agar aku bisa mengurangi aktifitasku selama ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Selamat pagi ibu...," laki laki kecilku menyambutku dengan senyuman.
Ada apa nih, pikirku dalam hati. Kenapa tiba tiba Wisnu sangat ramah kepadaku, karena biasanya bila dia berbuat itu pasti ada maunya. Akupun menatapnya dengan curiga, dan sepertinya dia tahu arti tatapanku.
"Bu aku pergi jam 11 ya? Nanda ulang tahun hari ini bu, dan kami mau pergi ke panti asuhan, kami mau merayakan bersama mereka." diapun berkata padaku dengan wajah penuh harap. Akupun mengamati wajah laki-laki kecilku dengan lembut, sambil mencari kalimat yang tepat.
"Wisnu tiap hari kamu jarang ada di rumah. Ibu berharap hari ini istirahatlah dulu. Nanti sore kamu latihan sepak bola kan? Ibu ga mau mau kamu terlalu capek, kasian badanmu, kemarin sudah pergi dan sekarang kamu mau pergi lagi, sepertinya rumah ini cuma untuk persinggahan sementara deh.., Ibu kan pengen ngobrol juga sama Wisnu, ini kan hari Minggu," pintaku sambil menahan mual karena kehamilanku ini.
"Bu..please, Wisnu sudah janji sama teman teman, sebentar aja koq bu," pintanya menghiba.
"Rumah ini benar benar cuma buat persinggahan sementaramu Wisnu," akupun menimpalinya dengan nada kecewa, lalu aku berjalan ke arah suamiku yang sedang memperhatikan kami dari ruang keluarga.
"Sudahlah bu, dia kan mulai dewasa, dia butuh bersosialisasi dengan temannya, apalagi ke panti asuhan, siapa tahu dari panti asuhan itu dia bisa belajar sesuatu. Menurut ayah itu tidak ada salahnya koq..," suamiku menghiburku sambil memelukku.

Entahlah, saat ini aku begitu merasa selalu ingin ada Wisnu, selalu ingin mendapat perhatian, tapi bukan cuma sama Wisnu, akupun sangat senang bila suamiku di rumah. Tentu ini sesuatu hal yang wajar bukan? Apa ini karena kehamilanku? Aku memang berharap hari Minggu adalah hari ''KELUARGA", hari dimana kami semua bisa berkumpul, duduk santai bersama sambil ngobrol apa saja. Hal itu sekarang sangat sulit kami lakukan bersama, tiap hari Wisnu pulang sekolah pkl 15.30, seminggu tiga kali latihan bola, belum lagi seminggu dua kali harus les, ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain sebagai siswa SMP, sungguh membuat waktunya banyak tersita, sehingga untuk berbincang-bincang dengan kami pun adalah hal yang sangat sulit kami lakukan.

"Wisnu, ibu ijinkan kamu pergi, tapi pulangnya jangan terlalu sore karena nanti kamu latihan bola kan?'' akhirnya akupun mengalah.
"Yeaaahhh,terima kasih bu.." jawabnya girang. "Kalau latihan bola Wisnu ingat dong, nanti ada seleksi pemain bu!'' tambahnya lagi sambil mencium tanganku lalu tangan ayahnya, kemudian dia berlari kecil meninggalkan kami berdua.

Adzan ashar sudah berkumandang, namun Wisnu belum juga datang, aku mulai berharap sebentar lagi dia datang karena biasanya saat ashar dia sudah ada di rumah, untuk shalat dan bersiap siap latihan bola. Akupun mulai bertanya-tanya kemana dia? Pukul 16.00 dia harus berlatih sepak bola dan aku tahu benar hobynya itu tidak pernah bisa dia tinggalkan.

"Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara......" nada dering telepon genggamku berbunyi, aku suka lagu religi ini, karena sanggup membuat aku tersadar bahwa yang aku miliki bukanlah sesuatu yang abadi. Kulihat di layar telepon genggamku no hp Wisnu anakku, saat aku terima dan di seberang sana ada suara berat seorang lelaki namun aku yakin itu bukan suara laki laki keciku, dengan pelan dan sopan dia memperkenalkan dirinya sejenak kemudian dia terdiam seperti mengatur nafasnya, lalu dia mengabarkan sesuatu yang tidak lagi bisa kudengar dengan jelas, aku hanya bisa berucap "ALLAHU AKBAR....! Innalillahi wa innalillahi rojiun," lalu aku pun lemas hampir tak sadarkan diri. Suamiku berlari ke arahku, dia menuntunku untuk duduk di sofa tamu kami, sambil terlihat wajah cemasnya dia memberi isyarat padaku untuk memberikan hp yang masih ku genggam. Kuberikan hpku padanya, kemudian suamiku meneruskan perbincangan yang sempat terputus tadi.

Persinggahan Sementara! Akupun benar-benar tak tahu kalimat itu muncul begitu saja di otakku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kalimat itu, entah kenapa. Apakah itu sebuah pertanda? Entahlah..hari ini 100 hari aku tanpa kehadiran laki laki kecilku. Wisnu sepatu bolamu masih tersimpan di kamarmu nak, keceriaanmu masih menorehkan memory di hati ibu, ketampanan wajahmu masih terekam di benak ibu. Wisnu laki-laki kecilku ibu rindu padamu, Ibu hanya bisa memeluk pusaramu, tanpa bisa memeluk ragamu, ibu hanya bisa merindukanmu tanpa bisa menciummu...
Wisnu kepergianmu indah di mata ibu, kepergian mu indah dimata mereka yang hendak bentrok saat itu, dan ibu harap kematianmu tidak sia-sia, karena mereka telah damai nak, kematianmu telah membuka hati mereka saat dengan lantang kau berteriak "Jangan berperang melawan bangsamu sendiri!"

Oh..anakku, kenapa kau begitu berani berdiri di antara kelompok yang sedang bersitegang itu? Betapa mahalnya harga sebuah kedamaian, karena harus di bayar dengan nyawa laki laki kecilku..
"Mereka telah damai nak, semoga kaupun disana dalam kedamaian bersama bidadar- bidadari surga..." lirih kuucapkan kalimat itu, seperti takut mengusik tidur abadinya.

Ya Allah..rumah ini, dunia ini memang hanya persinggahan sementara buat kami, tak cuma Wisnu laki-laki kecilku. Hanya saja kami mengira kami dululah yang akan kau ambil dari tempat perisinggahan sementara ini, bukan laki laki kecilku, karena baru 13 th dia bersama kami, tapi ENGKAU pemilik semuanya, ENGKAU yang Maha Menentukan. Astagfirulloh.., ya Allah aku ihklas, takdirMu telah berbicara, telah kau ambil yang Kau titipkan padaku, ampuni kami, ampuni Wisnuku. Aku selalu tak sanggup menahan airmataku, menahan kerinduanku pada laki laki Kecilku, Wisnu sebentar lagi kau punya adik, selamat jalan laki laki kecilku, terima kasih telah menjadi anak yang membuat hari-hari ibu dan ayahmu penuh warna, kami belajar akan semangatmu yang tak pernah surut. Maafkan ayah ibumu bila dulu sempat membuatmu kecewa. Ibu yakin malaikat2Nya menyambutmu dengan senyuman. Selamat jalan anakku, dan rumah ini memang Persinggahan Sementara mu, 100 hari tanpamu ibu sangat rindu nak....
Dalam kepasrahan jiwaku kudengar sebait lagu .."...bila waktu kan memanggil, teman sejati hanyalah amal.. bila waktu tlah terhenti,teman sejati hanyalah sepi...''

Riani yang terjebak

Kamis, 10 Juni 2010

Riani mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, mencoba meyakini apa yang didengarnya. Dihadapannya duduk laki-laki setengah baya, orang yang dihormati dan dicintainya selain ayah dan ibunya. Berbicara pelan dengan pandangan penuh kasih sayang. Pakde Zaenal sedang melakonkan perannya sebagai penggati orang tua Riani yang saat ini tidak bisa hadir dalam pertemuan yang sangat penting. Riani duduk dalam kediaman, mendengarkan pakde Zaenal menyampaikan aduan Anggito (suaminya) beberapa hari yang lalu.

Sesekali Riani menarik nafas panjang dan melepaskannya, seolah berat sekali bebannya saat ini. Beberapa kali ingin sekali memotong ucapan pakde Zaenal. Tapi diurungkannya, Riani akhirnya memilih diam saja, sebentar-sebentar dia mengangguk. Entah apa arti anggukannya, mengertikah..? mengiyakankah? Setujukah? atau memaklumi apa yang disampaikan pakde Zaenal. Yang jelas pandangan Riani nampak tak bersemangat dan tak mau tahu apa yang diucapkan Pakde Zaenal. Didalam benaknya telah tertancap “aku ingin pisah”

Kenapa kamu minta pisah dengan suamimu? Apa yang salah? Apa tidak bisa diperbaiki lagi? Apa jalan akhirnya harus berpisah? Mestinya ini tidak perlu terjadi Riani. Jangan mengambil langkah dengan emosi. Pikirkan anak-anakmu. Apa kamu tidak kasihan sama mereka? Begitulah kira-kira yang ditangkap Riani dari ucapan pakde Zaenal.

“Angito sudah bercerita banyak. Menceritakan keadaan rumah tanggamu, juga perilakumu di rumah. Menceritakan sebab tidak harmonisnya rumah tanggamu sekarang ini. Sampai pada puncaknya, kamu minta pisah. Dia memang pernah berbuat salah, itu diakuinya. Tapi Riani, apa permintaan maaf Anggito tidak ada artinya? Apa penjelasan Anggito tidak bisa melunakkanmu?

Pakde Zaenal diam sesaat, menunggu reaksi Riani yang sedari tadi tak bergeming, mulutnya terkatup rapat. Riani memainkan ujung kerudungnya sambil matanya mencari-cari apa yang bisa menyejukkan pandangannya. Kemudian Pakde Zaenal berucap lagi..

“Apa kamu tidak takut dimurkai Allah? Ingat Riani, kamu dijodohkan dan dinikahkan dihadapan Allah. Apa benar kamu menginginkan perpisahan ini?”

Riani mengangkat kepalanya lagi, ditatapnya pakde Zaenal. Kegusaran dihatinya kentara sekali, antara ingin menyampaikan dan membela diri.

“Pakde sudah dengar ceritanya mas Anggito kan, jadi untuk apalagi pakde?”

“Riani, apa masalahmu? Anggito minta pakde untuk meyakinkanmu supaya tidak mengambil keputusan yang salah, keputusan berpisah. Nah, sekarang kuncinya di kamu Riani. Kalau kamu bilang tidak menginginkan pisah, maka perpisahan tidak akan terjadi”

“Yang pakde tidak habis mengerti kenapa kamu menginginkan perpisahan hanya karena ingin menikah dengan orang lain diatas balas dendammu. Betul itu yang kamu inginkan? Nyebut Riani, kamu tidak bisa menikah dengan orang yang hanya kamu kenal didunia maya seperti yang dibilang Anggito”

“Riani sudah capek pakde, Riani ingin berpisah. Bukan karena ada orang lain. Itu salah..! Riani cuma tidak ingin cerita.”

“Kalau kamu tidak cerita, bagaimana pakde bisa menyelesaikan masalah ini. Apa jawaban pakde sama Anggito nanti?”

“Sudahlah pakde, Riani hanya ingin pisah. Riani capek ditipu terus. Riani sudah memaafkannya, tapi apa yang terjadi? dia mengulanginya lagi dan mengulangi lagi. Ternyata bertahun-tahun Riani dibohongi, Riani sakit hati pakde”

Pakde Zaenal yang sedari tadi terkesan memojokkan Riani karena terpengaruh aduan Anggito mengerutkan alisnya, sambil wajahnya ditarik kedalam. Memadang Riani penuh tanda tanya. Kemudian mengatupkan kesepuluh jarinya dan menekan ke pertengahan alisnya. Nafasnya dihembuskannya dengan berat. Teramat berat. Dipandangi lagi wajah cantik Riani yang duduk didepannya. Keponakannya ini sedang dirundung duka yang mendalam. Pakde Zaenal kembali mengingat-ingat percakapannya dengan Anggito beberapa hari yang lalu. Anggito membuka sebagian cerita, meminta tolong menasehati istrinya. Tapi kenapa menutupi sebagian cerita lainnya.

“Riani hanya ingin berpisah. Riani sudah memikirkannya. Saat ini Riani sudah memaafkannya tapi tetep ingin pisah pakde”

“Apa tidak ada jalan lain Riani?”

Riani menggelengkan kepalanya. Pakde Zaenal kembali menghembuskan nafas panjangnya. Wajah sedihnya terpancar jelas, menyesalkan apa yang akan terjadi. Menyesalkan nasib keponakan dan anak-anaknya. Seburuk apakah Anggito?

“Riani, meskipun perceraian dibolehkan… tapi ini sangat dibenci Allah. Jangan sampai pakde ikut dibenci Allah karena menyetujui keputusan ini. Kamu mengerti Riani?”

Riani diam, menggigit bibirnya. Kepalanya kembali ditundukkan memandang petak-petak lantai. Hatinya bergemuruh, isi kepalanya terasa penuh.

“Bagaimana kalau pakde membantumu membuat kesepakatan dengan Anggito? Anggap saja ini jalan terakhir sebelum benar-benar terjadi perpisahan”

“Pakde mau tahu keadaan Riani saat ini?”

Pakde Zaenal menatap Riani dalam-dalam. Ditunggunya apa yang akan diucapkan Riani.

“Bulan ini Riani sudah tidak diberi uang. Kata mas Anggito, karena Riani sudah memutuskan untuk berpisah dan mas Anggito menyetujui berarti mas Anggito sudah tidak punya tanggung jawab menafkahi Riani”

Pakde Zaenal tersentak, seperti disambar petir saja rasanya walau Riani menyuarakan pelan. Sekarang ada yang menyumbal dikerongkongan pakde Zaenal, menelan ludahpun rasanya susah sekali. Tiba-tiba lidahnya serasa kaku. Pakde Zaenal tak berucap sepatahpun.

“Jadi sebenarnya tidak perlu lagi mediasi seperti ini pakde. Buang-buang waktu saja mengharapkan mas Anggito berubah, dia tidak akan berubah. Itu sudah sifatnya. Riani capek bersandiwara terus. Harus tersenyum padahal hati remuk pakde. Selalu menutupi kesalahan yang seolah tidak terjadi apa-apa. Banyak sekali masalah yang Riani hadapi dan ini sudah berlangsung lama, inilah puncaknya. Riani ingin pisah, pisah baik-baik. Jadi bohong kalau perpisahan ini karena keinginan Riani menikah dengan orang lain seperti yang diceritakan ke pakde. Bohong pakde. Tidak mungkinlah Riani menikah dengan orang yang tidak dikenal. Setelah perpisahan inipun Riani juga tidak siap untuk menikah secepatnya. Masih trauma pakde. Terlalu sakit pernikahan yang Riani jalani selama ini”

“Sebenarnya mas Anggito juga sudah tidak mau tidur sekamar dengan Riani, ini sudah berbulan-bulan sejak mas Anggito berkenalan dengan perempuan itu. Alasannya capek, sakit, pegel.. ah itu semua hanya alasan supaya mas Anggito bisa bebas menelepon, sms atau chating. Kenapa mas Anggito meminta pakde memediasi supaya tidak terjadi perpisahan ini. Aneh kalau mas Anggito berpikir Riani minta pisah hanya untuk menikah. Apa dia tidak sadar perlakuannya selama ini sama Riani?”

Pakde Zaenal tidak bisa berkata apa-apa. Tidak sesederhana ini rupanya. Dia pandangi Riani yang berurai air mata. Pakde Zaenalpun tak kuasa membendung anak sungai dipelupuk matanya.

Ruang tamu kini kembali sunyi, pakde Zaenal larut dengan pikirannya, apa yang akan dilakukannya setelah ini. Rianipun masih terisak menahan tangisnya. Kemudian pakde Zaenal berdiri dan mendekati Riani. Diletakkannya tangannya dipundak Riani. Ditatapnya wajah Riani dan dicium rambutnya.

“Kenapa tak kau ceritakan dari awal sebelum semuanya mengkristal Riani. Besok pakde akan bicara lagi dengan Anggito, berdoalah yang baik-baik Riani. Ingat..! perceraian sangat dibenci Allah. Kuatkan hatimu”

Pakde Zaenal kemudian berpamitan, dalam langkahnya terselip kepedihan. Apa yang akan disampaikan ke ibu Riani nanti.

**Keluarga sakinah bukanlah sebuah takdir, tapi sebuah pilihan. Untuk menggapainya harus berusaha dan punya keinginan. Rasa saling menghormati antara suami istri & mengerti akan hak dan kewajiban adalah syarat menggapai keluarga sakinah.

Video Cinta Oril dan Muna Laya

Senin, 07 Juni 2010

Oleh : Lian Dewi Angellia


“Brukk…….” kulemparkan tasku di atas kasur bagaikan kuhempas semua beban pikiranku. Kepenatan seharian bekerja membuatku merasa nyaman berada di kamar kostku yang kusewa sudah setahunan ini setelah aku diterima kerja di salah satu televisi swasta “Star Tujuh TV” sebagai reporter infotainment. Hawa sejuk AC membuatku merasa tenang dan damai untuk melupakan sejenak aktivitas yang dipenuhi ketegangan-ketegangan bertemu dengan artis yang kadang sudah antipati dengan reporter macam aku ini.

“Huh sebel banget……” desahku sambil merebahkan badan di kasurku yang empuk sambil kunyalakan televisi.

Gimana ga sebel coba, udah lari pontang panting ke sana kemari, akhirnya dapat berita juga buat tayang di acara GOSIT besok pagi, eeeeh taunya sama pimred malah dicaci maki katanya berita dariku ga berbobot blasss. Sampai tadi siang aku dipanggil supervisorku di ruang kerjanya.

“Ras, kamu kalau cari berita yang bener dong, masak artis cuma jajan di warteg aja kamu wawancarain. Apa menariknya coba??” Kata supervisorku dengan nada sedikit kesal.

“Lha pak, khan jarang-jarang artis jajan di warteg, ya supaya menunjukkan kesederhanaan si artis gitu pak”, kataku menguatkan argumen.

“Please deh Laras!!!! Ga usah ngeles kalo ditegur, kamu cari berita yang bener ya. Awas aja kalau sampe beritamu ecek-ecek lagi, mau jadi apa nih acara kita nanti, ratingnya bisa kalah sama acara INCRET”, kata pak Boim supervisorku yang walaupun tanpa ngomong keras pun orang bisa ketakutan karena wajahnya yang sangar dengan perawakan gemuk, besar, hitam, kepala botak.

“Baik pak, saya akan berusaha” jawabku dengan nada ketakutan rada jengkel.

********

Sore itu, perutku keroncongan banget, pulang kerja belum sempet cari makan. Tiba-tiba aku ingin sekali makan teppanyaki. Lalu berlalulah aku ke PlaNgi Mall yang kebetulan deket aja dari kost-ku, naik motor hanya 10 menit. Segera kubergegas untuk berangkat cari makan sekalian cuci mata liat-liat koleksi fashion di sana, walaupun ga mungkin aku beli karena gajiku saja hanya 2.5 juta, untuk hidup di ibukota tentunya pas-pasan saja. Tapi secara tiap hari aku ketemunya ma artis terus, makanya ya mau tidak mau harus ngerti yang namanya fashion juga.

Sampai di foodcourt PlaNgi, aku pesan teppanyaki kesukaanku dengan menu chicken teppanyaki. Sembari menunggu masakan itu datang, tiba-tiba gairah ku untuk kencing muncul lalu aku pergi ke toilet sesaat.

Tak kusangka tak kuduga, pada saat yang bersamaan ada Muna Laya si artis cantik yang dikabarkan berpacaran dengan Oril si vokalis Petra band. Aku pun mempersilakan dia masuk duluan ke ruangan toilet yang di situ ada beberapa kamar toilet. Lalu dia pun masuk terlebih dahulu dengan langkah acuh tanpa menunjukkan wajah terima kasihnya padaku, baru setelah itu aku mengikutinya.

Di dalam toilet itu tak ada orang lain kecuali kami berdua, tapi kulihat beberapa toilet tertutup pertanda ada orang yang memakainya. Hanya tinggal satu toilet terbuka, dan segera saja kupersilakan Muna Laya untuk masuk duluan karena kulihat dia sudah memegang perut, kelihatan tak tahan sedang merasakan sakit perut. Tanpa ba bi bu, dia pun masuk toilet dan meninggalkan tas tentengnya di dekat wastafel. “Wuih, apa ya nggak takut tuh ada maling nyuri tasnya”, pikirku.

Seketika nafsu jahatku mulai membisikkan niat buruk kepadaku. “Laras, kenapa enggak kamu ambil aja handphone si jutek Muna Laya yang barangkali ada di dalam tas itu, kali aja ada foto-foto aneh yang bisa kamu setor ke pak Boim atasan kamu untuk dipublish di infotainment, lumayan khan bisa dapat pujian dan mengangkat nama baik kamu?” bisik iblis kepadaku…

“Ahaaa, why not?? Toh dia jg orang kaya, bisa beli hape baru kalo kuambil hapenya, hihihihi”, pikirku pendek.

Dengan perlahan, aku meraih tas Muna Laya yang berwarna coklat dengan merk “CHANNEL”. Aku buka tas itu, lalu kuambil hape nya yang ternyata adalah BlackBerry berwarna biru. Dengan agak sedikit deg-degan bercampur panik, aku langsung saja keluar dari toilet dan bergegas ke parkiran untuk mencari motorku karena ingin segera jauh dari tempat itu. Seketika rasa laparku pengen makan teppanyaki dan rasa kebelet kencingku hilang.

Kukendarai motorku bergegas menuju tempat kerjaku. Anytime memang kantorku nggak pernah tutup karena banyak reporter yang kejar setoran hingga larut pun kadang masih diterima untuk kejar tayang esok paginya. Ketika masuk di ruangan kantor, kulihat ruangan pak Boim masih menyala pertanda dia masih ada di ruangannya. Lalu aku duduk di mejaku, kubuka BB Muna Laya yang tadi kuambil. Satu persatu file kubuka hingga kutemukan ada video cinta Muna Laya dengan pacarnya yang tak lain dan tak bukan adalah Oril. “Yihaaaaa, kagan sia-sia deh gua ambil nih barang”, kataku dalam hati.

Setelah selesai transfer data ke komputerku, kupindahkan ke flasdish dan siap kupamerkan ke pak Boim, lalu aku masuk ruangannya. “Pak, tadi saya ketemu orang yang tidak mau disebutkan namanya, dia kasih file ini ke saya. Katanya sih skandal besar gitu deh pak. Coba deh Bapak liat aja dulu”, kataku berbohong takut ketahuan mencuri hape selebriti.

“Coba saya lihat..”, jawab pak Boim nampak penasaran.

Setelah dibuka file data tersebut, pak Boim kaget bukan kepalang sekaligus gembira. “Woooow, berita bagus ini Laras. Gini dong kalau cari berita tuh yang berbobot macam ini”, puji pak Boim kepadaku.

“Sana kirim ke Tofa, siap produksi buat tayang besok ya!” perintah pak Boim kepadaku.

“Siiip, ok pak”, jawabku lalu berlalu keluar dari ruangannya.

*****

“Uaaaaah……..” petang itu pukul 6 menjelang maghrib tiba-tiba aku terbangun.

“Haaaah, mimpi apa aku baru aja, kok serem banget. Masa aku jadi pencuri sih, gileee naudzubillah mindzalik deh” desahku sambil masih agak merasa ngantuk.

“Uuuh pasti ini dapet mimpi jelek gara-gara tadi siang kena semprot si bos. Mana perut laper gini, eeeh pas ketiduran mimpi mau makan aja ga jadi. Nasiiib nasiib!!” keluhku dalam hati.

Sambil masih bermalas2an, kuraih remote tv dan kuganti channel tivi yang sedari tadi sudah menyala, kupilih stasiun tivi kebanggaanku “Star Tujuh TV”. Saatnya deh nonton GOSIT sore, acara infotainment yang paling sering kutonton, padahal aku adalah salah satu reporternya juga.

Berita pertama pun disajikan. Gedubraaak, jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali. Berita utama GOSIT sore itu adalah tersebarnya video cinta Oril dan Muna Laya… Oh My God, ini beneran bukan salahku.... Aku tadi hanya mimpi, kenapa beritanya jadi beneran ada… Aku nggak mau di penjara, please Tuhan!!!!

-TAMAT-
Bontang, 6 Juni 2010

Mendung Di Hati Sasa

MENDUNG DI HATI SASA
By YUNI


Sasa berlari lari riang ketika pulang Sekolah. Ia sedikit bergegas karena akan diajak belanja sama mamanya. Besok hari Minggu, Sasa, mama dan papanya akan keluar kota untuk berlibur.
Tak mengherankan jika pada hari Sabtu itu mamanya akan belanja untuk bekal esoknya.
“ Ma .............! Ayo, jadi nggak belanjanya ?, katanya mau ke Supermarket !” seru Sasa begitu ia sampai di rumah.
“ Jadi dong, tapi kamu mesti ganti pakaian dan makan siang dulu!” kata mamanya.
“ Pakai pakaian ini aja ya Ma, nggak usah ganti segala !”
“ Lho ......... lho .......... lho ....... masak baju seragam sekolah dipakai ke mana2 ?”.
“ Ya deh ........... Sasa ganti baju dulu “ , Sasa lalu memasuki kamarnya dan berganti pakaian. Tidak berapa lama, ia segera keluar dari kamar.
“ Ma ......... Sasa sudah siap! Yuk berangkat Ma!”, ajak Sasa.
“ E ............ kamu makan dulu dong , nanti kamu kelaparan !”
“ Nggak usah ma, nanti beli mpek mpek aja yang deket Supermarket itu lho Ma “.
“ Mama kan sudah masak, ngapain mesti beli mpek2 segala ?”
“ Ala Mama ! Sekali sekali beli mpek mpek ngapain sih? “ rengek Sasa.
“ Kan 3 hari yang lalu habis beli mpek mpek ke sana! Kok sekarang beli lagi ? Habis dong duit Mama nanti “.
“ Pokoknya Sasa nanti mau beli mpek2. Kalau Mama nggak mau, ntar Sasa ngambek lho! “ Sasa mendesak mamanya sambil mukanya agak cemberut .
“ Iya .......... iya ........., beli mpek mpek ya beli mpek mpek, tapi kamu nggak usah cemberut gitu! “.
“ Cihui .........! “ teriak Sasa yang kemudian merangkul Mamanya dan mencium pipinya dengan gemas “.
“ Aduh, kira kira dong Sa ....! “, seru mamanya kesakitan karena ciuman putrinya itu.
Sasa dan Mamanya kemudian beriringan menyusuri gang di kompleks perumahan mereka. Sesampainya di jalan raya mereka berhenti untuk menunggu taksi. Tak berapa lama kemudian ada
taksi yang melintas di jalan raya itu. Taksi itupun segera dihentikan oleh Mama Sasa.
Pagi harinya Sasa sudah berdandan rapi, mesti tidak bersekolah karena hari Minggu. Sasa mengenakan celana jeans dan kaos lengan pendek yang bergambar tokoh kartun Spongborg. Ketika Sasa, Mama dan papanya akan naik ke mobil, tiba tiba ada seorang memanggil manggil papa Sasa dan menghampiri mereka. Orang tersebut ternyata Pak Momon, tetangga dekat mereka.
“ Maaf Pak .....e ........e .........anu ..........e .........e ...........anak saya .......e .......e ..........anu .........e .......e ! kata Pak Momon tak jelas karena gugup dan kebingungan.
“ Tenang Pak, tenang ! Pak Momon itu ada apa?, kok gugup begitu? “ tanya Pak Sulaeman, papa Sasa.
“ E ..... anu Pak ....... e ...... anak saya sakit. Badannya panas sekali dan ia ngomel ngomel tak karuan! Tolonglah anak saya Pak!”/
Pak Sulaeman dan istrinya saling berpandangan. Tanpa banyak bicara, Pak Sulaeman dan istrinya pergi ke rumah Pak Momon. Sementara itu Sasa masuk ke dalam mobil dengan hati kesal.
“ Sasa, ayo keluar dulu. Mobilnya mau dipakai papamu nganterin Sindy ke RS, suruh mamanya. Setelah kembali dari rumah Pak Momon.
“ Huh ....... Pak Momon sih bikin kacau acara saja!” omel Sasa sambil keluar dari mobil.
“ Jangan begitu Sa, kita kan mesti membantu tetangga yang kesusahan !” kata mamanya.
“ Sementar ya sayang, Papa ke Rumah Sakit dulu! Pokoknya kita tetep ke luar kota!. Pak Sulaeman menepuk pundak putrinya, lalu masuk ke mobilnya dan segera pergi.
“ Kok mesti Papa sih Ma, yang nganterin Sindy?, kan masih banyak tetangga lain yang punya mobil?” tanya Sasa jengkel.
“ Kita kan tetangga pak Momon yang paling dekat. Lagi pula Pak Momon kan sering bantu bantu kita”.
“ Tapi kita kan mau bepergian, Pak Momon mestinya tau diri dong !”.
Muka Sasa semakin mendung, ia kemudian duduk di kursi teras.
“ Huh ..... gara gara Pak Momon, acara jadi berantakan!” omelnya lagi.
“ Sa, kamu ini bagaimana sih? Kita kan sama tetangga mesti tolong menolong! “ kata Mamanya
“ Ingat nggak kamu ketika jatuh dari sepeda? Siapa yang menolongmu? Pak Momon kan? Coba kalau nggak ada Pak Momon, mungkin lama kamu baru mendapat pertolongan. Waktu itu kan Mama sama Papa tidak ada di rumah .” sambung mamanya.
Sasa jadi ingat peristiwa yang terjadi menimpa pada dirinya, kira kira setahun yang lalu. Ketika itu ia sedang naik sepeda kemudian ia terjatuh karemna ada mobil yang berkecepatan tinggi menyalipnya, ia gugup dan terjatuh di selokan. Untung waktu itu Pak Momon melihatnya yang kemudian menolongnya membawa ke Rumah Sakit. Sasa menghela nafas dalam dalam.
“ Diin ........... diin ............! Suara klakson mobil tiba tiba menyentak lamunana Sasa.
“ Ayok Ma, itu Papa sudah datang! “ Sasa menarik tangan mamanya.
“ Kok cepat amat sih? Memangnya urusan Sindy sudah selesai ? tanya Sasa kepada Papanya ketika sudah berada di mobil.
“ Iya, kan Sindy terpaksa harus diopname di Rumah Sakit! “
“ Terus yang nungguin siapa Pa ? “ tanya Mama Sasa
“ Pak Momon dan istrinya, mereka tadi kan ikut “.
“ Nanti kita tengok Sindy ya pa, pulangnya nanti! “ usul Sasa kepada Mama dan Papanya.
Pak Sulaeman dan istrinya saling berpandangan kemudian tersenyum. Di dalam hati mereka senang melihat perubahan sikap putrinya yang semata wayang itu.
Setelah itu mobil Pak Sulaeman bersama istri dan anaknya itu segera meluncur dari halaman rumah.

8 Sampai 17

Jumat, 28 Mei 2010

Oleh : Winny W. Sutopo


08.00
“Good morning everyone,” sapaku sambil memasuki ruangan.
“Good morning, mbak,” teman2 yang sudah berada di ruangan menyahuti.
“Wah, cerah hari ini,” kata bu Ratna.
“Iya, nih kayaknya hari ini mbak Ratih lagi happy,” celetuk Dina.
“Bagus ya, aku pakai warna ini? Ok, besok aku bikin selusin deh baju warna ini biar kelihatan cerah terus,” sahutku sambil menyalakan komputer.
Selembar post-it tampak tertempel di layar monitor. Dari Devi, bosku, menanyakan posisi rekrutmen posisi Sekretaris Bos Besar. Begitu komputer siap untuk bekerja, langsung tanganku membuka lembaran website kantor kami untuk mencari jawaban atas pertanyaan Devi. Ah, penutupan lamaran masih 3 hari lagi dan sampai saat ini sudah 300 orang melamar. Selalu saja, bila ada lowongan untuk jabatan Sekretaris dan Administration Assistant, pelamarnya pasti membludak. Haiya,… alamat kerja keras nih. Aku menuliskan jawaban untuk Devi dan mengirimkannya lewat email.

Sempat juga kulihat bahwa hari ini ada 3 pos jabatan yang tutup, artinya hari ini aku harus mencetak seluruh lamaran yang masuk dan membawa ke rumah untuk membaca satu persatu sambil menyeleksinya. Syukurlah, sudah ada program yang melakukan penyeleksian awal, sehingga lamaran yang harus kubaca hanya yang sudah memenuhi prasyarat awal saja. Seringkali ada saja pelamar yang nekad mengirimkan lamaran padahal jelas-jelas tidak memenuhi prasyarat awal. Yah, namanya juga usaha.

Ha,…..ini ada jawaban dari pak Edwin di emailku. Dia bersedia membantu dalam proses wawancara lusa. Asyik, berarti ketiga panelis sudah bersedia semua. Siiip….lah, tinggal memfotokopi berkas-berkas lamaran, membuat filenya dan membagikannaa kepada anggota panel.

Kriiiiing….telepon di mejaku berbunyi.
“HR Unit good morning.”
“Mbak, ini Verena dari Environment Unit. Mau tanya dong, kalau mau bikin Term of Reference untuk Finance Assistant GS-6, requirementnya apa?”
“Ok, nanti aku emailnya isi Term of Reference dan requirementnya.” Term of Reference adalah jabaran tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang menduduki posisi jabatan tertentu. Biasanya dibuat bersamaan dengan pengiklanan lowongan jabatan.

“Mbak Ratih yang baik,” sapa Anna dari CPRU yang tiba-tiba saja sudah muncul di ruang kerjaku.
“Ya, Anna yang juga baik hati, peramah dan tidak sombong, apa yang bisa aku bantu?”
“Mbak, aku sudah bikin Term of Reference untuk Project Officer, minta tolong diklasifikasi ya mbak.”
“Ok deh, tinggal dulu disini ya, nanti kalau sudah diklasifikasi aku kabar-kabari deh.”
“Thanks ya mbak. Bisa minta cepat nggak mbak? Si Alesandra sudah bolak balik nanya nih.”
“Oce, oce, aku kerjakan secepat kilat deh.”
CPRU merupakan unit yang berhubungan dengan penanggulangan krisis dan bencana alam. Dengan banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia saat ini, tidak heran bila unit ini jadi kewalahan dan semua posisi yang menyangkut unit ini harus diprioritas utamakan.

Bekerja di salah satu badan PBB yang berhubungan dengan pembangunan, bahasa resmi yang dipakai di kantor ini memang bahasa Inggris, karena stafnya memang sangat beragam kebangsaannya. Seperti Devi, bosku, dia berkebangsaan India atau Mark yang Operation Manager, bosnya Devi, orang Amerika. Tetapi di antara sesama staf lokal, kami masih bisa leluasa berbahasa Indonesia.


08.50
Weits, sudah hampir jam 9 nih. Aku harus bersiap-siap menangani wawancara. Cepat kuambil pulpen, kacamata, notes dan file. Hmm, wawancaranya di ruang meeting lantai 10, berarti harus naik tangga 2 lantai nih. Ok, deh, siapa takut.
“Friends, aku ke lantai 10 dulu, ada wawancara.”
“Sampai jam berapa, mbak?” tanya bu Sonya.
“Kayaknya sih sampai jam 12, bu”.
“Makan siang dimana?”
“Di ruangan saja, deh. Din, titip ya, kalau Rahma muncul, aku dibelikan gado-gado dan jus tomat.”
“Ok, bu.”
“Devi, if you need me, I’ll be at the 10th floor, interviewing,” pamitku kepada Devi sambil menjulurkan kepala ke dalam ruangannya.
“Ok, Ratih, good luck.”

Sambil berjalan ke lantai 10, aku mampir ke ruang operator untuk mengingatkan pak Tono, operator telepon andalanku, bahwa aku ada wawancara lewat lewat telepon. Jadi, minta tolong, nomorku dipindah ke telepon di ruang meeting dan minta tolong disambungkan ke nomor-nomor yang akan dihubungi sesuai jadual. Aku juga menyerahkan jadual wawancaranya.

Posisi yang akan diwawancara hari ini adalah lowongan yang terbuka bagi pelamar internasional. Ada 3 pelamar, masing-masing bertempat tinggal di Australia, Afganishtan dan Thailand. Menangani rekrutment seperti ini, pelamar tidak perlu datang ke Indonesia. Cukup melalui sambungan telepon saja. Mengingat adanya perbedaan waktu antara ketiga tempat tersebut, maka ketika menyusun jadual, aku harus berhati-hati mempertimbangkan adanya perbedaan waktu ini. Panel interview juga terdiri dari staf internasional yang jabatannya setara dan lebih tinggi dari jabatan yang akan diwawancara. Pada wawancara kali ini, tugasku hanya ikut menyimak jalannya wawancara, mencatat dan nanti membuatkan laporannya.

Setelah anggota panel berkumpul semua, wawancara pun dimulai. Diawali dengan pelamar yang bertempat tinggal di Australia. Aku menekan beberapa nomor untuk menghubunginya dan… ”Hello, may I speak to Mr. Alain please?”
“Mr. Alain, this is Ratih from UNDP Indonesia…..” aku memperkenalkan diri sambil menjelaskan proses interview dan memperkenalkan panelis yang ada. Masuk ke pelamar kedua. Agak lama, baru aku mendapatkan sambungan. Itu pun tidak langsung diangkat. Kucoba lagi nomor lain yang telah diberikan oleh pelamar. Memang sebelumnya, dalam email, ia telah menjelaskan bahwa berhubung situasi keamanan di negerinya sedang tidak menentu, maka bila situasi aman, ia akan berada di kantor pada hari wawancara. Tetapi, bila situasinya mendadak tidak aman, maka ia akan tinggal di rumah, sesuai instruksi pemerintahnya.
“Mr. Amir Khan?”
“Yes, is this Ratih?”, kudengar suara yang tidak jelas dan samar-samar di ujung sana. Memang paling sulit kalau berhubungan dengan pelamar yang berada di negara-negara yang rawan konflik atau belum baik sambungan teleponnya. Wawancara dengan Mr. Amir Khan pun akhirnya selesai, walau pun diselingi dengan beberapa sambungan terputus. Disinilah aku membutuhkan bantuan pak Tono, untuk kembali menghubungi pelamar. Terakhir, dengan Mr Jason yang berdomisili di Thailand. Berhubung wawancara kedua tadi putus sambung beberapa kali, maka jadual wawancara dengan Mr. Jason jadi mundur 1 jam. Jadilah aku harus meminta maaf dahulu untuk keterlambatan ini. Untung dia masih sabar menunggu dan tidak berkeberatan dngan jadual yang mundur itu.

12.05
Akhirnya, selesai juga wawancara hari ini. Panel tampaknya bersenang hati karena telah menemukan calon yang cocok. Setelah diskusi sejenak, mereka menyerahkan catatan wawancara masing-masing kepadaku untuk nantinya kubuatkan laporan wawancaranya.
“I will contact you soon after I finish with this write-up to have your review,” begitu janjiku pada mereka. Memang, mereka masih harus melihat kembali hasil laporanku sebelum membubuhkan tandatangan nantinya.

Di mejaku, sudah tersedia sebungkus gado-gado dan segelas jus tomat. Biasanya, kami ramai-ramai makan siang di luar. Tetapi hari ini, aku memilih untuk makan di dalam kantor saja.


13.05
Aku berharap siang ini bisa berjalan tenang. Sambil mencetak lamaran-lamaran yang masuk untuk ke 3 posisi yang tutup hari ini, aku membuat klasifikasi jabatan, sesuai janjiku pada Anna tadi pagi.
“Ratih, can you tell me the recruitment position for post Program Manager Padang?” suara Mark menanyakan posisi rekrutmen untuk Program Manager Padang mengagetkanku.
“We have done with the short-listing and will do the interview the day after tomorrow, pak” jelasku. Untung sudah dibuat jadual wawancaranya lusa.
“Please, treat the recruitment as your baby,” tuntut Mark. Itu artinya, aku harus menomorsatukan posisi itu dibandingkan dengan posisi-posisi lainnya dan harus mengerjakannya secara ekstra hati-hati. Rasanya, tiap posisi harus dikerjakan secara hati-hati dan segera. Kemana ya Mark ini waktu pelajaran kata “nanti” atau “secepatnya”. Dia kayaknya cuma tahu “sekarang” aja deh.


15.10
Tanda adanya email masuk dilayar komputerku membuat mataku hampir meloncat keluar. Pak Kumar mengabarkan bahwa dengan sangat menyesal dia tidak dapat ikut dalam wawancara besok pagi, karena mendadak ada meeting di BAPPENAS. What?!?! O, tidak!!!! Jam segini, harus mencari orang buat besok pagi????? Mendadak perutku mulas luar biasa. Dengan menenangkan diri, aku mengambil daftar staf UNDP yang ada. Ibu Nia, biasanya bisa. Hmmm, tapi dia orang Indonesia. Ini international post. David. Kuputar nomor teleponnya. Yaaah….., ternyata dia sedang keluar kota. Shigeru, Jepang yang ganteng dan pandai. Keberatan, karena baru kemarin dia wawancara. Memang sih, tidak dapat disalahkan, karena wawancara bukan tugas pokok mereka, walau pun peraturan menuntut mereka harus ikut menjadi anggota panel wawancara bila diperlukan. Harapan terakhirku tinggal pak Karl, si botak yang biasanya suka menolong kalau aku sedang kepepet. Lama teleponku tidak ada yang mengangkat. Kutekan nomor telepon sekretarisnya.
“Nana, ini Ratih. Ayahandamu kemana say?”
“Lagi ke proyek bu.”
”Tolong dong intip, besok dia ada acara ngga? Kalau ngga ada yang penting aku mau minta tolong wawancara nih.”
“Kayaknya, sih, besok Babe di kantor aja, bu. Tapi mending ibu telepon sendiri dulu ya.”
“Siip, makasih ya Nan.” Cepat kuhubungi pak Karl di hapenya.
“Hi Spiderwoman, how are you?” Pak Karl selalu memanggilku Spiderwoman, karena aku akan selalu mengejar siapa pun yang aku perlukan untuk wawancara sampai dapat, tidak peduli dia bersembunyi dimana. Cepat kujelaskan masalahku.
“Well, what can I say? Ok, I will do the interview.” Bodo ah, berkeberatan atau nggak, yang penting besok aku sudah dapat pengganti pak Kumar.

Cepat kusiapkan filenya dan mengirimkannya ke meja pak Pak Karl untuk dipelajari nanti sepulang dari proyek.

16.30
Tidak terasa sudah hampir jam 17.00. Aku ingat sore ini berjanji pada suamiku untuk menemaninya ke dokter gigi. Cepat kubereskan mejaku dan bergegas sholat ashar. File lamaran yang akan kubawa pulang sudah kusiapkan juga dibawah tas tanganku. Begitu juga berkas laporan yang harus kuselesaikan. Ini akan menjadi pe-erku nanti malam, kalau tidak terlalu lelah.

17.07
“Devi, I’m going home,” aku pamit pada atasanku.
“Why are you going home so early?” Yaealah……, paling nggak enak kalau pulang jam 5 sore, pasti ditanya kenapa pulang cepat. Padahal sebenarnya, jam kerja kami cuma sampai jam 16 lho.
“I have an appointment with my husband,” terpaksa deh, aku jelaskan.
“Ok, see you tomorrow.”
“See you tomorrow, Devi!” Dina ikut-ikutan pamit.
“Ok girls, bye…” sahut Devi.

Selesai sudah aku menjalani hidupku satu hari ini. Dengan bergegas, aku melangkah ke tempat parkir mencari dimana suamiku menjemput.

Roda Kehidupan

Oleh : Winny W. Sutopo

“Eh, file siapa tuh yang masih belum diambil?” tanya Tiara sambil mengambil file klien miliknya.
“Punya Dinar,” sahut Linda yang sudah duduk di kursi pilihannya, sambil membuka-buka filenya.
“Lho, Dinarnya belum datang?” kembali Tiara bertanya sambil mempelajari file klien yang akan diwawancara.
“Belum,” jawab Linda. “Mungkin travelnya terlambat.”

Hmmm…. tiap hari Senin, Dinar pasti datang terlambat untuk wawancara. Memang sih, bisa dimaklumi, dia datang dari Bandung. Dinar bisa dikatakan tergolong anggota PJKA (Pergi Jum’at Ahad kembali), karena tinggal di Bandung, sementara pekerjaannya di Jakarta.

Sambil terus membuka-buka file klien yang akan diwawancara, Tiara terus asyik memikirkan Dinar. Tidak masuk di akalnya, untuk pekerjaan mengasong, sebutan bagi psikolog lepasan yang bekerja di beberapa biro konsultasi dan hanya muncul saat diperlukan untuk memeriksa klien saja, Dinar koq mau sih wara-wiri Bandung-Jakarta tiap minggu. Pekerjaan ini kan tidak terlalu menghasilkan banyak uang. Paling tidak, bila dibandingkan dengan rasa capek dan kerepotan Dinar harus meninggalkan keluarga di Bandung.

Buat Tiara sendiri, bekerja sebagai pengasong hanya dilakukan sebagai pengisi waktu luang. Ada kalanya ia menolak panggilan untuk wawancara, bila merasa laporannya masih banyak atau ia sedang tidak “mood” bekerja. Sejak anak-anaknya menginjak remaja, tidak banyak yang harus ia lakukan di rumah. Apalagi pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman lama, sesama psikolog. Uang bukan faktor utama, penghasilan suaminya sebagai manager salah satu perusahaan terkemuka lebih dari cukup. Selama ini, ia lebih banyak menghabiskan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri (terbayang, iklan di surat kabar tadi pagi tentang sale di Metro. Patut dilihat tuh, siapa tahu tas yang diinginkan ikut juga dalam program sale kali ini). Atau membelikan sesuatu bagi anak-anaknya (o, iya, tadi si bungsu Shinta minta dibelikan tiramisu kesukaannya).
“Ibu-ibu, hari ini bu Dinar tidak datang, anaknya masih sakit. Jadi ada 4 file nih, yang harus ditambahkan ke bagiannya ibu-ibu. Bu Tiara tambah satu ya,” suara pak Eko, petugas administrasi membuyarkan lamunannya. “Bu Linda tambah satu lagi ya.” “Bu Ines tambah dua ya.”
“Eh, Eko, jangan….aku. Laporan yang kemarin masih belum selesai lho, jangan dua,” Ines buru-buru mengajukan keberatannya. “Bu Tiara saja tuh tambah dua, laporannya sudah selesai . Ya, Tiara, please…”
”Okey, deh… untuk Ines apa sih yang nggak kulakukan”, sahut Tiara rada-rada menggombal. “Halah, sinetron banget deh,” sahut Ines. “Tapi, makasih ya, Tiara”.

Berkumpul dengan psikolog yang sebagian besar wanita, memang selalu riuh dan menyenangkan. Banyak hal yang bisa dibicarakan bersama, mulai dari urusan anak, masakan, tempat mana yang menjual barang keperluan wanita yang murah meriah sampai urusan yang lebih serius, seperti membahas klien atau kadang-kadang issue-issue penting yang menyangkut negara.

Tiara kemudian tenggelam dengan tugasnya mewawancara klien yang mengikuti seleksi penerimaan karyawan. Adanya tambahan 2 file dari Pak Eko, menjadikan klien yang harus ditangani hari ini menjadi 6 orang. Lumayan juga, harus konsentrasi untuk 6 jam ke depan, mengamati perilaku klien sambil mewawancaranya dan mencatat. Untunglah, hari ini tidak ada klien yang perilakunya luar biasa. Mereka cukup kooperatif dan komunikatif.

Selesai dengan klien ke 4, Tiara memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kepalanya mulai jenuh dan lelah. Perutnya juga mulai lapar. Dia memutuskan untuk berdiri sejenak, mengambil teh dan kue, jatah snack pengasong. Di meja snack, Tiara berpapasan dengan Linda yang juga sedang beristirahat.

“Linda, sakit apa anaknya Dinar? “ Tiara membuka pembicaraan.
“Nggak tahu, minggu lalu sih, anaknya yang bungsu gejala tipus”.
“Terus, anaknya diopname?”
“Kayaknya sih, nggak, berobat jalan saja.”
“Lho, kenapa nggak diopname? Kan bahaya tuh.”
“Tiara, opname itu kan butuh uang. Dan Dinar nggak punya uang untuk membayar biaya opname anaknya.”

Tanpa diminta, Linda lalu bercerita bahwa Dinar menikah dengan duda yang membawa 4 anak. Dari perkawinan ini, Dinar memiliki 2 anak. Suaminya dulu bekerja sebagai General Manager sebuah hotel bintang 5 di Batam. Tetapi karena krisis moneter, maka dia kehilangan pekerjaannya dan sampai sekarang menganggur. Keluarga ini lalu pindah ke Bandung, menempati rumah eyang Dinar, yang kebetulan kosong. Sebetulnya pernah ada beberapa kali tawaran pekerjaan untuk suami Dinar di hotel bintang 3 atau 4, tetapi dia selalu menolak, karena tidak sesuai untuk levelnya. Jadilah, Dinar yang lintang pukang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Bisa dikatakan, Dinar hanya menjadi “week-end mother”, di hari kerja dia berada di Jakarta untuk mengasong.

Terperangah Tiara mendengar cerita Linda. Memang, sudah lama dia tidak berhubungan dengan Dinar. Sejak menikah dan mengikuti suaminya bekerja di pulau seberang, nyaris tidak pernah dia menjalin kontak dengannya. Baru sejak kepindahannya kembali ke Jakarta, beberapa bulan yang lalu, dia bertemu kembali dengan Dinar.

Dinar. Tidak disangka perjalanan hidupnya begitu berat. Ingatannya melayang ke masa-masa mahasiswa. Saat itu, Dinar termasuk salah satu mahasiswa yang tergolong berduit. Betapa tidak, ayahnya salah satu Direktur BUMN yang terkenal gudang uang. Ibunya profesor pendidikan terkenal. Ke kampus, Dinar selalu diantar jemput oleh mobil bersopir. “Geng”nya Dinar adalah kelompok mahasiswa berduit yang hidupnya kelihatan “wah”. Saat itu, Tiara hanya mahasiswa biasa yang naik-turun bis sebagai kendaraan ke kampus. Memang, Tiara tidak terlalu dekat dengan kelompok Dinar, tetapi karena kampus mereka kecil, maka mereka saling kenal.

Hidup manusia memang tidak ada yang dapat menduga, persis seperti roda. Kadang ada di atas, setelah itu bisa berputar ke bawah. Tiara, yang dulu, mahasiswa biasa sekarang hidup berkecukupan, sedang Dinar yang dahulu serba ada, sekarang bahkan untuk biaya opname anak pun tidak ada. Pekerjaan mengasong, yang bagi Tiara hanya pengisi waktu dan penambah uang jajan, bagi Dinar ternyata merupakan sumber nafkah utama. Tidak terbayangkan, bagaimana menghidupi keluarga dengan anak 6 hanya mengandalkan penghasilan mengasong. Tidak heran, bila apa pun yang terjadi, Dinar rela pontang-panting dari satu biro konsultasi ke biro konsultasi lainnya untuk mengejar panggilan wawancara sepanjang minggu. Sudah terbayang, bahwa malam harinya, dengan badan penat setelah seharian menembus kemacetan Jakarta, Dinar masih harus berkutat dengan laporan. Bagi Dinar, tidak ada kata “tidak mood” atau “masih banyak laporan” untuk menolak wawancara. Menolak wawancara, berarti berkurangnya penghasilan.


Sambil kembali ke tempat duduknya, Tiara tidak henti-hentinya mengucapkan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya. Ia bersyukur atas “kemewahan” hidup yang dimiliki. Atas suami baik hati yang bisa memberinya kehidupan yang jauh di atas layak, anak2 yang sehat dan pandai. Tiba-tiba ia merasa sangat kangen kepada suaminya yang sedang berdinas keluar kota. Dirogohnya tas tangannya mengambil telepon genggam, lalu ditekan beberapa nomor. ”Assalamulaikum. Papa? Papa, aku cuma mau bilang, aku sayang sekali sama papa dan bersyukur papa menjadi suamiku”.

Sebuah Cerita Cinta

Sebuah Cerita Cinta
Oleh : Hasviniyanti

Putri Duyung Cottage, Ancol 23.55 WIB
Acara makan malam family gathering dari beberapa orang sahabat karib.

“Uggh, Aku bosen. Kalau saja aku punya pacar, aku tidak akan merasa kesepian seperti sekarang” desah Riana sambil melirik Rizky yang duduk di seberangnya.

“Tinggal kita berdua ya?” jawab Rizky sambil tersenyum.

Riana menyambutnya dengan senyum pahit, dia mengerti betul maksud Rizky. Hanya mereka berdua dari geng ‘Sendal Jepit’, geng masa mereka kuliah dulu, yang masih single. Mereka terdiam sesaat memperhatikan teman-teman yang lain bersuka cita dan bercengkrama dengan pasangan dan anak-anak mereka.

“Gimana kalau kita coba berpacaran?” celetuk Riana tiba-tiba.

“Pacaran gimana sih?” tanya Rizky

“Yaa.. pacaran-pacaran.. kita berdua.. Cuma hmmm 1 bulan saja lah, 30 hari.. aku hanya ingin ngerasain punya pacar..males jomblo melulu” lanjut Riana santai

“Hhmm..” Rizky tampak mengernyitkan kening.

”Ayolaahh.. rese lo… gak seburuk itu kok pacaran sama aku..” desak Riana

“Iya, sih iyaa… tapiiiiiiii…”

“Hanya 30 hari Ky, setelah itu kamu bebas tebar pesona lagi deh, gimana?” potong Riana cepat

“Hhmm boleh juga” jawab Rizky beberapa saat kemudian.

“Ugh, kok kedengarannya gak semangat banget sih? Semangat dong… semangat … mauuu gaakk?” desak Riana lagi, Rizky akhirnya mengangguk setengah hati. “ Siippp..” Riana melonjak senang, “Hari ini resmi jadi hari jadian kita ha..ha..ha.. “ Riana tertawa gembira “hayo kita salaman..” lanjut Riana riang sambil mengulurkan tangannya

“Sinting kamu…” seru Rizky akhirnya ikutan geli sambil menyambut uluran tangan Riana, mereka lalu berjabat tangan sambil tertawa

“30 hari” kata Riana dengan senyum lebar

“30 hari” jawab Rizky.

Hari kedua
Hari ini pertamakali Rizky menjemput Riana dikantornya di bilangan Rasuna Said, mereka makan malam bersama di Soto Gubrak Casablanca, Riana memilih tempat ini karena dia suka dengan sensasi tergaget-kaget tiap mendengar gubrakan keras dari pelayan ditempat itu. Setelah kenyang mereka lalu sepakat pergi nonton di TIM.

Hari ketiga
Mereka datang keacara ulang tahun teman kantor Riana, seisi kantor heboh, termasuk boss Jepangnya Riana, karena Riana datang bersama Rizky, maklum Riana termasuk dari Senior Marketing yang masih betah menjadi single di kantornya. Sang boss berkali-kali menggoda Riana dan Rizky

Hari ketujuh
Rizky mengajak Riana menjenguk temannya yang baru melahirkan, bersama-sama mereka memilih kado perlengkapan bayi, sambil mereka berjalan-jalan cuci mata di sebuah mall. Hari ini pertama kali mereka bergandengan tangan, dan pada saat pulang Rizky membelikan bross cantik warna ungu untuk Riana.

Hari kesepuluh
Mereka menghabiskan waktu di Dufan, 2x naik Halilintar, 2x naik niagara sampai basah kuyup, 3x naik kora-kora sampai Rizky hampir muntah, kemudian mereka masuk ke Istana Boneka dan membeli kapas permen yang berwarna pink. Mereka tertawa-tawa bersama dan berbagi botol minuman. Sore hari waktu mereka naik diatas bianglala mereka berciuman, ciuman pertama mereka.

Hari ke duapuluh sembilan
Riana menyarankan agar mereka kembali menghabiskan waktu dengan pergi ke pantai. Dan mereka kembali kepantai favorit mereka, Ancol. Duduk di tepinya menatap matahari yang mulai tenggelam sambil berpelukan dan berpegangan tangan.

18:23
Riana: “Aku haus Ky”
Rizky:” Tunggu sebentar ya, aku beli minum, mau minum apa?”
Riana: “Air mineral aja deh..”

18:43
Riana menunggu sekitar 20 menit, Rizky belum juga datang. Lalu seorang pemuda, salah satu penjaja tiker dipantai itu mendekatinya dengan tergesa-gesa.
Pemuda: “Apakah kamu menunggu seseorang?”
Riana: “Ya, kenapa?”
Pemuda: “Baru saja ada orang tertabrak mobil di jalan sana, aku kira dia teman kamu”
Riana segera berlari dan melihat Rizky terbaring di jalan dengan bersimbah darah di wajahnya, sebotol air mineral masih berada dalam genggamannya. Ambulans segera datang dan membawa mereka berdua kerumah sakit terdekat. Riana duduk di luar ruang gawat darurat selama lima setengah jam.

23:51
Seorang dokter akhirnya keluar dari ruang gawat darurat, dokter itu menyerahkan sepucuk surat kepada Riana
Dokter : ”Kami menemukan ini di kantong bajunya”
Riana : “Bagaimana keadaannya dok?”
Dokter : “Saya minta maaf, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa. Temanmu masih bernafas sekarang, tapi tidak akan bertahan lebih lama”
Riana segera berlari masuk ke ruangan untuk melihat Rizky. Dia tampak lemah dan masih belum sadar, darah diwajahnya sudah dibersihkan. Riana membuka surat itu, membacanya dan kemudian ia menangis tersedu-sedu.
Ini adalah isi suratnya :

Yang tersayang Rianaku,
30 hari kita hampir berakhir, aku ingin kamu tahu bahawa aku sangat menikmati setiap saat bersama kamu. Aku terlambat menyadari bahwa kamu selain cantik ternyata juga sangat menyenangkan, walaupun ya, kadang-kadang kamu sangat keras kepala, manja, kekanak-kanakan, punya selera aneh dan sinting, tapi semua itu memberi warna dalam hidupku yang monoton. Dan aku sangat ingin 30 hari ini bisa di perpanjang. Aku cinta kamu Riana, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu selamanya.

23:58
Riana: ”Rizky, aku juga cinta kamu.. tahu kah kamu, aku membuat permainan ini hanya agar aku bisa selalu dekat denganmu” Riana kembali tersedu-sedu “Aku cinta kamu Rizky.. aku CINTA KAMU ayoo bangun Rizky.. BANGUN…. lihat aku Rizky.. LIHAT AKU.. LIHAT AKU…!!”

Ketika jam berdentang 12 kali, jantung Rizky berhenti berdetak.
Itu adalah hari ke 30 mereka.

“Katakan cinta pada orang yang kamu cintai, karena kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari”

------ TAMAT ---------

Nyanyian Cemara

Sabtu, 17 April 2010

Nyanyian Cemara
Oleh : Sri 'ade' Mulyani



Perempuan itu, apa maunya? Dara menghela nafas. Kalau mengikuti kata hatinya yang paling dalam sebenarnya Dara enggan untuk menemuinya, setelah apa yang pernah terjadi antara mereka bertiga di masa lalu. Tapi pantaskah ia sekasar itu? Untuk sisa-sisa persahabatan yang pernah mereka jalani bersama rasanya tak pantas memperlakukan Adis seperti seorang musuh besar.


~DARA~

Semua berawal 15 tahun yang lalu, ketika persahabatan kami bertiga mulai berjarak. Aku, Adis dan Jaka. Bukan rahasia lagi kalau Jaka menaruh hati padaku. Dan aku pun menyukai Jaka. Aku menemukan gairah hidup yang begitu menyala setiap kali kami membicarakan masa depan. Kami punya komitmen yang sama tentang sebuah pernikahan. Ah, berbunga-bunga rasanya. Apalagi jika Jaka membicarakan tentang keturunan, ia ingin kelak kami mempunyai 3 orang anak saja. Supaya aku tidak terlalu capek katanya, dan kami bisa mempersiapkan masa depan mereka sebaik-baiknya. Semuanya serba sejalan dan begitu mulus, sampai suatu saat… ketika vonis dokter membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Ada sesuatu pada indung telurku yang membuat dokter mengambil keputusan untuk mengangkatnya.

Sebenarnya, rasa sakit yang kualami pasca operasi tak begitu menyakitkan. Dengan obat-obatan, doa seluruh kerabat dan tatapan cinta Jaka aku kuat menjalani hari-hariku. Hari-hari indah bakal menyongsongku walau kini aku hanya mempunyai sebuah indung telur. Aku masih mungkin mempunyai keturunan bukan? Aku yakin. Sangat yakin. Aku pikir dengan kekuatan cinta kami berdua, harapan untuk mewujudkan impian masa depan akan terwujud. Tapi aku sungguh tak percaya kalau Jaka se-egois itu. Hanya karena dokter menerangkan kondisi indung telurku yang tersisa ada kemungkinan kurang baik, ia tega berpaling dariku.
Dengan tegas dan tanpa perasaan, ia minta aku tak bermimpi untuk meneruskan sisa perjalanan yang pernah kami rancang.

“Aku ingin punya keturunan Ra,” ujar Jaka. Dan tentu saja ia pesimis bakal punya anak kalau beristrikan aku. Tatapannya datar sedatar cakrawala saat mengatakan itu padaku, seakan aku tak pernah ada dalam hatinya. Dan yang paling menyakitkan, beberapa bulan setelah Jaka meninggalkanku, ia melamar Adis sahabatku.
Ah, takdirku. Tergugu aku dalam duka. Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi entah kenapa, masih saja ada sejumput rindu pada Jaka, yang makin menyemak bagai perdu di dasar kalbuku sampai detik ini. Kemanapun aku melarikan diri, aku tak mampu melupakan Jaka. Sepertinya aku tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi.


~ADIS~

Sebenarnya aku tak ingin menyakiti Dara sahabatku. Aku bisa merasakan sakitnya akibat kehilangan. Aku tahu dia sangat mencintai Jaka. Tapi hari itu Jaka memintaku. Mengharapkan aku untuk melengkapi separuh perjalanan hidupnya. Memohonku untuk menjadi ibu yang akan melahirkan anak-anaknya. Aku seperti makan buah simalakama.
Sedari awal, aku memang punya hati pada Jaka. Tapi aku tak seberuntung Dara. Pijar-pijar cinta tak pernah kulihat di mata Jaka saat menatapku, tak seperti ketika ia menatap Dara. Aku cukup mengerti, aku bukanlah pilihan Jaka. Tapi jalan hidup manusia tak pernah ada yang tahu, entah rencana apa yang Allah berikan padaku ketika Jaka menceritakan semuanya. Sebagai sahabat yang mencintai dirinya, tak mungkin aku berdiam diri. Aku harus berbuat sesuatu, meskipun akibat yang akan kuterima adalah aku akan dimusuhi Dara seumur hidupku. Tapi kuharap, suatu saat Dara akan mengerti.

“Aku percaya, engkau lebih kuat dari Dara,” bisik Jaka padaku. Mungkin aku bodoh, mungkin juga egois dan tidak punya perasaan terhadap sahabat sendiri, tapi membuat bahagia orang yang kucintai adalah hal yang paling terindah dalam hidupku.

****************************************************************


Sore di Café Cemara, Adis menyapa Dara dengan ramah. Berharap pelukan hangatnya akan mencairkan kekakuan yang melingkupi mereka berdua. Adis harus menceritakan semuanya pada Dara, supaya Dara bisa membuang jauh kebenciannya pada Jaka dan Adis.

“Jadi, sudah berapa anakmu sekarang?” tanya Dara memecah kebisuan sambil melirik gadis belasan tahun di sebelah Adis.

“Ini Nadira, Ra. Ayo Nadira, beri salam pada Mama Dara,” perintah Adis pada Nadira, anaknya. Dara mengernyitkan keningnya.

“Mama Dara?” tanyanya heran. Tapi tak urung wajahnya melunak ketika memandang raut Nadira.

Ia seakan takjub. Tak ada yang berbeda antara Nadira dan Jaka. Hidungnya, matanya, alisnya, pipinya, senyumnya, cara berjalannya… semua mirip Jaka, hanya saja Nadira perempuan. Tak terduga Dara memeluk erat Nadira, seakan melepas kerinduan yang selama ini bersemayam di hatinya. Cemara di luar sana tahu, Dara teramat mencintai Jaka.

“Jadi, bagaimana kabar Jaka?” suara Dara bergetar saat Nadira pamit ke kamar kecil.

Mereka duduk berdua di café itu memandang liukan cemara tertiup angin. Café tempat mereka dulu selalu bercerita berdua atau bahkan bertiga ditemani Jaka. Desauan angin menyentuh cemara masih menimbulkan bunyi yang mereka suka belasan tahun yang lalu. Adis menghela nafas, mencoba menyusun kalimat.

“Jaka meninggalkan kami Ra,” lirih suara Adis.

“Apa?! Kemana? Sejahat itukah Jaka? Setelah meninggalkanku, ia tega meninggalkanmu dan darah dagingnya? Lalu kemana komitmen yang dulu pernah dia agung-agungkan?” tanya Dara kecewa.

“Jaka melamarku dalam keadaan sakit Ra,” Adis berusaha menjelaskan.

“Iya, memang dia sakit. Sakit jiwa! Tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sakit jiwa macam Jaka sampai detik ini! Begitupun engkau bukan?” rutuk Dara.

“Bukan itu Ra. Jaka benar-benar sakit,” Adis berusaha menjelaskan.
“Tak ada seorangpun yang tahu, tidak juga dirimu. Ia tak ingin kamu cemas memikirkannya. Dokter menvonisnya menderita kanker ganas tak lama berselang setelah operasi indung telurmu. Keputusannya untuk meninggalkanmu bukan karena ia egois. Ia menikahiku karena ingin segera punya anak sebelum waktunya habis. Ia ingin ada yang menemani dirimu di saat-saat sunyimu dan juga sunyiku. Tapi kamu keburu marah dan menghilang entah kemana. Hanya setahun Nadira mendapatkan belai ayahnya. Aku membesarkan Nadira seperti permintaan Jaka, dan hari ini… aku menunaikan wasiat Jaka untuk membawa anaknya padamu. Aku dan kamu sama-sama mencintai Jaka. Tapi cinta Jaka hanya untukmu Ra. Maafkanlah Jaka.”

Dara terpana. Dalam diamnya, ada rasa menyesal telah menuduh sahabat dan kekasihnya tak berperasaan. Kalau saja waktu bisa diulang, ingin Dara berada di saat Jaka sakit, sekedar menatapnya untuk memberi semangat, seperti yang Jaka lalukan waktu Dara dioperasi. Semua itu telah lama berlalu. Di luar, angin masih mengusik cemara. Desaunya yang akrab di telinga tak jua berlalu, membawa rindu tiga perempuan pada seorang Jaka yang telah tiada.


Bontang, 17 April 2010.
Terinspirasi dari kisah saudariku, Allah memberimu yg terbaik pada akhirnya.

Maaf Untuk Sahabat

Oleh : Irvina Legowo


Kalau lagi duduk begini, eh tiba-tiba ada telpon berdering berulang-ulang, jadinya penasaran ya? Siapa ya yang telpon, buru-buru deh diangkat.
“Halo… assalamu’alaikum. Jeng, lagi ngapain nih?” siapa yang menelpon.
“Yah iya Ajeng lagi di telponkan? Maaf, ini siapa ya?” kata Ajeng.
“Wah Ajeng, masak sih lupa denganku,” kata yang telpon. “Aku SETRINOLA. Lupa ya?”
“Nah iya, baru aku ingat,” kata Ajeng. “Maafkan aku ya Nola, habis suaramu itu lho, bagus banget gitu lho… aku jadi grogi dengernya.”
“Ih… kamu ada-ada saja,” kata Nola. “Yah…. Maklumlah aku kan artis,” kata Nola bercanda.
“Oh iya,” kata Nola “Besok main ke rumahku ya Jeng. Ada sedikit rejeki nih,” kata Nola. “Yah pokoknya ke rumahku ya… Kira-kira pukul 11 pagi lah… Ditunggu ya?!”
“Insyaallah ya, Ajeng gak janji ya, mudah-mudahan bisa. Trimakasih ya Ajeng diundang. Yok ya… sampai besok.”

Rasanya waktu cepat sekali berjalan, Ajeng rasanya kok malas banget ya mau pergi, lagi gak mood gitu. Tapi kan hari ini ada undangan makan-makan di rumah si SENTRINOLA. Ah… nanti kalau sudah ngumpul-ngumpul pasti rame banget deeh… Pasti kaya pasar malam gitu. Hm.. gimana ya, pengennya siih gak pergi saja. Sudah ada rasa bosan sih. Kalau Cuma ngobrol-ngobrol apa ngerumpi gitu. Ada rasa keinginan mengurangi ngerumpi gitu. Lebih baik waktuku kuhabiskan pergi dengan suami. Malah enak berduaan, kaya dulu lagi waktu masih menjalani persahabatan gitu lah… Ya serasa lebih tenang apabila bisa pergi jalan sama suami.
Tak lama, lagi duduk termenung, eh… ada suara telpon lagi, kuangkat gagang telpon. Suara Nola yang keras mengharapkan kehadiranku.
Kata Nola, “Ajeng, kau dah ditunggu nih sama temen-temen, kami sudah ngumpul.”
Aku dengan santainya menjawab, “Okelah kalau begitu.”


Dengan santai Ajeng melangkahkan kaki, tiba-tiba ada yang memanggil dari kejauhan.
“Ajeng… Ajeng, tunggu sebentar. Ayo kita pergi sama-sama aja.”
Ajeng menoleh, ah… ternyata Frida. “Oh… boleh deh kita bareng ke rumah Nola. Dengan senang hati… yuk sama-sama.”
Ajeng berkata pada Frida, “Mbak Frida, Ajeng gak bisa lama-lama nanti di rumah Nola. Alif anak Ajeng sebentar lagi pulang dari sekolah, lagian sebentar lagi para suami pada pulang kerja tuk istirahat siang kan?”
“Iya Jeng, “ kata mbak Frida. “Saya juga tidak bisa berlama-lama di sana, kebetulan mau ada acara keluarga juga.”

Ceritanya kami (Ajeng dan mbak Frida) sampai di kediaman Setrinola, alhasil di sana (di rumah Setri) dah pada ramai, udah ngumpul semua, ya heboh juga. Kedengarannya seru banget deh, entahlah apa saja yang diobrolin. Ajeng ya ikut gabung sajalah, yang penting kan sudah sampai di rumah Nola.
“Yuk kita santap hidangan yang telah disediakan!!” Alhamdulillah nikmatnya.

Semua cerita kemarin sudah Ajeng lalui, sekarang waktunya pergi ke pengajian rutin Jum’at siang. Alhamdulillah disempatkan saja dulu, kan lanjutan minggu lalu masih dibahas. Wah, panasnya hari ini sangat menyengat sekali, membuat semua orang tidak ingin ke luar rumah. Apalagi siang begini. Mending juga di dalam rumah, tidur siang. Tapi Mas Bowo berkata pada Ajeng, “Lho Jeng, kamu gak pengajian ya?” kata suami Ajeng, “Biasanya Ajeng kan pergi ke pengajian siang. Kok tidak siap-siap?”
“Ah, Ajeng lagi gak semangat nih mau pergi. ‘Ngantuk’ dah gitu panasnya bukan main nih lho, mending santai saja dulu,” kata Ajeng dengan penuh kemalasannya.
Tapi kalau Ajeng malas, wah pasti yang hadir semakin sedikit saja.
Ajeng jadi teringat acara di rumah Nola kemarin ya, wah orangnya yang hadir banyak, kata mbak Frida kemarin. Coba ya kalau pengajian orangnya sebanyak ini, bagus juga. Tapi giliran Cuma ngobrol saja ramainya bukan main. Yah… ibarat kata cuma ngobrol yang gak manfaat juga, ah…. CAPEK DEEH…
Tapi ya sudahlah, semua orang kan beda-beda sih, kalau kefikiran positif seperti mbak Frida, ya semakin baik saja manusianya.
Dengan penuh semangat, bagai semangat juang begitu, kulangkahkan kaki ini menuju masjid. Sampainya di sana (maksudnya masjid) kujumpai beberapa ibu telah hadir, duduk rapih sambil menunggu Pak Ustadz.
“Assalamu’alaikum wr.wb.” sapa Ajeng pada ibu-ibu.
Tiba-tiba ada yang memanggilku (Ajeng), “Hai Jeng, wah tahu gak siih kamu,” kata mbak Eta yang memanggilku.
“Iya?!” kataku, “Memangnya ada apa mbak Eta?”
“Sini dulu, ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu. Kemarin, di acara rumah Nola hampir saja aku (mbak Eta) mau tawuran (alias bertengkar) dengan Nila. Gini ceritanya,” kata mbak Eta.
Setrinola yang empunya acara berkata sambil bercanda, “Hayo… siapa yang mau ikutan gabung dengan grup kita yang hobby jalan alias shopping, dipersilahkan saja daftar pada mbak Eta. Beliau yang jadi ketuanya.”
“Oh… iya… gitu ya?” kata mbak Eta.
“Oke, boleh juga lah, tapi…” kata mbak Eta lagi “Ada syaratnya lho kalau mau gabung bareng kita, syaratnya antara lain : sekali-kali harus mau traktir, lalu tidak suka ngambek, sama-sama jangan pelit-pelit.”
Nah lho?? Rupanya ada yang tersinggung dengan perkataan mbak Eta, yaitu si Nila. Wah terjadilah perdebatan sengit di rumah Nola, yang mengakibatkan hubungan persahabatan jadi permusuhan, gara-gara omongan “celetuk-celetukan” yang kalau difikir tidak bermanfaat, yang ada jadi tidak ingin bertegur sapa lagi.

Dalam hati Ajeng, untung saja Ajeng cepat pulang, sehingga tidak mengerti alur cerita mereka. Namun disayangkan sekali pertemanan mereka jadinya renggang. Ajeng pun tak habis fikir, tak kebayang kalau terjadi pada diri ini, kira-kira mau bersabar gak ya menghadapinya. Sayang sekali ceritanya sangat simpang siur. Ternyata di balik cerita itu semua, memang ada omongan yang membuat Nila tersinggung.

Nila pun ada bercerita pada Ajeng. Kami bertemu secara tidak sengaja di acara perayaan ulang tahun Nanda putranya mbak Yola.
Cerita Nila dengan wajah yang tegang, marah sepertinya, raut wajahnya yang terlihat tidak ceria, dengan penuh api di kepalanya (bagaikan naga yang ada api di kepalanya), dengan logat khasnya, “Jeng,” kata Nila. “Dengar tidak cerita Nila dan Mbak Eta? Hampir saja terjadi pertengkaran sengit,” kata Nila.
“Oh… ya??” kata Ajeng. “Apalah yang terjadi?” Ajeng pura-pura tidak tahu. Padahal sudah tahu dari mbak Eta, tapi Ajeng makin penasaran, apa sama ceritanya dengan yang dikisahkan mbak Eta. Dengan penuh keheranan Ajeng menatap wajah Nila yang masih berekspresi marah dan merah. Wah, Ajeng jadi ngeri juga jadinya.
“Mbak Eta menyinggung perasaan saya, sebenarnya sudah lama saya menahan kesabaran ini, tapi hari itu perasaan saya sudah tidak tahan lagi Jeng, saya sudah panas di dada ini. Emosi saya sudah naik sampai di ubun-ubun,” kata Nila.
“Padahal saya sudah tidak pernah mengganggu ataupun menyindir siapapun,” kata Nila. “Tapi kenapa saya terus yang disinggung, yang katanya saya ini membeli sawah yang dananya dari mana, membelinya secara tunai atau secara bertahap, lalu sampai saya beli sapi pun dananya dari mana. Sebenarnya kan itu urusan saya, bukan urusan siapa-siapa. Yang mau saya, saya beli saya, kok orang lain yang pusing. Yang jelas Nila betul-betul tidak terima diberitakan seperti itu, kesal,” katanya.
Nila pun terdiam sejenak, setelah bercerita. Lalu Ajeng berusaha menenangkan Nila.
“Sabar ya Nila, namanya juga omongan, tapi Nila tahu berita itu darimana?” kata Ajeng pura-pura tidak mengerti.
“Ah, ada yang menyampaikannya ke saya,” kata Nila.
“Oooooh…. rupanya Nila dapat cerita ini ada yang menyampaikan?” kata Ajeng sambil matanya agak setengah melotot dan terkejut. Dalam hati Ajeng, siapalah orang yang senang menyampaikan berita yang tidak penting ini, kalau difikir ini kan hanya berita kurang kerjaan aja. Kok jadi pusing gitu. Alhasil cerita-cerita, ternyata yang suka menyampaikan cerita-cerita itu adalah teman Nila juga, teman mbak Eta juga. Dan Ajeng pun kenal sama orang ini. Judulnya mungkin mau diadu domba gitu.
Ah… ha… sampai hati juga orang ini, sudah lamanya mereka bersahabat, kok jadi merusak, kelihatannya dan kedengarannya memang hobinya seperti itu. Sementara Nila punya watak keras, kalau berbicara keras, itupun kadang kalau sudah dengar dia dibicarakan, semakin emosi saja. Sayangnya Nila ini orangnya terlalu mudah percaya dengan kata-kata orang yang senang menyampaikan. Tanpa fikir panjang lagi, Nila menuduh langsung bahwa mbak Eta yang berkata, padahal siapa tahu mbak Eta tidak berbicara begitu, takutnya orang yang menyampaikan itu yang ngomong. Mbak Eta juga watak keras. Tapi menurut Ajeng, ya setahu Ajeng sih, mbak Eta tidak pernah ikut mau tahu urusan orang. Setahu Ajeng, mbak Eta orangnya cuek.
Dari kesimpulan cerita itu, yang ada Ajeng hanya bisa iut sedih dan prihatin saja sih. Dengan senyum hangat berkata pada Nila, “Ajeng ngerti kok perasaan Nila sedang sedih, sakit hati, tersinggung dengan perkataan yang tidak enak didengar. Mohon maaf ya Nil, Ajeng sih tidak bermaksud ikut menasihati. Namun lebih baik hal-hal yang kira-kira kurang bermutu untuk dibahas, lebih baik dicuekin sajalah, diabaikan saja, didiamkan saja, biarkan saja yang menyampaikan yang membahas. Nila mending cari aja cerita lain, dan katakana saja sama yang menyampaikan, ah… biar sajalah saya mau dibilangin apa ‘masa bodo’ yang penting saya tidak mengganggu orang. Bereskan Nil? Katakan NO COMEN… gitu lho.. Nila…?? Jangan dipikirkan!” kata Ajeng memberi semangat pada Nila.
Tapi dasar Nila yang berwatak keras, tetap ngotot saja. Malah menjawab, “Ah, saya tidak minta makan juga sama mbak Eta.” Makin emosi saja kayaknya.
Tanpa fikir panjang, Ajeng berlalu saja dari Nila, capek ngadapin manusia keras hati, keras kepala pula, susah juga mau ngajak bicara baik-baik.
Yaah…. Mau bagaimana lagi apalah harapan ingin meredam emosi, maunya saling berdamai, tapi di antara kedua sahabat ini hanya mempertahankan kebenaran masing-masing, malah tidak ingin bertegur sapa, kata mereka. Sementara orang yang suka nyampaikan berita, santai tanpa kata dan sepertinya kayak tidak berdosa gitu. Itulah lidah, kalau kata-kata sudah tidak sopan bisa memperburuk keadaan, bisa merugikan diri sendiri. Padahal ada kata-kata tentang persahabatan, begini katanya:


Sahabat adalah, Dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh.
Karena persahabatan itu, seperti tangan dan mata.
Saat tangan terluka, mata menangis.
Saat mata menangis, tangan menghapusnya.

Kalau begitu tolonglah kita sebagai sahabat ‘mungkin’ sama-sama menjaga perasaan, pengertian dalam suka maupun duka. Kalaupun ada kekurangan mohonlah dimaafkan, manusia ada juga punya rasa khilaf. Allah saja memaafkan umatnya apabila ada kesalahan, apalagi kita yang hanya manusia yang banyak kurang kesempurnaannya.

Lelaki Pengangkat Jemuran

Kamis, 01 April 2010

Oleh : Silvany Putri Sinatra



-KINI-

Aku suka saat hujan, suasananya senantiasa membuatku merasa nyaman. Aku merasa seakan waktu berhenti dan aku terpaku dikelilingi lingkaran rintik hujan, suasana ini juga membuatku dapat merenung dengan lebih leluasa. Aku ingin setiap hari hujan, karena suasana yang ditimbulkannya membuat aku tidak harus mendengar kebisingan omelan ibuku. Terkadang hujan juga membuat pikiran ku melayang layang ke masa beberapa tahun silam.
“Bagaimana bisa? “ Begitu kata Fe teman ku satu-satunya, ya satu-satunya karena aku memang nyaris tak punya teman, teman dalam artian yang sering didengung-dengungkan orang yakni “teman tempat kita berkeluh kesah, teman juga tempat kita berbagi kebahagiaan” nah aku menjadikan Fe tempat ku berkeluh kesah, walau jarang sekali aku berbagi kebahagiaan padanya karena memang jarang sekali aku merasakan kebahagian yang dapat ku bagi bersamanya. Tak apalah aku hanya memenuhi satu dari kriteria yang sering didengungkan itu, jadi Fe sudah pantas kan aku sebut sebagai teman ku?. Kembali ke pertanyaan Fe tadi, aku menjawab

“ ya bisa saja Fe, karna saat hujan aku sering menghabiskan waktuku dengan melamun di pinggir jendela sambil memandang hujan jatuh membasahi tanaman sansiviera yang ada dibawah jendela kamarku”.

“ hanya dengan memandangi sansivieramu terkena hujan pikiran mu melayang-layang?”
Aku menarik nafas panjang sebelum menjawabnya

“tidak juga Fe, terkadang aku memandang lurus kedepan berusaha menerobos tirai hujan, melihat ada apa dibaliknya, kurasa pada saat itulah pandanganku lama kelamaan menjadi buram,pikiranku seperti terlempar ke masa silam”.

“Apa yang sedang kau bayangkan Fi?”

”aku sedang membayangkan ibu dan ayahku Fe”

”coba ceritakan,aku ingin mendengarnya”.

Di luar hujan semakin deras, ku lihat tirai hujan dan berusaha mencari tahu ada apa dibaliknya.



- LALU-

Menurut ku Ibuku sosok yang mengerikan, tubuhnya besar tinggi, rambutnya keriting, kalau terkena angin menjadi awut awutan, mungkin kalau ada burung lewat bisa jadi rambut ibuku dikira sangkar. Garis wajahnya kasar dan persegi khas orang batak. Suaranya lantang, kalau berbicara membahana ke seluruh rumah, inotasi bicaranya tak pernah lembut selalu dengan nada membentak. Begitulah gambaran ibuku. Sedangkan Ayahku, ia berbadan kurus tinggi, wajahnya tirus, bola matanya seakan-akan hendak meloncat keluar, hidungnya sangat mancung dan bibirnya begitu tipis, ia selalu terlihat murung terutama semenjak Ayah tak lagi bekerja diluar rumah alias di PHK. Wajahnya semakin murung karena ribuan lamaran pekerjaan yang dikirimnya tak satupun membuahkan hasil. Suara Ayahku sangat rendah dan lembut khas orang Sunda. Jika Ibu dan Ayahku sedang berbicara, hanya suara Ibukulah yang lebih terdengar. Semenjak Ayah tak lagi bekerja, Ibuku lah yang menjadi kepala keluarga, ia menerima cucian kotor para tetangga untuk dicucinya dan disetrikanya. Ibu yang mencuci dan menyetrika pakaian, Ayah membantu menjemur dan mengangkatnya setelah kering. Pekerjaan baru Ibu ini otomatis membuat pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Ayah. Ibu tak segan-segan membentak Ayahku jika ada kesalahan yang dibuatnya, seperti memecahkan piring, memasak keasinan, atau mengepel lantai kurang bersih. Sering ku perhatikan saat dimarahi Ibu, Ayahku tak berekspresi, tatapannya kosong, kurasa Ayahku sedang “tak ditempat”. Lucu juga membayangkan Ibu sedang memarahi raga Ayah, karena jiwa Ayah entah sedang melayang kemana. Aku dilarang membantu pekerjaan Ayah, tugasku hanyalah belajar dan belajar. Pernah suatu kali aku sengaja menggoblokan diriku, soal ujian kujawab asal-asalan, alhasil peringkatku jadi turun drastis, Ibu ku ternganga melihat nilai raportku, kurasa jantungnya pasti hampir jatuh tapi cepat-cepat ditangkapnya dan ia jadi bisa menguasai dirinya. Kejadian itu waktu aku kelas 5 SD. Aku senang sekali melihat ekspresi Ibuku seperti itu. Tapi kesenangan ku tak bertahan lama. Setibanya dirumah pakaian ku dibuka paksa dan aku di cambuk pakai sapu lidi. Sakitnya akan terkenang seumur hidupku.

”kau harusnya mengerti Fiona, aku menyuruhmu belajar giat agar kelak tidak menjadi seperti orangtuamu yang hidup susah”
ibuku mengomel sambil terus menyambuki ku, ia seperti sedang kerasukan setan.

” Kau satu-satunya anakku, aku tak ingin melihatmu gagal, kau sudah melihat bukan contoh orang gagal?, Ayahmu, Kalau kau tidak sukses kelak kau akan bersuamikan seperti ayahmu itu, coba lihat apa yang dikerjakannya sekarang selain mengangkat jemuran setiap hari. Apa kau mau bersuamikan pengangkat jemuran? Makanya kau harus rajin belajar biar hidupmu nantinya senang. Kalau kau sukses pasti kau akan bersuamikan orang sukses. Kau paham tidak Fi?”

”Ratna sudah hentikan” perintah Ayahku sambil berusaha mengambil sapu lidi yang dipegang Ibuku.

” Kau jangan ikut campur, biarkan saja aku menghajarnya kalau tidak dibeginikan dia tak akan mengerti”

“ kau yang harus mengerti dirinya, selama ini kau terlalu memaksanya untuk belajar terus”. Cambukan ibuku berhenti, aku sesungukan menahan rasa sakit di punggungku.

Sekarang giliran ayahku yang diomeli ibu.
”kalau dia kubiarkan seperti ini terus hidupnya akan seperti aku saat ini, kalau saja kau tidak membawaku kabur pasti sekolahku selesai dan aku bisa melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi. Bodohnya aku dulu begitu terbuai bujuk rayumu. Sekarang apa yang kau berikan padaku selain kemiskinan dan anak bodoh ini”.

Ibuku cukup sering menyesali kebodohannya mau diajak kawin lari oleh Ayahku. Kalau Ibu sudah mengucapkan penyesalannya ini Ayahku akan terdiam, mungkin menyesali perbuatannya dulu. Semenjak kejadian itu aku tak berani menjawab soal ujian asal-asalan lagi.


- KINI-

“kurasa Ibumu ada benarnya juga Fi, cuma cara yang digunakannya untuk mendidikmu salah” Fe berkomentar.

“ menurutku ibuku selalu salah Fe”. Fe diam sejenak dan mengangguk-anggukan kepalanya,entah apa maksudnya,mungkin ia setuju dengan pernyataanku. Kualihkan pandanganku keluar jendela, tirai hujan telihat, aku memandanginya kembali.


-LALU-

“Yah besok pengumuman kelulusan ku” kata ku pada Ayah yang sedang mencuci piring.

“hmmmm ? apa kata mu tadi?”
Akh ini penyakit Ayahku, penyakit ini baru saja menggerogoti dirinya semenjak ia tak lagi bekerja di luar rumah. Aku menamai penyakitnya ‘tak di tempat’ ya aku menamainya demikian karena sering aku melihat Ayahku seakan-akan sedang tak ada ditampatnya sekarang, maksudku Ayahku memang sedang beraktifitas tapi fikirannya sedang tak bersamanya, jadi aku harus mengulang pertanyaannku beberapa kali untuk membuat fikirannya kembali padanya.

“ besok pengumuman kelulusan ku Yah” tangan Ayahku berhenti sejenak, aku melihat Ia meremas spons pencuci piring, busa putih keluar dari sela-sela jarinya. Kurasa Ayahku sedang berusaha mengembalikan fikirannya yang sedang mengembara entah kemana.

” Ayah yakin kamu pasti lulus nak” aku mengembuskan nafas panjang, sepertinya tadi saat fikiran Ayahku berusaha kembali ke tempatnya, aku menahan nafasku.

” Ya Yah aku yakin aku bakal lulus”

“ ya bagus “

“ lusa pengambilan ijazah nya Yah, Fi ingin Ayah yang mengambilnya” sekali lagi spons itu diremas dan sekali lagi busa putih keluar dari sela-sela jarinya, kurasa Ayahku sedang mempertimbangkan usulan ku.

“ kenapa tidak Ibumu saja? toh selama ini yang mengambil raport mu juga Ibumu”
Sekali lagi aku menghembuskan nafas panjang.

“ Ayah, aku sudah muak merasakan malu setiap kali Ibu datang ke sekolah” jawabku dengan suara agak meninggi. Ayahku terkejut kurasa sekarang perhatiannya 100 % untuk ku, sekarang sponsnya tak lagi diremasnya ia letakkan begitu saja di atas piring terakhir yang masih kotor, cepat-cepat ia mencuci tangannya dan meletakannya di kedua bahu ku sambil mengguncang guncang kan bahu ku

“ Fi hati-hati kalau berbicara, nanti kalau ibu mu dengar dia bisa marah”

Ku tepis tangan Ayahku dan berbalik sambil berlari masuk ke kamar, kubenamkan kepala ku ke bantal sambil menahan rasa sedih, kesal dan juga marah. Aku sedih Ayahku menolak mengambil ijazahku, aku kesal karena kelemahan Ayahku yang takut pada Ibuku, aku juga merasa sangat marah akan sikap Ibu ku.

“ akh aku bakalan malu setengah mati nanti di sekolah” batinku.

Setiap pengambilan raport, Ibuku selalu berdandan super menor, ia akan memakai baju yang penuh dengan motif bunga besar-besar, dimataku itu sangat norak, wajahnya pun akan di make upnya habis-habisan, sepertinya Ibu ku tak menyadari kalau sudah menjelang siang ia akan kegerahan dan make up murahan di wajahnya akan terlihat mengkilap karna bercampur dengan keringat. Belum lagi perhiasan imitasi yang dipakainya, Ibuku jadi kelihatan seperti toko emas berjalan. Mungkin menurutnya itu penampilan terbaiknya, ia hanya tak ingin kelihatan lusuh dan miskin. Sebenarnya itu belum seberapa, ada hal lain yang membuatku lebih merasa malu lagi. Ibuku selalu begitu membanggakan kepintaran ku di hadapan orangtua teman-temanku, ia tanpa diminta akan menceritakan keberhasilannya dalam mendidiku sehingga aku bisa dapat rangking satu terus.

“saya selalu menyuruh Fiona sepulang sekolah langsung mengerjakan tugas sekolahnya selama 1 jam baru setelah itu ia boleh makan siang. Saya selalu melarang Fiona untuk tidur siang, karna itu membuang-buang waktu saja, jadi lebih baik belajar mengulang materi apa yang sudah diajarkan gurunya tadi di sekolah, sampai sore. Sehabis magrib Fiona juga selalu saya suruh untuk mempelajari materi yang akan diajarkan gurunya esok. Jadi dalam sehari Fiona belajar 3 kali, pantaskan ia berada di posisi teratas terus”

Begitu ucap Ibuku dengan nada bangga. Bayangkan setiap pengambilan raport selalu kalimat itu-itu saja yang diucapkan Ibuku. Aku melihat beberapa orangtua temanku mendengarkan celotehan Ibuku dengan raut muka kesal bahkan aku yakin beberapa diantara mereka sengaja menghindar duduk di dekat Ibuku. Efek dari celotehan Ibuku ini aku jadi sering diolok-olok temanku “ ingat pesan Ibu jangan lupa belajar 3 kali sehari supaya lekas sembuh eit maksudnya lekas pintar”. Olokan ini selalu ditujukan padaku saat sekolah usai dan aku sedang bersiap hendak pulang. Sungguh memalukan, kurasa tak ada yang mau berteman denganku karna takut terkena olokan juga.


-KINI-

“akhirnya Ibumu juga fi yang mengambil ijazah mu?” Tanya Fe.

Bunyi gemuruh mengagetkanku, aku langsung tersentak bangun dari kursi goyang Fe yang sangat nyaman. Fe menghampiriku,

“ tak apa tadi itu cuma gemuruh, berbaring saja lagi Fi”.

“ aku tau itu gemuruh, aku hanya sedang ingin meluruskan badanku saja”. Diluar hujan turun semakin deras, pandangan ku melewati jendela rumah Fe, aku kembali berusaha menembus tirai hujan.




-LALU-

Pada akhirnya memang Ibuku yang mengambil ijazahku. Ayah sudah menawarkan diri untuk mengambil ijazahku pada Ibu.

“ tidak bisa, biar aku saja yang mengambilnya”

Hanya sepenggal kalimat itu yang diucapkan Ibuku tapi mampu membuat ayahku tak lagi berkutik. Aku sering bertanya-tanya apa sih yang membuat Ayahku jatuh cinta pada Ibuku dan mengapa ia masih mempertahankan perkawinannya, kalau aku jadi dirinya aku akan kabur dengan wanita lain.



-KINI-

“Ku rasa Ayahmu tipe family man yang memandang perempuan sebagai pasangan hidup yang harus dimengerti agar bisa hidup berdampingan”. Ucap Fe tiba-tiba. Cukup lama juga aku merenungi ucapan Fe.

“ ya bisa jadi Fe”

Hujan sudah tak deras lagi, hanya rintik-rintik kecil, aku jadi bisa melihat ada apa dibalik tirai hujan.



-LALU-

Aku berhasil mendapatkan nilai kelulusan tertinggi dan meraih predikat siswa teladan untuk yang ke tiga kalinya. Aku melihat senyum ibu begitu lebar saat namaku dibacakan sebagai siswa teladan. Dan untuk yang terakhir kalinya ibu kembali bercerita kepada siapa saja yang duduk di dekatnya tentang keberhasilannya mendidikku. Karena nilaiku tertinggi aku mendapatkan undangan ke universitas negeri terbaik. Sengaja aku memilih universitas diluar kota agar aku bisa jauh dari rumah. Fakultas yang kupilih pun sengaja yang tidak favorit, aku memilih fakultas pertanian. Kontan saja Ibuku marah besar, ia ingin aku memilih kedokteran, hukum atau teknik. Sedangkan ayahku sama sekali tak berkomentar apa-apa mengenai pilihan ku ini.

”kalau untuk jadi petani ngapain kau kuliah, banting tulang aku menyekolahkan kau agar nantinya kau bisa jadi dokter atau pengacara”.

Dari mulai pengumuman aku diterima di fakultas pertanian sampai hari keberangkatanku, Ibuku mengomeliku terus tiada henti-hentinya. Hari kebebasanku pun tiba, hari dimana aku akan meninggalkan rumah. Hari ini hari yang aku impi-impikan semenjak dulu. Masih dengan raut wajah kesal Ibu ku berkata:
”aku tak akan membiayai kuliah kau, cari saja uang sendiri”
Sungguh ucapan yang tak pantas diucapkan saat perpisahan.

”jaga diri baik-baik ya nak, jangan lupa berkirim kabar” ucap Ayahku sambil meremas lembut bahuku. Aku hanya mengangguk. Itulah pertemuan terakhirku dengan mereka, bertahun tahun aku meninggalkan kotaku tanpa pernah mengirimi kabar. Kuliahku berantakan karena memang aku memilih jurusan asal-asalan saja. Akhirnya aku di DO karena IPK ku selalu dibawah rata-rata. Cuma 3 semester aku bertahan di kampus. Wah ibuku pasti terserang stroke mendengar kabar ini. Sebenarnya aku lebih senang bekerja daripada kuliah. Untuk biaya hidup aku bekerja menjaga butik, kadang aku juga ikut menyumbangkan ide mendesain pakaian , pemilik butik suka dengan hasil rancanganku, ia pernah mengatakan sesungguhnya aku berbakat di bidang desainer.

4 bulan setelah aku tak lagi kuliah aku berkenalan dengan seorang pria tampan dan mapan. Re namanya. Usianya 10 tahun diatasku. Ia seorang dokter. Kami berkenalan ditempat prakteknya, saat itu ia mengatakan aku sangat cantik dan ia sudah jatuh cinta padaku sejak pertama kali melihatku. Untuk yang satu ini aku memang sudah lama menyadarinya, dulu waktu kecil aku cukup sering mendengar orang memuji-muji diriku “sudah cantik pintar pula”. Semasa sekolah dulu banyak juga yang berusaha mendekatiku, tapi tentu saja mereka harus berhadapan dengan Ibuku. Baru setelah kuliah para kumbang bebas mendekatiku. Tapi tak ada yang serius, tak ada yang benar-benar membuatku fall in love. Sebenarnya aku tak begitu tertarik pada Re, entahlah sepertinya ada yang salah dengan otakku. Diluar sana aku yakin ada ratusan wanita yang rela antri untuk mendapatkan Re. Pacaran kami tak lama, Cuma 3 bulan, kami langsung menikah. Kurasa aku menikahinya karna ingin menunjukan pada Ibuku kalau aku bisa mendapatkan orang sukses, bukan lelaki pengangkat jemuran yang selama ini dikhawatirkannya. Ibuku cukup terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa menyandang gelar sarjana. Terlebih aku datang bersama seorang pria. Ia lebih terkejut lagi waktu kukatakan hendak menikah dengan Re yang seorang dokter. Ayah ku tentu saja sangat bahagia mendengar kabar ini, akh ia semakin ringkih saja kulihat. Pernikahan berlangsung cepat, agar tak merepotkan orang tuaku aku menikah digedung menggunakan jasa EO. Sayangnya orang tua Re sudah tiada, ia hanya memiliki seorang kakak yang sedang berada diluar negri, yang karena kesibukannya tak bisa hadir. Aku tak banyak bercakap-cakap dengan orangtuaku, melihat raut wajah orang tuaku saat aku pamit aku yakin mereka turut bahagia dengan pernikahan ku, Ibu ku sempat berbisik “ Kau harus menjaga suamimu jangan sampai diambil orang”. Saat itu aku berfikir Ibuku memang aneh.



-KINI-

“kau suka Fe mendengar kisah hidupku?”

“ya menarik juga, akhirnya happy ending kan?”

“itu belum selesai Fe, entahlah, apa akhirnya bisa happy ending”

“ada masalah dengan perkawinan mu?” aku memandang Fe, mempertimbangkan untuk mengatakan masalah rumah tangga ku padanya atau sebaiknya tidak usah saja. Akhirnya mendengar suara hujan, membuat ku menjadi ingin mengatakan masalah perkawinan ku pada Fe.

“Re tidak lagi bersamaku Fe”

“bagaimana bisa?” Fe tampak terkejut

“ Ia berselingkuh dengan pasiennya yang sangat cantik”

Cukup lama Fe terdiam “well itu tidak membuatmu terlalu sedih kan? Kaukan tidak mencintainya?”

“awalnya memang aku tidak begitu mencintainya, tapi setelah cinta itu muncul ia malah pergi meninggalkan aku, sekarang kami sedang memproses perceraian kami di pengadilan”.

“aku turut sedih mendengarnya Fi” Fe memelukku erat.

Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk menyadari bahwa ternyata ibuku tidak selalu salah. Setelah resmi bercerai dari Re, beberapa tahun kemudian aku menikah lagi dengan pria yang tidak tampan dan sedikit mapan. Aku berharap pilihan ku ini tidak berakhir seperti perkawinan ku dengan Re.


20 tahun kemudian

“Flo kenapa membolos? Mama malu setiap kali dipanggil kesekolah karena ulahmu itu.”
Flo anak lelakiku yang sekarang duduk dikelas 2 SMU hanya meringis.

“ aku males belajar ma, aku gak suka sekolah, bosen”
Kontan saja aku meledak mendengar ucapannya.

“Flo kalau kamu gak sekolah kamu mau jadi apa besar nanti? mau seperti Papamu sekarang heh? lihat Papamu apa yang bisa dikerjakannya sekarang selain mengangkat jemuran, apa kamu mau besar nanti menjadi lelaki pengangkat jemuran?”.

Akh, aku tersadar, puluhan tahun lalu ibuku pernah mengucapkan kata-kata ini padaku, kini aku mengulangi ucapannya kepada anakku. Doaku supaya perkawinan keduaku tidak seperti perkawinan pertamaku memang dikabulkan Tuhan, tetapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi padaku, kini nasibku tak jauh berbeda dengan nasib ibuku.


-TAMAT-


Bontang, 28 Maret- 1 April 2010

Menyambut tamu agung

Senin, 22 Maret 2010

Oleh : Hasviniyanti

Brak-bruk.. gedebak gedebuk.. sreng-sreng..

Begitu kesibukan didapur Riana pagi ini, hari ini hari yang istimewa, mertuanya akan datang berkunjung. Wah, dari kemarin Riana juga sudah sibuk membersihkan rumah. Kamar tamu yang biasanya jadi gudang tempat barang-barang juga sudah disulap menjadi kamar yang nyaman. Bahkan Riana sengaja membeli seprei baru, warna hijau toska kesukaan sang ibu mertua.

Pokoknya Riana sudah heboh sendiri, maklum, sebagai menantu, Riana ingin menunjukkan yang terbaik dihadapan mertuanya. Saking ingin di bilang menantu yang baik dalam seminggu ini Riana sudah 3x inspeksi keliling rumah, menyikat semua yang perlu disikat, lantai kamar mandi, lantai dapur, lantai serambi, lantai dapur, pot-pot bunga, bahkan jendela-jendela juga ikut disikat sampai bersih. Kalau si sikat bisa bicara mungkin dia akan ngadu ke komnas HAM karena dalam seminggu ini sudah di perbudak oleh Riana diluar batas.

Didapur, Rianapun sudah mulai sibuk.

Rencana awal dia ingin membuat Cake Special Cokelat Keju nan lembut membelai lidah dan Pudding busa dua warna untuk cemilannya. Sebagai main course rencananya akan membuat Udang saos padang, Sop Kimlo, sambel kentang, krupuk udang dan sebagai penutup sudah disiapkan dari kemarin rujak serut andalannya. Lengkap dan mantap.

Tapi itu rencana awal, karena ternyata hasil cakenya tidak seperti yang diharapkan. Cake yang pertama mempis dan bantat dengan sukses. Entah kenapa, padahal resep sudah dibaca dengan teliti, bahan-bahan sudah di timbang dengan akurat dan step by step membuat cake serta tips anti gagal yang dia dapat dari majalah pun sudah hatam dipelototin dan dibacanya. Tidak putus asa, Rianapun mencoba bikin kembali cake cokelat keju impiannya itu. Olalaalla… ternyata hasilnya masih tidak memuaskan, cake ini tidak bantat, tapi tengahnya masih lembek. Aduh…

Akhirnya terburu-buru Riana & suaminya naik motor berangkat kepasar untuk membeli susu kaleng, misis, dan cup kertas kecil. Sampai dirumah dengan perasaan gemas Riana dibantu oleh suaminya tercinta mengaduk-ngaduk dua cake gagal tadi. Diberi susu kental manis cokelat lalu di bentuk bulat-bulat sebesar kelereng, diguling-gulingkan diatas misis warna-warni , diletakkan diatas cup kertas warna merah dan voila… jadilah cake keju bola-bola misis.. ^^

Selesai dengan urusan cake, sekarang Riana beralih ke maincoursenya.
Udang sudah dibersihkan, bahan-bahan lain sudah disiapkan. Sekarang tinggal cemplung dan aduk-aduk saja tiba-tiba.. kriiiingggg…………… wah, ternyata bossnya Riana telpon dari kantor bertanya tentang laporan keuangan yang dibuat oleh Riana.

45 menit habis dipakai Riana untuk menjelaskan laporan keuangan kepada bossnya.

Tapi syukur alhamdulillah Udang saos padang, sambel kentang dan sop Kimlo akhirnya jadi juga.
Sementara itu waktu menunjukkan pukul 11 siang, sebentar lagi mertua tersayang akan datang.
Riana segera berganti pakaian dan berdandan secantik mungkin, ia ingin terlihat segar dihadapan mertuanya nanti.

Tiiinn.. tiinn.. begitu bunyi klakson mobil didepan rumah, ternyata tamu agung yang di tunggu-tunggu sudah datang. Dengan suka cita Riana dan suami menyambutnya. Ternyata pak de dan bude juga ikut datang berkunjung. Waahh.. rumah Riana langsung ramai. Ibu mertua dan bude memuji Riana yang terlihat cantik dan bude juga mengagumi bunga anggrek di taman Riana. Bapak mertua memuji cake bola-bola misisnya Riana dan pudingnya yang lembut. Wah, Riana senang sekali. Mereka berbincang-bincang dengan riang gembira.

Jam menunjukkan pukul 12 siang. Riana segera mempersilahkan tamu agungnya untuk makan siang. Maka mereka langsung pindah lokasi menuju ruang makan dan duduk mengelilingi meja.
Diatas meja sudah tersedia lauk-pauk buatan Riana yang terlihat sangat menggiurkan.

“Ayo pak dimulai” begitu kata Riana kepada bapak mertuanya.
Bapak mertua membuka ricecooker untuk mengambil nasi dan tiba-tiba beliau berdehem

”eheehmm..” sambil menutup kembali ricecookernya.

“lho, pak, tidak jadi makan?” tanya Riana heran.

“eennggg…. nduk, nasine belum ada…” ujarnya kalem.

Gubraakkkk… olaaa..laaa….. ternyata Riana lupa masak nasi!!

---- TAMAT ---

Di Tepian Mahakam

Sabtu, 06 Maret 2010

Di Tepian Mahakam
Oleh : Sri 'ade' Mulyani


“Aku cuma ingin melihat sungai Mahakam Kak. Kapan kita ke sana?” ujar Rida istriku akhir-akhir ini. Permintaan yang sederhana sebenarnya, tapi merupakan hal yang paling aku hindari selama hidupku. Tapi bagaimana menjelaskannya? Aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan alasan sebenarnya. Jangankan menerangkan, membayangkannya saja aku sudah bergidik. “Jangan Rida! Tolong jangan sekarang, aku belum siap” pintaku dalam hati, hanya dalam hati. Peristiwa tragis itu kembali membayang di pelupuk mataku. Peristiwa yang tak akan pernah kulupa sepanjang hayatku.

“Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk melupakannya. Bantulah hamba ya Allah,” doaku di setiap sujud malamku. Setiap kali mimpi buruk ini menggangguku, aku selalu teringat pada Julak. Rindu memandang sorot matanya, rindu dekap sayang yang membuatku merasa aman sehingga aku mampu melupakan sejenak kejadian tragis itu. Julak dan istrinya yang Allah kirim sebagai penyelamatku. Hendak kubalas dengan apa jasa mereka?

Namaku Ridwan. Aku anak angkat Haji Alamsyah seorang pengusaha di kota Balikpapan. Aku memanggilnya Julak. Haji Alamsyah mengambilku di kantor polisi ketika aku berusia 6 tahun, sesaat setelah peristiwa tragis menimpa keluargaku. Aku yang saat itu selalu menjerit mengingat ibu dan adikku. Aku yang selalu berteriak, “Ibuuuu, jangan Buuu… jangan!!!” Aku yang selalu bergetar hebat melihat derasnya arus sungai Mahakam dan menangis tersedu-sedu setelahnya. Kalau bukan karena Haji Alamsyah dan istrinya, tak tahu seperti apa aku saat ini. Mungkin aku sudah jadi gelandangan yang tidak waras berkeliaran di kota Samarinda. Atau bahkan mungkin saja aku telah mati kelaparan di sepanjang tepian sungai Mahakam. Entahlah, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok kecuali Allah Yang Maha Besar. Haji Alamsyah tahu betul perasaanku. Untuk menghilangkan traumaku setiap kali melihat sungai Mahakam akhirnya ia memilih untuk pindah ke Balikpapan, demi aku anak angkatnya.

Haji Alamsyah dikenal sebagai dermawan oleh masyarakat sekitarnya. Sudah banyak orang yang ditolong olehnya. Anak-anak panti asuhan, janda miskin, keluarga tak mampu. Dan kurasa yang paling beruntung adalah aku. Hidup memang aneh dan tak bisa ditebak. Aku yang terlahir dari keluarga perantauan yang tak mampu, akhirnya menjadi anak yang hidup dalam keadaan serba kecukupan. Tidak hanya membesarkan aku, Haji Alamsyah bahkan menyekolahkan aku hingga perguruan tinggi. Kulihat ia begitu bangga ketika hadir pada acara wisudaku. Apalagi tak lama setelah itu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di kota Bontang yang jaraknya 240 km dari Balikpapan.

Belum lengkap kebahagiaan itu rasanya kalau aku belum menyunting Rida, teman kuliahku. Aku mengagumi Rida dan berusaha mendapatkan perhatiannya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Rida menerimaku, walau setelah itu Rida tahu bahwa aku hanyalah anak pungut yang tak jelas asal-usulnya. Aku hanyalah seorang anak terlantar yang beruntung mendapatkan kasih sayang dari keluarga Haji Alamsyah.

Genap sudah 3 tahun aku tinggal di Bontang bersama Rida namun belum sekalipun aku mengajaknya ke Samarinda. Ada-ada saja alasanku untuk menolak ajakannya ke sana. Toh, ayah angkatku tinggal di Balikpapan. Dengan pesawat Dash-7 dan hanya memakan waktu 30 menit aku bisa mengunjungi Haji Alamsyah. Tak perlu repot-repot berlama-lama mengendarai mobil melintasi Perkebunan Inti Rakyat dan bukit Suharto untuk sampai ke Balikpapan. Dan yang paling penting, aku tidak perlu melintasi jembatan Mahakam yang akan membuatku merinding.

Sekali waktu, pernah di masa SD aku diajak H. Alamsyah untuk mengunjungi kerabatnya di Sungai Kunjang, Samarinda Sebrang. Dari kota Balikpapan tak perlu melintasi Mahakam untuk sampai ke sana. Tapi ketika sore tiba, ayah angkatku itu mengajakku berkeliling kota menyusuri Sungai Mahakam, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Mendekati jembatan penyebrangan aku pucat pasi dan akhirnya pinsan. Bayangan masa lalu itu tak pernah hilang dari ingatanku. Sejak itu Julak tak lagi mengajakku ke Samarinda. Setiap ada urusan di kota itu Julak tak pernah membawaku, sampai suatu saat aku duduk di bangku SMA, ia membawaku ke sana dengan harapan aku sudah tidak trauma lagi mengingat umurku yang mulai dewasa. Tapi percuma saja, lagi-lagi keringat dingin mengucur. Wajahku tegang walau aku tidak sampai pinsan ketika melintasi jembatan tersebut. Hah, cukup sudah! Aku tak mau ke sana lagi. Jangan paksa aku untuk melintasi jembatan itu, pintaku pada Julak.

H. Alamsyah cukup mengerti perasaanku. Ia tak pernah mengajakku ke kota itu lagi. Ayah angkat yang baik. Tapi kali ini bukan H. Alamsyah yang memintaku, bukan Julak yang mengenal diriku dan memahami ketakutanku. Kali ini Rida istriku tercinta yang memaksaku ke sana. Aku belum pernah bercerita padanya tentang peristiwa tragis itu. Jadi bisa dimengerti mengapa ia begitu heran setiap kali aku menolak ajakannya ke Samarinda.

“Aku ingin lihat Mall yang baru Kak,” kata Rida. Aku sebenarnya kasihan juga. Tiga tahun sudah kami menetap di kota Bontang yang kecil. Tak ada Mall di sini, yang ada hanyalah Mini Market. Walaupun aku tahu Rida bukan tipe perempuan yang senang belanja, paling tidak dia rindu keramaian kota.

“Kotanya panas, lalu-lintasnya semrawut, belum lagi kalau bulan hujan begini banjir selalu datang,” elakku. Kebetulan koran pagi itu memuat foto banjir yang terjadi di Samarinda.

“Justru aku ingin tahu Kak walau tidak sekarang di saat musim hujan. Sebenarnya aku ingin ke Tenggarong juga melihat Pulau Kumala. Tak ada salahnya kan kalau kita menginap dulu di Samarinda sehari. Menikmati Mahakam di waktu malam. Bahkan aku sebenarnya ingin ikut wisata ke pedalaman menyusuri sungai Mahakam. Teman-teman bilang itu wisata asyik. Kita bisa bertemu dengan orang-orang Dayak yang lubang telinganya memanjang dengan antingnya yang berderet. Kita bisa melihat budaya mereka langsung dari dekat,” kata Rida.

Aku pun ingin. Jauh di lubuk hati aku ingin mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Tapi ini Mahakam. Sungai besar itu selalu membuatku menggigil. Bukan pada buaya muaranya yang ganas, bukan juga pada transportasi air-nya yang belum tentu aman, bukan itu.

Rabb, sesungguhnya aku bukan lelaki cengeng. Sesungguhnya aku pun sadar, hidup dan mati adalah kuasa-Mu seperti yang selalu Julak katakan. Seharusnya aku bisa tegar dan melupakan tragedi itu sekaligus menghilangkan rasa takut yang selalu menghantui diriku. Sudah 20 tahun berlalu, aku harus bisa mengalahkan rasa takut itu, harus! Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi permintaan Rida. “Aku siap melihat Mahakam!” tekadku.

Cuaca sore itu tidak terlalu panas, angin bertiup sepoi-sepoi. Kuhentikan mobilku di tempat parkir di taman kota sisi jalan. Samarinda kota tepian, akhirnya aku ke sini juga. Di kejauhan, jembatan besi itu berdiri kokoh menjulang. Aku memalingkan muka dari sana. Debar itu mulai terasa. Arus sungai yang tenang dan riaknya yang menyentuh tembok sepanjang sisi sungai mulai terdengar di telingaku. Aku menguatkan diri untuk tidak gemetar. Sepanjang tepian Sungai Mahakam sore itu tak begitu ramai.

“Airnya tenang Ridwan, tak usah takut!” hiburku pada diriku sendiri.

“Yah, tenang. Tidak seperti saat itu yang arusnya begitu deras. Siapa yang tahu di balik ketenangan arusnya air ini justru menghanyutkan. Kelihatan tenang, namun sanggup menyihir seseorang untuk melakukan hal di luar dugaan,” kata hatiku yang lain. Tentu saja Rida tak mendengar percakapan ini. Ini antara aku dan jiwaku sendiri. Tapi aku tahu, ada tanda tanya dalam diri Rida. Ia sepertinya bisa merasakan ada sesuatu yang kusembunyikan. Apalagi ketika tanganku yang menggandengnya mulai basah berkeringat, sementara kami belum berjalan terlalu jauh.

“Selama ini aku sebenarnya heran pada kakak. Kenapa kakak begitu berat untuk menemani perjalananku ke kota tepian ini? Ada seseorang di kota ini yang ingin Kakak lupakankah?” suara Rida memecah kebisuan di antara kami berdua. Ia mungkin merasa tak ada kegembiraan di wajahku. Sepertinya aku menangkap nada cemburu dalam ucapannya.

“Hm, bukan begitu Rida. Aku…” kata apa yang harus kupilih untuk memulai cerita ini. Aku berusaha keras untuk mengatakannya, tapi arus sungai itu seolah-olah membiusku. Membawa pikiranku ke masa yang lalu. Detak jantungku serasa semakin cepat berpacu. Rida memandangku sekilas. Diambilnya sebuah batu lalu dilemparkannya jauh ke tengah sungai. Plung! Aku terlonjak. Batu itu jatuh tak begitu jauh dari tepian dan dalam sekejap batu itu tenggelam.

“Kenapa?” tanya Rida.

“Kaget saja,” jawabku tertunduk. Lidahku kelu. Hatiku diliputi kesedihan. Terbayang tubuh yang terhempas di derasnya air dan menghilang dengan cepat. Hening tanpa percakapan. Airmataku mulai menitik. Aku mulai tergugu. Pemandangan yang aneh bukan? Seorang lelaki menangis sesunggukan di tepian sungai Mahakam. Sementara sang wanita menatapnya penuh tanya.

“Kak…” Rida menyentuh bahuku. Dalam kebingungannya ia mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan mulai mengusap airmataku.

“Ah, lelaki yang rapuh!” ejekku pada diriku sendiri. Harus kuakhiri kesedihan ini. Aku menghapus sisa airmataku. Masih gemetar kukeluarkan dompet dan dari dalamnya kuambil guntingan koran yang selama ini rapi tersimpan. Kertasnya sudah menguning, tapi tulisannya masih jelas terbaca. Kuberikan pada Rida.

IBU MUDA NEKAT TERJUN DI JEMBATAN MAHAKAM BERSAMA ANAKNYA
Samarinda, Siang kemarin seorang bocah laki-laki (6 thn)berlari sambil menangis ke pos polisi di jembatan Mahakam. Ibunya baru saja terjun dari jembatan dengan adiknya yang berusia 3 tahun. Sebelum terjun, ibunya pun mengajak sang bocah untuk ikut melompat. Namun bocah laki-laki ini menolak. Belum diketahui motif apa yang membuat ibu tersebut nekat bunuh diri di jembatan Mahakam. Sampai saat ini polisi dan tim SAR masih berusaha mencari mayat ibu dan anaknya. Sementara bocah laki-laki yang masih trauma dengan kejadian itu dititipkan pada seorang dermawan di Sungai Kunjang Samarinda Sebrang.(Baca IBU MUDA…. Hal. 10)


Rida memandangku memohon penjelasan.
“Bocah kecil itu Rid… ”
“Siapa?” buru Rida menyela ucapanku.
“Aku,” ucapku pelan.


Bontang, 6 Maret 2010

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger