Tampilkan postingan dengan label Eni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eni. Tampilkan semua postingan

Tragedi Mina 8 Dzulhijjah 1417 H

Rabu, 02 Oktober 2013

Masih terekam dalam ingatanku, tentang peristiwa terbakarnya tenda-tenda jamaah haji di Mina bertahun-tahun silam, tepatnya tanggal 8 Dzulhijjah 1417 H atau 15 April 1997. Bukan karena aku mengoleksi lembar beritanya di koran atau punya rekaman videonya dari televisi, tapi karena aku turut mengalaminya waktu itu, karena aku turut dalam kepanikan bersama ribuan jamaah, ah... bukan ribuan, mungkin puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu manusia yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan si jago merah. Dada ini berdegup kencang, berlomba antara takut dan ingin menyelamatkan ihram kami, antara tangis dan segala harap, entah mana yang lebih dominan kala itu. Apakah semua seirama? Saling melengkapi?

Hari telah menjelang dhuhur waktu itu, kami serombongan dengan bendera  jamaah haji dan umrah Hidayatullah dari Bontang dan Balikpapan telah sampai di Mina lebih awal dari jamaah kebanyakan karena kami mengambil napak tilas Rasulullah sebelum berangkat ke Arafah. Kami datang dengan mengendarai bus hingga kami diturunkan tepat disamping blok tenda kami. Kami menempati salah satu tenda yang lumayan besar yang disediakan pemerintah Arab Saudi di salah satu blok untuk Indonesia, cukup untuk seluruh rombongan jamaah kami. Ada papan nama diatas pintu gerbang masuknya menunjukkan peruntukan tenda yang ada, rencananya tenda ini akan kami tempati selama kami berada di Mina. Makanya saat kami sudah diperbolehkan mengatur barang bawaan ke dalam tenda, aku dan suami segera mengambil tempat di sudut dengan maksud supaya tak banyak dilewati orang yang lalu lalang. Kami atur sedemikian rupa tikar dan tas perbekalan selama di Mina sebagai pembatas bahwa inilah wilayah kami untuk tidur malam ini nanti. Semua jamaahpun melakukan hal yang sama. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan tenda putih berbaris-baris, entah ada berapa banyak jumlahnya dan semuanya berukuran besar tapi keadaannya masih banyak yang kosong karena memang jamaah lebih banyak masih berada di Mekah dan baru akan berangkat esok hari langsung menuju Arafah untuk wukuf. Malah dari sepenglihatan dan sepengetahuanku, dari blok dimana tenda kami berdiri, baru rombongan kamilah yang datang ke Mina.

Walaupun pemerintah Arab Saudi telah menyediakan tenda-tenda yang begitu banyaknya dan tertata rapi untuk setiap negara dan daerah asalnya, ternyata masih ada saja tenda-tenda terpancang di perbukitan, entah siapa penghuninya. Dengar-dengar katanya tenda-tenda yang ada dibukit itu dari jamaah yang datangnya sendiri-sendiri, maksudnya mereka bukan rombongan atau yang terorganisir seperti kami. Wah, tentunya butuh perjuangan yang sangat berat untuk melalui semuanya sendiri apalagi letaknya yang sulit dijangkau, pasti susah sekali mobilisasinya. Mungkin saja mereka penduduk setempat atau penduduk sekitar. Katanya sih keadaan seperti itu biasa saja, setiap tahun haji datang pasti ada saja yang mendirikan tenda di perbukitan.

Waktu semakin mendekati adzan dhuhur, kami segera diminta untuk mengambil wudhu dan akan melakukan shalat dhuhur berjamaah. Aku dan beberapa teman segera mencari air untuk wudhu. Entah kenapa kami waktu itu tak mengambil wudhu di kamar mandi yang disediakan pemerintah Arab Saudi, padahal jumlahnya cukup banyak. Apa karena airnya tidak mengalir ya? Ah... tak tahulah, lupa keadaannya waktu itu, yang jelas kami keluar dari blok tenda kami menuju blok lainnya dan mengambil wudhu. Itupun kami mengambil wudhunya dari seember air yang kami gayungkan. Masih ingat percakapan kami waktu kami wudhu bersama. Saat itu teman kami namanya Yuri mengomentari salah satu dari kami cara berwudhunya karena mengambil wudhu langsung dari ember.

“Nggak begitu caranya wudhu, kalau begitu kan airnya netes lagi ke ember” sambil dia mempraktekkan mengambil air dengan gayung lalu mengucurkannya dan yang lain mulai berwudhu.

Saat kami sedang dalam antrian wudhu, kulihat dari salah satu bukit yang ada di Mina, ada asap hitam mengepul dari arah balik bukit itu. Kalau bukit yang jaraknya begitu jauh dari kami berdiri saat ini, asapnya bisa terlihat dengan jelas, pasti ada apa-apa dibalik sana. Iya, sepertinya ada kebakaran dibalik bukit itu. Spontan terucap dari bibir ini “Kasihannya mereka, bagaimana keadaannya ya? Semoga mereka selamat”. Yah, sebatas itu saja yang kami lakukan, tak mungkin kami menaiki bukit yang jauh dan menolongnya. Lalu kami menyelesaikan wudhu, semua telah mendapatkan wudhunya sekarang. Kami segera kembali ke tenda bersiap-siap shalat dhuhur berjamaah karena adzan baru saja dikumandangkan dari tenda kami. Tapi baru saja kami masuk dan belum juga siap apa-apanya, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara dari luar gerbang blok tenda kami. Kami semua diminta keluar tenda secepatnya karena kebakaran sudah dekat dengan tempat kami. Ya Allah! Apa yang akan terjadi dengan kami semua, baru saja kami masuk tenda, baru saja kami lihat kepulan asapnya masih di balik bukit yang jaraknya sangat jauh dari tenda kami, sekarang sudah dekat dengan tenda kami. Kami akan mengungsi kemana? Disekitar kami hanyalah tenda-tenda kain yang kering, sebentar saja pasti terlalap api semuanya dan kami akan dikelillingi api. Api yang tinggi dan berkobar diiringi kepulan asap hitam yang akan menyesakkan pernafasan kami, bahkan mungkin bisa membakar paru-paru kami. Duh Gusti Allah..., kumohon pertolongamu, lindungilah kami semua dari cobaan ini. Kami semua panik, bingung, keluar-masuk tenda. Lalu kami dengar lagi teriakan “Selamatkan diri, tidak usah membawa apa-apa, apinya sudah dekat, tinggalkan saja barang-barangnya”. Kami semakin panik, sedekat apa sih api yang berkobar saat ini sampai kami tak diijinkan membawa barang-barang kami padahal perbekalan untuk wukuf dan selama di Mina ada disini semua.

Untuk membawanya sendiri jelas aku tak mampu karena tas tentengan ini berat jika membawanya harus sambil berlari, jelas-jelas aku tak kuat membawanya sendiri. Untuk mengurangi beratnya juga tak memungkinkan lagi karena kami memang harus secepatnya meninggalkan tenda. Yah... kalau memang harus ditinggal, ya apa boleh buat, diikhlaskan saja. Tapi tidak, suamiku bersikukuh membawanya, dua tas perbekalan harus dibawanya sedang yang lain boleh ditinggal. Ini bekal kami selama di Mina, harus dibawa yang lainnya bolehlah ditinggal. Satu tas ditentengnya di tangan satunya sedang tas lainnya kami tenteng berdua. Sambil berjalan cepat kami menenteng tas perbekalan keluar tenda.

Kami telah berada dijalur beraspal dimana kami diturunkan pertama kali sampai di perkemahan. Begitu banyak jamaah dalam kepanikan, berjalan ke kanan, kekiri, berlari-lari tak tahu arah yang dituju. Semua panik tak tahu harus kemana, semua bingung tak tahu harus menghubungi siapa. Tak ada alat komunikasi, hand phone waktu itu masih langka. Seingatku, dari kami serombongan hanya satu orang yang mempunyai hand phone saat itu, Pak Harry Sulistyadi yang selalu mengabarkan keadaan kami ke teman-teman di tanah air. Tapi kami tak tahu sekarang ini beliau ada dimana, kami benar-benar tak tahu apa yang harus kami kerjakan. Mengikuti arus kekiri ternyata salah, setelah diikuti ternyata dari arah berlawanan orang-orang berlarian dan berteriak jangan kesini, apinya sedang mengarah kemari, kamipun berbalik arah. Suara dentuman berkali-kali terdengar dari arah yang berbeda-beda. Salah satu sumber menyebutkan itu suara tabung gas yang meledak, api cepat menyebar karena tabung gas yang satu eledak mengakibatkan tabung gas yang lain meledak juga terkena imbasnya, meledak bergantianlah tabung-tabung yang dibawa penduduk untuk keperluan selama di Mina, api cepat sekali menjalar. Apa yang bisa kami lakukan sekarang?

Ya Allah, akan sampai kapan keadaan ini berlangsung dan apakah kami akan selamat dari kobaran api? Ya Allah, kami pasrah padamu, disekeliling kami... tenda-tenda dari berbagai arah telah terbakar, kami tak tahu lagi harus menyelamatkan diri kearah mana, segala penjuru telah terkepung api, kami tak bisa bergerak. Lalu aku dan suami duduk dipinggir jalan, dibatas jalan. Memperhatikan orang-orang yang panik dan lalu lalang, aku juga panik dan ketakutan tapi ikutan berlari-lari dan mondar-mandir tak tentu arah sangat menghabiskan tenaga karena kami tak tahu harus kemana. Baru ingat kalau kami tadi keluar tenda belum shalat dhuhur tapi kami akan shalat dimana. Situasi tak mengijinkan untuk shalat dengan sikap sempurna karena kami harus waspada dengan keadaan sekitar, jangan sampai kami malah tertabrak saat sedang mengerjakan shalat. Maka kami putuskan untuk shalat dengan posisi duduk seperti posisi shalat di kendaraan. Kami kerjakan dengan gerakan isyarat untuk semua gerakan shalatnya. Semoga Allah memaklumi keadaan shalat kami. Akhirnya usai sudah shalat kami walau dalam keadaan tertekan, kepanikan, dan ketakutan. Baru tersadar setelah mengucap salam, ternyata saat kami duduk dan mengerjakan shalat, kami duduk disebelah bangunan yang didalamnya ternyata travo yang sangat besar. Ya Allah, kalau saja tadi saat kami sedang shalat terjadi apa-apa dengan alat disebelah kami ini, entah apa yang terjadi dengan kami. Puji syukur kami panjatkan hanya pada-Mu ya Allah, Engkau masih menyelamatkan kami. Kami lalu beranjak menjauh dari peralatan listrik yang super besar itu.

Tiba-tiba jamaah berlarian sambil berteriak “Api... api...!” semua berlarian sekencang-kencangnya, kocar-kacir, aku dan suami juga. Kali ini aku dan suami menuju ke arah kanan, menuju tempat yang lebih tinggi kearah bukit, tapi kami harus melewati tenda-tenda, yah... mau gimana lagi , ini jalan satu-satunya menuju bukit. Padahal bila tenda ini satu terkena percikan api sedikit saja, ludeslah semuanya dan kami masih di dalamnya. Kami harus secepatnya menghindari tenda-tenda ini. Kami terus merangsek kedalam dan... ternyata buntu. Kami terjebak di diantara tenda-tenda, ternyata jalan yang kami tempuh bukan jalan umum, ini jalan pembatas antar tenda. Ya Allah..., api semakin dekat, selamatkan kami ya Allah....

Kami semakin panik, api semakin dekat, keringat mengucur semakin deras, jantung berdegup semakin kencang, nafas terengah-engah ketakutan, sambil bibir ini terus berdzikir, berucap pasrah penuh permohonan. Kalaulah sampai waktuku hari ini, matikanlah kami dalam khusnul khotimah ya Allah.... Suara takbir begitu riuh dari segala penjuru penuh kepasrahan. Kami tetap akan berusaha menyelamatkan diri tapi kami juga pasrah atas kehendak-Mu.

Suami terus mendobrak pembatas, yang lain ikutan membantu. Kami berlomba cepat-cepatan dengan api. Hayuk... duluan siapa sampainya. Tak mudah membuka pembatas sengnya, selain hanya menggunakan tangan kosong dan kaki, tentunya takut terluka terkena ujung seng atau paku yang terkuak tak sempurna. Buah dari hasil kerja keras dan pantang menyerahpun terlihat. Kini kami bisa melewatinya satu persatu, harus cepat melewatinya karena antriannya panjang. Semoga saja semua bisa selamat melewati pembatas yang sudah terbuka ini.

Tak sampai disini, kami harus menaiki bukit yang lumayan tinggi dengan berbagai rintangan. Batu besar menghalani perjalanan kami, kami harus menaikinya dengan susah payah dan yang lebih beratnya lagi karena kami masih membawa dua tas perbekalan yang lumayan berat.

“Ditinggal saja Pa tasnya!” kataku pasrah karena melihat suami yang kesulitan antara menyelamatkan diri dan menyelamatkan perbekalan sehingga jalannya kepayahan.

“Enggak, Insya Allah masih kuat” katanya penuh keyakinan.

Kami terus mendaki setinggi-tingginya, menghindari api sampai kami melihat tak ada sesuatu yang bisa memicu kebakaran disekeliling kami. Barulah setelah merasa aman kami berhenti. Tak tahu siapa saja yang ikut dengan kami, apakah akhirnya mereka menghentikan langkah apa malah meneruskan naik lebih tinggi lagi. Yang jelas setelah aku dan suami duduk, kami bertemu mbak Indri dan pak Mursito, teman satu biro perjalanan dan satu perusahaan. Dari atas bukit kami melihat sebegitu banyaknya tenda-tenda telah habis terbakar, termasuk tenda kami. Entah ada berapa orang yang terluka atau menjadi korban kebakaran dan entah nanti kami akan tidur dimana malam ini.

Matahari sudah mulai condong ke barat, apinya sudah padam, kebakaran sudah bisa diatasi. Setelah benar-benar merasa aman, kamipun turun dari bukit. Tak terkira tingginya bukit yang kami panjat, kok bisa-bisanya kami mendaki secepat itu. Yang lebih mengherankan lagi saat kami berpapasan dengan teman kami yang sudah tua dan berbadan sangat gemuk. Untuk jalan saja beliaunya kepayahan, lha ini kok bisa naik bukit yang begitu terjal dan sulit didaki. Tak bisa membayangkan bagaimana caranya naik. Subhanallah, Alhamdulillah... Inilah pertolongan Allah yang diberikan pada kami semua.

Kami telah sampai di bawah, tenda kami sudah tak ada. Dinas kebersihan bekerja keras membersihkan supaya bisa segera dipasang lagi tenda-tenda penggantinya. Tapi ini butuh waktu yang tak sebentar karena area yang terbakar sangat luas. Intinya malam ini kami tak punya tempat untuk tidur. Tak mungkin kami menempati tenda milik jamaah lain karena mereka akan memakainya nanti setelah dari Arafah dan kami juga tak diijinkan menempatinya. Terpaksalah malam ini kami tidur dijalanan. Tetap saja harus bersyukur, ternyata masih ada alas untuk kami tidur walau hanya tikar-tikar tipis. Inilah ujian ihram kami, apakah kami mampu melaluinya dengan sabar dan berjiwa besar karena dalam keadaan seperti ini tingkat emosi biasanya meninggi. Yah, jangan sampai kami bersitegang dengan sesama jamaah. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu jagalah ihram kami. Penuhilah hati kami untuk selalu berdzikir, sabar, pasrah kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Awas ya...!!!!

Sabtu, 18 Desember 2010

“Diiik.. tidur.. dah malam” teriakku dari kamar karena melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.45 wita.

“Ya....” sahutnya dari ruang keluarga.

Samar-samar suara telivisi masih terdengar dan tak segera dimatikan. Kutunggu beberapa saat, tak juga dimatikan.

“Diiik... ayo... tidur, dah malem sekali ini, besok susah bangun paginya”

“Ya...” sahutnya lagi masih dari ruang keluarga.

Lalu kuperhatikan dari kaca lemari yang mengarah ke ruang keluarga, sekelebat terlihat jalannya menjauh dan “klek”, ow.. mengunci pintu dapur, “pintar”, lalu langkahnya kembali mendekat dan menuju kekamar dimana tubuhku kubaringkan di tempat tidur.

“Hiiii..., ada mickey tadi masuk kesini”

Langsung saja mata yang tadi sudah terpejam bangun dan sudah saatnya terpejam lagi, kini terbuka, lebiih lebar lagi.

“Mana?”

“Nggak tahu, tadi kesini, kesini, kesini, kesana” sambil jarinya menunjuk-nunjuk arah.

Wah, gawat! Harus dikeluarkan nih si Mickey, jangan sampai tidur digerayangi. “Hiii... “ sambil gedeg-gedeg geli.

Mata terus mengamati sekeliling ruangan, setiap sudut tak terlewatkan. Tapi aku tak beranjak dari tempat tidur. Ngeri juga kalau sampai tiba-tiba Mickey nongol, bisa main lompat-lompatan tengah malam ini. Dimana kau Mickey? Jangan nakut-nakutin aku ya...

“Sudah sholat?”

“Belum, takut Ma”

“Mickey kan nggak masuk kamar mandi, nggak papa, udah sana wudhu, jam segini kok ya nggak tidur”

“Ini jamnya mati ma”

“lha sekarang jam berapa?”

“Setengah satu”

“Lha udah setengah satu, kok ya nggak tidur, Hayuk sholat terus tidur”

Kakinya melangkah cepat ke kamar mandi sambil gedeg-gedeg “hiii...”. Sesaat terdengar sebentar gemericik air wudhu dari kamar mandi, kemudian langkahnya kembali kekamar, segera mengenakan mukena dan menjalankan sholat isya’. Setelah salam langsung melompat ke tempat tidur, masih saja sambil gedeg-gedeg “hiii...”

Tak berapa lama, akhirnya pulas juga. Tinggal aku terjaga sendirian, menikmati sisa malam, oh tidak! menikmati malam yang masih panjang, sendirian. Kupertajam pendengaranku, barangkali saja Mickey akan melewati kertas-kertas yang kebetulan terserak dilantai, kertas-kertas yang baru kupisah, mana yang masih terpakai, mana yang harus dibuang. Bantal kususun lebih tinggi, kali ini aku duduk agak rebahan, tapi tetap bisa mengamati sekeliling.



“srek”, nah, itu mungkin langkah mickey, aku diam, tak bergerak, tak membuat suara, sepi sekali. Kupertajam pendengaranku, tak ada suara lagi. Kemana langkah si Mickey ya...? aku tak bisa melihat. Lalu cicak menyuarakan “ck ck ck” dari luar kamar, kemudian sepi lagi. Sebentar kemudian berganti suara mesin AC, nyala sebentar..”weeeeng” kemudian mati lagi. Begitu terus. Tapi si Mickey tak jua kelihatan batang hidungnya. Mickey, Mickey... kemana kamu? Bikin mataku nggak bisa terpejam lagi, padahal malam telah semakin larut.

“kletek, kletek”, ada suara lagi, kali ini arah suara dari pintu. Mataku langsung tertuju, kuamati daerah pintu dan sekitarnya, pasti disitu si Mickey! Aku masih tak bergerak, hanya mataku melirik keatas pintu, kebawah, kesamping kiri, kanan. Ah, malam-malam senam mata. Mataku terus memelototi, mulutku terkatup rapat, masih kututup selimut dari kaki sampai dada, tangankupun masuk dalam selimut.Kalau saja bisa kulihat dicermin, pasti lucu sekali ekspresiku. Cuma terlihat kepala, tolah... toleh.... melotot sambil melirik kesegala arah.

“Eit” Mickey nongol di rantai yang kubentangkan dipintu, mataku terus tertuju. Gegek-gedeg geli, tapi harus kuawasi terus. Kulihat tingkahnya, mau kemana dia. Kepalanya tolah-toleh dan sepertinya manggut-manggut, ciri khas Mickey. Dia menyeberangi rantai yang kupasang membentang selebar pintu, sampai keujung, mau naik ke jendela. Kaki depannya sudah berusaha, tapi tak bisa. Tolah-toleh dan manggut-manggut lagi, berusaha naik lagi, tetap tak bisa. Kemudian balik, menyeberangi rantai lagi. Berusaha naik dari tempat yang berbeda, tetap tak bisa. Kuharap tak turun ke lantai lagi. Kalau sampai turun lagi, tambah susah pengawasannya.

Aku tetap tak bergerak, tak ingin mengejutkan Mickey. Tapi apa yang akan kulakukan? Sebentar-sebentar kuamati sekeliling sambil terus berusaha tak melepaskan Mickey. Jangan sampai kehilangan Mickey. Apa yang bisa kulakukan untuk melemahkan Mickey? Yang ada didekatku hanya HP, wareless telephone, charger, penggaris, CD. Tak mungkin kulemparkan ke Mickey. Diseberang ada sapu penebah tempat tidur, tapi tak mungkin kuambil karena harus turun dari tempat tidur. Ini akan mengagetkan Mickey. Mickey akan terjun dan langsung sembunyi kalau melihat ulahku. Terpaksa aku hanya diam, mengawasi gerakannya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Apa ini akan semalaman? Apa ini akan sampai pagi?

Mickey terus berusaha naik ke jendela, entah apa yang diinginkannya di jendela atas yang tertutup gorden. Kaki depannya terus berusaha, ekornya bergerak-gerak, geli melihatnya. Tapi ya bagaimana lagi, dari pada kehilangan jejak.

Akhirnya Mickey berhasil juga naik ke jendela tertutup gorden. Tak bisa kulihat lagi bentuknya, apalagi melihat mukanya yang mengendus-endus seperti mencari sesuatu. Hanya kulihat bayangannya dibalik jendela yang terbias sinar lampu luar kamar. Dia bergerak ke kanak sampai habis, balik lagi kekiri sampai habis, kemudian naik keatas memanjat gorden. Sampai ujung gorden, kulihat lagi wajahnya mengendus-endus. Berusaha naik ke langit-langit. Mau apa? Tak ada lobang di langit-langit, Mickey tak bisa menjangkau langit-langit. Balik lagi ke jendela, kulihat lagi bayangannya.

Sepertinya ini saat yang tepat untuk beraksi, apa yang harus kulakukan ya? Ambil obat nyamuk baygon, ya.. ambil baygon dan menyemprotkan ke Mickey seperti yang dilakukan temanku. Moga-moga berhasil. Aku harus turun dari tempat tidur dan berjalan keruang lain untuk mengambil botol baygon, semoga Mickey tak beranjak dari tempatnya.

Dengan langkah seribu, cepat kuambil baygon dan mencobanya. Untung saja dua hari lalu aku membelinya, jadi masih utuh. Aku kembali ke kamar. Kulihat Mickey masih di balik gorden. Aku melangkah pelan mendekati jendela, aku harus naik meja yang dialasi kaca. Semoga tidak pecah dan memang biasanya tidak pecah. Disamping itu tak ada lagi yang bisa kupanjat. Kuarahkan baygon ke Mickey, tak langsung ke Mickey, tapi ke gorden dimana Mickey ada dibaliknya. Terlihat jelas bayangannya. Sebanyak-banyaknya kusemprotkan, Mickey berusaha menghindar, tapi tetap kukejar dengan semprotan. Aku tak berani menyibak gorden,takut si Mickey akan lompat kearahku.

Ada celah sedikit, moga saja mengenai sasaran dan membuatnya pusing. Kusemprot terus, sampai aku sendiri terbatuk2 tak kuat menahan baunya. Mickey pasti mabok! Pikirku. Dan sebentar lagi aku bisa mnyemprot langsung ke arahnya. Tunggu saatnya.

Kaleng baygon berukuran besar tinggal kurang dari separo, saatnya menyemprotkan langsung ke Mickey. Kusibak gorden pelan-pelan sambil baygon siap menyemprot. “Yes!” berhasil kusemprot. Badan Mickey basah kuyup, tapi masih bisa bergerak. Segera kututup lagi gorden, disamping geli melihatnya, juga takut dia melompat ke mukaku. “Hiii, ngerinya”

Saat yang bersamaan, terdengar bunyi “thek”, yah..! pecah deh kaca meja. Tapi aku tak beranjak dari tempat kuberdiri. Aku masih penasaran dengan Mickey, sehebat apa sih dia? Beberapa kali gorden bisa kusibak dan kusemprotkan langsung ke Mickey. Badannya semakin basah kuyup, dia berusaha menghindar. Kututup lagi gorden, dan Mickey berusaha keluar dari balik gorden. Waduh, gawat! kalau sampai keluar, gawat!

Benar saja, Mickey melongokkan kepalanya. Secepat kilat aku lompat dari meja, menjauhi jendela. Kupandangi tingkahnya dari jauh, kali ini aku tak berani berhadapan langsung. Tubuh Mickey yang basah berhasil keluar dari balik gorden, turun ke lantai. Aku gedek-gedek geli. Apa yang harus kuperbuat sekarang? Mickey masuk dibawah meja, waduh! tambah sulit keadaan sekarang. Kuambil sapu penebah dan kupukul-pukulkan ke bawah meja, berharap akan mengenai Mickey. Benar saja.. Mickey lari ke bawah tempat tidur.

Keadaan semakin sulit, kugetok-getok pinggiran tempat tidur. Tak ada gerakan, kuintip ke kolong, tak kelihatan. Dimaka kau Mickey? Kuayun-ayunkan sapu penebah kebawah tempat tidur. Mickey keluar dari bari kolong tempat tidur, tapi diseberang, lalu melintasi pintu kamar. Mickey berhasil keluar dari kamar, kukejar sambil membawa sapu penebah. Mickey lari secepat-cepatnya dan berhasil masuk ke kamar satunya.

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Tambah susah ini, tak tahu dimana posisinya sekarang, dibawah kolong tempat tidurkah? Dibalik gordenkah? Diatas jendelakah? Satu-satunya jalan kututup pintu kamar.

Mickey... kau ada didalam, tubuhmu basah kuyub terkena baygon. Apa yang akan terjadi padamu Mickey? Aku tak tahu. Aku bisa tidur pulas setelah begadang denganmu. Tapi, ow, ow!. Diatas pintu ini ada kisi-kisi kaca terpasang miring, ada celah yang lebar. Bisa saja Mickey melewatinya dan kabur. Terpaksa begadang sampai pagi. Mickey, Mickey! kau menyiksaku malam ini, awas kau Mickey!

Puzzle Idul Adha

Jumat, 12 November 2010

Di spanduk tertulis hari pelaksanaan “Idul Adha”, ada yang menyebutnya “Idul Qurban”. Dalam percakapan sehari-harinya, ibu-ibu biasa menyebutnya “Lebaran Haji”. Dan ditanah kelahiranku, kampung halamanku, tanah air beta.. masih terngiang jelas menyebutnya “Bakdo Besar”. Aiiih, sama saja maksudnya. Semua bermuara pada contoh sejarah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Sejarahnya yang telah sering terdengar saat pengajian di masjid maupun di musolla, sejarah yang diajarkan di sekolah umum sebagai pelajaran agama, sejarah yang diceritakan di sekolah mengaji sore anak-anak sebagai dongengnya. Buku-buku cerita juga banyak terjual, dan untuk menarik minat baca, banyak diterbitkan dalam bentuk komik untuk anak-anak. Hayuk kita buktikan, apa anak-anak kita telah tahu sejarahnya...

Mendekati hari raya Idul Adha, bahkan sebulan sebelumnya, di masjid-masjid telah dibentuk panitia pelaksanaan Qurban, mulai dari pengadaan sampai penyaluran daging qurbannya. Untuk memudahkan, para pequrban tinggal setor saja ke panitia uangnya sejumlah yang tertera, berapa rupiah untuk seekor kambing dan 1/7 bagian sapi. Begitu dimudahkannya, saat hari H tiba, tinggal melihat hewan qurban menunggu antrian kapan disembelih, dikumpulkan dengan yang lain, dipotong, ditimbang, dimasukkan dalam tas plastik dan siap dibagikan ke masyarakat sekitar. Tak perlu datang sendiri ke penjual, tak perlu menaksir umur, melihat keutuhan fisik, kesehatan, dan tak perlu tawar menawar. Semua sudah dimudahkan panitia. Qurban yang telah disembelih akan dikirim kerumah sebagian atau sebagai bagian pequrban untuk dinikmati sekeluarga atau mungkin akan dibagikan lagi pada orang-orang yang diinginkannya. Enaknya dimasak apa ya? sate, gule, tengkleng, sup? Waaaahhh lha kalau ini tergantung juru masaknya.. bisanya masak apa...

Kini saatnya Idul qurban di kampung halaman. Suasana yang selalu kurindukan. Biasanya hewan qurban yang dikelola masjid telah ada dua sampai tiga hari sebelum hari H, yah.. paling lama seminggu. Itu seingatku. Kalau lebih lama lagi mungkin akan merepotkan mengurusnya. Harus ngasih makan, ngasih minum. Apalagi kalau cuaca tak mendukung seperti hujan. Bisa-bisa hewan qurban sakit dan bisa mati. Maklum, semua nggak ada pengalaman pelihara kambing maupun sapi. Wallah wallah... jadi repot semua, belum lagi.. masjid harus mengganti hewan qurban. Tekor dong masjidnya.

Satu pekarangan yang lumayan luas, milik warga dipakai menampung hewan qurban, tentunya dengan meminta ijin si pemilik. Terpal sebagai pelindung dari cuaca panas dan hujan terpasang. Kambing-kambing dan sapi ditambatkan pada tiang, pada pohon, pada apa saja yang bisa digunakan. Anak-anak senang melihat sekumpulan hewan qurban yang lehernya terpasang tali memanjang ke beberapa tiang. Setiap sore menyambangi, mengelus-elus kepala kambing, memegang tanduknya, berusaha memasukkan daun kemulutnya. Ingin memberi makan.

“Itu kambingku, itu lhoh yang tanduknya melungker. Wuih tadi itu.. masak.. diseruduk sama kambing yang hitam jelek itu. Nakal itu kambing yang hitam itu”

“Iya, aku tadi juga lihat kok. Yok nggak usah dikasih makan yok, nggak usah deket-deket yang hitam. Ngeri aku, nanti kalau aku diseruduk”

Anak-anak, celotehnya selalu lucu-lucu. Mbing... mbing... ada yang nggak suka sama kamu lhoh. Makanya jangan nakal, jangan main seruduk. Tuh, kamu nggak dikasih makan sama mereka..

Tak hanya anak-anak yang datang melihat, bapak-bapakpun asik menaikkan anaknya ke punggung salah satu kambing, padahal anaknya sudah meronta-ronta nggak mau dinaikkan karena takut.

“Nggak papa.. nggak papa.. lhoo nggak papaa.. lihat tooo... nggak papa ini” si bapak... mbok ya sudah, wong anaknya sudak kejer gitu kok dipaksa, nanti malah trouma lhoh. Nyali anak kok disamakan dengan nyali bapaknya...

Ibu-ibu juga nggak kalah serunya, sambil menggendong anaknya mencari hiburan untuk anaknya supaya mau disuapi.

“Dik... dik.. itu lhoh dik kambingnya makan, yuk.. adik makan juga.. hak, hak, hak... haemmmm” slupruuutt... akhirnya satu suapan masuk kemulut.

Ternyata berkah qurban sudah dirasakan beberapa hari menjelang hari H. Semua menikmati kehadiran hewan qurban, mendapat hiburan, mendapat kesenangan, dan saatnya hari H nanti.. semua akan menikmati dagingnya..

***

Sehabis sholat isya’, anak-anak siap diarak oleh beberapa remaja masjid untuk takbir keliling kampung, obor kecil dari bambu dinyalakan dan dibawa oleh yang sudah agak besar. Mereka berbaris di depan masjid. Beberapa orang tua ikut berbaris dibelakang, akan ikut berkeliling kampung. Selain menjaga anaknya yang ikut dalam barisan, ternyata mereka juga senang. Saat barisan benar-benar diberangkatkan, takbir, tahlil dan tahmid berkumandang tiada henti. Remaja memimpin “Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar, Laailaaha illallaahu Allaahu akbar, Allaahu akbar walillaahilhamud” disahut dari barisan dengan penuh semangat dengan lafal yang sama. Ada yang sampai terlihat benar otot lehernya saking semangatnya menyuarakan. Barisanpun berjalan menjauh, makin lama makin tak terdengar suaranya dan akhirnya barisanpun tak kelihatan karena berjalan kearah belokan gang kampung. Syiar islam menggema dari mulut-mulut mungil anak-anak kecil yang dengan senang melakukan perjalanan keliling kampung. Suaramu menjadi saksi di akherat kelak anak-anakku sayang.. Sedang sebagian lain. Remaja yang lain bersama pengurus masjid dan para sesepuh duduk dalam masjid, duduk bersila menghadap kiblat, dengan khusuk juga mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Semua siap menyambut hari raya Idul Adha esok hari.

Rute takbir keliling tak jauh mengingat dalam barisan adalah anak-anak, anak-anak SD, TK, bahkan ada yang belum sekolahpun ikut dalam barisan. Maka sebentar saja barisan sudah sampai ke halaman masjid lagi. Remaja memberi komando untuk masuk ke masjid. Anak-anak melepas sendal, masuk ke dalam dan duduk menunggu pembagian minuman pelepas dahaga, kue yang sudah disediakan ibu-ibu dibagikan, anak-anak menyambut dengan senang. Lihat senyumnya yang tulus menerima pembagian.. tak ada gumam mengeluhkan jenis kue atau jenis minuman. Semua menerima, membuka dan menikmati. Semoga Allah memberi keberkahan dari hidangan yang termakan. Amin. Kemudian anak-anakpun pulang dengan kebanggaan “Aku ikut takbir keliling”

Malam telah semakin larut, masjidpun akhirnya dikosongkan. Bapak-bapak pulang, remaja dan pengurus masjid pun pulang. Menyusun tenaga untuk pekerjaan besar esok hari.

***

Hari besar, hari yang ditunggu-tunggu. Setelah melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah di pelataran masjid yang termasuk jalan kampung ini. Hewan-hewan qurban siap disembelih. Beberapa petugas yang akan menyembelih telah siap dengan pisaunya yang tajam, sekali tebas.. putuslah urat leher. Gilirannya penyamak kulit siap dengan keahliannya. Kambing yg telah mati digantung terbalik. Kepala dipisah dari badannya, badan dikuliti, dibelah perutnya, diambil bagian dalamnya. Hati, limpa dipisahkan, usus dan babat dipisahkan siap dibersihkan kotorannya. Kemudian seonggok daging dipindah ke terpal untuk dipotong-potong, ditimbang, dimasukkan ke kresek. Kerja sama yang hebat!

Ibu-ibu siap di dapur buatan, dapur sementara dipelataran masjid. Ada yang memasak nasi, ada yang meracik bumbu, ada yang meracik acar, ada yang menyiapkan piring, sendok dan gelas, ada yang menyayat daging kecil-kecil untuk dibuat sate dan gule. Semua terlihat sibuk membantu menyiapkan masakan dari sebagian daging qurban untuk makan siang panitia dan sebagian warga yang kebetulan lewat. Siapapun boleh menikmatinya.

Waktu berlalu, pekerjaan membagi qurban telah selesai dilaksanakan, terpal sudah kembali bersih, panitia juga sudah dalam keadaan bersih. Setelah sholat dhuhur, piring-piring ditata di dalam masjid, makanan siap disajikan dan semua menikmati hidangan yang dimasak ibu-ibu secara gotong royong. Alhamdulillah.. tugas mulia hari ini telah terlaksana. Semoga Allah meridhoi dan mencatat amal baiknya. Amin.

Dibawah ancaman Merapi

Selasa, 09 November 2010

Para petani dan penambang pasir masih bekerja seperti hari-hari biasa, padahal aktivitas merapi terus menunjukkan peningkatan, dan status siaga ditetapkan sejak Kamis, 21 Oktober 2010. Tampak mereka lalu-lalang menyusuri jalan dan gang-gang. Seorang ibu berjalan menggendong tenggok.. mungkin untuk mengambil hasil kebunnya, ada juga beberapa orang yang berjalan memanggul rumput atau memboncengkan rumput dalam ikatan besar di sepeda maupun motor untuk pakan ternaknya, Tapi yang jelas, sepertinya tak ada rasa khawatir dari raut mereka, seolah keadaan yang biasa saja dihadapinya. Ada yang mengatakan,

“Kalau nuruti rasa takut ya takut mas, tapi ya mau gimana lagi.. namanya juga hidup dilereng merapi, pasrah saja mas sama Gusti Allah”

Aktivitas merapi terus meningkat, hingga status waspada ditetapkan sejak Mingggu, 24 Oktober 2010. Tim evakuasipun terus membujuk mereka untuk segera turun, menjauh dari puncak merapi, menyelamatkan diri dari debu yang panasnya sampai ratusan derajat, yang setiap saat bisa saja membumi hanguskan. Kemudian..., status kembali berubah, dari waspada menjadi siaga kemudian ke awas. Tapi tetap saja ada beberapa yang tak mau beranjak dan beranggapan bahwa merapi tak akan meletus seperti yang sudah-sudah. Gemes rasanya, ini harus dipaksa. Selain membahayakan diri sendiri, ini juga bisa mempengaruhi orang lain untuk tidak mau turun. Aparat keamanan harus bertindak, bagaimanapun caranya. Jangan sampai menyesal kemudian. Hanya bisa getem-getem menyaksikan pemandangan di televisi.

***

Telephon berdering saat langit mulai gelap, hari ini Selasa, 26 Oktober 2010

“Ma, merapi meletus, coba lihat di tivi!”

Secara aku melompat dari kursi yang menghadap komputer, langsung lari menyalakan televisi. Ada apa dengan merapiku kali ini? Sedasyat apa letusannya? Lebih dasyat dari letusan beberapa tahun sebelumnyakah? Semoga tidak. Tersiar banyaknya korban akibat awan panas yang bergerak cepat.

Ya Allah, inikah wajah orang-orang yang tak mau turun itu, orang-orang yang tak mau dievakuasi? Orang-orang yang tak sempat menyelamatkan diri ketika debu panas benar-benar menerjang. Tubuhnya utuh, tapi sudah tak bernyawa lagi, kaku tertelungkup, tersapu debu merapi, ada yang di jalan, ada yang di pekarangan, tak terkecuali yang berada di dalam rumah, mereka tak terselamatkan. Ternak-ternak juga tak selamat, pohon-pohon meranggas, rumah tak utuh lagi. Hanya dalam hitungan menit.. semua hancur. Sampai dimana radius awan panas ini?

No HP pamong (guru) segera kuhubungi, tapi tak ada sahutan. Kemudian SMS kulayangkan. Semoga saja nanti akan ada jawaban walau mungkin agak larut malam.

Layar televisi akhirnya menyala dari waktu-ke waktu, tak akan dimatikan dan tak akan diganti siarannya. Tak cukup rasanya menunggu berita televisi, informasipun akhirnya didapat dari situs “detik” yang setiap saat menampilkan berita terkininya dan facebookpun juga diaktifkan menungu kabar dari putri cantikku kapan saja. Semoga saja akan ada berita menggembirakan darinya.

***

“Sofi, gimana kabar Sofi dan teman-teman soal kondisi merapi saat ini? Mudah-mudahan semua baik-baik saja. Sholat dan berdoa untuk keselamatan semuanya ya”

Inilah bunyi pesan yang kukirim di Fbnya sekitar jam 9 malam, karena berita dari pamong (guru) nya tak kunjung terbalas.

“Alhamdulillah, karena tadi sore sempet hujan deras. TN masih bagus, hanya ada hujan debu. Tapi di Muntilan dan Mertoyudan udah hujan pasir dan kerikil, semoga saja tidak sampai sini. Disini sudah ada pembagian masker dan belum boleh keluar graha. Insya Allah semua baik-baik, Iya nggak akan lupa mah, kabar Bontang gimana?”

Seperti diguyur air disaat kemarau panjang. Betapa melegakannya kabar yang kuterima, mendapati putri cantikku dalam keadaan baik-baik saja.

“Alhamdulillah, semoga semua baik-baik saja. Doa mama-papa untuk keselamatan semuanya”

“Iya Mah, disini semuanya pada siaga. Nanti mungkin mau berdoa bersama, besok juga nggak ada olah-raga pagi. Makasih ya Mah-Pah. Doain aja”

“Iya, semoga tidak membahayakan masyarakat Magelang, khususnya anak-anak TN yang saat ini sedang berjuang menuntut ilmu, jauh dari orag tua dan keluarga. Semoga Allah memberi keselamatan dan perlindungan sebaik-baiknya. Amin YRA”

“Amin, Amin. Makasih ya Mah, semoga semua baik-baik aja”

Ya Allah... betapa aku ingin memeluknya saat ini, menciumnya dan mendekapnya erat-erat. Aku harus menahannya diatas kegelisahanku beberapa waktu lalu. Lihatlah ! Betapa tegarnya putri cantikku, tersirat dari kata yang disusunnya untuk menjawab pesanku. Dan aku tak boleh membuatnya lemah. Lindungi dia ya Allah... lindungi sebaik-baik perlindungan-Mu.

***

Masih tetap memantau televisi, masih tetap mengaktifkan FB, masih tetap di jalur detik.com. Dan kali ini menambah pantauan dengan google map. Melihat jarak aman merapi seperti yang ditetapkan. Setiap berita muncul selalu kulihat peta digooglenya. Arah mana angin akan berhembus membawa awan panas merapi? Daerah mana yang saat ini sedang terkena musibahnya? Ngargo Mulyo, Hargo Binangun, Umbul Harjo, Pakem, Cangkringan, Argo Mulyo? disebelah mana ya?

Pemandangan yang sangat memilukan, rumah-rumah terbakar, pohon-pohon yang menghijau tak ada lagi, situasi perkampungan benar-benar sepi bak kampung mati, tak ada kehidupan, sapi-sapi terpanggang utuh, mayat-mayat tergeletak telungkup, ada yang disamping motornya di jalan, ada yang di dalam rumah, juga di pekarangan.

Tim SAR dan para relawan melakukan pencarian korban, barangkali dan semoga saja masih ada yang terselamatkan. Mereka berkejaran dengan awan panas yang siap diluncurkan dari merapi yang tak berhenti sejak meletus 26 Oktober lalu. Menahan panasnya debu yang masih mengepul saat kaki menginjakkan tanah ke bumi yang telah diratakan. Mencari orang-orang yang masih selamat maupun yang telah meninggal, padahal mereka tak mengenalnya, padahal bukan kerabatnya. Jempol empat rasanya tak cukup untuk memberikan acungan buat Tim SAR dan relawan.

Merapi terus aktif, masih memuntahkan kandungan isinya, dan awan panasnya terus membumbung tinggi.

***

Masih seperti hari-hari sebelumnya, televisi menyala di channel khusus, laptop juga terus menyala dengan situs-situs seperti sebelumnya, mencari berita terkini, tercepat dan mancocokkan lokasi sesuai berita yang dimaksud. Saat ini jarak aman dari merapi telah berubah, dari 10 km menjadi 15 km dan menjadi 20km. Semoga saja putri cantikku masih dalam jarak yang aman. Semoga Allah memberikan keselamatan dan perlindungan untuknya dan semoga tak diperluas lagi jarak amannya dan semua kembali normal lagi.

Ada satu pesan di Fbku hari Rabu, 3 Nopember 2010,

“Assalaamu’alaikum mah... disini lagi hujan abu, Cuma lebih parah dari yang kemarin. Debunya keliatan banget dan bau belerang. Semua udah pake masker.. tadi habis makan malam Sofi minta tolong temen untuk SMS mamah, takutnya malem ini Sofi nggak bisa nelpon”

“Wa’alaikum salam..., iya, sudah mama terima smsnya. Semoga saja keadaan membaik lagi ya. Semoga semua diberi kesehatan, keselamatan, perlindungan terbaik oleh Allah SWT, Amin YRA. Kalau memang nggak memungkinkan untuk telpon ya nggak usah telpon dulu, untuk jaga kesehatan mungkin lebih baik di asrama saja ya... Sofi bisa massage saja di FB mama. Sengaja FB mama dinyalakan terus dari tadi pagi dan di OL kan. Masker yang dibagikan cukup?”

Selanjutnya pembicaraan melalui chating dengannya, Alhamdulillah, puji syukur pada-Mu ya Allah telah Engkau berikan keselamatan, kesehatan, ketegaran dan perlindungan terbaikmu untuk putri cantikku. Semoga dihari-hari berikutnyapun akan Engkau anugerahkan kebaikan-kebaikan yang sama. Amin, YRA.

***

Dari pantauan di layar kaca, asap putih merapi terus membumbung tinggi, hingga mencapai 4000 meter. Kemana arah mana awan panas ini akan bergerak? Belum ada kepastian karena asap putih masih berdiri tegak. Hingga... Kamis, 4 Nopember 2010 menjelang pukul 6 pagi, merapi kembali meletus. Awan panas yang menjulang, diperkirakan sampai ketinggian 4000 meter... kini diperkirakan mencapai 6000 meter, awan panas berwarna agak kehitaman, dari informasi... ini berarti bercampur material dari dalam bumi. Seberapa banyak akan menghujani masyarakat sekitar merapi setelah awan bergerak?

Di Fbku kembali menampilkan satu pesan dari putri cantikku, Kamis, 4 Nopember 2010,

“Mah, hari ini hujan abunya lebih deras, nanti SMS temenku yah” begitu bunyi pesan yang terkirim pukul 2 siang.

“Iya, merapinya masih meletus sampai ketinggian 6000 meter. Banyak-banyak istighfar dan berdoa ya semoga diberi keselamatan, kesehatan, perlindungan oleh Allah SWT, Amin YRA. Semoga bencananya segera berakhir dan berganti kegembiraan. Amin”

“Tadi pagi habis kerja bakti bersihin sekolah, tapi karena hujan abunya turun lagi, jadinya dihentikan”

Ya Allah..., Kembali lidah ini berkeluh kesah kepada-Mu. Lindungilah putri cantikku.

Apakah kamu tahu sedasyat apa letusan merapi saat ini? Apakah kamu merasakan segelisah apa dan seberapa gemuruhnya dadaku menyaksikan tayangan berita di televisi dimana orang-orang panik, terluka, bahkan kehilangan nyawa dengan debu panas yang pekat.

Ada informasi, tempatmu masih berada diluar jarak aman dengan merapi, hati ini sedikit lega, namun keresahan tetap saja menjadikan selimut hatiku. Bibir ini tak berhenti bergetar berdzikir dan berdoa untuk keselamatanmu.

***

Kabut tebal masih menyelimuti merapi sejak kedasyatan meletusnya 4 Nopember pagi hari, sedang material berat terus dimuntahkan dari mulut merapi melalui sungai dan menuju ke kali Gendol. Kembali jari meluncurkan ke situs google map, dimanakah kali Gendol itu? Semoga masih jauh dari putriku. Tapi awan panasnya.. kemana bergeraknya? Ya Allah, berilah perlindungan terbaik-Mu.

Ada dua SMS menjelang magrib, Jum’at, 5 Nopember 2010 yang belum sempat terbaca, dari teman puri cantikku. Semoga kabar baik yang kuterima. Dijelaskan kalau siswa siaga, siap dilakukan evakuasi ke Semarang, bagaimana rencananya Sofi tante?

Kalau memang harus evakuasi demi keselamatan..., ya harus diikuti. Lalu kutulis balasan SMSnya, namun saat balasan belum selesai... ada keinginan membaca SMS satunya. Ternyata isinya mengabarkan lagi, “Karena kondisi dan jarak asrama masih termasuk dalam kondisi aman, maka evakuasi tidak jadi dilakukan. Tapi siswa tetap diminta untuk tetap siaga jika sewaktu-waktu evakuasi harus dilakukan siswa siap diberangkatkan”

Kembali jari ini menuliskan kalimat untuk membalasnya, namun belum sempat terselesaikan dering panggilan berbunyi. Segera kuangkat dan suara putri cantikku menyambut salamku.

Suaranya begitu tenang menjawab pertanyaanku. Padahal dadakku ini terasa sesak, namun suaraku tetap kupertahankan tenang, setenang mungkin, tak ingin membuatnya resah, walau air mataku sempat menggenang di ujung mataku. Cepat-cepat kukeringkan dan kutarik nafas dalam-dalam. Ingin kutatap wajahnya saat ini..., ingin kudekap dan menciumnya saat ini..., tapi tak kuasa.. tak bisa kulakukan.

Ya Allah... berikanlah kesabaran, kekuatan, kesehatan, ketegaran, ketabahan, keselamatan dan perlindungan terbaik untuk putri cantikku dan juga masyarakat sekitarnya. Cukuplah bencana ini sampai disini saja dan hentikanlah bencana ini, gantilah dengan kegembiraan ya Allah... Amin, YRA.

wis wayahe panen (jambu air)

Selasa, 12 Oktober 2010

"Wow ! banyak sekali bunganya"

Setiap mata ini mengalihkan pandangan ke ranting pohon, takjub sekali melihat bunganya yang begitu banyak. Kalau saja ini nanti bakalan menjadi buah semua, berubah warna dah pohon jambu ini, menjadi merah saking banyaknya buahnya.

Mulailah menghitung-hitung kapan kira-kira bisa dipetik ya? Butuh waktu 3 bulan dari mulai bunga sampai bisa dipanen, ini berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu. Berarti buah baru bisa dinikmati setelah pulang cuti lebaran tahun ini, hmmm tak sabar menunggunya. Tapi.. pas dong, saat buah siap dipetik.. daku pas ada dirumah... hehehe nggak pas lagi keluar kota maksudnya.

Hampir 3 bulan dari mulai bunga bermunculanpun berlalu. Jambu yang tadinya hijau sudah mulai besar dan menyemburatkan warna merahnya. Sesekali bungsuku memetik 2-3 biji sepulang sekolah.

"Emang udah enak?"

"Enak"

"Tunggu merah dikit lagi kan lebih enak dik"

"Ini juga udah enak"

Yeee... sama aja nih kelakuannya dengan sulungku waktu kecil. Hampir setiap hari ngiterin pohon jambu mencari ke setiap ranting, nggak pagi.. nggak siang.. nggak sore. Herannya, adaaaa saja yang bisa dipetik, kok ya nemu-nemunya.

Kucicipi yang dipetk bungsuku, wah memang sudah saatnya dipetik nih. Kuamati dari jendela kamar bungsuku, benar-benar lebat buahnya kali ini. Buahnya membentuk gerombolan-gerombolan, jadi memudahkan untuk memetiknya. Siap-siap dipanen beberapa hari lagi. Nunggu pak kebun datang hari Minggu nanti.

Buahnya yang banyak, warnanya yang merah dan mudah dijangkau menarik setiap pengguna jalan. Ada saja yang berhenti untuk memetik beberapa buah, hehehe tak minta ijin lhoh. Tapi ya cuek saja saat kepergok sedang mengambil, malah diriku yang nggak enak untuk menegur dan memballikkan badan pura-pura nggak tahu.

Ada lagi beberapa pekerja rumput setelah minta ijin, segera mengambil jambu-jambu yang mudah dijangkau, tanpa harus memanjatnya. Beberapa orang yang lewat sepertinya heran kok pada ngambilin jambu. Kemudian turun dari kendaraannya dan ikutan bergabung.

"Nggak apa-apa kok, sudah diijinkan sama yang punya" samar-samar terdengan berisiknya percakapan mereka.

Hehehehe... lucu ya, dan entah berapa orang yang memanen jambu di pekaranganku. Tapi memang pohon ini benar-benar lebat buahnya. Meski sudah diambil berkresek-kresek, seperti tak berkurang saja buahnya.

Yang ikut beruntung adalah sekawanan monyet yang tinggal di hutan buatan dekat rumah. Sekali datang bisa 7 sampai 15 ekor. Saat yang menyenangkan melihat pemandangan seperti ini. Ada yang besar, ada yang kecil dan ada juga yang menggendong anaknya. Pemandangan yang langka untuk yang tinggal di perkotaan. Bersyukurnya aku masih diberikan hiburan alam. Benar-benar alam. Tak mau kehilangan peristiwa menarik ini, kuambillah camera untuk mengabadikannya.

Saat buah tinggal beberapa gerombol, dan ini sudah benar-benar merah warnanya... datang seorang pemuda, membunyikan bel pintu rumahku. Setelah kubuka,

"Ada apa Pak?"

"Boleh minta tembeknya Bu?" Karuan aja aku melongo karena nggak mudeng yang dimaksud.

"Tembek apa Pak"

"Itu lho Bu, buah-buahan yang ada disamping rumah, apa namanya Bu?"

"Ow.. jambu?"

"Iya Bu, jambu"

Hehehehe... nambah perbendaharaan kataku, jambu = tembek (baca "E" seperti kata benteng)

Kupikir setelah ini habis sudah jambu air dipohon , karena memang tinggal sedikit. Berarti takkan ada lagi monyet yang datang mencari makan dan monyet yang jadi hiburanku beberapa hari ini. Berapa bulan lagi ya akan ada hiburan seperti ini? sepertinya 3 bulan lagi bakalan ada hiburan karena kulihat ada beberapa kuntum bunga jambu yang muali mekar, meski tak sebanyak hari-hari kemarin. Sepertinya ini bunga jambu yang telat keluarnya atau ingin memberikan hiburan lagi buatku.

Menggenggam rindu

Kamis, 07 Oktober 2010

Yaa Rosul kekasih Ilahi

Rasanya belum cukup lidah ini menyapamu

Padahal... begitu nyata kecintaanmu padaku, umatmu

Terpancar dari setiap air mata yang menyiratkan doa

Tergores dari setiap langkahmu yang memberi arti kehidupan hakiki

Hingga sering membawamu dalam duka... mengkhawatirkanku, umatmu


Terhanyut aku dalam pelukan rinduku padamu... yaa kekasih Robbi

Kuurai cinta yang kau ajarkan dengan kata dan perilaku

Hingga menganak sungai pada mukaku... menahan sesaknya dada

Dan kugenggam erat cintaku ini

Menyematkan dalam kalbu... hingga tak terlepas


Rinduku padamu... yaa kekasih Allah

Membawaku ingin mengunjungimu... dalam setiap nafas dan waktuku

Memperbanyak salawat dan doa yang kau ajarkan

Melantunkan puji-pujian suci mengagungkan asma Ilahi yang kau contohkan


Rinduku memuncak dan anganku mengembara sampai ke padang pasir

Hingga rongga dada ini seperti dialiri hawa panas

Aku ingin kesana, aku harus kesana

Menyusuri jejak perjuangan panutanku

Mengunjungi rumah Rosulku


Yaaa Robbi ... yang menguasai hidup dan matiku

Selagi raga ini masih kuat

Selagi duniaku dan keluargaku masih tercukupkan

Dan selagi masih ada kesempatan

Perjalankanlah raga ini untuk memenuhi panggilan-Mu

Beribadah dan bersimpuh di rumah-Mu “Baitullah” dalam hajiku


Kusadari

Raga ini akan ada masanya

Harta yang terkumpul juga akan fana

Dan ketika sang waktu memanggil

Ruhkupun kembali pada-Mu Sang Khalik

Untuk mempertanggung-jawabkan seluruh perilaku dan amal ibadahku


Tak kan kupungkiri nikmat yang telah kau cukupkan padaku

Maka tuntunlah langkahku dalam kebenaran

Sehingga akan menyelamatkanku, keluargaku

Dari jilatan api nerakamu

Dan kamipun kekal disisi-Mu Yang Maha Agung

orang surabaya bilang "yok opo sehhh?"

Rabu, 22 September 2010

Ini pesan privat dari putri cantikku


"Ma, berkas-berkas untuk universitas (akte) minta dicopy-in dong, dilegalisir.. yang banyak ya sama copy sertifikatku"


Hmm.., tak tanggung-tanggung, langsung kucopy-in 20 lembar aktenya. Gempor nih orang yang kasih tanda tangan di berkas legalisirnya. Maafkaaann, bukannya mau ngerjain.. tapi ini kulakukan karena satu alasan "dari pada mondar-mandir ke kantor dinas sosial dan bolak-balik mengirim yang butuh waktu 3 hari baru sampai, itupun belum tentu sampai ditangan putri cantikku pas 3 harinya.. bisa saja lewat karena minimnya komunikasi.


Dengan bekal satu map berisi 20 lembar copy akte dan akte aslinya, langsung kutancap gas menuju kantor dinas sosial dan sampailah aku. Waktu itu pukul 13.45. Saat kuparkir sempat kulihat pintu masuknya tertutup, hanya terbuka sedikit.


"Jangan-jangan dah tutup, yah dateng besok lagi deh"


Tapi kemudian kulihat ada tempelan kertas bertulis "buka". YES ! ternyata masih buka... nggak jadi balik lagi besok. Secepat kilat (ah lebay) aku menuju kantor dan membuka pintunya, "kok sepi?". Hanya kulihat 2 pegawai berseragam coklat menunduk sedang mengerjakan sesuatu. Tak jelas apa yang sedang dikerjakannya karena mereka duduk dibalik meja yang tingginya sedadaku. Kudekati salah satu pegawainya.


"Mbak.. kalau mau legalisir akte masih buka ya?"


"Masih bu"


Kuserahkan satu map berisi 20 lembar copy-an akte dan akte aslinya. Aku masih berdiri didepan meja yang tingginya sedadaku sedang pegawai itu membuka map yang kusodorkan. Melihat ada akte aslinya, map langsung ditutup lagi dan akan membawanya ke ruangan lain, tapi sejenak ada seorang laki-laki datang sehingga pegawai itu mengurungkan langkahnya dan segera berbalik mendekati laki-laki yang baru saja datang. Tak jelas apa yang dibicarakan, hanya kemudian pegawai itu bilang "Nanti balik lagi aja jam 3 pak" . Laki-laki itupun mengiyakan dan meninggalkan ruangan. Kemudian pegawai itu kembali bicara padaku.


"Bu, ini yang tanda tangan belum datang, gimana?"


"Terus.. kira-kira jam berapa mbak?"


"Biasanya sih jam 3 sudah ada bu"


Jam tiiigaaaa?? emang kantor buka siang jam berapa sih? kok jam 3 baru datang. Aaahhh, tidak boleh berprasangka buruk.. mungkin khusus hari ini saja datang jam 3 karena ada keperluan. Tapi kalau bilangnya biasanya jam 3 sudah ada... ow-ow... hayuuu siapa yang salah? pegawainya salah omong.. apa bapaknya yang bertugas tanda tangan korupsi waktu? yah..., aku hanya bisa pasrah.. emang kalau nggak pasrah mau apa? demo?


Kuputuskan menunggu saja diruang tunggu kantor dinas sosial ini. Saat ini sudah jam 2, yaaahh.. menunggu satu jam di ruang tunggu deh. Tidak apa-apalah dari pada bolak-balik.. sama-sama menghabiskan waktu hampir 1 jam. Duduk manis saja... dinikmati saja...


Saat menunggu, beberapa orang mulai berdatangan untuk mengurus keperluannya. Tapi dari yang kulihat tak satupun dari yang datang berniat sama sepertiku "tak ada yang akan melegalisir akte" jadi hanya aku nih yang mengurus legalisir akte, hanya aku yang menunggu seseorang yang akan menanda tangani copy-an akte putri cantikku. Hmmm...


Yang sangat tidak nyaman dalam ruangan ini adalah ruangannya jadi satu dengan pegawai yang sedang bekerja yang dilengkapi TV yang dinyalakan. Memang suaranya tidak keras tapi diruangan sebelahnya yang tak berpintu juga sedang disetel musik yang suaranya lebih kenceng dari TV dilengkapi suara printer jaman bahuela yang kreeeet.... kreeeet... suaranya memekakkan telinga.


30 menit berlalu... pegawai mulai berdatangan... ck ck ck... gini ya kalau mau maju... harus terlambat... (ahhhh...) apa dikantor pemerintahan yang lain keadaannya juga seperti ini?


Akhirnya... setelah lewat dari jam 3..


"Ada yang mengurus legalisir akte?"


Sontak aku berdiri dan mengiyakan, kudekati meja yang tingginya sedadaku. Seorang bapak kemudian menyerahkan map berwarna hijau "map-ku", syukurlah akhirnya selesai juga. Bapak itu kemudian membuka map dan mengeluarkan selembar kertas.


"Bu, ini aktenya bukan keluaran sini ya?"


"Iya pak, kan dulu memang ngurusnya bukan disini"


"Gini bu, aturan yang baru.. ibu harus ngisi surat pernyataan bermeterai"


"Disini ada dijual meterainya pak?"


"Nggak ada bu, ibu beli aja diluar nanti surat ini diisi dan kembali lagi kesini, Copy-annya dibawa aja dulu bu"


Cemuuutt.... cemuuutt.... kok ya ndak bilang dari tadi tow mbaaakkk... mbaakkk.... dari pada aku nunggu 1 jam lebih di ruangan ini, lha mbok iyo, bisa tak pake beli meterai tadi.... weeeessss weeessss gak maju-maju iki negoro


Harus keluar kantor.. mencari toko yang menjual meterai... balik lagi ke kantor.. tak cukup setengah jam...


Gini ini ya tetep kudu sabar yo?

heeehhhh.....

Sabtu, 04 September 2010

Wah.. Rizqi nomplok, rizqi umroh gratis dari Bapak-Ibu untuk dua buah hatiku. Yes! harus cepat-cepat cari informasi ke sekolah dan kampus nih apa harinya tidak bentrok dengan jadwal ujian atau kegiatan lainnya. Pasalnya keberangkatan umroh direncanakan 10 hari menjelang lebaran yang artinya anak-anak baru masuk sekolah satu setengah bulan dari libur panjang kenaikan kelas. Biasanya waktu-waktu ini sedang banyak ulangan harian. Tapi mudah-mudahan saja jadwal keberangkatannya tidak mengganggu atau ulangannya sudah selesai. Yah... berharap saja.

Dan alhamdulillah surat ijin yang dikirim akhirnya mendapat jawaban "Diijinkan", surat-surat keperluan umrohpun juga sudah diurus, pasport sudah selesai dibuat, beberapa seragam juga sudah jadi, imunisasi miningitis sudah didapatkan. Benar-benar berangkat umroh kali ini. Mudah-mudahan semua lancar.

***

Suatu hari aku mendapat telpon dari salah satu adikku,

"Mbak, ini ada satu seragam lagi, nanti dipakainya pas berangkat. Dikirim apa mau kujahitkan aja mbak?"

Mengingat beberapa baju seragam yang sudah dikirim sebelumnya sudah cocok ukurannya waktu kujahitkan di penjahit langgananku, maka tanpa pikir panjang lagi kubilang "Dikirim saja" dari pada nanti repot cari ukuran lagi dan malah jadinya nggak pas. Kalau udah ada langganan gini kan gampang, tinggal naruh kain, pesan model atau ngambil contoh model di salah satu majalah, pakai ukuran lama, dah... beres, tinggal nunggu jadinya.

Hehehe... apa ya segampang itu? Sstt... Dalam keadaan normal memang iya. Tapi untuk saat ini, ternyata tak semudah menjawab "Dikirim saja nanti kujahitkan disini". Pasalnya jadwal pengiriman kain ternyata sudah hampir masuk bulan ramadhan dan bisa dipastikan kain seragam itu nantinya akan sampaii sudah masuk ramadhan. Hmm.. apa ya akan sempet menjahitnya ya meskipun bisa menjahit sendiri? atau aku akan buru-buru ke penjahit langganan dan berharap masih diterima kainku. Kebayang juga, penjahit dimana-mana saat ini pasti penuh pesanan, bahkan mungkin sudah tidak terima lagi jahitan karena semua orang butuh dan minta selesai cepat.

Persis! setelah sampai dirumah penjahit langganan yang biasa kupanggil "Budhe", budhe sudah tak terima lagi jahitan. Budhe sudah kewalahan dengan jahitannya yang sudah dua keranjang yang semuanya minta selesai sebelum lebaran. Apalagi saat ini budhe tak ada yang membantu menjahit, jadi semua dikerjakan sendiri dari motong, jahit sampai pasang kancing. Katanya sih yang paling repot kalau membutuhkan kain pelapisnya atau furingnya atau pernak-perniknya. Harus menunggu ponakannya pulang kerja dulu baru bisa minta tolong. Jadi budhe memang kewalahan meskipun budhe juga sedang panen. Wah, lebaran memang waktu panennya para penjahit baju. Tapi budhe... hiks.. hiks.. hiks.. Help me... budhe....

Merayu budhe? ya.. harus merayu budhe sampai dapet, sampai budhe menerima kain yang kusodorkan, sampai budhe bilang iya nak Eni, pokoknya sampai senyumku bisa melebar saking senangnya. Bagaimanapun caranya, dicoba terus, dirayu terus.. ayo budhe bilang iya.. bilang iya... ayo budhe.. terima kainku.. terima kainku.. aku butuh banget ini.. aku udah nggak sempet njahit sendiri.. ayo dong budhe... satu aja budhe..

Akhirnya...

"Mau dipakai kapan nak Eni?"

"Tanggal 29 Budhe, tapi aku berangkatnya 28, bisa ya budhe?"

"Tapi satu aja ya nak Eni, coba deh.. besok ya.. tak usahakan tanggal 25 an"

"Iya budhe, tanggal 25 aku telpon budhe ya.. mudah-mudahan udah jadi ya budhe"

"Ya... satu aja ya"

Senyumku benar-benar mengembang sekarang, plong rasanya. Budhe penjahit sudah janji dan biasanya ini ditepati. Walau meleset seharipun nggak masalah karena aku berangkat masih tanggal 28. Selesai sudah tugas ngerayu budhe penjahit langgananku yang hasilnya "berhasil... berhasil... berhasil... horreee!! berhasil... berhasil..." Hihihi... seperti "Dora" tokoh kartun di TV. Sekarang tinggal menunggu hasil jahitannya, kutunggu dua minggu lagi dan nanti akan kutelpon untuk mengingatkan menjadikan jahitanku.

***

Akhirnya dua minggupun berlalu, saatnya mengambil jahitan. Kali ini kutelpon budhe penjahit langgananku untuk memastikan apa jahitan sudah jadi. Alhamdulillah.. sudah selesai. Tapi ini sudah kemalaman, jadi sebaiknya kuambil besok saja. Lagi-lagi baju yang sudah dijanjikan sudah bisa diambil tak bisa kuambil keesokan harinya, hari terasa cepat berlalu, pekerjaan tak bisa ditinggalkan karena semua harus selesai hari ini. Akhirnya... jahitan baru bisa kuambil tanggal 27 sore, sekembali dari menjemput bungsuku kursus bahasa inggris. "Maaf budhe... baru bisa kuambil karena banyak kerjaan yang menumpuk harus diselesaikan dari hari kemarin".

Dan sekarang baju seragam untuk keberangkatan umroh sudah ditangan, setelah membayar ongkos jahit aku kembali ke mobil dan melaju pulang. Kini saatnya mengepak kopor, mengepak semua kuperluan selama cuti. Mudah-mudahan tak ada yang tertinggal.

"Perlengkapan umrohnya sudah semua ma?" kata suami mengingatkan.

Kulihat lagi kopor dan lemari pakaian. Sepertinya semua sudah kusimpan dikopor. Beberapa seragam dan pakaian sehari-hari selama umroh. Memang hanya itu yang diperlukan karena semua perlengkapan lain untuk umroh sudah disiapkan Ibu, dari mukena, kerudung, sampai peralatan mandi. Jadi semua sudah beres.

"Sudah" kataku setelah melihat tak ada lagi yang perlu dibawa.

***

Saat yang ditunggu-tunggu, saat lebaran, mudik ke kampung halaman, berharap bisa sungkem keorang tua dan bersilaturahmi ke famili. Dan yang jelas pulang cuti kali ini untuk mengantar Bapak, Ibu, dua buah hati dan dua keponakan berangkat umroh. Mudah-mudahan mereka diberi kemudahan dan kelancaran menjalankan ibadah wajib dan sunahnya, diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah, Amin.

Hari ini tanggal 28, tempat duduk dalam pesawat sudah penuh. Akupun duduk menempati deretan no 8, bersisian dengan bungsuku. Lafal doa tak henti-henti kupanjatkan, memohon keselamatan dan kelancaran perjalanan. Sabuk pengaman sudah terpasan dan kini mesin pesawat dihidupkan. Tapi "JRENG..!!!"

Baru kuingat, "Baju seragam untuk berangkatnya umroh ketinggalan di mobil" belum dikeluarkan sejak mengambil dari rumah Budhe penjahit langgananku. "TOENNGGGG...!! TOENNGG...!! TOENNGGGGGG...!!"

Ini lhoh semutnya...

Jumat, 13 Agustus 2010

Tahu semut api? bentuknya kecil berwarna merah. Sebenarnya nggak merah persis sih tapi kecoklatan. Cuma orang biasa menyebutnya merah. Sepanjang pengetahuanku biasanya semut ini hidup di rumput, berarti diterik matahari kuat juga dong.. atau sering juga kulihat kalau pas belanja di pasar kaget, semut api ini suka nongkrong mengerubuti dan ikut menikmati daging sang penjual sayur. Besarnya hampir seukuran semut hitam yang biasa di buah rambutan atau sebiji beras.


Jangan melihat bentuknya yang kecil yang hanya seukuran beras.. ternyata untuk kontak langsung dan say hello dengannya.. wuuiiihhh, rasanya enggak deh.., mending kabur saja. Kalau diinget-inget lagi, duluuu.. sekali.. waktu masih sekolah SD, SMP or SMA, tiap kali olah raga dilapangan atau di alun-alun.. selalu saja aku sibuk mencari tempat yang bebas dari semut api ini. Kalau tidak... jika sang semut sempat menggigit.. takkan ada ampun lagi, tak berapa lama kulit ini rasanya langsung senuut.. senuut.. panas dan gatal. Sudah berkali-kali dicoba melawannya dengan mengoleskan minyak tawon, balsem, minyak kayu putih atau yang sejenisnya kekulit. Tapi tetap saja tak mempan. Panas dan gatalnya akan berlangsung lama, bisa berhari-hari. Dan sehari setelah gigitannya atau besoknya pasti akan timbul bentol yang sekelilingnya berwarna merah menandakan bengkak. Entah ini apa racun yang menjalar disekeliling gigitan. Rasa panas dan gatalnya terus saja menyiksa. Kalau nggak kuat-kuat menahan, pastilah sudah kugaruk sepuasnya. Tapi ini tak boleh kulakukan, karena nanti akan membuat lecet luka yang bisa berakibat malah menjadi koreng. Hmmmm... ngeri kan...


Nah... ceritanya nih, ramadhan kurang 3 hari, tepatnya tanggal 8 Agustus 2010. Aku dapat undangan arisan, tempatnya di pendopo. Pendoponya sendiri nggak masalah, cua waktu sampai ditempat tujuan ternyata pendopo ini disekelilingnya ditanami rumput. Bagaimana bisa sampai kependopo ya? karena tak kulihat jalan setapaknya. Tidak ada atau aku yang tidak melihatnya ya... Wah, harus hati-hati nih menapaki rumput, jangan sampai menginjak sarang semut api yang kutakutkan kalau nggak mau kaki jadi korban. Dan Alhamdulillah... selamatlah aku, sampai juga akhirnya kependopo dan bisa mengikuti acara dengan santai karena dipendopo ini juga aman.. tak ada semutnya.


Waktu berjalan.. acara demi acara selesai dengan lancar dan kini saatnya pulang. Kuperhatikan semua orang melewati jalan yang tak kulewati tadi. Wah, sepertinya aman saja jalan ini karena saat acara arisan sedang berlangsung tadi, beberapa orang juga lalu lalang melewatinya. Ikut ah lewat jalan ini. Disamping lebih dekat sampai ke tempat parkir mobil, ternyata hanya semeter saja melewati rumput dan sudah langsung bertemu dengan sisi pos ronda yang disemen selebar satu meter. Nah, ini jalan yang aman untuk teman-teman yang memakai sendal dengan hak tinggi dan runcing, karena sandalnya tidak akan terperosok masuk ketanah.


Lewat rumput yang hanya semeter berjalan aman, sampailah kesisi pos ronda yang sudah disemen. Yah.. namanya nasib,ternyata sampai disisi pos ronda kok ya langsung disambut dengan kerumunan semut api yang sudah berpencar. Sepertinya sempat terinjak teman-teman atau beberapa orang yang lalu lalang sebelumnya. Seorang teman sebetulnya sempat berteriak "awas semut!". Tapi ternyata teriakannya kalah cepet sama gigitan semut yang ternyata sudah nangkring di kaki. Cekiiiiitttt!!! Duhhh sakitnya.. kugites semut yang menggigit dan melihat bekas gigitannya. Ow Ow... meninggalkan bekas dikaki, ada titik hitam kecil seperti sengatan lebah, tak bisa diambil. Siap-siap deh menahan panas dan gatalnya yang sebentar lagi bakal kurasakan.


Beberapa hari menahan rasa panas,menahan gatal. Dan bekas gigitan semut api itupun mulai membesar membentuk gelembung. Kalau diperhatikan ada cairan didalamnya dan sekelilingnya masih merah karena bengkak atau racunnya.


"DipecahMa.." kata bungsuku


"Wuiiih.. jangan, nanti malah jadi koreng"


Tapi setelah satu minggu, gelembung ini tak menunjukkan tanda-tanda akan mengecil, malah sepertinya terus membesar dan sekelilingnya juga belum hilang warna merahnya. Yah, memang harus dipecah ini. Mudah-mudahan saja tidak menjadi koreng selama bisa menjaga luka dari infeksi. Yups... pecahkan saja "Bismillahirrohmaanirrohiim"

Satu Siang Kulewati Bersama Putri Bungsuku

Rabu, 21 Juli 2010

Oleh : Eni Nur Rahyuni

“Assalaamu’alaikum......!!”
Lantunan salam agak keras yang dilagukan naik turun, mengalun mengiringi hentakan langkahnya diluar kamar tidurku. Sebentar kemudian, terdengar ketukan di pintu depan disusul bunyi irama bel pintu yang mendayu karena kehabisan baterai dan kembali ucapan salam terulang.
"Assalaamu'alaikum...!!!"
“Wa’alaikum salam...! Gimana sekolahnya?”
Kalimat yang hampir sama selalu kuucap setiap membukakan pintu. Dia hanya mengangguk tanda semua baik-baik saja. Kuulurkan tangan padanya, jarinya yang sudah hampir seukuran jariku cepat meraih, menjabat dan menempelkan ke mukanya.

“Wow!” mukanya hangat sekali, kepalanya yang terbalut kerudung juga. Udara hari ini memang luar biasa panas, juga hari-hari sebelumnya. Seorang teman sampai membuat status di face-booknya “mataharinya ada 3”, ini karena udara memang sangat panas dan tak ada tanda-tanda akan turun hujan, sudah hampir sebulan matahari bersinar sangat terik. Sekelebat dia mendahuluiku dan merebahkan tubuhnya ke kursi panjang sambil melepaskan tas punggung yang penuh dengan buku dan perangkat sekolah. Yang kutahu setiap pelajaran pasti dilengkapi beberapa buku tulis yaitu: satu untuk catatan, satu untuk latihan, satu untuk PR dan satu untuk ulangan. Kalau hari ini dia punya tiga jadwal saja, berarti dia bawa dua belas buku tulis dan tiga buku cetaknya. Kadang masih harus ditambah kamus bahasa Inggris maupun kamus bahasa Indonesia yang lumayan tebal.

“Huuuff!!” Hembusan nafas agak panjang yang keluar dari mulutnya menunjukkan kelegaan sudah sampai di rumah dan menikmati udara dingin diruangan. Tangannya mulai membuka kerudungnya dan membiarkan dilengan kursi. Kulihat rambutnya agak basah karena keringat, sekarang tambah kelihatan mukanya yang memerah. Dibukanya satu persatu sepatu dan kaos kakinya selanjutnya ditinggalkan dilantai dimana dia duduk. Dia berjalan ke ruang makan, menuang segelas penuh teh manis dari teko yang kubuat tadi pagi. Begitu hausnya.... dalam sekejap gelas ditangannya telah kosong lagi. Dia memutar badan menuju dapur. Benturan antar botol di lemari es terdengar sampai ke ruang tamu dan sesaat dia kembali keruang makan dengan sebotol air putih dingin. Belum puas rasanya minum segelas teh manis tadi. Segelas air putih dinginpun dalam sekejap juga sudah habis.
“Makan Dik...!!!” kataku dari tempatku duduk.
“Ya! Sebentar...”
Jawabnya sambil menuju ruang tamu dan duduk seraya menyalakan TV dengan remote control ditangannya. Dia pilih chanel kesukaannya “Musik”. Kubiarkan sesaat untuk melepas kepenatan setelah seharian berkutat dengan pelajaran di sekolah. Mulutnya menyuarakan pelan mengikuti lantunan lagu. Ada beberapa lagu dinikmatinya sambil sesekali mengibaskan rambutnya yang basah keringat dan mengipas dengan koran yang ada di meja. Setelah dirasa cukup dia mulai beranjak ke ruang makan.

Segera dibuka piring yang sudah tersedia di meja makan dan menuang nasi secukupnya. Matanya menatap senang melihat menu kesukaannya terhidang di meja. Ayam bakar bumbu kecap, sambal terasi tomat tidak terlalu pedas dan sayur sop. Kutemani makan siang kali ini karena aku juga belum makan.
“Boleh dua!!” sambil jari tengah dan telunjuknya diarahkan padaku. Maksudnya ayamnya boleh nambah lagi apa tidak. Aku mengiyakan, segera tangannya meraih memilih bagian kesukaannya “paha”. Sebentar saja telah habis sepotong paha ayam.
“Boleh lagi?” sambil matanya menatapku seolah mengatakan “please Ma..” dan senyumnya mengembang minta persetujuanku. Duuuuh kalau sudah cocok menunya, terus saja nambah. Kulihat ayam tinggal dua potong.
“Sisain satu..., mbaknya belum makan” maksudku mbak yang kerja dirumah.
“Yes!!” cepat diambilnya bagian yang juga disukainya “sayap”
“Jangan lupa sayurnya ya...”
Dia mengangguk dan menyelesaikan makan siangnya. Hari ini dia makan dengan lahapnya. Disamping hawa yang panas yang membuat tenaga terkuras disekolah, mungkin juga karena menu yang cocok dengan seleranya. Memang sebaiknya sebelum berangkat sekolah anak ditawari dulu mau makan apa untuk makan siangnya dari pada sudah masak ternyata tidak sesuai selera dan nafsu makan anak menurun ketika melihat hidangan diatas meja makan.
Seperti suami kalau ditawari mau makan apa nanti siang, suami pasti menjawab.
“Coba anaknya mau makan apa, kalau Papa sih apa aja nggak masalah”
Memang benar, apalagi anak masih butuh asupan yang banyak. Untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuhnya.

Setelah menjalankan sholat dzuhur dan istirahat beberapa saat, dia mulai menyiapkan buku-bukunya karena setengah tiga harus kembali ke sekolah mengikuti “Bimbel” tambahan pelajaran khusus kelas 6 untuk menyongsong ujian nasional. Setelah semua beres, dia segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Suara shower yang deras terdengar dari balik pintu kamar mandi ketika kulewati karena aku juga harus segera bersiap-siap mengantar ke sekolah.

Jam setengah tiga kurang sepuluh menit. Harumnya sabun mandi dan parfum telah menggantikan bau keringatnya sewaktu pulang sekolah tadi. Badannya telah segar kembali, kesan lelahnya telah lenyap terganti dengan semangat keberangkatan menuju sekolah mengikuti bimbel.
“Minumnya sudah Dik?” Kataku mengingatkan untuk membawa bekal minum karena bimbel akan dijalaninya selama satu setengah jam.
Dia mengangguk. Siiiip, semua beres. Berarti siap meluncur ke sekolah.
Beberapa temannya sudah datang. Dari mobil bisa kulihat ada yang sudah berada di kelas, ada yang baru saja sampai diantar ibunya, ada juga yang naik sepeda. Wow! Terik matahari tak menyurutkan langkah wajah-wajah kecil menimba ilmu ke sekolah. Bagaimanapun caranya. Setelah mencium tangan dan mengucap salam, dia turun dari mobil dan menutup kembali pintunya. Kuawasi sampai dia berbaur dengan teman-temannya menuju kelas.

“Ya Allah, Jagalah putriku yang sedang menuntut ilmu ini. Berikan kemudahan baginya menerima bimbingan dari guru-guru yang mengajarnya. Jagalah selalu kesucian hati dan fikirannya. Amin”.

Tak kuasa kutahan genangan air yang mengambang dimata yang membuatku memandang tak jelas langkah-langkahnya bersama teman-temannya menuju kelas. Ketika kuusap dan kutatap lagi...., langkah-langkah itu sudah tidak ada. Anak-anak sudah masuk ke kelasnya.

“Ya Allah, Jagalah putriku dan anak-anak masa depan ini. Amin”

♥ gratisan ! yo ayo... melu !

Selasa, 20 Juli 2010

Ini dibilang pagi apa siang ya? kalau pukul 11.45..hehehe maaf, lagi heng! Saat itu seorang bapak menawarkan kursus photografi gratis untuk 3 orang ibu. Wah! lumayan.. batinku. Tapi.. ini bukan bagianku. Jadi aku hanya mengiyakan saja ketika dijelaskan siapa yang ngadakan, kapan pelaksanaan, siapa yang ngajar dan siapa saja pesertanya.

Meski cuma 3 orang jatahnya, tapi untuk memastikan bisa tidaknya mendapatkan peserta adalah hal yang tersulit. Bagaimana tidak.. jika pelatihan ini memerlukan waktu 3 hari berturut-turut, seharian dan jadwal pembukaan serta pelaksanaan pelatihan hari pertama jam 19.30 - 23.00 wita. Bisa tidak ya? Untuk menjaring minat kursus yang diadakan pagi dan siang hari selama 3 hari saja susahnya bukan main, lha ini malam.. duuuh, siapa ya.. kira-kira yang mau ikut.

Pilihan pertama ke TS, wah.. sepertinya gagal nih. Karena pernah denger kalau dulu nggak mau ikutan kursus karena pengennya privat saja.

Pilihan ke dua ke LR, wah.. sepertinya gagal juga. Karena dia sedang kurang sehat dan harus banyak istirahat, sedang dia sekarang ini juga sedang konsentrasi ke lomba vocal grup yang butuh waktu extra untuk latihan bersama teman-teman.

Pilihan ke tiga, TS. Mudah-mudahan bisa. E..., ternyata sedang tak ditempat alias keluar kota. Yah, gagal maneh.

Masak aku? ya mau gimana lagi.. seneng sih seneng tapi tetep saja kurang mencukupi kuota yang 3 orang. Telpon temen yang lain saja supaya mau mengisi kekosongan.

"Bu, ada kursus Photografi bu, butuh orang ini, karena anggotaku sepertinya kurang. Tapi ini cadangan dulu ya bu.. soalnya belum tahu bisa tidaknya anggotaku. Kalau anggotaku bisa, nggak jadi nggak papa ya?"

"Ok, nanti dicarikan"

Akhirnya jari-jari beraksi, menelpon TS dan menjelaskan panjang lebar. Yeee! berhasil..!! TS mau. Lalu jari-jari kembali beraksi menelpon LR dan menjelaskan juga. Yeee! berhasil lagi..!! pas dah kalau sama aku. Tapi kan nggak lucu kalau aku yang ikut karena ini bukan bagianku. Pengen juga sih ikut tapi harus kusampaikan dulu ke yang lebih berhak. Telpon LW dan menjelaskan. Ternyata LW sudah tahu tapi tak bisa ikut, dia bilang tadi sudah menghubungi RM yang katanya mau ikut.

Hiks.. hiks.. hiks.. agak kecewa juga sih karena aku bakalan nggak akan ikut. Kutelpon juga RM dan menjelaskan.. tadinya memang RM mau ikut, tapi setelah dijelaskan tentang pelaksanaan pelatihan, akhirnya RM mundur. Dalam hati nih, YES!! aku yang jadi ikut. Lumayan...!! dapet ilmu dan gratis.

Kembali jari ini menelpon teman, memberitahu kalau dari anggotaku saja sudah mencukupi kuota.

Hari pertama pelatihan, Jum'at 16 Juli 2010 jam 19.30 - 23.00 wita.
Menjelaskan sejarah, aliran dalam photografi, jenis-jenis kamera dan anatomi kamera. Waduh ! kok ruwet gini.. Ketika sesi pertanyaan diluncurkan malah bingung apa yang akan ditanyakan. Bener-bener nol pengetahuan tentang photografi, keliatannya pesertanya ini udah pada canggih-canggih. Lihat saja kamera yang dibawanya dilengkapi tele. Lha aku, 1 kamera untuk tiga orang. Hihihi... bener-bener nekat masuk ke komunitas penghobby photografi.

Hari kedua pelatihan, Sabtu 17 Juli 2010 jam 08.00 - 16.30 wita.
Materi yang diberikan meliputi, Basic photografi (komposisi, pencahayaan), Etika photografi, Corporate photografi dan Studio Lighting. Akhirnya meski belajar dengan sangat terbatas pengetahuan yang dipunya bisa juga mempraktekkan dengan kamera yang untuk bertiga. Bagaimana mengatur Diafragma, ASA, speed secara manual. Wow ! lumayan hasilnya, maksudnya tahu bagaimana cara mendapatkan gambar yang benar dan melihat hasil gambar yang salah pengambilan.

Sebenarnya masih ada sesi malamnya dari jam 19.30 - 23.00, tapi ini sifatnya tidak wajib. Judulnya sarasehan. Jadi ajang tukar pengalaman dan menunjukkan hasil jepretan tadi siang dan membahas apa yang perlu diperbaiki dari pengambilan gambar. Dari bocoran teman yang hadir dikatakan kalau mengambil gambar sedapat mungkin sebaik mungkin. Keperluan edit photo kalau bisa hanya sebatas croping saja. Dan rahasia seorang Photografer adalah jika memberikan photo hasil bidikan, jangan semuanya dikasihkan. Ambil yang bagusnya saja,kalau semua diberikan termasuk yang tidak bagusnya ayau cacat istilahnya... hehehe nanti keliatan katroknya. hahahaha... ada-ada saja! kalau udah canggih ya pastilah bagus hasilnya. Lha kalau lagi belajar gini ini, ya pasti katroknya.

Hari ketiga pelatihan, Minggu 18 Juli 2010 jam 07.30 - 16.30 wita.
Hey.. hey.. hey..! saatnya hunting photo (human Interest) di Bontang Kuala. Setelah dijelaskan panjang lebar dari hari pertama pelatihan dan mendapatkan materi yang cukup banya. Giliran mencari obyek untuk dijepret kok ya bingung. Opo sing arep difoto? Bontang kuala, tergambar rumah kayu diatas laut yang tak teratur disiang hari... keliatan sekali semrawutnya dan kurang indahnya. Hehehe... apa yang mau diphoto ya? bingung lagi.. bingung lagi.. judulnya. Akhirnya jepret sekenanya...

"Photo rumput laut yang dijemur, terasi yang dijemur, rumah roboh, kucing, perahu yang sedang jalan, panggung, tempat sampah, anak-anak main perosotan, bunga..." jebreeet..!! jebreeer..!! jebreeet..!! lhoh ! apa aja ini yang dijepret???... hehehe asal jepret saja, ow!... tapi tetep diusahakan semenarik mungkin lhoh. Hahaha..!!! tapi nggak tahu ya kalau penilaian sang guru nanti, apa juga termasuk menarik?

Saatnya preview praktek hunting photografi. Seorang teman menampilkan hasil bidikannya... Bagus! Bagus ! Bagus !... yang bener aja... peralatannya beda! dan mereka lebih berpengalaman. Tapi nggak boleh kecil hati. Dengan peralatan seadanya ayo kita tunjukkan hasil bidikan kita! dan hasilnya? Lumayan untuk pemula!

Hmmm, pengen ikutan nggak temen-temen kalau seandainya ada lagi pelatihan seperti ini, selain mendapakan ilmu gratis, perut kenyak karena dapet makan siang dan dapet sertifikat. Dari bocoran seorang teman juga. Kalau ikut kursus seperti ini diluar katanya biayanya 1 juta per hari. "Yang bener???" Terimakasih.. terimakasih.. terimakasih.. sudah mengikutkanku dalam pelatihan photografi ini. Hihihi... kutunggu pelatihan berikutnya, apa ya kira-kira tawarannya?

** Dengan jam terbang yang banyak, dengan sendirinya akan menambah ketrampilan dan mengasah kepekaan dalam melihat obyek yang akan diphoto.
** Siapa mau diphoto ?????

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger