Tampilkan postingan dengan label Ade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ade. Tampilkan semua postingan

Sepotong Cerita di Mina

Selasa, 16 November 2010

“...mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yg sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah..." (QS. Ali Imron : 97)



Perkemahan Haji di Mina, pada musim haji Januari 2004.

Pagi masih menyisakan dingin yang menggigit. Di dalam tenda perkemahan haji Indonesia di Mina itu kami melepas penat setelah semalam mabit di Muzdalifah. Sambil membereskan tas bawaanku, mataku bersitatap dengan mata perempuan itu. Perempuan tua yang duduk mematung di sudut kemah. Pikirannya seperti mengembara entah kemana. Aku trenyuh. Kuhampiri dia.

“Ibu capek ya?” sapaku memecah kesunyian. Ia hanya tersenyum.

“Anakku kemana?” tanyanya.

“Mungkin sedang mengambil sarapan Bu,” jawabku sekedar menerka. Kupijat kaki ibu yang sedang selonjor itu. Ia tersenyum senang. Aku jadi membayangkan ibuku yang tahun lalu pergi haji. Ah, betapa bodohnya aku membiarkan ibu menunaikan ibadah haji sendiri, walaupun kutitipkan pada sebuah KBIH.


Melihat lautan manusia yang begitu banyaknya saat ini ketika aku dan suami menunaikan ibadah haji, baru kusadari betapa riskannya membiarkan ibuku pergi sendiri. Siapa yang menemani ibu ketika lelah, siapa yang memijatnya, melindunginya? Ya Allah, maafkan hambaMu ini.

Karena membayangkan ibuku itulah, maka aku berusaha memperlakukan wanita-wanita seusia ibuku dengan santun. Aku ingin membalas keteledoranku tahun lalu dengan berbuat baik pada ibu-ibu tua yang menunaikan ibadah haji bersamaku tahun ini.

Belum lama kami bercakap-cakap, anak laki-laki si ibu datang. Bersama istrinya ia membawakan sarapan untuk ibundanya.

“Makan dulu Bu,” anak lelakinya menawarkan sarapannya. Betapa kasih dan sayangnya ia pada ibunya. Sementara istrinya hanya memandang tanpa ekspresi apa-apa. Kudengar ibu itu mengeluh dan sang anak membujuknya dengan sabar. Ya Allah, aku terharu melihat bakti sang anak lelaki pada bundanya. Aku segera berlalu meninggalkan pemandangan ini. Hatiku serasa terpukul melihat kejadian itu, kembali terbayang ibuku sendirian menjalankan hari-hari hajinya tahun lalu. Andai bisa kuputar ulang waktu.... Aku menghela nafas. Sungguh beruntung akhirnya ibuku bisa menunaikan hajinya dengan selamat dan penuh sukacita sampai kembali ke tanah air, walau tanpa pendamping.

“Ayo kita melempar jumroh sekarang Mi,” ajak suamiku membuyarkan lamunanku tentang ibu. Aku mengangguk sambil menyiapkan butiran-butiran kerikil yang telah kami kumpulkan di Muzdalifah semalam ke dalam kantung kain yang sudah dipersiapkan ibuku jauh-jauh hari sebelum kami berangkat ke tanah suci.

Bergegas kami menuju jumrah Aqobah. Lautan manusia yang begitu banyaknya membuatku semakin merasa bersalah membayangkan ibuku. Aku yang masih cukup kuat saja musti punya tenaga ekstra untuk melakukan ibadah yang satu ini. Terombang ambing lautan manusia yang begitu padatnya, alhamdulillah kami bisa melaluinya dengan selamat.

Aku berbaring di dalam tenda, memejamkan mata sejenak sedikit banyak dapat mengurangi rasa penat. Belum habis lelahku sekembali dari melempar jumroh, sayup kudengar sedikit keributan dan nada kebingungan seseorang.

“Kemana ibu? Mengapa tak kautemani ibu ke kamar mandi?!” suara lelaki itu seperti kukenal.

“Kamar mandi kan dekat,” sahut suara seorang perempuan.

“Tapi sampai sekarang ibu belum kembali,” sahut si lelaki. Ada nada cemas dalam ucapannya. Aku teringat ibu tua yang tadi pagi kuajak ngobrol. Jangan-jangan... Ah, benar saja. Ibu tua tak kembali ke perkemahan sedari waktu Dhzuhur tadi.

“Lebih baik kita cari saja di sekitar sini. Ayo kita berpencar,” ketua regu memberi saran dan intruksi. Akhirnya kami berpencar ke segala penjuru makhtab untuk mencari ibu tua yang tadi pagi kuajak ngobrol itu. Aku masih ingat wajahnya.

Sepanjang pencarian aku berdoa untuk keselamatan ibu tersebut. Sudah 3 x aku keliling ke tempat yang sama dari ujung ke ujung komplek perkemahan, tapi sosok ibu itu tak kutemukan juga. Begitupun teman-teman yang lain tak berhasil menemukan ibu tua. Akhirnya kami pasrah dan kembali berkumpul di tenda.

Kulihat lelaki itu menangis. Bisa kubayangkan betapa merasa bersalahnya ia membiarkan ibunya pergi sendiri. Di luar, senja mulai temaram. Adzan Mahgrib berkumandang. Perlahan malampun kian gelap. Ibu tua belum kembali. Tak bisa kubayangkan bagaimana ibu itu melalui malamnya saat ini. Hawa dingin menusuk tulang. Semoga saja ada orang yang berbaik hati menampungnya dan meminjamkannya selimut.

Keesokan harinya, belum ada tanda-tanda si ibu kembali. Anak lelaki si ibu dan istrinya tak bisa tidur semalaman, mereka tak bosannya berkeliling sambil berharap bertemu sang ibu. Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan tenda untuk kembali mencari ibunya.

Aku dan suami masih menikmati sarapan kami ketika seseorang menuntun perempuan tua yang kedinginan itu di pintu tenda. Masyaallah, itu ibu yang kami cari. Segera kami menuntun dan membawanya ke tempat istirahatnya. Wajahnya kelihatan bingung dan kelelahan. Kami segera mencari obat gosok dan berusaha memberinya kehangatan. Salah satu teman kami memijat pundaknya, sementara yang lain menyelimuti tubuhnya dan memijat kakinya. Yang lain bergegas mencari sang anak untuk mengabarkan bahwa ibunya sudah kembali.

Tergopoh-gopoh sang anak menghampiri bundanya, memeluk dan menciumnya sambil menangis. Ibu tua hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Sementara menantu perempuannya duduk dengan wajah lelah tanpa senyum. Tak ada kegembiraan di wajahnya seperti suaminya. Aku heran melihatnya. Kelihatannya ia kesal pada mertuanya itu. Tapi pantaskah hal itu ia perlihatkan di hadapan kami yang notabene bukan keluarganya tapi sangat bergembira melihat si ibu kembali? Aku bergidik ngeri membayangkan bila kelak aku mendapat menantu seperti itu. Haduh, jangan sampai deh. Tapi semua kusimpan saja dalam hati.

Di Mekkah, seusai kami melaksanakan semua syarat dan rukun haji, salah seorang temanku masih merasa heran dengan sikap menantu terhadap mertuanya itu yang juga mengganjal pikiranku. Tanpa sadar kami jadi membahas perilaku tersebut. Aku hanya bisa beristigfar, semoga hal seperti itu tidak menimpa diriku.

“Semestinya, kita memaklumi perasaan sang menantu,” tiba-tiba salah seorang temanku menukas pembicaraan kami.

“Alasannya?” tanya kami serempak.

“Ibu tua itu sebenarnya sudah agak pikun. Dia tidak ingin pergi haji, anak lelakinya yang mengajaknya untuk menunaikan rukun haji ini. Maksud anaknya sih baik, tapi dia tidak menyadari kondisi ibunya. Namanya mulai pikun, ya ibadahnya jadi sering salah-salah. Kelihatan dari perilakunya sehari-hari. Selama kami satu kamar dengan ibu itu, banyak hal yang terjadi. Menantunya selalu mengingatkannya untuk shalat, bedzikir ataupun membaca Al-Qur’an daripada duduk termenung, tapi ibu itu sering membantah. Nanti kalau anak lelakinya datang menengok, si ibu mengeluh ini itu, seakan-akan ia tak diurusi oleh menantunya. Kasihan deh menantunya itu. Ada-ada saja alasan ibu tua itu untuk menolak ajakan baik menantunya. Aku nggak heran kalau pada puncaknya menantunya jadi sangat kesal,” ujar temanku.

Kami saling memandang tak percaya, mencoba mengerti perasaan sang menantu diperlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya. Begitulah kenyataan yang ada. Ketika hidayah datang pada sang anak lelaki, ia menyadari bahwa menunaikan rukun Islam yang kelima adalah wajib bagi mereka yang mampu. Ia merasa mampu membiayai kepergian ibundanya ke tanah suci. Tapi ia lupa, selain mampu dalam harta, seorang yang ingin menunaikan ibadah haji harus mampu juga secara fisik dan pengetahuan mengenai ibadah yang akan dilaksanakan.

Sesungguhnya betapa menyenangkan perjalanan ke tanah suci dalam kondisi sehat, muda dan kuat. Insyaallah segalanya dimudahkan. Jikalau dirimu telah diberi kecukupan rezeki untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, tunggu apa lagi? Mumpung masih muda dan masih punya kesempatan, jangan pernah menunda-nunda untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.


Bontang, 15 November 2010.

Pembeli Adalah Raja, Apa Iya?

Senin, 20 September 2010

Oleh : Sri'ade' Mulyani


Toko itu sebenarnya cukup lengkap dibandingkan toko-toko lain yang ada di kota ini. Di toko itu tersedia bahan-bahan untuk membuat cake lengkap dengan assesoriesnya maupun dus untuk mengemasnya. Tokonya cukup besar dengan jumlah pelayan yang memadai. Sang Pemiliknya kulihat biasa berkeliling dalam toko sambil mengawasi para karyawannya melayani pembeli. Dengan demikian pelayanan kepada pembeli tentunya akan bertambah baik bukan? Hm, harusnya demikian. Tapi beberapa kali aku mengunjungi toko itu, selalu saja ada hal yang kurang memuaskan terjadi.

Salah satunya adalah ketika aku membutuhkan tepung coklat blackforest. Biasanya aku membeli 5 bungkus dengan harga Rp.10.000/bungkus. Sebenarnya aku ingin membeli lebih dari itu, tapi kulihat tanggal kadaluarsanya sudah dekat. Jadi aku memutuskan untuk membeli secukupnya saja sampai datang stock yang baru. Ketika bulan sudah berganti dan tepungku sudah habis, aku kembali ke toko tersebut. Namun di raknya tak kudapati tepung itu. Oh, ternyata stock yang baru belum datang. Dengan nada berharap aku bertanya pada pelayannya, "Kapan tepung yang baru akan datang?"
“Wah, nggak pasti Bu!” jawab pelayan.

Aku mengamati tumpukan plastik di sebuah dus. “Lha, itu kan tepungnya!” seruku gembira. Tapi sayang, yang tergeletak di situ adalah tepung yang sudah dekat tanggal kadaluarsanya. Tentu saja aku urung untuk membelinya. Dua hari kemudian, aku kembali ke toko tersebut bertanya tentang hal yang sama. Tepung sudah berganti kemasan dengan plastik yang berbeda tanpa tanda merek dan tanggal kadaluarsa. Kutanya pada pelayannya, apakah ini tepung yang baru? Ia mengangguk. Lalu aku membeli 2 bungkus dan membayarnya di Kasir. Kusodorkan uang Rp. 20.000,- ternyata aku masih mendapat kembalian Rp. 3.000,- Wah, tepung baru kok malah murah harganya ya? pikirku sambil pulang. Jangan-jangan.... ah, tak baik berburuk sangka. Beberapa hari setelah itu, aku kembali membeli barang serupa. Kali ini alhamdulillah, ada label dan ada tanggal kadaluarsa yang masih lama, dan tentu saja harganya sudah normal kembali Rp. 10.000,- Amaaannn, pikirku. Karena tak mungkin aku membuat kue pesanan orang dengan bahan yang kuragukan masa kadaluarsanya.

Di lain waktu, aku membeli beberapa keperluan menjelang lebaran.Mengamati harga-harga yang tertera di rak masing-masing yang kulihat cukup murah dibandingkan harga di toko lain, maka kuputuskan membeli dalam jumlah banyak. Namun sesampai di kasir ternyata harganya tidak sesuai dengan yang tertera di rak, betapa kuciwanya diriku. Kalau cuma selisih sedikit ya ndak apa-apa sih, tapi kalau selisihnya cukup banyak? Mana aku belinya nggak cuma satu lagi! Oh, noooo.... Sejak itu, aku tak percaya lagi pada harga yang tertera di rak ataupun di kemasan. Dan, aku membeli secukupnya saja, daripada nanti aku malu nggak bisa bayar selisih harganya hehehehe... mau ditaruh dimana mukaku?

Yang paling kuingat, duluuuuu.... pernah aku membeli beras di toko itu sambil mengamati televisi yang sedang menayangkan berita (kejadian ini sudah sangat lama, saat toko itu masih belum sebesar sekarang). Si empunya duduk di bagian kasir sambil menyimak berita kenaikan 9 bahan pokok. Saat aku membayar, serta merta harga beras yang kubeli dinaikkan sesuai berita di televisi. Aku hanya bisa menggeleng tak berdaya setengah nggak ikhlas melihat kelakuan si pemilik toko.

Hm, ternyata ketelitian memang harus dilakukan sebelum meninggalkan toko itu. Saat itu, manakala sang pemilik toko masih menggunakan mesin hitung sederhana aku membeli 1 kaleng susu bubuk (1000 gram) dan beberapa keperluan lain yang jumlahnya tidak banyak. Tapi kenapa harga yang kubayar 3 x lipat harga biasanya? Selidik punya selidik, ternyata di notanya tertulis 3 kaleng susu... alamak, untung protesku diterima dan sang pemilik memohon maaf atas keteledorannya.

Kurasa itu bukanlah sebuah kesengajaan. Mungkin nasibku saja yang selalu kurang mujur jika berbelanja di toko itu. Buktinya toko itu semakin hari semakin berkibar dan bertambah besar sampai seperti sekarang ini. Berarti pelanggannya banyak kan? Dan aku pun tetap saja berbelanja di toko itu membeli beberapa kebutuhanku. Tapi semua kejadian yang kualami itu membuatku selalu berhati-hati dan “teliti sebelum membeli” (jadi selalu ingat pesan sponsor TVRI jaman baheula).

Teliti, sudah. Hati-hati, sudah. Lalu, apalagi? Pelayanan! Hal satu ini yang sering membuatku harus bersabar. Berapa kali aku memerlukan kotak dari kardus maupun plastik mika untuk mengemas cake, selalu memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkannya. Kadang pelayan yang satu menyerahkan pada pelayan yang lain, sementara pelayan yang diserahi tugas tidak mengerti apa yang kubutuhkan dan tidak tahu harganya. Hadeuhhhh.....!!! Mungkin pelayan baru ya? Sehingga seniornya dengan bebas menyuruhnya. Maunya sih aku carii sendiri kebutuhanku di tumpukan itu, tapi tumpukannya campur aduk mak! Ukurannya campur baur.

Mau cari kotak ukuran 30 cm, eh... tutupnya nggak ketemu. Begitupun sebaliknya. Dan parahnya lagi, si pelayan dengan cueknya menarik dan mengembalikan ke dalam rak secara acak barang yang tidak sesuai tanpa membereskannya sesuai ukuran. Wah, gimana nih? Apa nggak tambah susah milih nantinya? Apa nggak rusak barangnya diperlakukan seperti itu? Apa nggak rugi pemiliknya? Tapi dipikir-pikir sebenarnya apa peduliku ya? Toh itu bukan tokoku, dan akhirnya aku pun dapat juga kotak yang kubutuhkan, walau waktuku banyak terbuang hanya untuk menunggu si pelayan memilih dan mencari barang yang kumaksud. Sabar euy, hiburku dalam hati.

Terakhir, aku memerlukan kotak kue ukuran kecil 100 lembar. Mustinya kan tinggal ambil satu bungkus yang berisi 100 lembar ya... Tapi, karena bungkusnya sudah terbuka, si pelayan harus menghitung lagi. Aku harus menunggu lagi dengan sabar... capek deh! Begitu sampai di rumah, ternyata tutupnya kelebihan 4 lembar. Alhamdulillah lebih, coba kalau kurang... bisa-bisa keluar tanduk di kepala nih kalau musti bulak-balik ke sana lagi dalam waktu yang sempit. Wah, pantas saja sering tak lengkap tutupnya saat membeli, habis si pelayan ceroboh.

Apa aku tipe pembeli yang rewel? Kurasa tidak. Ini bukan keluhan (masa???), ini hanyalah kesan yang tertinggal setiap aku membeli di toko itu. Padahal, pepatah mengatakan “Pembeli adalah Raja”. Yaaaa... boro-boro. Aku tak ingin berlagak jadi raja, aku hanya ingin mendapatkan barang kebutuhanku dalam kondisi baik, serta pelayanan yang memuaskan. Kalau anda yang menjadi pemilik toko itu apa yang akan anda lakukan?



`~ade~ 20 September 2010

Ketika Kesempatan Itu Tiba

Kamis, 05 Agustus 2010

Oleh : Sri 'ade' Mulyani


Kursus komputer gratis? Hm... mau banget! Apalagi setelah membaca note-nya Teh Inong di fesbuk yang judulnya “Kursus Komputer Penghilang Stress” tertanggal 28 April 2010 yg lalu. Bener deh pingin ikutan! (Eitss... jangan salah terka, ingin ikut kursus bukan karena sedang stress lho hehehe... yang jelas ingin tambah ilmu biar nggak gaptek-gaptek amat). Tapi, ternyata oh ternyata.... kursusnya hanya untuk pengurus PWP saja. Diriku kan hanya anggota, huhuhu... terpaksa deh melupakan keinginan tersebut jauh-jauh, sambil berharap semoga suatu hari bakal ada kursus untuk anggota PWP yang berminat. Harapan yang hanya sekedar angan dan segera terlupakan seiring waktu berlalu. Tak disangka tak diduga, ketika latihan pentas komunitas menulis “Kalbu” untuk acara Bazaar FPLB 30 Juli 2010, Mbak Eni & Teh Inong ngobrolin soal kursus kumputer Photo Editing gelombang 2 yg pesertanya hanya sedikit karena bertepatan dengan acara bazaar. Akhirnya... datang juga tawaran itu. Cihuy...!!! Memang kalau rejeki mah ga bakalan lari kemana. Dengan bekal semangat yang menggebu, maka keesokan harinya ikutlah aku kursus tersebut. Kesempatan yang takkan kusia-siakan.

Kursusnya berlangsung selama 3 hari (30-31 Juli & 2 Agustus 2010), mempelajari Adobe Photoshop CS3. Dimulai pagi hari pukul 07.30 s/d 11.00 Wita dilanjutkan siang hari pukul 13.30 s/d 15.30 Wita. Bertempat di Training Section PT. Badak NGL Bontang. Pengajarnya Pak Agus Maulana dan asisten2nya dari ICS Dept. Hujan rintik tak menghalangi niatku untuk mengikuti kursus (ya iyalah... wong kursusnya di dalam ruangan kok). Berbekal kamera handphone, kabel data, flash disk dan pakaian rangkap (maklum, ruang Training Section terkenal dengan temperaturenya yang super dingin) maka dimulailah kelas pagi itu.

Mulanya... semua duduk manis di depan komputer masing-masing dan patuh sebagai murid. Mbak Hera, mbak Eni, bu Hanafi, bu Yulis, mbak Ndari, mbak Dewi, dr. Budi, Dessi, Amilia, Vini dan aku. 11 orang murid mengikuti petunjuk Pak Guru step by step. Tapi makin lama... hawa dingin makin menusuk. Brrrrr.... “Pulang-pulang jadi pinguin nih” kata Vini di statusnya... hihihi. Menggigil...? Jelas!!! Baju rangkap sepertinya tidak berfungsi. Menggosok-gosok telapak tangan jadi kegiatan sambilan ibu-ibu sembari mendengarkan petunjuk Pak Guru. Atau berjalan dari satu meja ke meja lain, saling bertanya. Nggak tertib amat yah ibu-ibu ini? (Aku salah satunya)

Kuperhatikan dari pojok kelas (kebetulan duduknya agak di belakang nih), hanya aku yang bukan pengurus PWP (jiyaha... PD aja lagi! Yang penting kan dapat ilmu gratis tis tis...). Biar kata dingin menusuk tulang, latihan edit foto kudu jalan terus. Walau sebentar-sebentar ada saja yang bertanya ini itu. Pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran? Iya sih, tapi ada juga pertanyaan yang tak ada sangkut pautnya dengan materi yang dijelaskan, seperti : “Pak,breaktimenya kapan?” Atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas dan mengundang tawa, seperti ketika salah seorang pamit hendak ke kamar kecil. Biasanya sebelum ke luar akan berkata, “Pak...” tanpa kata lanjutan sambil mengangguk dan ngeloyor pergi. Ada saja yang nyeletuk, “Maksudnya apa ngomong ‘Pak...’? “ Geerrrr... memang nih ibu-ibu bisa aja. Ada-ada saja yang bikin ketawa.

Hwaaaa... suhu dingin pun membuat peserta kursus ingin cepat-cepat meneguk secangkir kopsus hangat dan kue yang tersedia di pojok ruangan sambil ngrumpi tentunya. Jangan salah, kesempatan break yang 15 menit ternyata bisa juga buat diskusi masalah kesehatan dengan bu dokter, jemput anak pulang sekolah atau sekedar haha hihi melihat foto hasil editan sambil tak lupa mejeng-mejeng, jeprat-jepret buat kenang-kenangan. Sampai-sampai seringkali kami tak sadar masih asyik ngrumpi, sementara Pak Guru sudah duduk di depan kelas dan dengan sabar menunggu ibu-ibu untuk memulai pelajaran kembali. Ibu... ibu.... (bikin geleng-geleng kepala juga ternyata).

Dari 3 hari waktu yang diberikan, hari ke 3 menjadi hari yang paling menyenangkan. Siang itu, kami bersemangat datang tepat waktu di sesi terakhir setelah istirahat & makan siang. Baru tiba di pelataran parkir, tiba-tiba terdengar sirine tanda terjadi keadaan gawat darurat di kilang LNG. Artinya, kami tak boleh masuk gedung Training tapi hanya boleh berkumpul di tempat evakuasi. Jadilah kami duduk-duduk dan bergerombol di area evakuasi selama kurang lebih setengah jam. Namanya juga ibu-ibu, keadaan apapun tak membuat mereka lupa untuk bernarsis ria... hahaha... untung ini cuma latihan “emergency drill”.

Akhirnya, tiba juga saatnya masuk kelas. Hari terakhir kami di kelas, peserta kursus tertantang untuk memanipulasi dan merekayasa hasil foto digital. Wajah berjerawat menjadi mulus, perut buncit menjadi langsing, bahkan memindahkan wajah seseorang ke wajah orang lain dengan hasil yang memuaskan. Ups, barulah mengerti... mengapa jangan sembarang meng-upload foto di dunia maya. Karena ternyata... dengan perangkat Adobe Photoshop ini sebuah foto bisa dengan mudah dimanipulasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Beruntung aku mendapat kesempatan kursus ini. Mudah-mudahan kalau ada kursus lagi di kemudian hari, aku bakal kebagian juga (ngarep.com)

Episode Kecil di Executive Lounge Sepinggan

Kamis, 08 Juli 2010

Waktu menunjukkan pukul 10 waktu Indonesia Bagian Tengah. Masih 2 jam untuk menunggu keberangkatan pesawat Pelita Air Service ke Bontang. Tak lama terdengar panggilan untuk penumpang pesawat Citylink Garuda GA-061 tujuan Surabaya agar segera memasuki pintu A3.

Seorang bapak bersama 3 anaknya yang sama2 menunggu di executive lounge segera berdiri dan keluar melalui pintu Executive Lounge yg sepi. Sementara petugas segera memanggilnya dan meminta untuk melewati pintu A3. Sedikit percakapan yang sempat kusimak.

"Maaf Pak, mohon ke pintu A3 untuk boarding," minta petugas executive lounge.
"Wah, lewat sini juga kan nggak apa-apa!" jawab si Bapak.
"Tapi Pak, boardingnya di pintu A3," jelas si petugas.
"Ah, gampanglah itu. Nanti urusan saya. Tenang saja," jawab si bapak.
"Tapi..." petugas ingin menjelaskan sesuatu.
"Sudahlah... tak usah takut. Kalau dimarahin biar saya yang urus. Kalian tenang saja. Kasihan nih anak2 saya kalau lewat pintu sana. Sumpek," jelas si bapak lagi.

Dua petugas berpandangan, antara tak setuju dan bingung menghadapi keinginan si Bapak.
Akhirnya petugas boarding di pintu sebelah menghampiri. Si Bapak diberi keleluasaan untuk lewat situ.
Dengan jumawanya si bapak berkata, "Tolong jangan dimarahi petugas executive lounge, saya saja yang dimarahi! Saya maunya lewat sini."

Aku memandang orang2 di sekitarku, ternyata kutangkap raut mereka menyiratkan rasa heran dan prihatin melihat tingkah si bapak yang tak mau mengikuti aturan. Hahaha... sama dong dengan perasaanku. Gaya banget si bapak! Melanggar aturan kok bangga? Walaupun kelihatannya sepele, ga sadar apa anak2nya yang masih kecil melihat caranya dan menganggap hal itu wajar untuk dilakukan?

Sepinggan, 8 Juli 2010

Di Batas Asa

Minggu, 30 Mei 2010

di batas asa
Oleh : Sri 'ade' Mulyani

Lalu,
Angin pun tak lagi bawa kisah
Hanya diam dalam pekat mega
Kemana kan bertanya
Sedang sua tak lagi punya makna

'tuk persahabatan yg telah mati
satu kusiapkan peti
kan ku kubur dia disini
di perigi hati…


Bontang, 30 Mei 2010

Suatu Hari di Pelataran Parkir Gedung Sekolah

Sabtu, 22 Mei 2010

Matahari telah meninggi. Perayaan milad di sebuah sekolah TK hampir saja berakhir. Mobil kami parkir ketika satu-persatu pengunjung mulai meninggalkan lokasi acara. Tinggal segelintir orang yang masih bertahan menyaksikan sisa acara. Bazar yang digelar pun sudah mulai sepi. Kami putuskan untuk pulang saja karena acara hampir berakhir.

Ketika menyalakan mesin mobil, di depan kami berhenti sebuah mobil sedan. Seorang ibu muda dan anaknya yang masih duduk di bangku TK sepertinya sedang berdebat tentang sesuatu. Tiba-tiba kaca mobil sedan diturunkan, tanganpun terulur. Tanpa perasaan bersalah, sebuah bungkus plastik kemasan makanan ringan melayang dari tangan ibu muda, jatuh tepat di aspal jalan yang mulus dan bersih. Kaca mobil tertutup kembali dan mobil pun berlalu……

Pemandangan yang biasa? Ah, ingin saya katakan pada pemilik sampah itu, “Bu… bu, barang milik ibu tercecer!”

Bukan sekali ini melihat hal seperti itu. Coba perhatikan, seringkali setiap usai sebuah perayaan digelar, tumpukan sampah di mana-mana, bukan di tempat sampah (ah tenang saja, kan nanti juga ada petugas kebersihan yang membereskannya).
Seringkali setiap usai shalat Ied, koran dan tas kresek berhamburan di mana-mana bukan di tong sampah yang telah disediakan (ah, itu kan tugas pemulung, bukankah dia juga dapat rejeki dari koran yang berserakan?).

Ibu-ibu yang pernah melaksanakan ibadah haji, apa yang terkenang ketika masuk kamar mandi perkemahan Haji Indonesia di Arafah maupun Mina? Tumpukan panti shield dan pembalut yang berserakan di sudut kamar mandi. Apakah di sekitar kamar mandi tidak ada tong sampah? Ada, dan isinya tak sampai sepertiganya! Lalu kenapa? Kenapa tak bersabar untuk membawa sampah ke tempatnya yang terletak tak begitu jauh? Kenapa tega meninggalkannya sembarangan teronggok di sudut kamar mandi yang membuat orang jadi sebal ketika masuk kamar mandi? (Ah, mungkin ini pengalaman haji di tahun 2004, mudah-mudahan sekarang sudah tidak begitu…, atau justru semakin parah? Entahlah…).

Ibu, wanita yang paling dekat dengan anak-anak. Darimulah segala contoh berawal.
Mungkin terasa sepele, tapi... seperti apa generasi kelak jika di saat belia mereka terbiasa melihat perilaku buang sampah sembarangan?


Bontang, 22 Mei 2010

Nyanyian Cemara

Sabtu, 17 April 2010

Nyanyian Cemara
Oleh : Sri 'ade' Mulyani



Perempuan itu, apa maunya? Dara menghela nafas. Kalau mengikuti kata hatinya yang paling dalam sebenarnya Dara enggan untuk menemuinya, setelah apa yang pernah terjadi antara mereka bertiga di masa lalu. Tapi pantaskah ia sekasar itu? Untuk sisa-sisa persahabatan yang pernah mereka jalani bersama rasanya tak pantas memperlakukan Adis seperti seorang musuh besar.


~DARA~

Semua berawal 15 tahun yang lalu, ketika persahabatan kami bertiga mulai berjarak. Aku, Adis dan Jaka. Bukan rahasia lagi kalau Jaka menaruh hati padaku. Dan aku pun menyukai Jaka. Aku menemukan gairah hidup yang begitu menyala setiap kali kami membicarakan masa depan. Kami punya komitmen yang sama tentang sebuah pernikahan. Ah, berbunga-bunga rasanya. Apalagi jika Jaka membicarakan tentang keturunan, ia ingin kelak kami mempunyai 3 orang anak saja. Supaya aku tidak terlalu capek katanya, dan kami bisa mempersiapkan masa depan mereka sebaik-baiknya. Semuanya serba sejalan dan begitu mulus, sampai suatu saat… ketika vonis dokter membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Ada sesuatu pada indung telurku yang membuat dokter mengambil keputusan untuk mengangkatnya.

Sebenarnya, rasa sakit yang kualami pasca operasi tak begitu menyakitkan. Dengan obat-obatan, doa seluruh kerabat dan tatapan cinta Jaka aku kuat menjalani hari-hariku. Hari-hari indah bakal menyongsongku walau kini aku hanya mempunyai sebuah indung telur. Aku masih mungkin mempunyai keturunan bukan? Aku yakin. Sangat yakin. Aku pikir dengan kekuatan cinta kami berdua, harapan untuk mewujudkan impian masa depan akan terwujud. Tapi aku sungguh tak percaya kalau Jaka se-egois itu. Hanya karena dokter menerangkan kondisi indung telurku yang tersisa ada kemungkinan kurang baik, ia tega berpaling dariku.
Dengan tegas dan tanpa perasaan, ia minta aku tak bermimpi untuk meneruskan sisa perjalanan yang pernah kami rancang.

“Aku ingin punya keturunan Ra,” ujar Jaka. Dan tentu saja ia pesimis bakal punya anak kalau beristrikan aku. Tatapannya datar sedatar cakrawala saat mengatakan itu padaku, seakan aku tak pernah ada dalam hatinya. Dan yang paling menyakitkan, beberapa bulan setelah Jaka meninggalkanku, ia melamar Adis sahabatku.
Ah, takdirku. Tergugu aku dalam duka. Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi entah kenapa, masih saja ada sejumput rindu pada Jaka, yang makin menyemak bagai perdu di dasar kalbuku sampai detik ini. Kemanapun aku melarikan diri, aku tak mampu melupakan Jaka. Sepertinya aku tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi.


~ADIS~

Sebenarnya aku tak ingin menyakiti Dara sahabatku. Aku bisa merasakan sakitnya akibat kehilangan. Aku tahu dia sangat mencintai Jaka. Tapi hari itu Jaka memintaku. Mengharapkan aku untuk melengkapi separuh perjalanan hidupnya. Memohonku untuk menjadi ibu yang akan melahirkan anak-anaknya. Aku seperti makan buah simalakama.
Sedari awal, aku memang punya hati pada Jaka. Tapi aku tak seberuntung Dara. Pijar-pijar cinta tak pernah kulihat di mata Jaka saat menatapku, tak seperti ketika ia menatap Dara. Aku cukup mengerti, aku bukanlah pilihan Jaka. Tapi jalan hidup manusia tak pernah ada yang tahu, entah rencana apa yang Allah berikan padaku ketika Jaka menceritakan semuanya. Sebagai sahabat yang mencintai dirinya, tak mungkin aku berdiam diri. Aku harus berbuat sesuatu, meskipun akibat yang akan kuterima adalah aku akan dimusuhi Dara seumur hidupku. Tapi kuharap, suatu saat Dara akan mengerti.

“Aku percaya, engkau lebih kuat dari Dara,” bisik Jaka padaku. Mungkin aku bodoh, mungkin juga egois dan tidak punya perasaan terhadap sahabat sendiri, tapi membuat bahagia orang yang kucintai adalah hal yang paling terindah dalam hidupku.

****************************************************************


Sore di Café Cemara, Adis menyapa Dara dengan ramah. Berharap pelukan hangatnya akan mencairkan kekakuan yang melingkupi mereka berdua. Adis harus menceritakan semuanya pada Dara, supaya Dara bisa membuang jauh kebenciannya pada Jaka dan Adis.

“Jadi, sudah berapa anakmu sekarang?” tanya Dara memecah kebisuan sambil melirik gadis belasan tahun di sebelah Adis.

“Ini Nadira, Ra. Ayo Nadira, beri salam pada Mama Dara,” perintah Adis pada Nadira, anaknya. Dara mengernyitkan keningnya.

“Mama Dara?” tanyanya heran. Tapi tak urung wajahnya melunak ketika memandang raut Nadira.

Ia seakan takjub. Tak ada yang berbeda antara Nadira dan Jaka. Hidungnya, matanya, alisnya, pipinya, senyumnya, cara berjalannya… semua mirip Jaka, hanya saja Nadira perempuan. Tak terduga Dara memeluk erat Nadira, seakan melepas kerinduan yang selama ini bersemayam di hatinya. Cemara di luar sana tahu, Dara teramat mencintai Jaka.

“Jadi, bagaimana kabar Jaka?” suara Dara bergetar saat Nadira pamit ke kamar kecil.

Mereka duduk berdua di café itu memandang liukan cemara tertiup angin. Café tempat mereka dulu selalu bercerita berdua atau bahkan bertiga ditemani Jaka. Desauan angin menyentuh cemara masih menimbulkan bunyi yang mereka suka belasan tahun yang lalu. Adis menghela nafas, mencoba menyusun kalimat.

“Jaka meninggalkan kami Ra,” lirih suara Adis.

“Apa?! Kemana? Sejahat itukah Jaka? Setelah meninggalkanku, ia tega meninggalkanmu dan darah dagingnya? Lalu kemana komitmen yang dulu pernah dia agung-agungkan?” tanya Dara kecewa.

“Jaka melamarku dalam keadaan sakit Ra,” Adis berusaha menjelaskan.

“Iya, memang dia sakit. Sakit jiwa! Tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sakit jiwa macam Jaka sampai detik ini! Begitupun engkau bukan?” rutuk Dara.

“Bukan itu Ra. Jaka benar-benar sakit,” Adis berusaha menjelaskan.
“Tak ada seorangpun yang tahu, tidak juga dirimu. Ia tak ingin kamu cemas memikirkannya. Dokter menvonisnya menderita kanker ganas tak lama berselang setelah operasi indung telurmu. Keputusannya untuk meninggalkanmu bukan karena ia egois. Ia menikahiku karena ingin segera punya anak sebelum waktunya habis. Ia ingin ada yang menemani dirimu di saat-saat sunyimu dan juga sunyiku. Tapi kamu keburu marah dan menghilang entah kemana. Hanya setahun Nadira mendapatkan belai ayahnya. Aku membesarkan Nadira seperti permintaan Jaka, dan hari ini… aku menunaikan wasiat Jaka untuk membawa anaknya padamu. Aku dan kamu sama-sama mencintai Jaka. Tapi cinta Jaka hanya untukmu Ra. Maafkanlah Jaka.”

Dara terpana. Dalam diamnya, ada rasa menyesal telah menuduh sahabat dan kekasihnya tak berperasaan. Kalau saja waktu bisa diulang, ingin Dara berada di saat Jaka sakit, sekedar menatapnya untuk memberi semangat, seperti yang Jaka lalukan waktu Dara dioperasi. Semua itu telah lama berlalu. Di luar, angin masih mengusik cemara. Desaunya yang akrab di telinga tak jua berlalu, membawa rindu tiga perempuan pada seorang Jaka yang telah tiada.


Bontang, 17 April 2010.
Terinspirasi dari kisah saudariku, Allah memberimu yg terbaik pada akhirnya.

Dan Malaikat Mencatat Niat Baiknya

Jumat, 16 April 2010

Wajah lelaki setengah baya itu terlihat lelah, tapi senyumnya tetap ramah. Hadi Sanjaya nama aslinya, namun kami biasa memanggilnya dengan nama Mang Icong. Seorang lelaki dengan 9 orang anak dan kehidupan yang terlalu sederhana di sebuah desa. Untuk itulah salah satu anaknya ikut denganku ke Bontang, membantu menjaga anak pertamaku yang saat itu baru berumur 3 tahun karena aku dan suamiku pergi bekerja.

Hari itu di bulan Juni 1996 dia datang ke Bontang. Untuk berlibur? Bukan! Anaknya yang ikut denganku mengalami kecelakaan lalu-lintas sehingga masuk ruang ICU dalam keadaan koma. Dokter bedah di rumah sakit PT. Badak saat itu memberikan pandangan bahwa kondisi pasien sangat kritis karena mengalami cedera di bagian dalam kepala. Kemungkinan terburuk adalah kehilangan nyawa, kalau memang itu yang terjadi paling tidak orangtuanya harus ada di sini. Itulah sebabnya Mang Icong segera kami panggil ke Bontang. Sebenarnya kami sempat takut, membayangkan ia akan marah mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. Tapi ternyata tidak. Sore itu, setelah menjenguk anaknya dengan wajah yang kelelahan dan terlihat sedih, ia tetap tegar dan tawakal. Ia bahkan meminta maaf bila anaknya membuat kami menjadi repot seperti ini. Repot untuk urusan rumah sakit dan biayanya tentu saja. Tapi bagi kami, anaknya bisa kembali sehat seperti sedia kala saja merupakan hal yang paling kami impikan saat itu. Uang bisa dicari, tapi bila anaknya menjadi cacat seumur hidup gara-gara kecelakaan ini? Tentu itu akan menjadi tanggung jawabku dan suamiku seterusnya. Seusai shalat Mahgrib kulihat Mang Icong khusuk memanjatkan doa dan dzikir-dzikir kepada Allah tiada hentinya. Gambaran seorang lelaki yang memohon pertolongan hanya kepada Allah disaat musibah datang menimpa. Saat itulah akhirnya aku mengetahui sedikit banyak riwayat kehidupan Mang Icong.

Kehidupannya sebelum ini jauh dari kecukupan. Seringkali ia meninggalkan keluarganya di kampung untuk pergi ke ibukota mengadu nasib, berdagang, mencari peruntungan, berusaha mendapatkan penghasilan yang halal untuk kelangsungan hidup keluarganya. Pernah sekali waktu ia tertipu dan kehabisan modal, sementara keluarga di kampung menunggu tanpa kabar yang pasti selama 6 bulan. Untung saja masih ada kebun kecil yang ditanami sedikit sayuran untuk dipetik hasilnya. Tapi tetap saja harus ada yang menghasilkan uang untuk mengepulkan asap dapur. Akhirnya istri Mang Icong turun tangan membantu mencari tambahan dengan membantu tetangga di sekitar rumahnya.

Suatu hari dalam keadaan termangu tanpa uang Mang Icong berdiri di depan sebuah sekolah terkenal di kota Bogor. Tiba-tiba saja seseorang menyapa dan bertanya padanya, apakah ia bisa menyetir mobil? Tentu saja Mang Icong mengangguk. Tanpa bertanya apakah Mang Icong punya SIM atau tidak, laki-laki itu menawarkannya menjadi sopir pribadi seseorang. Dengan penuh sukacita tentu saja Mang Icong menerima tawarannya. Ternyata kehidupan Mang Icong setelah menjadi sopir keluarga tersebut cukup tertolong karena ternyata majikannya adalah seorang kaya raya, keluarga salah satu Pengusaha Besar Indonesia.

Sebagai seorang sopir di keluarga konglomerat, Mang Icong harus selalu berpenampilan rapih. Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam mengkilat dan tak lupa kopiah hitam selalu menemani penampilannya. Begitu juga hari itu, sehabis mengunjungi anaknya yang mulai sadarkan diri di ruang ICU, kami mengajak Mang Icong yang berpenampilan rapih berkeliling kota Bontang. Kami biarkan ia yang menyetir mobil Espass kami. Sesampai di pos Security Kampung Baru seperti biasa Petugas Security membuka pintu mobil dan menyapa. Sebuah prosedur yang rutin dilakukan bila kendaraan memasuki atau meninggalkan komplek perusahaan LNG Badak.

“Assalamu’alaikum Pak Haji!” sapa Petugas Security dengan ramah.
“Wa’alaikum salam,” jawab Mang Icong dengan antusias, tapi kulihat wajahnya tertegun sejenak. Setelah pintu mobil ditutup dan kami pun meneruskan perjalanan, Mang Icong tiba-tiba nyeletuk, “Wah, Mang Icong dipanggil PAK HAJI! Seumur-umur, baru kali ini Mamang dipanggil haji.” Wajahnya sumringah, seakan panggilan tadi berupa kehormatan besar bagi dirinya.
“Habisnya penampilan Mang Icong sudah seperti haji sih, pakai kopiah seperti Pak Ustad. Ciri-ciri orang sholeh sudah kelihatan di wajah Mang Icong,” gurau suamiku. “Lagipula, Securitynya kan tidak tahu kalau Mang Icong belum pergi ke Mekkah. Tapi siapa tahu Mang Icong suatu saat pergi haji… Yang namanya rejeki itu kan hanya Allah saja yang tahu,” lanjut suamiku.
“Amin amin amin,” jawab Mang Icong. “Ingin sekali Mang Icong bisa pergi ke Mekkah, tapi apa mungkin? Menghayal eta mah!”
"Mudah-mudahan ada malaikat yang mencatat niat Mang Icong,” aku menimpali.
“Andai Mang Icong bisa pergi haji… Wah, teu kabayang ah!” jawab Mang Icong sambil tertawa. “Boro-boro pergi ke tanah suci, buat hidup sehari-hari saja pas-pasan,” jelas ada nada sangsi dalam ucapan Mang Icong, tapi tetap saja hatinya merasa senang walau hanya dengan menghayal suatu saat ia akan bisa pergi ke Tanah Suci. Kami tertawa bersama, menganggap keinginan ini muskil, tapi siapa tahu? Tawa hari itu sedikit mengurangi kesedihan kami akan kecelakaan yang menimpa anaknya.

Seminggu setelah Mang Icong berada di Bontang keadaan anaknya Alhamdulillah membaik. Tak ada luka di sekujur tubuh kecuali hasil scanning kepala yang memperlihatkan ada gangguan pada system syaraf penglihatannya akibat benturan yang terjadi. Saat itu, anaknya tak bisa membedakan warna, namun dengan pengobatan yang teratur akhirnya anaknya sembuh seperti sediakala.

Mang Icong kembali ke Jakarta dan menjalankan rutinitasnya mengantar majikan ke mana mereka perlu. Dijalani semua itu dengan sabar dan ikhlas. Ia dibekali majikannya sebuah telpon genggam, sebuah barang yang pada tahun 1997 masih merupakan barang mahal. Tak lupa kami saling bertukar kabar satu sama lain tentang keadaan masing-masing lewat telpon genggamnya, terutama tentang kesehatan anaknya yang masih ikut denganku. Suatu hari Mang Icong menelpon kami mengabarkan sebuah berita gembira, ia mendapat hadiah dari majikannya. Coba tebak hadiah apa? Ongkos pulang pergi ke tanah suci Mekah! Betapa riang nada suaranya di telpon. Menurutnya, masa kerjanya sebagai supir itu baru dua tahun. Tapi sungguh ia tak mengira bakal mendapat hadiah pergi haji ke Tanah Suci. Di sela-sela percakapannya, Mang Icong mengingatkan pada kami tentang percakapan setelah melintasi Pos Security Kampung Baru di bulan Juni 1996 itu. Ternyata Allah mengabulkan perkataan yang ia ucapkan, walaupun saat itu ia hanya berandai-andai. Ah, kami pun ikut senang dan terharu mendengarnya. Bayangkan, di saat krisis ekonomi melanda negri ini di tahun 1997, seorang supir seperti Mang Icong bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Alhamdulillah, yang namanya rejeki tidak akan pernah salah alamat. Entah lewat siapa datangnya, yang jelas Allah SWT Maha Pemurah. Aku dan suamiku semakin percaya, niat baik kita akan selalu dicatat malaikat. Harapan-harapan yang kelihatannya tak mungkin di mata kita seringkali mudah menjadi kenyataan oleh pertolongan Allah. Jadi, janganlah pernah berhenti berharap dan memohon hal-hal kebaikan kepada Nya. Karena tanpa kita sadari pertolongan Nya amatlah dekat.

Jum'at, 16 April

Siang menjelang shalat Jum'at, abimu pergi ke mesjid dengan raut cemas. Bukan apa2, sejak semalam tanda2 itu sudah nampak, tapi kenapa suster di rumah sakit menyuruh umi utk menunggu di rumah saja. Masih lama kata Suster. Umi jadi enggan untuk kembali ke rumah sakit, lebih baik di rumah saja menahan sakit dan mulas. Umi bisa mengerang sepuasnya di depan mbah Uti tanpa dimarahi orang, sampai2 umi lihat mbah Uti menangis. Tapi itulah, akibat mengerang seenaknya, sekujur tubuh umi basah. Keringat campur darah dan ketuban pecah. Aih... mana abi? Untung shalat Jum'at segera berakhir, abimu tergesa-gesa menelpon rumah sakit lewat telpon umum yang terletak di tembok luar kamar mandi masal barrack JC-5. Yups, waktu itu kita masih tinggal di Barrack JC yang sempit, tak ada fasilitas telpon di setiap rumah seperti saat ini, apalagi telpon genggam.

Kelihatannya Abi tidak berhasil untuk meminta ambulans datang, mungkin karena jam istirahat, atau diperkirakan blm tiba saatnya melahirkan, umi tidak tahu. Untunglah Om Puji tetangga kita yang tinggal di JC-10 yg pegawai rumah sakit dan diberi fasilitas telpon segera menghubungi rumahsakit dan menerangkan keadaan umi yang sudah tidak berdaya. Akhirnya datang juga ambulans dan perawat. Mereka tergesa-gesa masuk ke rumah dan segera mengangkat umi ke atas tandu dibantu tetangga-tetangga sebelah rumah.

"Jangan mengejan ya, Bu! Tarik nafas saja dalam-dalam, jangan sampai melahirkan di kendaraan. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" pesan suster Yulita Theodora menenangkan. Sebenarnya jarak rumah sakit dan barak yang terletak dekat Padang Golf itu tidak terlalu jauh, tapi tetap saja terasa lama padahal ambulans sudah berjalan cukup kencang dengan suara sirinenya yg meraung.

Begitu sampai di rumah sakit umi langsung dibawa ke ruang bersalin. Suster Ning, Suster Yulita dan Suster Ana yang membantu. Tepat jam 13.13 WITA, pecahlah tangismu di ruang bersalin RS. PT. Badak Bontang. Tangisan pertamamu Nak, di Jum'at siang 16 April, 17 tahun yang lalu.

Siang ini umi mengingatnya kembali, berharap engkau di sana selalu diberi kesehatan, diberi umur yang barokah, menjadi anak yang sholeh dan dimudahkan rezekimu. Pandai-pandailah memilih teman, dan ingatlah... Allah selalu melihat apa yang kita perbuat.

Jadilah muslim yang shaleh anakku, agar kelak engkau bisa memimpin keluargamu. Jangan sekali-kali engkau mempersekutukan Allah. Tegakkanlah shalat, tunaikanlah dengan rukun2 dan kewajiban2nya, serta lakukanlah dengan khusyu. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang sombong lagi angkuh.

Sungguh tak ada yang lebih membuat kami bahagia, selain meninggalkan dirimu dalam keadaan selalu beriman dan beramal sholeh, bahagia dunia dan akhirat.

Peluk cium buat sulungku : GUSTI PANGESTU

Di Tepian Mahakam

Sabtu, 06 Maret 2010

Di Tepian Mahakam
Oleh : Sri 'ade' Mulyani


“Aku cuma ingin melihat sungai Mahakam Kak. Kapan kita ke sana?” ujar Rida istriku akhir-akhir ini. Permintaan yang sederhana sebenarnya, tapi merupakan hal yang paling aku hindari selama hidupku. Tapi bagaimana menjelaskannya? Aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan alasan sebenarnya. Jangankan menerangkan, membayangkannya saja aku sudah bergidik. “Jangan Rida! Tolong jangan sekarang, aku belum siap” pintaku dalam hati, hanya dalam hati. Peristiwa tragis itu kembali membayang di pelupuk mataku. Peristiwa yang tak akan pernah kulupa sepanjang hayatku.

“Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk melupakannya. Bantulah hamba ya Allah,” doaku di setiap sujud malamku. Setiap kali mimpi buruk ini menggangguku, aku selalu teringat pada Julak. Rindu memandang sorot matanya, rindu dekap sayang yang membuatku merasa aman sehingga aku mampu melupakan sejenak kejadian tragis itu. Julak dan istrinya yang Allah kirim sebagai penyelamatku. Hendak kubalas dengan apa jasa mereka?

Namaku Ridwan. Aku anak angkat Haji Alamsyah seorang pengusaha di kota Balikpapan. Aku memanggilnya Julak. Haji Alamsyah mengambilku di kantor polisi ketika aku berusia 6 tahun, sesaat setelah peristiwa tragis menimpa keluargaku. Aku yang saat itu selalu menjerit mengingat ibu dan adikku. Aku yang selalu berteriak, “Ibuuuu, jangan Buuu… jangan!!!” Aku yang selalu bergetar hebat melihat derasnya arus sungai Mahakam dan menangis tersedu-sedu setelahnya. Kalau bukan karena Haji Alamsyah dan istrinya, tak tahu seperti apa aku saat ini. Mungkin aku sudah jadi gelandangan yang tidak waras berkeliaran di kota Samarinda. Atau bahkan mungkin saja aku telah mati kelaparan di sepanjang tepian sungai Mahakam. Entahlah, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok kecuali Allah Yang Maha Besar. Haji Alamsyah tahu betul perasaanku. Untuk menghilangkan traumaku setiap kali melihat sungai Mahakam akhirnya ia memilih untuk pindah ke Balikpapan, demi aku anak angkatnya.

Haji Alamsyah dikenal sebagai dermawan oleh masyarakat sekitarnya. Sudah banyak orang yang ditolong olehnya. Anak-anak panti asuhan, janda miskin, keluarga tak mampu. Dan kurasa yang paling beruntung adalah aku. Hidup memang aneh dan tak bisa ditebak. Aku yang terlahir dari keluarga perantauan yang tak mampu, akhirnya menjadi anak yang hidup dalam keadaan serba kecukupan. Tidak hanya membesarkan aku, Haji Alamsyah bahkan menyekolahkan aku hingga perguruan tinggi. Kulihat ia begitu bangga ketika hadir pada acara wisudaku. Apalagi tak lama setelah itu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di kota Bontang yang jaraknya 240 km dari Balikpapan.

Belum lengkap kebahagiaan itu rasanya kalau aku belum menyunting Rida, teman kuliahku. Aku mengagumi Rida dan berusaha mendapatkan perhatiannya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Rida menerimaku, walau setelah itu Rida tahu bahwa aku hanyalah anak pungut yang tak jelas asal-usulnya. Aku hanyalah seorang anak terlantar yang beruntung mendapatkan kasih sayang dari keluarga Haji Alamsyah.

Genap sudah 3 tahun aku tinggal di Bontang bersama Rida namun belum sekalipun aku mengajaknya ke Samarinda. Ada-ada saja alasanku untuk menolak ajakannya ke sana. Toh, ayah angkatku tinggal di Balikpapan. Dengan pesawat Dash-7 dan hanya memakan waktu 30 menit aku bisa mengunjungi Haji Alamsyah. Tak perlu repot-repot berlama-lama mengendarai mobil melintasi Perkebunan Inti Rakyat dan bukit Suharto untuk sampai ke Balikpapan. Dan yang paling penting, aku tidak perlu melintasi jembatan Mahakam yang akan membuatku merinding.

Sekali waktu, pernah di masa SD aku diajak H. Alamsyah untuk mengunjungi kerabatnya di Sungai Kunjang, Samarinda Sebrang. Dari kota Balikpapan tak perlu melintasi Mahakam untuk sampai ke sana. Tapi ketika sore tiba, ayah angkatku itu mengajakku berkeliling kota menyusuri Sungai Mahakam, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Mendekati jembatan penyebrangan aku pucat pasi dan akhirnya pinsan. Bayangan masa lalu itu tak pernah hilang dari ingatanku. Sejak itu Julak tak lagi mengajakku ke Samarinda. Setiap ada urusan di kota itu Julak tak pernah membawaku, sampai suatu saat aku duduk di bangku SMA, ia membawaku ke sana dengan harapan aku sudah tidak trauma lagi mengingat umurku yang mulai dewasa. Tapi percuma saja, lagi-lagi keringat dingin mengucur. Wajahku tegang walau aku tidak sampai pinsan ketika melintasi jembatan tersebut. Hah, cukup sudah! Aku tak mau ke sana lagi. Jangan paksa aku untuk melintasi jembatan itu, pintaku pada Julak.

H. Alamsyah cukup mengerti perasaanku. Ia tak pernah mengajakku ke kota itu lagi. Ayah angkat yang baik. Tapi kali ini bukan H. Alamsyah yang memintaku, bukan Julak yang mengenal diriku dan memahami ketakutanku. Kali ini Rida istriku tercinta yang memaksaku ke sana. Aku belum pernah bercerita padanya tentang peristiwa tragis itu. Jadi bisa dimengerti mengapa ia begitu heran setiap kali aku menolak ajakannya ke Samarinda.

“Aku ingin lihat Mall yang baru Kak,” kata Rida. Aku sebenarnya kasihan juga. Tiga tahun sudah kami menetap di kota Bontang yang kecil. Tak ada Mall di sini, yang ada hanyalah Mini Market. Walaupun aku tahu Rida bukan tipe perempuan yang senang belanja, paling tidak dia rindu keramaian kota.

“Kotanya panas, lalu-lintasnya semrawut, belum lagi kalau bulan hujan begini banjir selalu datang,” elakku. Kebetulan koran pagi itu memuat foto banjir yang terjadi di Samarinda.

“Justru aku ingin tahu Kak walau tidak sekarang di saat musim hujan. Sebenarnya aku ingin ke Tenggarong juga melihat Pulau Kumala. Tak ada salahnya kan kalau kita menginap dulu di Samarinda sehari. Menikmati Mahakam di waktu malam. Bahkan aku sebenarnya ingin ikut wisata ke pedalaman menyusuri sungai Mahakam. Teman-teman bilang itu wisata asyik. Kita bisa bertemu dengan orang-orang Dayak yang lubang telinganya memanjang dengan antingnya yang berderet. Kita bisa melihat budaya mereka langsung dari dekat,” kata Rida.

Aku pun ingin. Jauh di lubuk hati aku ingin mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Tapi ini Mahakam. Sungai besar itu selalu membuatku menggigil. Bukan pada buaya muaranya yang ganas, bukan juga pada transportasi air-nya yang belum tentu aman, bukan itu.

Rabb, sesungguhnya aku bukan lelaki cengeng. Sesungguhnya aku pun sadar, hidup dan mati adalah kuasa-Mu seperti yang selalu Julak katakan. Seharusnya aku bisa tegar dan melupakan tragedi itu sekaligus menghilangkan rasa takut yang selalu menghantui diriku. Sudah 20 tahun berlalu, aku harus bisa mengalahkan rasa takut itu, harus! Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi permintaan Rida. “Aku siap melihat Mahakam!” tekadku.

Cuaca sore itu tidak terlalu panas, angin bertiup sepoi-sepoi. Kuhentikan mobilku di tempat parkir di taman kota sisi jalan. Samarinda kota tepian, akhirnya aku ke sini juga. Di kejauhan, jembatan besi itu berdiri kokoh menjulang. Aku memalingkan muka dari sana. Debar itu mulai terasa. Arus sungai yang tenang dan riaknya yang menyentuh tembok sepanjang sisi sungai mulai terdengar di telingaku. Aku menguatkan diri untuk tidak gemetar. Sepanjang tepian Sungai Mahakam sore itu tak begitu ramai.

“Airnya tenang Ridwan, tak usah takut!” hiburku pada diriku sendiri.

“Yah, tenang. Tidak seperti saat itu yang arusnya begitu deras. Siapa yang tahu di balik ketenangan arusnya air ini justru menghanyutkan. Kelihatan tenang, namun sanggup menyihir seseorang untuk melakukan hal di luar dugaan,” kata hatiku yang lain. Tentu saja Rida tak mendengar percakapan ini. Ini antara aku dan jiwaku sendiri. Tapi aku tahu, ada tanda tanya dalam diri Rida. Ia sepertinya bisa merasakan ada sesuatu yang kusembunyikan. Apalagi ketika tanganku yang menggandengnya mulai basah berkeringat, sementara kami belum berjalan terlalu jauh.

“Selama ini aku sebenarnya heran pada kakak. Kenapa kakak begitu berat untuk menemani perjalananku ke kota tepian ini? Ada seseorang di kota ini yang ingin Kakak lupakankah?” suara Rida memecah kebisuan di antara kami berdua. Ia mungkin merasa tak ada kegembiraan di wajahku. Sepertinya aku menangkap nada cemburu dalam ucapannya.

“Hm, bukan begitu Rida. Aku…” kata apa yang harus kupilih untuk memulai cerita ini. Aku berusaha keras untuk mengatakannya, tapi arus sungai itu seolah-olah membiusku. Membawa pikiranku ke masa yang lalu. Detak jantungku serasa semakin cepat berpacu. Rida memandangku sekilas. Diambilnya sebuah batu lalu dilemparkannya jauh ke tengah sungai. Plung! Aku terlonjak. Batu itu jatuh tak begitu jauh dari tepian dan dalam sekejap batu itu tenggelam.

“Kenapa?” tanya Rida.

“Kaget saja,” jawabku tertunduk. Lidahku kelu. Hatiku diliputi kesedihan. Terbayang tubuh yang terhempas di derasnya air dan menghilang dengan cepat. Hening tanpa percakapan. Airmataku mulai menitik. Aku mulai tergugu. Pemandangan yang aneh bukan? Seorang lelaki menangis sesunggukan di tepian sungai Mahakam. Sementara sang wanita menatapnya penuh tanya.

“Kak…” Rida menyentuh bahuku. Dalam kebingungannya ia mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan mulai mengusap airmataku.

“Ah, lelaki yang rapuh!” ejekku pada diriku sendiri. Harus kuakhiri kesedihan ini. Aku menghapus sisa airmataku. Masih gemetar kukeluarkan dompet dan dari dalamnya kuambil guntingan koran yang selama ini rapi tersimpan. Kertasnya sudah menguning, tapi tulisannya masih jelas terbaca. Kuberikan pada Rida.

IBU MUDA NEKAT TERJUN DI JEMBATAN MAHAKAM BERSAMA ANAKNYA
Samarinda, Siang kemarin seorang bocah laki-laki (6 thn)berlari sambil menangis ke pos polisi di jembatan Mahakam. Ibunya baru saja terjun dari jembatan dengan adiknya yang berusia 3 tahun. Sebelum terjun, ibunya pun mengajak sang bocah untuk ikut melompat. Namun bocah laki-laki ini menolak. Belum diketahui motif apa yang membuat ibu tersebut nekat bunuh diri di jembatan Mahakam. Sampai saat ini polisi dan tim SAR masih berusaha mencari mayat ibu dan anaknya. Sementara bocah laki-laki yang masih trauma dengan kejadian itu dititipkan pada seorang dermawan di Sungai Kunjang Samarinda Sebrang.(Baca IBU MUDA…. Hal. 10)


Rida memandangku memohon penjelasan.
“Bocah kecil itu Rid… ”
“Siapa?” buru Rida menyela ucapanku.
“Aku,” ucapku pelan.


Bontang, 6 Maret 2010

Dan Senjapun Memerah

Minggu, 27 Desember 2009

Dan Senjapun Memerah
Oleh: Sri 'ade' Mulyani

“Jadi, sebenarnya aku ini anak siapa?” seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulutku. Tapi entah kenapa aku hanya diam mematung dengan perasaan sedih. Hari itu, di usiaku yang ke 10 tahun aku harus meninggalkan rumah yang telah memberikan kenyamanan padaku selama ini. Kulihat wanita yang selama ini kupanggil dengan sebutan ibu berurai airmata. Lelaki yang biasa kupanggil dengan sebutan bapak hanya diam. Sementara seorang lelaki lain seumuran bapak yang sejak tadi duduk di ruang tamu telah siap membawaku pergi.

“Baik-baik di rumah yang baru ya nduk!” pesan bapak padaku sambil mencium dan memelukku. Aku mencium tangannya, berharap ia bisa mengubah keadaan dengan keputusan yang lain. Tapi sia-sia, tak sepatah katapun yang bapak ucapkan untuk merubah ini semua.

“Nurut sama bapak Hadi ya nduk,” bisik ibu padaku. Airmata menganak sungai di sudut mata wanita yang telah membesarkan aku selama ini. “Di rumah baru ada bapak dan ibumu nduk.”

“Mbak Rina mau pergi ke mana sih bu?” tanya Hani adikku yang berusia 7 tahun. Sementara Lani, si kecil yang baru berusia 4 tahun menarik-narik bajuku tanpa mengerti bahwa sebentar lagi kami akan berpisah.
“Mbakmu mau ke Jawa,” jawab ibu singkat.

Dan di sinilah aku akhirnya, di sebuah rumah dengan seorang lelaki yang kupanggil bapak, istrinya dan dua adik laki-laki. Kehidupan yang berbeda dengan kehidupanku selama ini. Biasanya aku bermain dengan 2 adik perempuan, sekarang aku mengasuh 2 adik laki-laki yang tentu saja sangat berbeda karakternya dengan adik perempuan. Di usiaku yang belia, aku harus bisa menyesuaikan diri dengan tempat yang baru, orang-orang yang baru kukenal, yang asing di mataku walau sebenarnya dia adalah ayah kandungku dan keluarga barunya.

Tak pernah terlintas di benakku bahwa wanita yang selama ini kupanggil ibu itu sebenarnya budheku, kakak dari ibu kandungku. Aku baru mengerti mengapa mereka tak berdaya untuk menahanku lebih lama, karena yang memintaku kembali adalah ayah kandungku. Sedangkan ibu kandungku, aku baru tahu kalau ternyata bulek yang selama ini tinggal di Sumatra adalah wanita yang melahirkan aku. Wanita yang seharusnya membesarkan aku itu sudah menikah lagi dan mempunyai 4 orang anak. Tak pernah lagi kudengar kabar beritanya. Mungkin ia tak peduli padaku. Ah, sepotong mozaik hidup yang harus kulalui. Kehidupan toh terus berjalan. Dalam dukaku, surat demi surat kulayangkan pada budhe dan pakdheku yang sudah kuanggap sebagai orang-tua. Aku kangen pada mereka berdua, yang kerap membesarkan hatiku untuk selalu tegar dan bertahan serta menasehatiku untuk selalu berbakti kepada kedua orangtuaku.

Hari itu seharusnya aku bersuka cita, budhe dan pakdhe akan menemuiku di rumah eyang. Pertemuan yang paling kunantikan setelah empat tahun berpisah. Tapi aku tercenung teringat tulisan budhe. Budhe bilang di suratnya, ibu kandungku pun akan datang dari Sumatra dan akan menetap di desa eyang. Seharusnya aku gembira kan? Wanita yang telah melahirkanku akan kujumpai sebentar lagi. Aku akan melihat parasnya, merasakan belainya yang selama ini belum kurasakan. Tapi entah kenapa, tiba-tiba hatiku marah. Masih pantaskah kupanggil dia ibu setelah ia menelantarkan aku?

“Ibu…. bapak…,” aku memeluk budhe dan pakdheku yang tetap kupanggil dengan sebutan ibu dan bapak. Bagiku mereka berdualah ibu bapakku yang sesungguhnya.

“Aih, kamu sudah remaja nduk, tambah ayu,” budhe meluapkan rasa kangennya padaku. Rumah eyang yang besar terasa sesak dengan kegembiraan kami. Hani dan Lani pun sudah besar sekarang. Mereka tertawa-tawa memelukku. Adik-adikku yang manis, lama sekali aku tak memeluk mereka.

“Mbak Rina, aku sekarang sudah bisa membaca,” pamer Lani padaku. Usianya kini sudah 8 tahun. Aku ingat, semasa aku di rumah budhe, Lani paling senang mendengarkan aku membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Walau belum sekolah, dia sudah hafal karangan yang sering kubaca dan melafazhkannya keras-keras. Iiih, aku mencubit gemas pipi Lani yang tembem.

“Rina, ini ibu….” sebuah suara lembut menyadarkanku. Aku memandang wanita cantik di hadapanku. Badanku kaku, hatiku mengeras. Aku diam seribu bahasa.

“Kamu ndak rindu ibu Rin?” tanyanya sambil berusaha memelukku.

“Pernahkah ibu rindu padaku?!” tanyaku ketus. Ah, mana tutur sapa dan sopan santun yang sudah budhe ajarkan padaku selama ini. Kulihat mata ibu kandungku berkaca-kaca. Mungkin ia tak percaya kalau bakal ditolak oleh anak kandungnya sendiri.

“Rin, ibu minta maaf. Bukan maksud ibu menelantarkanmu, ibu….”

“Kalau tidak menelantarkan, apa dong namanya? Bertahun-tahun aku ikut budhe tanpa tahu kalau sebenarnya budhe itu bukan ibuku. Di saat aku bahagia di tengah keluarga budhe, tiba-tiba bapak Hadi mengambilku dan memberiku seorang ibu tiri. Sementara ibu sendiri tak pernah berusaha menghubungi aku walau hanya dengan selembar surat untuk menanyakan keadaanku. Apa itu yang namanya sayang?” sahutku berapi-api.
Budhe ternganga memandangku tak percaya, apalagi ibu kandungku.

“Rina cah ayu, sini ikut bapak,” kata pakdhe menggamit lenganku. Kulihat dari sudut mataku, pakdhe memberi kode pada ibu kandungku untuk diam di tempat.

Kami berdua berjalan ke teras belakang. Sambil memandang kebun jeruk yang luas kepunyaan eyang, pakdhe menyuruhku duduk. Budhe menyusul kami dan duduk di sebelahku. Wajahnya sedih.

“Rina, ibu mengerti kenapa kamu marah. Ibu bisa merasakan kekecewaanmu. Ibu juga sedih sekali waktu harus berpisah denganmu. Tapi pernahkah Rina bayangkan kalau ibu kandungmu jauh lebih sedih lagi ketika harus menyerahkanmu pada ibu di waktu kamu masih bayi?”
Aku diam.

“Ibu kandungmu itu tak punya pilihan nduk. Dia tak mungkin membesarkanmu seorang diri. Kenapa ia memberikan dirimu pada ibu bukan pada yang lain? Karena ibu kandungmu ingin kamu tumbuh dengan wajar dan hidup dengan nyaman, dan ibu kandungmu cuma percaya sama ibu dan bapak untuk membesarkanmu, apalagi saat itu ibu belum punya Hani dan Lani” jelas budhe.

"Ia bisa menghubungi aku bu, tapi tak pernah ia lakukan. Aku merasa terbuang," isakku.

"Ibumu punya alasan tersendiri nduk, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangimu. Ia cuma butuh waktu untuk mengungkapkan semua ini ketika saatnya tiba. Dia tidak membuangmu nduk."

“Tapi kenapa bapak Hadi juga mesti memisahkan aku dari ibu dan bapak?” tanyaku. "Aku sudah cukup bahagia tinggal dengan ibu, bapak, dik Hani dan dik Lani."

“Itu hak bapak kandungmu toh nduk. Ibu yakin, Bapak dan ibu Hadi pun menyayangimu, cuma cara mereka mengungkapkannya padamu tentu berbeda dengan cara ibu menyayangimu. Coba seandainya ibu Hadi mendengar perkataanmu tadi, tentu dia juga sedih karena seolah-olah selama ini Rina sengsara hidup bersamanya, jangan sakiti mereka semua nduk. Kita tak pernah meminta takdir jelek. Tapi garis hidup yang Allah berikan pada kita sebaiknya kita terima dengan sabar,” jawab budhe.
Aku berusaha mencerna ucapan budhe, tapi hatiku masih sakit.

“Seharusnya kamu senang toh nduk. Coba bayangkan, orang lain bahkan tak mengenal ibu bapaknya, sedangkan kamu… kamu sungguh beruntung karena Allah memberikan kamu 3 ibu dan 3 bapak sekaligus. Bukankah itu suatu anugrah yang luar biasa?” tanya pakdhe.

“Kamu belum mencoba untuk mengenal ibu kandungmu dan keluarganya Rin. Cobalah, dulu kamu bisa menerima bapak kandungmu dan keluarganya, masa pada ibu kandungmu kamu ndak bisa? Ibu yakin, jika kamu menerima semua ini dengan lapang hati, hidupmu akan senang,” kata budhe.
Aku menarik nafas, membuang beban pikiran yang seharusnya tak perlu kupersoalkan.

“Baiklah bu, Rina akan mencobanya,” jawabku.

“Betul Rin???” tanya ibu kandungku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Dia memelukku erat-erat. Aku jadi malu. Kupeluk erat kembali tubuhnya, ibu cantik yang telah melahirkanku. Di belakangnya riuh suara adik-adik yang segera mengelilingi. Rupanya mereka dan ayah tiriku baru saja kembali dari rumah kerabatku yang lain. Aku memandang mereka satu persatu, ah… adik-adik yang ganteng dan cantik-cantik seperti paras ibu kandungku dan ayah tiriku. Aku memandang mereka yang tersenyum lebar menyambutku. Kehangatan merambat dalam hati, menggerakkan keinginanku untuk memberikan senyum paling merekah pada mereka. Tak seharusnya aku merusak pertemuan bahagia ini dengan sebuah tuntutan. Aku harus yakin suatu saat ibu pasti akan menjelaskan alasannya kenapa ia tega berpisah denganku darah dagingnya sendiri. Hidup tak selalu menyuguhkan impian indah kita, tapi aku yakin Allah memberikan yang terbaik padaku.

Sementara senja pun mulai turun, langit di ufuk barat mulai memerah. Subhanallah indahnya. Aku tak pernah lagi menyalahkan ibu dan ayah kandungku yang mengambil keputusan untuk berpisah ketika aku telah lahir ke dunia. Masalah hati rahasia mereka berdua, walaupun selalu akhirnya anak-anaklah yang jadi korban akibat sebuah perpisahan. Aku tetap merasakan mereka berdua sesungguhnya menyayangi aku. Sampai saat ini di usia bayaku, aku selalu tersenyum memandang senja yang memerah. Aku selalu bersyukur pada Allah yang telah memberiku anugrah berupa bapak, ibu dan adik-adik yang banyak, yang semuanya menyayangiku.

Bontang, 27 Desember 2009

Pada Sebuah Kenangan

Jumat, 14 Agustus 2009

pada sebuah kenangan
Oleh : Sri 'ade' Mulyani

Mengingatmu, adalah suatu masa
menyusuri bukit di sisi utara kota
yg sungainya berkelok
dan riaknya menepuk halus jemari kaki kita

Sungguh, nuansa indahnya tetap hadir
dalam kurun waktu yg telah bergulir
walau bagimu tak ada yg menawan
karena aku ilalang, engkau rembulan

Tanpamu, telah lewat hari-hari penuh mimpi
dalam bingkai muram sebuah perjalanan
diiringi gerimis pagi yg tak kunjung usai
aku terus berjalan ke titik akhir

Ijinkan, sebelum mata terpejam
dalam tidur lelap yg panjang
kubisikkan sebuah kenyataan
“Aku mengagumimu”


Karya kecil di penghujung hari
Bontang, 14 Agustus 2009

Kucing, Alternative ATM?

Minggu, 17 Mei 2009

Kucing, Alternative ATM?
Oleh: Sri 'ade' Mulyani

Astaga, 5 juta!!! Aku menggeleng tak percaya menatap dua ekor kucing pesek di hadapanku. Bulunya indah tipe longhair, yang satu putih, yang lainnya abu-abu. Tapi hatiku tetap tak setuju dengan harga semahal itu. Harap-harap cemas aku menatap suamiku, berharap ia melupakan keinginannya. Tapi apa mau dikata, obsesinya untuk memiliki sepasang kucing Persia begitu menggebu, walaupun hanya sekelas pet quality.
“Ini termasuk murah Bu, kalau di Petshop mana dapat. Apalagi kalau Bapak ingin yang pignose, show quality, bisa 6 sampai 8 juta harganya per-ekor” breeder berusaha meyakinkan aku.

“Oalah.. Abi..Abi, kalau punya duit itu ya ndak usah neko-neko. Ingat Abi, uang segitu bisa buat nyumbang makan anak miskin berhari-hari. Jangan menyia-nyiakan harta” aku berusaha membujuk suamiku.
“Sekali iniiiii saja ya Umi” pintanya.
“Itu baru harga kucingnya, belum surat-surat dan biaya perjalanan. Terus, kalau nanti mati di jalan, alangkah sia-sianya Abi.” Aku teringat pada kucing Persia kami terdahulu yang baru dipelihara 3 bulan, kemudian mati setelah diimunisasi. Akankah terulang lagi?
“Insyaallah nggak Umi sayang…”
“Kalaupun aman dalam perjalanan dan bisa kita pelihara di Bontang, berapa biaya yang harus dikeluarkan perhari, mana makanannya harus impor lagi. Duh Abi, mendingan kita piara anak yatim saja deh, lebih berpahala.”
Suamiku tetap kukuh pada pendiriannya, apa dayaku?

Hari-hari berikutnya bisa ditebak, tugas kami bertambah. Apalagi kalau bukan memelihara dua ekor kucing? Pluto dan Mona. Setiap hari, kami harus menyikat bulunya, membuang kotorannya, membersihkan kandangnya juga mengisi ulang tempat makan dan minumnya yang kosong. Seminggu sekali, kami harus memandikan mereka supaya bulunya bersih. Belum lagi kandang, peralatan, pasir, shampoo, parfum dan assessories yang harus kami beli. Begitu juga pakan dan vitaminnya… kalau dipikir-pikir… seperti punya bayi lagi kami sekarang. Mau tak mau, akhirnya aku juga berusaha mencintai hobi yang satu ini. Aku juga mulai membaca buku-buku tentang memelihara dan membiakkan kucing. Mencoba mengerti jenis-jenis kucing ras dan pola warna bulunya seperti: solid color, bicolor, tortoiseshell, smoke color, tabby color, chinchilla maupun Himalayan. Saat-saat memandikan, menghanduki dan mengeringkan bulunya dengan hairdryer, aku sering menggoda suamiku, “Duh, segitu cintanya sama kucing, sampai-sampai shampoo & parfumnya saja lebih mahal dari shampoo anaknya, hairdryer saja dibelikan. Umi yang sudah bertahun-tahun menikah dengan Abi saja tidak pernah dibelikan hairdryer.” Suamiku tertawa.

Suatu hari datang dua kotak paket dari Zoom Pet Care Bandung, isinya berbagai macam peralatan dan pakan untuk kucing, masing-masing jumlahnya lebih dari setengah lusin. Apa-apaan ini, kucing hanya dua ekor kok peralatannya begitu banyak. Apalagi ketika kulihat jumlah tagihan pada nota. Aku tak habis pikir. Sebanyak inikah?!
"Tenang Umi…. Ini semua tidak akan mengganggu uang belanja Umi," hibur suamiku. Mana mungkin???? Aku membatin.

Setiap hari, ada saja ceritanya tentang kucing. Belum lagi telpon yang berdering dari sesama pecinta kucing. Temannya bertambah banyak… dan pada akhirnya… kucing-kucing lain mampir ke rumah minta dimandikan, perlu pakan, perlu vitamin dan juga perlu shampo. Strategi pertama suamiku rupanya, dengan senang hati ia membuka salon khusus kucing. Menyediakan berbagai pakan dari harga bersahabat sampai harga konglomerat (deu… gaya, pake bawa-bawa konglomerat segala, padahal harga pakannya paling banter 120 ribu/kg) Untungnya, di kota Bontang jarang orang menjual pakan kucing. Ini sebuah kesempatan.

Strategi berikutnya, suamiku ingin mengembang biakkan kucingnya. Sayangnya Mona yang waktu kami adopsi sedang hamil, hanya beranak satu dan anaknya itupun mati sesaat setelah dilahirkan. Setelah itu, Mona tak pernah mau dikawin Pluto ataupun pejantan lainnya. Alhasil, kucing kami tak pernah bertambah.

Untunglah beberapa teman pecinta kucing mau mengantarkan kucingnya yang sedang birahi untuk dikawin Pluto. Jadilah kami mak comblang untuk Pluto dan kucing-kucing Persia maupun Angora lainnya. Lama-lama kami jadi hafal mana kucing yang sedang birahi dan mana yang tidak. Sudah banyak kucing betina yang diantar. Tapi timing untuk mengawinkan mereka harus tepat. Kadang sudah berhari-hari mereka tidak juga kawin karena salah satu tidak birahi. Dari sekian itu, baru 3 kali Pluto berhasil membuahi betina.

Snowy kucing Angora belang abu-abu, kucing pertama yang menghasilkan anak empat. Semua bulu anaknya mirip Pluto yang abu-abu, namun raut mukanya dan hidungnya mancung semua seperti Snowy yang Angora. Hasil anakkan tersebut kami bagi dua setelah saatnya disapih. Dua ekor yang kami dapatkan, salah satunya diadopsi teman. Sayang dari ke-empat anakkannya, satu-persatu mereka mati karena penyakit perut, dan tragisnya sulit untuk mencari dokter hewan yang exist di kota ini.

Sedih tak membuat suamiku patah semangat. Berikutnya Katie, seekor Persia betina muda jenis Himalayan dikawinkan kembali dengan Pluto. Awal tahun 2009 anaknya lahir dua ekor, Persia euy… putih dan abu-abu, Tieto dan Totie namanya (maksudnya singkatan dari kaTIE & PluTO). Belum sempat kami memeliharanya, seorang teman telah mengadopsinya, sampai saat ini masih sehat dan lucu. Di awal tahun 2009 pula Pluto kembali mengawini seekor Angora betina berwarna putih, Chelsea. Anaknya empat ekor putih semua, baru bulan ini disapih. Kini keluarga kucing kami bertambah dua ekor hasil anakkan tersebut. Tyrex dan Xena namanya. Mudah-mudahan mereka tetap sehat dan dapat berkembang biak. Oow… mengapa memperbanyak kucing, bukankah biaya perawatannya mahal? Jangan salah, satu ekor anakkan kucing tipe pet quality bisa dihargai antara 700.000,- s/d 1.000.000,- rupiah per ekor. Belum lagi kalau komunitas pecinta kucing bertambah, bukankah pakan dan accessoriesnya akan semakin dicari orang? Betul itu! Setelah setahun kami memelihara Pluto dan Mona, sampai saat ini, kami tak lagi mengeluarkan rupiah untuk biaya perawatan mereka. Semua didapatkan dari hasil adopsi, penjualan pakan dan assesoriesnya. Hobi yang pada awalnya menguras kocek, tapi akhirnya mendatangkan keuntungan. Jadi sah-sah saja kan bila kukatakan kucing kami menyerupai mesin ATM?

Bontang, Mei 2009

Sepeda Ontel

Kamis, 30 April 2009

Sepeda Ontel
Oleh : Sri 'ade' Mulyani

Minggu pagi cerah begini, asyiknya jalan kaki berdua bersama suami. Olahraga pagi ceritanya, sambil menikmati segarnya udara Bontang. Serombongan komunitas sepeda ontel melintas, dengan pengendaranya menggunakan pakaian tempo doeloe, lucu juga. Aku jadi teringat saat kecilku dulu, sepeda seperti itulah satu-satunya kendaraan yang ayahku pakai keliling kota dan bekerja. Yah, maraknya perkumpulan sepeda ontel akhir-akhir ini, mau tak mau membuka lembaran masa lalu yang tak pernah kulupa. Bukan perkumpulan sepedanya yang bikin aku mengenang masa lalu, tapi sepedanya itu lho. Sepeda jadul, walaupun sepeda ontel yang kukenang itu nggak jadul-jadul amat.

Tahun 1976, ayahku seorang TNI AD dengan pangkat Sersan Polisi Militer, dengan tiga orang anak. Kami tinggal di asrama Pusdik Pom Lokal 77 No. 62 Cimahi. Tak banyak barang yang dimiliki ayah. Kursi tamu saja kami tidak punya. Yang kuingat kami hanya punya tempat tidur tingkat yang bagian atasnya tidak berkasur, hanya beralas tikar dimana aku dan kakak perempuanku tidur, sementara di bawahnya ayah, ibu dan adik laki-lakiku tidur bertiga beralas kasur kapuk. Kalau ada yang bertanya pada adikku sekarang tentang tempat tidur bertingkat itu, jawabnya sederhana, “Lupa! Ingetnya ya itu kalau sedang tidur suka tiba-tiba ada hujan turun.” Hah, mana bisa hujan turun di asrama peninggalan Belanda yang kokoh, berdinding tembok, beratap genting dan tidak bocor? Tapi itu kenyataan. Dia lupa bahwa tempat tidur di atasnya tidak beralas kasur, sehingga jika aku yang tidur di atas ngompol (sstt.. sampai usia tujuh tahun kadang-kadang aku masih ngompol), maka tercurahlah air pipisku menimpa ibu, ayah ataupun adikku yang saat itu masih berusia tiga tahun (maafkan aku ya Bu, Pak, Dik, itu nggak sengaja, sumpah!).

Selain tempat tidur itu, kami memiliki sebuah mirkas (lemari kayu) dan meja kayu kecil dengan bangkunya. Benda lainnya yang berharga? Ya sepeda ontel itulah, kendaraan yang selalu ayah gunakan untuk memudahkannya ke mana-mana. Sayang, aku tidak sempat ingat merknya. Aku juga lupa, apakah ayahku suka membonceng ibu dengan sepedanya macam Galih dan Ratna atau tidak.

Yang paling kuingat, hampir setiap sore ayah membonceng aku dan adikku berkeliling kota Cimahi. Tentu saja usiaku masih tujuh tahun saat itu, sedang adikku baru berusia tiga tahun, sehingga ayah akan dengan mudah membonceng kami berdua. Kadang ayah membeli obat ke apotik Serumpun Bambu, atau sekedar putar-putar di Jl.Gandawijaya membeli pistol-pistolan buat adikku atau martabak jika ada uang lebih seperti pada hari gajian.

Setiap ayahku pergi ke Rumah Sakit Dustira (pada saat itu ayah mengikuti sekolah pendidikan perawat sehingga ayah bisa menjadi Mantri Kesehatan di kesatuannya) ayah juga sekalian mengantar dan menjemputku yang sudah duduk di kelas satu di SD. Sudirman 5 Cimahi dengan sepeda itu. Aku akan berteriak kegirangan jika ayah yang mengantarku ke sekolah dengan sepedanya. Sebab kalau ibu yang mengantar, pasti hanya dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar dua km, yang berarti aku harus pergi lebih awal supaya tidak terlambat sampai di sekolah.

Suatu hari, ayah mendapat telegram dari Plaju. Kakekku sakit keras. Ayah diminta segera pulang ke Plaju di Sumatra Selatan. Aku yang saat itu masih kecil, belum tahu kalau jarak Cimahi – Plaju itu jauh, pake nyebrang selat lagi. Hari-hari ayah di Plaju, tak ada lagi yang membonceng kami bersepeda berkeliling kota Cimahi seperti kemarin-kemarin. Pun setelah ayah kembali dan mengabarkan kepergian kakekku. Sepeda itu tidak pernah kulihat lagi.

Saat kutanya pada ayah, kenapa kita tidak pernah lagi naik sepeda, kemana sepeda kita? Ayahku dengan ringan menjawab, “Tahu nggak kalian…. waktu kemarin ayah ke Plaju, ayah kan harus melewati sebuah sungai yang buesaaar, namanya sungai Musi. Waktu ayah menyebrangi sungai itu, ayah kurang berhati-hati sehingga sepeda ayah tergelincir dan …… nyemplung deh ke Sungai Musi.”
Saat itu aku percaya saja apa yang dikatakan ayahku. Untung ayahku selamat, pikirku polos. Tak pernah terlintas di benakku bahwa ayah berkelakar menjawab pertanyaanku. Sebuah kebohongan yang manis, namun lucunya sampai saat ini aku tak pernah merasa dibohongi. Pendek kata aku tak pernah bertanya tentang sepeda lagi.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, kehidupan ekonomi ayah membaik, perabotan kami bertambah dengan seperangkat kursi tamu, kasur kapuk untuk tempat tidurku dan lemari pajangan. Sepedanya berganti BMX dan kendaraannya bertambah dengan sebuah motor DKW (sejenis motor berpedal yang untuk menghidupkan mesinnya dengan cara mengengkol pedalnya), tapi aku tetap kangen dengan sepeda ontel ayahku. Merasakan kehangatan cinta ayah lewat kayuhan sepeda tua itu. Lama setelah aku dewasa, baru aku menyadari kalau sepeda itu ternyata sudah dijual ayah untuk membiayai kepergiannya ke Plaju bukannya nyemplung di sungai Musi.

Bontang, April 2009

Prasangka

Selasa, 24 Februari 2009

PRASANGKA
Oleh : Sri ‘ade’ Mulyani

Percayakah kamu akan adanya cinta sejati? Aku menggangguk, pertanyaan berlanjut, yang darinya tumbuh kesetiaan tanpa penghianatan ? Oo, tunggu dulu. Rasanya harus dipikir ulang. Jawabannya mungkin saja ada, tapi sedikit. Di jaman sekarang ini, yang segalanya serba instant dan diukur berdasarkan materi semata, apa masih ada cinta sejati yang penuh kesetiaan dan tanpa penghianatan ? Aku akan menjawab ya kalau aku memang benar-benar melihat sendiri contohnya dari sekelilingku. Teman-temanku, sahabatku, tetanggaku atau siapa sajalah yang padanya kutemukan kisah tersebut, baru aku akan percaya.

Kalau dulu, di usia 30 an mungkin aku masih berani setuju dengan jawaban ada. Tapi di usiaku yang ke 40 ini, setelah begitu banyak kejadian di sekelilingku yang membuka lebar-lebar mataku, belum kudapatkan kesetiaan yang sempurna. Tentulah, manusia kan mahluk yang tidak sempurna, dan seiring masa berlalu, kesetiaan cuma tinggal dongeng yang belum pernah kutemui kisah kongkritnya. Kebanyakan yang kulihat adalah, cinta yang kandas di tengah jalan, baik yang seumur jagung maupun yang puluhan tahun. Selalu saja ada duri penghalang maupun badai menerjang yang memporak-porandakan biduk rumahtangga yang sudah dibangun. Kalau kau lihat sebuah keluarga di usia senja selalu rukun-rukun saja, ternyata ada kisah kelabu juga yang mewarnai keutuhan rumah tangga mereka di masa lalu. Mungkin di akhir mereka terselamatkan, namun justru banyak yang kandas di tengah jalan. Jadi, kemana nih aku harus mencari figur yang bisa kujadikan contoh?

Namanya Asep. Sunda tulen. Logatnya yang khas tetap kentara meski sudah hampir 20 tahun tinggal di Kalimantan. Selagi aku remaja ibuku yang Jawa asli suka menasihati, jangan menikah sama orang Sunda, istrinya di mana-mana. Maklum, rata-rata tetangga ibuku maupun teman ayahku yang Sunda kebetulan punya istri lebih dari satu. Tidak salah juga kan kalau ibuku berpendapat begitu?

Tapi temanku yang satu ini si Asep yang Sunda tulen dan beristrikan orang Jawa, tidak masuk katagori laki-laki Sunda yang ibuku maksudkan. Sepanjang sejarah hidup rumah tangganya, kulihat ia begitu setia dengan istrinya. Di saat susah, di saat senang. Di saat teman-temannya yang mapan mulai melirik wanita di luar istrinya, si Asep ini tetap setia menggandeng lengan Retno istrinya, persis sama ketika dulu masih pacaran.

Masih kulihat mereka berdua melakukan aktifitas seperti 17 tahun yang lalu kala masih pengantin baru. Jalan santai berdua di pagi hari Sabtu ataupun Minggu. Bercanda sambil menikmati indahnya pagi. Bersenda gurau di pekarangan rumahnya sambil berkebun. Ataupun sekedar keliling komplek berdua dengan motor tuanya sambil sang istri mendekap erat si Asep. Bahasa tubuh mereka berdua itu lho yang bikin orang banyak bakal iri. Kayaknya dunia hanya milik mereka berdua.

Tapi, apa iya sih mereka berdua adem-adem saja hubungannya? Jangan-jangan mereka punya juga masalah, atau malah mungkin si Asep sebenarnya sudah mendua, tapi istrinya tidak tahu. Wuah, tak percaya aku. Pasti nih si Asep pintar menyembunyikan sifat buayanya (maaf, sampai detik ini aku masih percaya nasihat ibuku). Alhasil, hari-hari terakhir ini aku jadi suka memperhatikan sikap si Asep, kalau-kalau ada yang mencurigakan gitu, untuk membuktikan bahwa dia itu sama saja dengan lelaki yang lain. Yang tak cukup punya istri satu. Soalnya sudah sering sih aku lihat teman laki-laki yang seperti Asep, kelihatannya baiiikk banget sama keluarga, tahunya meleng dikit, menggandeng cewek abg. Gombal kan ?

”Apa ? Mona ? Putih ya?” Nah..nah.. ada apa nih si Asep nyebut-nyebut nama cewek, putih lagi. Telinga mulai kupasang baik-baik.

“Oh, sudah satu setengah tahun. Bersih? Yang penting cakep kan? Boleh juga tuh! Nanti saya ke sana deh.” Duile si Asep, segitunya. Tanpa basa-basi langsung tancap saja, hatiku membatin. Kasian juga si Retno ya, kalau Asep sampai kecantol si Mona yang putih, yang baru satu setengah tahun tinggal di Kalimantan, anganku melanjutkan. Apa yang bakal terjadi pada biduk rumah tangga mereka kelak ? Ih, Asep. Teganya dikau! Aku jadi sebal padanya. Nilainya jadi jatuh di mataku.Benarkan dugaanku? Tak ada laki-laki setia.

Hari berganti, minggu berlalu. Tingkah si Asep makin menyebalkan. Setiap kali dia bicara di telpon dengan seseorang, yang dibicarakan tak lepas dari si Mona yang aduhai menurutnya. Aku sebenarnya tak ingin nguping. Tapi tetap saja ada beberapa kalimatnya yang agak keras terdengar sampai telingaku. Toh jarak meja kami hanya dilapisi sebuah lemari berderet. Malah pernah kudengar Asep menyebut-nyebut assessories dan perlengkapan si Mona, kalung, shampoo, parfum? Duh, gile juga si Asep. Punya cewek baru segitu detilnya membelikan perlengkapan. Jangan-jangan sebentar lagi dia belikan rumah tuh cewek. Aku geleng-geleng kepala terbawa khayalku.

Tak terbayangkan wajah Retno yang ayu akan terkejut seperti apa jika mengetahui tingkah suaminya. Aku prihatin banget. Ingin aku memberi tahu Retno, tapi aku khawatir prasangkaku ini malah akan membuat rumah tangga mereka hancur. Aku tak mengenal Retno terlalu dekat. Jangan-jangan nanti dikiranya aku hendak mengacaukan keharmonisan rumah tangganya, bisa berabekan? Aku berpikir beribu kali sebelum memutuskan untuk memberitahukan ini pelan-pelan pada Retno. Harus cari timing yang tepat dan harus yakin bahwa penghianatan Asep sudah tiba pada klimaksnya. Aku akan tunggu saat itu tiba, namun aku masih berharap semoga Asep tersadar dari perbuatannya itu sebelum aku benar-benar cerita dengan Retno.

Suatu hari telpon Asep berdering. Tak ada yang mengangkat. Kemana sih Asep ini? Akhirnya kuangkat juga telpon itu. Suara seorang remaja di sebrang menanyakan Asep. Kujawab sedang keluar. Dia meninggalkan pesan, Asep diminta segera pulang sambil carikan dokter, Mona mau melahirkan katanya. Kaget setengah mati aku, sampai telpon terputus tak kuhiraukan. Berapa lama sudah Asep dan Mona berkenalan? Ah, aku menyesal kenapa kupikir Asep bakal berubah. Ternyata tidak. Kini Mona malah sudah hamil bahkan hendak melahirkan. Aku harus menghubungi Retno. Tapi bagaimana memulai untuk menceritakan ini. Aku bingung juga. Kuletakkan gagang telpon. Baru sesaat, telpon berdering kembali. Was-was aku angkat telpon.

“Halo, selamat pagi. Bisa bicara dengan Pak Asep?” suara Retno di sebrang.

“Hm, selamat pagi. Retno ya? Bagaimana kabarnya? Pak Asepnya sedang keluar” aku menjawab hati-hati.

“Baik Sri. Ng.. lama nggak ya keluarnya? HP nya juga tidak bisa dihubungi. Kemana ya perginya?” nada bingungnya itu mengundang tanda tanya di kepalaku, apakah Retno sudah punya firasat sedang terjadi sesuatu? Aku ngeri juga membayangkannya. Pelan-pelan aku bertanya, “Sebenarnya ada apa sih Retno?”

“Ini nih, si Mona mau melahirkan. Mana sudah berdarah-darah lagi. Cari dokter di mana ya?” Tak ada nada cemburu, yang terasa malah nada khawatir. Astagfirullah, Retno…Retno, madunya mau melahirkan dia malah nyariin dokter. Gile! Gini kali ya tipe istri setia calon penghuni surga? Gak ada rasa cemburu. Aku jadi malu hati. Aku yang bukan apa-apanya Asep bahkan sudah menganggap Asep tak berharga, eh sang istri kok malah nggak ya?

“Sekarang Monanya dimana?” tanyaku.

“Ya di rumahku.” Duh Gusti, serumah dengan Retno! Weleh-weleh… Aku kok ketinggalan kereta gini ya informasinya. Kok kayaknya ada yang salah. Sudah edankan Retno? Atau aku yang salah dengar?

“Ya sudah, kalau kamu tidak tahu alamat dokter hewannya, ya gak papa. Biar aku cari di buku telpon saja”

“Retno, masak sih Mona mau melahirkan dipanggilkan dokter hewan?” aku kaget, jangan-jangan ini kesempatan Retno balas dendam pada suaminya.

“Ya iya lah, masak mau dipanggilkan bidan. Ntar bidannya malah gak ngerti!”
Sepertinya ada yang tidak beres nih.

“Retno,” aku mulai bicara hati-hati. “Mona mau melahirkan?”

“Iya”

“Di rumahmu?”

“Iya”

“Kenapa harus panggil dokter hewan? Bukankah…..”

“Iya, dokter hewan. Kamu punya kenalan dokter hewan? Kasihtahu dong!”

“Apa Mona nanti tidak tersinggung?”

“Kamu nih aneh deh Sri. Aku butuh dokter hewan. Si Mona mau melahirkan. Emang kamu pikir Mona siapa?!” Retno mulai tidak sabar.

“Mona itu, madu....”

“Ngaco!! Mona itu kucing Persia kesayangan suamiku tahu!”



Bontang, 24 Februari 2009
"thanks buat ayang & mona yg jd inspirasi"