Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

sewu siji..

Kamis, 04 November 2010

aku ga mau kamu marah..
aku ga mau kamu sedih ...
aku ga mau kamu benci..
aku ga mau kamu keqi..

seliran mu selalu ada di hatiku..
senyumanmu selalu ada di benak ku..
sekelibat bayangmu ada di hari hari ku..
setiap menit aku makin butuh dirimu..

karena aku yakin tak ada yang bisa menyamaimu..
sewu ..cuma siji ya dirimu..

sentuhan mu

ketika pagi..
kau sentuh aku..
ketika siang...
kau sentuh aku..
ketika malam...
aku pun berharap kau sentuh aku...

Tuhan...
sentuhaMu membuat aku tersadar..
akan rapuh dan kecilnya diriku..
Tuhan...
sentuhanMu membuat aku miris...
akan apa yg telah terjadi,
di sekelilingku..
di tanah airku..
di pelosok negeriku..

Tuhan....
tetap beri kami kekuatan..
karena tak layak bagi kami untuk terus hidup..
bila tanpa kasih sayang yang telah KAU ajarkan..

Tuhan...
maka sentuhlah kami dengan kelembutan MU
di tiap nafas ragaku...
sampai ajal menutup semua keinginanku..

Menggenggam rindu

Kamis, 07 Oktober 2010

Yaa Rosul kekasih Ilahi

Rasanya belum cukup lidah ini menyapamu

Padahal... begitu nyata kecintaanmu padaku, umatmu

Terpancar dari setiap air mata yang menyiratkan doa

Tergores dari setiap langkahmu yang memberi arti kehidupan hakiki

Hingga sering membawamu dalam duka... mengkhawatirkanku, umatmu


Terhanyut aku dalam pelukan rinduku padamu... yaa kekasih Robbi

Kuurai cinta yang kau ajarkan dengan kata dan perilaku

Hingga menganak sungai pada mukaku... menahan sesaknya dada

Dan kugenggam erat cintaku ini

Menyematkan dalam kalbu... hingga tak terlepas


Rinduku padamu... yaa kekasih Allah

Membawaku ingin mengunjungimu... dalam setiap nafas dan waktuku

Memperbanyak salawat dan doa yang kau ajarkan

Melantunkan puji-pujian suci mengagungkan asma Ilahi yang kau contohkan


Rinduku memuncak dan anganku mengembara sampai ke padang pasir

Hingga rongga dada ini seperti dialiri hawa panas

Aku ingin kesana, aku harus kesana

Menyusuri jejak perjuangan panutanku

Mengunjungi rumah Rosulku


Yaaa Robbi ... yang menguasai hidup dan matiku

Selagi raga ini masih kuat

Selagi duniaku dan keluargaku masih tercukupkan

Dan selagi masih ada kesempatan

Perjalankanlah raga ini untuk memenuhi panggilan-Mu

Beribadah dan bersimpuh di rumah-Mu “Baitullah” dalam hajiku


Kusadari

Raga ini akan ada masanya

Harta yang terkumpul juga akan fana

Dan ketika sang waktu memanggil

Ruhkupun kembali pada-Mu Sang Khalik

Untuk mempertanggung-jawabkan seluruh perilaku dan amal ibadahku


Tak kan kupungkiri nikmat yang telah kau cukupkan padaku

Maka tuntunlah langkahku dalam kebenaran

Sehingga akan menyelamatkanku, keluargaku

Dari jilatan api nerakamu

Dan kamipun kekal disisi-Mu Yang Maha Agung

Suamiku

Minggu, 20 Juni 2010

Oleh Winny W Sutopo

Suamiku adalah seorang laki-laki biasa
Berwajah biasa
Berpenampilan biasa
Berkemampuan biasa
Berasal dari keluarga biasa

Laki-laki biasa yang bisa marah
tetapi juga bisa membuatku marah
Bisa jengkel menghadapi ulahku
seperti aku juga jengkel menghadapi ulahnya
Bisa sebal
dan menyebalkanku

Tetapi

Laki-laki biasa ini telah setia , sabar dan ulet mendampingi ku selama 25 tahun
Memberiku 2 buah hati yang luar biasa
Memberiku kehidupan yang penuh warna
Menempa diriku menjadi lebih dewasa
Berjuang menjalankan amanah tugasnya sebagai pekerja
Meneteskan keringat untuk menafkahi keluarga
dan memberi kami kehidupan yang baik

Laki-laki biasa ini bisa menerima ulahku tanpa mengeluh
Tidak berkeberatan menggosok punggungku yang mulai menua dengan minyak gosok
Tidak mengeluh melihat perubahan bentuk tubuhku seiring dengan bertambahnya usia
Tidak bersungut mencicipi masakanku yang amburadul rasanya
Laki-laki biasa ini tidak menuntutku untuk menjadi sempurna

Karena ke-biasa-annya inilah
Ia menjadi luar biasa bagiku

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah aku tidak bersedia menjadi isterinya
Karena aku hanya
Wanita biasa

Bila ia laki-laki sempurna
Tentulah ia tidak bersedia menerimaku sebagai isterinya
Karena aku hanya
Wanita yang tidak sempurna

Ketika Kita Mengeluh

Winny W Sutopo
Ketika kita mengeluhkan makanan yang tidak enak....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai makanan?

Ketika kita mengeluh tentang berat dan membosankannya pekerjaan .....
Pernahkah terpikir tentang orang yang tidak mempunyai pekerjaan?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya penghasilan....
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai penghasilan?

Ketika kita mengeluh tentang bentuk tubuh ......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang cacat tubuhnya?

Ketika kita mengeluh tentang kecilnya rumah kita.......
Pernahkah terpikir akan orang-orang yang tidak mempunyai rumah?

Ketika kita mengeluh tentang kerepotan mengurus anak.......
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak mempunyai anak?

Ketika kita mengeluh tentang kebosanan mengajari anak.......
Pernahkah terpikir akan anak-anak yang tidak beribu?

Ketika kita mengeluh tentang kecerewetan suami.....
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki suami?

Ketika kita mengeluh tentang kebodohan pembantu?
Pernahkah terpikir akan mereka yang tidak memiliki pembantu?

Ketika kita mengeluh tentang.........


Begitu banyaknya keluhan kita, sampai kadang lupa menghitung banyaknya nikmat yang telah Allah limpahkan.


( diilhami oleh renungan dari salah satu stasiun radio)

Puisi untuk Bundaku

Kamis, 10 Juni 2010

Bunda...
Kita telah melewati waktu yang tak sedikit
Banyak cerita terukir dalam kebersamaan kita
Banyak kesan yang mengikat dan terlukis dalam hati kita
Ada yang menggelinding sempurna
Ada pula yang menggelinding kesusahan karena terjal

Bunda...
Betapa manisnya kita dipertemukan
Ada begitu banyak senyum menghiasi tatapan saat itu
Menandakan keikhlasan tali silaturahmi diantara kita
Dan berharap hati yang berbeda dapat saling bertaut
Sehingga kita dapat berjalan beriringan

Bunda...
Ada hari yang indah tuk dijadikan kenangan
Disaat kau berusaha menemaniku dalam keriangan
Disaat kau berikan semangat ketika aku mengejar prestasi
Bersama-sama menggenggam asa
Sehingga cerita yang kita rangkai menjadi sarat makna

Bunda...
Ada banyak kisah mengiringi kebersamaan kita
Kau genggam tanganku dengan tulus ketika dalam duka
Kau buka telinga lebar-lebar dikala aku berkeluh kesah
Sehingga hati ini kembali tenang
Sampai saatnya aku dapat tersenyum lagi

Bunda...
Kita lalui hari-hari kebersamaan penuh warna
Semua memberi kesan tak terlupakan
Bila kudisuruh bercerita
Harus kubutuhkan lebih dari seribu kata untuk mengurainya
Padahal seperti baru saja kita dipertemukan

Bunda...
Kenapa saat ini terasa cepat sekali waktu berganti
Ingin rasanya menghentikan walau hanya sesaat
Agar kita bisa lebih banyak lagi membuat cerita
Agar kita bisa lebih banyak lagi membuat kenangan
Sampai bingkai-bingkai kita tak terhitung

Bunda...
Ketika tiba saatnya kita dipisahkan karena aturan
Ingatlah selalu padaku
Bahwa kita telah dipertemukan untuk membuat kisah
Sehingga kita akan saling merindukan
Walau jarak kan membentang diantara kita

Bunda...
Kuucap terimakasih dengan tulus padamu
Karena telah menemaniku hingga saat ini
Kumohon maaf dengan tulus padamu
Bila lakuku tak menyejukkanmu
Agar hati kita tetap putih selamanya

Bunda...
Kuberharap dengan sepenuh hati
Perpisahan ini janganlah menjadi akhir dari cerita kita
Karena banyak cara yang masih bisa dilalui
Bahkan mungkin kita masih bisa bersua lagi
Melanjutkan bingkai-bingkai yang tertahan

Bunda...
Saat ini ijinkan kuucap selamat jalan padamu
Mengantarmu dengan doa setulus hati
Semoga terlindungi setiap langkahmu
Semoga diberkahi setiap nafasmu
Semoga dikaruniai kebaikan

Bunda...
Ijinkan kubisikkan ketelingamu dengan lebih lembut lagi
Aku akan selalu menyayangimu
Aku akan selalu merindukanmu
Aku akan selalu mendoakanmu
Dan dengan tulus aku memohon maaf padamu

puisi untuk sahabat

sahabat..
ketika penantian tuk berlabuh semakin dekat
aku jadi ingin mengingat semua
tentang pertemuan kita
tentang langkah-langkah kita
tentang asa kita

tahukah sahabat...
betapa kokohnya perahu kita
terlihat dari banyaknya ombak yang menerjang
dan gelombang yang berusaha menenggelamkan
tapi kau tetap memberi keyakinan
bahwa kita akan bisa melaluinya

dan kau benar sahabat..
akhirnya kita bisa membuat kendali
dan penaku akan menggores memberi arti
membawa cerita sampai ke pelabuhan
membawa janji yang tak pernah mati
membawa angan yang tak pernah padam

sahabat..
jika telah benar ketepi
sini.. kubisikkan ditelingamu
aku menyayangimu..
aku merindukanmu..
aku memohon doa untukmu
aku juga memohon maaf darimu

Di Batas Asa

Minggu, 30 Mei 2010

di batas asa
Oleh : Sri 'ade' Mulyani

Lalu,
Angin pun tak lagi bawa kisah
Hanya diam dalam pekat mega
Kemana kan bertanya
Sedang sua tak lagi punya makna

'tuk persahabatan yg telah mati
satu kusiapkan peti
kan ku kubur dia disini
di perigi hati…


Bontang, 30 Mei 2010

Pada Sebuah Kenangan

Jumat, 14 Agustus 2009

pada sebuah kenangan
Oleh : Sri 'ade' Mulyani

Mengingatmu, adalah suatu masa
menyusuri bukit di sisi utara kota
yg sungainya berkelok
dan riaknya menepuk halus jemari kaki kita

Sungguh, nuansa indahnya tetap hadir
dalam kurun waktu yg telah bergulir
walau bagimu tak ada yg menawan
karena aku ilalang, engkau rembulan

Tanpamu, telah lewat hari-hari penuh mimpi
dalam bingkai muram sebuah perjalanan
diiringi gerimis pagi yg tak kunjung usai
aku terus berjalan ke titik akhir

Ijinkan, sebelum mata terpejam
dalam tidur lelap yg panjang
kubisikkan sebuah kenyataan
“Aku mengagumimu”


Karya kecil di penghujung hari
Bontang, 14 Agustus 2009

 
♥KALAM IBU-IBU♥ - by Templates para novo blogger